07 July 2011

Prof Han Hwie-song Bahas Pecinan Surabaya




Prof Dr Han Hwie-song belum lama ini menerbitkan memoar tentang masa kecilnya di kawasan pecinan Surabaya hingga sukses menjadi dokter dan menerima bintang Ridder in de Orde van Oranje Nassau dari pemerintah Kerajaan Belanda. Banyak hal menarik tentang pecinan Surabaya era 1950-an yang dituturkan Prof Han. Berikut petikannya:

Ketika saya masih menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universiteit van Indonesia di Surabaya (belakangan oleh Presiden Sukarno diubah namanya menjadi Universitas Airlangga), 1951, seingat saya jumlah penduduk Surabaya hanya sekitar 300 ribu jiwa saja. Padahal, saat ini, tahun 2011, penduduk Surabaya sudah berjumlah jutaan jiwa (sekitar empat juta jiwa).

Yang menarik, daerah pecinan masih tetap tidak berubah dan masih favorit bagi etnis Tionghoa untuk tinggal dan berdagang. Ini terbukti dari banyaknya toko-toko dan perusahaan-perusahaan dagang baik besar maupun kecil di daerah pecinan yang pada umumnya milik etnis Tionghoa.

Di pecinan Surabaya, ada dua pasar utama, yaitu Pasar Pabean dan Pasar Kapasan. Pasar Kapasan, walaupun lebih kecil daripada Pabean, merupakan pusat perdagangan emas dan perhiasan di Jawa Timur. Sebaliknya, Pasar Pabean merupakan pasar yang menjual barang-barang keperluan sehari-hari. Di dalam pasar ini terdapat banyak toko yang menjual barang pecah-belah, alat-alat rumah tangga, sembako, atau makanan-makanan Tionghoa seperti haisom atau teripang, jamur kering, ikan asin.

Saya tidak pernah mengunjungi pasar basahnya yang menjual ikan, daging, dan sebagainya. Tetapi pembantu rumah selalu pergi belanja ke Pasar Pabean karena lebih lengkap. Ada ikan bandeng, gurami, udang, kepiting, rajungan, ayam, daging sapi, babi, dan sebagainya.

Di Pasar Pabean juga ada tiga restoran yang sering saya kunjungi bersama teman-teman kuliah saya, Bhe Kian Ho dan Sie Hong Ik, yang masing-masing membawa teman perempuannya. Pasar Pabean juga merupakan pusat perdagangan palawija Jatim. Komoditas ini oleh perusahaan-perusahaan Belanda diekspor ke berbagai negara. Ada beberapa teman saya yang orangtuanya berdagang palawija di sekitar Pasar Pabean.

Pasar Bong dan Pasar Kapasan dahulu menjadi pusat penjualan tekstil. Sehingga, tidak salah kalau orang mengatakan bahwa pecinan dahulu adalah pusat perdagangan Surabaya.



Jalan Kembang Jepun Surabaya, Juli 2011.

Kantor Kamar Dagang Tionghoa, yang pengaruhnya besar di Surabaya dengan akronim P3-CH, terletak di Jalan Kembang Jepun. Kantor-kantor koran Tionghoa baik yang peranakan (Pewarta) maupun yang totok (Ta Kung Siang Pao dan Yu Yi Pao) berada di daerah pecinan. Sedangkan koran Belanda yang pertama, Soerabajasc Handelsblad, berdomisili di Pasar Besar atau Aloon-Aloon Straat.


Setelah jam 18.00 dan kantor-kantor sudah tutup, di muka kantor P3-CH beroperasi berbagai warung makan Tionghoa. Setiap warung makan memiliki kekhasan masing-masing. Mulai dari mi pangsit, kwetiao, masakan ikan, babi, dan sebagainya. Berbagai merek mobil diparkir di depan warung-warung tersebut. Sebab, walaupun cuma warung makan, kelezatan masakannya tidak kalah dengan restoran, saya bersama saudara-saudara dan teman-teman sering makan di sana.

Toko-toko buku yang besar juga berada di Kembang Jepun, antara lain Toko Buku Ta Chen Soe Tji yang menjual buku-buku cerita dan pelajaran bahasa Tionghoa. Saya masih ingat bersama kakak atau teman perempuan saya sering membeli buku Mandarin antara lain karangan Ba Jin, Bing Xin, Lu Xin, dan Kojen (komik strip terbitan Hongkong yang saat itu sangat digemari) dan buku-buku pelajaran untuk adik-adik saya.

Pemilik toko buku ini orang Shanghai. Di Surabaya, yang saya ketahui, ada tiga toko buku Tionghoa. Berbeda dengan di Eropa, di Asia Tenggara pada umumnya orang-orang totok menggunakan bahasa Tjengim, Kuoyu atau Mandarin, sedangkan di Eropa dan Amerika Utara yang biasa digunakan adalah berbagai dialek, terutama Kanton (Guangdong).

Buku-buku Barat haya dapat diperoleh di tokot-oko buku Barat seperti Van Dorp dan Kolff di Tunjungan. Saya suka membaca dan mengoleksi buku-buku Barat antara lain tentang Perang Dunia II, cerita klasik Barat, cerita klasik Tiongkok, dan filsafat. Juga buku-buku tulisan Bung Karno, Mao Zedong, dan buku-buku politik lainnya.



Li Lihua, artis Mandarin terkenal yang digandrungi warga pecinan Surabaya tempo dulu.


Ketika terjadi peristiwa Gerakan 30 September 1965, buku-buku tersebut dibakar istri saya. Sementara buku-buku lain disimpan dalam dua peti kayu jati besar dan disimpan di rumah mertua saya.

Di pecinan Surabaya terdapat dua bioskop Tionghoa, Shin Hua di Bongkaran dan Nan King Theatre di dekat Pabean. Bioskop-bioskop ini biasa memutar film-film dari Shanghai, kemudian film-film Hongkong. Ini disebabkan setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, banyak produser, pekerja film, dan artis terkenal yang melarikan diri ke Hongkong. Dulu kami mengenal artis-artis Hongkong terkenal seperti Li Li-hua, Wang Tanfeng, Chou Sian, Li Sianglan, Auwyang Shi Fei.

Setiap bulan sekali atau dua kali saya bersama calon istri pasti nonton di Shinhua Theatre. Menurut saya, masa pacaran yang paling menyenangkan adalah menonton bioskop, makan di restoran. Dan, yang terutama, ngobrol dengan tenang tanpa gangguan, sehingga kita dapat lebih bebas mengutarakan kasih sayang kita. Dengan demikian, kita dapat lebih mengenal sifat masing-masing yang menurut saya sangat penting dalam membangun dan membina keluarga kelak.

Sekolah-sekolah Tionghoa baik sekolah dasar maupun sekolah menengah bertebaran di Surabaya. Sekolah yang terkenal pada masa itu ialah Sin Hwa High School yang terletak di Jl Ngaglik, Chung Hua Chung Shueh di Jl Baliwerti, Khai-Ming Chung Hsueh di Jl Kalianyar, Chiao Chung di Jl Pengampon, dan Chiao Lian Chung Hsueh di Jl Undaan.

Kebanyakan sekolah-sekolah Tionghoa ini pro-RRT. Hanya Chiao Lian yang berhaluan kanan dan pro-Taiwan. Walaupun demikian, banyak murid-muridnya ketika lulus meneruskan studinya di RRT, sehingga orientasi politiknya tidak mutlak pro-Taiwan.

Setiap tahun pada hari nasional RRT, tanggal 1 Oktober, diselenggarakan pertandingan atletik antarsekolah Tionghoa se-Kota Surabaya. Pertandingan tersebut biasanya diadakan di lapangan sepak bola Tambaksari dan berlangsung selama beberapa hari. Suasananya meriah dan ramai. Sekolah menengah Chiao Lian tidak ikut dalam pertandingan atletik ini karena orientasi politik pimpinan sekolah dan guru-gurunya berkiblat ke Taiwan.



Di pecinan Surabaya juga terdapat berbagai toko yang menjual kelontong, P&D, sampai toko obat Tionghoa dan apotek. Juga terdapat hotel-hotel khusus untuk orang-orang Tionghoa. Di Jl Bakmi saja ada tiga hotel, yaitu Grand Hotel yang terbesar, Hotel Nan Zhou untuk orang-orang Hokkian, dan Hotel Hai Yong Zhou yang kebanyakan tamunya orang-orang Hakka.

Di Jl Kapasan ada dua hotel, yaitu Hotel Ganefo dan Hotel Hollywood, serta beberapa losmen. Hotel Hai Yong Zhou lokasinya di sebelah sekolah Chiao Nan. Hotel ini didirikan orang-orang Hakka. Mungkin dulu di sekitar Jl Bakmi penghuninya banyak orang Hakka atau berasal dari Provinsi Guangdong.

Hotel-hotel ini setiap hari ramai dikunjungi para pedagang Tionghoa dan tamu-tamu dengan keperluan lainnya. Banyaknya hotel di daerah tersebut membuktikan ramainya perdagangan di pecinan Surabaya pada era 1950-an.

Restoran-restoran terkenal di pecinan Surabaya yang saya ingat dalah Kiet Wan Kie, Tai Sie Hie, Nan Yuan dan beberapa lagi di dalam Pasar Pabean. Di samping itu, banyak terdapat warung-warung yang menjual bakmi pangsit, bakwan, hiwan, dan sebagainya.

Di luar pecinan juga terdapat banyak restoran besar dan menengah. Restoran peranakan yang terkenal adalah Hoenkwee Huis dan Helendoorn yang keduanya berlokasi di Tunjungan. Restoran-restoran Tionghoa biasanya milik orang-orang Guangzhou (Kanton). Kelezatan masakan orang-orang Kongfu memang sangat terkenal di dunia. Di samping itu, ada juga restoran gagrak Shanghai yang bernama 369 atau San Lo Jiu. Saya tidak pernah mendengar adanya restoran Sechuan di Surabaya.

Biasanya, setiap hari Minggu ada pesta perkawinan anak-anak orang kaya di restoran-restoran besar yang sangat ramai. Hiburannya musik Mandarin yang hingar-bingar dari Hongkong dan Shanghai. Jarang sekali diputar lagu-lagu Barat atau musik live seperti sekarang.

Teman saya, Chai Su-rung, adalah putra pemilik Restoran Tai Sie Hie yang terkenal di Surabaya. Sebelum saya meninggalkan Indonesia untuk huiguo, saya dan istri sempat makan di restoran ini. Saya memesan roti goreng ham yang merupakan favorit saya.



Artis lawas Li Xianglan yang sering ditanggap ke Surabaya jaman biyen.

Daerah pertokoan bovenstad yang elit dan menjadi tempat belanja favorit orang-orang kaya Surabaya tempo doeloe terletak di Tunjungan, Simpang, Palmenlaan (Panglima Sudirman, Red), dan Tegalsari. Kawasan ini bisa langsung terhubung ke Jl Raya Darmo, yang merupakan tempat tinggal orang-orang Belanda pegawai tinggi pemerintah atau pegawai tinggi perusahaan besar Belanda.

Daerah pertokoan yang paling ramai adalah Tunjungan. Di sini ada Toko Aurora dan Tjijoda. Yang terakhir kepunyaan orang Jepang. Konon kabarnya, Toko Tjijoda adalah sarang mata-mata Jepang. Banyak dari mereka turut memimpin tentara Jepang ketika Jepang menyerbu Hindia Belanda. Kedua toko ini adalah mal zaman dulu.

Setelah Perang Dunia II, di Tunjungan ada dua toko Tionghoa yang terkenal, yaitu Toko Piet dan Toko Nam, yang bisa menyaingi kedua toko kepunyaan Belanda dan Jepang tadi. Orang Tionghoa yang tinggal di pecinan jarang belanja di Tunjungan karena bisa membeli barang-barang di Kapasan dan Kembang Jepun. Kualitas barang-barangnya sama, tapi harganya lebih murah.

Kalau kita ingin menonton film-film Barat, kita harus keluar dari pecinan. Metropole Theatre berada di Pasar Besar, Luxor di seberangnya, Bioskop Rex di Tegalsari, Maxim di Palmenlaan, dan Capitol Theatre di Kranggan.

Tempat-tempat hiburan malam, yang umumnya untuk orang-orang kulit putih, berada di Tunjungan, Simpang, Palmenlaan, dan Tegalsari. Yang masih saya ingat Simpang Club, tempat fine dining, berdansa, dan menonton konser musik Barat. Bangunan klub ini dengan arsitektur kolonial masih berdiri sampai sekarang.

Pada masa itu tidak setiap orang diperkenankan masuk ke dalam klub tersebut. Hanya pegawai-pegawai Belanda yang diperkenankan masuk. Tapi, setelah Indonesia merdeka, Simpang Club dapat dikunjungi masyarakat umum, asalkan punya uang untuk membayar. Menonton pertunjukan di sini kita harus berpakaian rapi. Beda dengan menonton pertunjukan kesenian di pecinan.

9 comments:

  1. Artikel ini menarik dan memberi kita pengetahuan sejarah etnis Tionghoa jaman pasca kemerdekaan s.d. 1965, yang menandai 30+ tahun masa pahit bagi kaum Tionghoa di / dari Indonesia. Yang paling menarik ialah bahwa alm Dr Han ini keturunan totok, tapi ibunya punya pandangan jauh ke depan untuk menyekolahkan dia ke sekolah Belanda, agar bisa meneruskan ke universitas dan tidak "hanya" jadi pedagang

    ReplyDelete
  2. banyak info menarik dr buku memoar prof han. kita perlu cari nih di toko buku..

    ReplyDelete
  3. Komunitas Jejak Petjinan menjual buku Memoar dr Han ini dengan harga 85rb, bila tertarik mohon kirimkan email ke jejakpetjinan@gmail.com Terima kasih.

    ReplyDelete
  4. saya senang hotel ganefo yg antik banget. keluarga temanku pernah adain wedding disana.

    ReplyDelete
  5. pak han juga menulis banyak aspek kehidupan org tionghoa di masa lalu, termasuk kontribusi dalam perjuangan kemerdekaan. komprehensif banget....

    ReplyDelete
  6. Terima kasih Prof. Han

    ReplyDelete
  7. salut sama prof Han yg menulis buku kenangan tentang kota surabaya tempo doeloe, khususnya kontribusi orang tionghoa. kita bisa belajar banyak hal dari masa lalu, mengambil hikmah dan pelajaran.

    ReplyDelete
  8. good article, thank you !!

    ReplyDelete
  9. Cerita kenangan masa lalu yang selalu berkesan. Semoga jejak Surabaya tempo dulu tidak hilang begitu saja.

    ReplyDelete