17 July 2011

Paulus Latera Tulis 10 Buku




Oleh Yenny Wijayanti
Mahasiswi UK petra Surabaya


Berawal dari hobi menulis puisi, novel, dan kata-kata bijak sejak kecil, Paulus Latera telah menghasilkan 10 buku. Padahal, guru SMA Kristen Petra 3 Surabaya ini sibuk di sekolah, rukun warga, gereja, hingga persekutuan di perumahannya.


BUKU-BUKU Paulus Latera sudah disebarkan di Toko Buku Togamas serta perpustakaan sekolah tempat dia mengajar saat ini, SMA Kristen Petra 3 Surabaya. Karya Paulus antara lain Sebuah Perjalanan (99 Puisi), Setegar Hati Nienna, 123 Kata-Kata Bijak, Jakarta- Masih Ada Cinta, dan Pantun Bahasa Lamaholot (Flores Timur).

Pria kelahiran Adonara, Flores Timur, 15 Oktober ini mengaku senang menulis sejak kecil di kampung halamannya. Namun, dia mengaku belum berani mempublikasikan karya-karyanya untuk dibaca banyak orang. “Jadi, saya hanya sekadar menulis, kemudian menyimpan saja di komputer,” tutur mantan guru SMA Kristen Petra 4 Sidoarjo ini.

Pada 2008, sejak pindah mengajar di SMA Kristen Petra 3 Surabaya, barulah Paulus berani menerbitkan kumpulan tulisan-tulisannya tersebut. Tak perlu repot-repot karena file-file lama sudah disimpan rapi. Tinggal diedit sedikit, mencari percetakan dan penerbit, untuk dijadikan buku.

Keinginan Paulus untuk membukukan karya-karyanya semata-mata agar dibaca oleh banyak orang, terlebih orang-orang terdekatnya. “Saya tidak cari hasil penjualan buku saya. Tapi, ketika saya tahu buku-buku saya dibeli, lalu dibaca sama orang lain, apalagi siswa-siswi yang pernah saya ajar dulu, wah, itu sungguh merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya,” kata suami Christin Setyowati ini seraya tersenyum.

Dia mengaku tidak pernah menyuruh, apalagi memaksa murid-muridnya di SMA Kristen Petra 3, untuk membeli buku-bukunya. Namun, dia selalu menyampaikan informasi bahwa buku-bukunya sudah ada di toko buku dan perpustakaan. Bahkan, buku-buku itu sering dijadikan bahan pengajarannya.

“Yah, kalau mau dibaca silakan, kalau mau dibeli, ya, lebih syukur lagi. Pokoknya, saya ingin membuat murid-murid saya bangga memiliki guru Bahasa Indonesia yang bukan hanya bisa mengajar lewat buku karya orang lain, tapi bisa menghasilkan buku sendiri,” kata Paulus, ayah dua putri bernama Santi dan Ina.

Meski senang menulis, Paulus ternyata tidak pernah memaksakan kedua anaknya untuk meneruskan bakatnya sebagai penulis. Dia hanya ingin kedua anaknya berkembang secara alami, tanpa paksaan, atau embel-embel dari ayahnya.

“Saya hanya mengajarkan sama anak-anak, kalau kamu memang punya talenta, kenapa nggak dikembangkan?” tandas pria yang pernah menjadi pengurus RW selama 17 tahun ini.

“Saya mau menjadi contoh dan teladan yang baik buat anak-anak saya. Lakukan apa pun selama kamu mampu. Saya juga mengajarkan sikap adil serta kerja sama kepada anak-anak saya di rumah,” pungkasnya. (*)

Sumber: Radar Surabaya 15 Juli 2011

No comments:

Post a Comment