08 July 2011

Orang Kaya Tak Langgan Koran

Sebagai xinwen jizhe, saya biasa melakukan survei amatiran di sekitar tempat tinggal saya tentang minat warga terhadap koran alias surat kabar. Berapa banyak rumah tangga di Jambangan Gang II yang berlangganan koran? Atau, di Bangah, Gedangan, Sidoarjo, yang langganan atau rutin membeli koran?

Nah, sejak lama saya ‘main mata’ di sebuah gang di Ngagel Jaya Selatan, Surabaya. Kawasan perumahan yang tergolong menengah ke atas. Sebagian besar dari 40-an rumah di sini punya mobil. Bahkan, mobil-mobil mereka lebih dari satu, keluaran baru, bagus-bagus. Saya lihat ada keluarga kaya, Tionghoa, yang mobilnya empat atau lima. Pokoke, sugih buanget!

Pagi-pagi, menjelang sepeda santai atau ikut senam Ling Tien Kung bersama etnis Tionghoa di Lapangan Barata, Ngagel, saya selalu perhatikan tukang koran yang bagi-bagi koran di dalam gang. Aha, ternyata tak sampai tujuh rumah yang berlangganan koran. Orang kaya yang punya banyak mobil malah tidak berlangganan koran.

Di gang ini hanya ada satu rumah yang berlangganan majalah bulanan Intisari. Beliau ini sejak 1970-an sudah menjadi pelanggan setia Intisari... sampai sekarang. Yang menarik, pelanggan koran dan majalah, termasuk satu keluarga yang langganan Panjebar Semangat, majalah mingguan berbahasa Jawa, ini justru bukan keluarga-keluarga yang sangat kaya.

Mereka yang mobilnya lebih dari satu kayaknya tidak mendapat kiriman koran setiap pagi. Jangan-jangan sudah berlanggan di tempat kerja. Jangan-jangan membaca koran atau media via internet. Atau, jangan-jangan memang tidak punya minat baca koran. Saya hanya bisa menduga-duga saja karena tidak berani bertanya langsung ke orang-orang kaya yang tidak butuh koran itu.

“Dulu saya pernah nawarin, kirim nomor perkenalan, tapi nggak mau langganan,” kata seorang tukang koran kepada saya. Ada lagi tetangga sebelah, punya mobil, yang lebih suka pinjam dan minta koran ke saya karena memang tidak berlangganan.

Orang-orang media cetak, khususnya pekerja surat kabar, sudah lama pusing karena sulit menaikkan oplah koran. Begitu banyak strategi pemasaran, kiat jitu menarik pelanggan baru, tapi hasilnya kurang optimal. Bahkan, ada koran di Surabaya yang banting harga tinggal Rp 1.000 pun kurang mempan untuk menambah jumlah pelanggan.

Berapa sih harga langganan koran sebulan? Tidak sampai Rp 100.000. bahkan, lebih banyak koran di Surabaya yang di bawah Rp 50.000. Dengan duit segini, tiap pagi pelanggan menerima kiriman koran tepat waktu, sebelum berangkat kerja.

Lantas, kenapa orang-orang kaya bermobil bagus dan baru itu tidak mau langganan juga? Saya kira, perlu ada kajian khusus dari periset-periset lapangan atau akademisi di Surabaya. Bahwa ternyata begitu banyak orang di Surabaya yang lebih rela membayar ratusan ribu rupiah hanya untuk sekali makan di restoran ketimbang berlangganan koran.

Yang menarik, sekali lagi berdasar survei amatiran, saya melihat mahasiswa-mahasiswa kos-kosan justru punya minat besar berlangganan koran. Anak-anak PMKRI Surabaya di Taman Simpang sejak dulu patungan untuk berlangganan Jawa Pos dan Kompas. Padahal, mahasiswa-mahasiswa aktivis ini, khususnya yang dari Flores, sering terlambat dapat kiriman uang. Setiap hari mereka berebut membaca koran meskipun sering tidak sempat sarapan.

Mahasiswa-mahasiswa IAIN Sunan Ampel di kawasan Wonocolo pun doyan membaca koran. Ada yang berlangganan tiga koran sekaligus. Arek-arek IAIN penggemar koran ini sudah pasti tidak punya mobil bagus layaknya warga perumahan elite yang kaya-raya.

“Saya kalau nggak baca koran, rasanya ada yang kurang,” ujar seorang mahasiswa IAIN Sunan Ampel yang juga aktif mengirim artikel di koran.

Saya jadi ingat guru-guru SD di pelosok Flores Timur pada tahun 1980-an dan 1990-an. Jangankan punya mobil, membeli sepeda motor saja pun sangat sulit. Tapi sejak dulu pater-pater misionaris SVD berhasil menjadikan guru-guru kampung ini sebagai pelanggan koran mingguan DIAN dan majalah mingguan HIDUP.

Karena itu, bisa dimengerti kalau HIDUP, majalah khusus untuk umat Katolik itu, bisa bertahan hidup sampai saat ini. Padahal, HIDUP ini sudah terbit jauh sebelum Indonesia merdeka. Dengan berlangganan, maka koran-koran atau majalah sudah punya konsumen tetap. Tidak perlu mumet mencari pembeli, menjual eceran di jalan, dan sebagainya.

Maka, saya selalu terkagum-kagum ketika membaca tulisan atau cerita bahwa pelanggan koran-koran di Eropa bisa mencapai 90 atau 95 persen. Kita di Indonesia terbalik: pelanggan koran kurang dari 10 persen, 90 persen hanya pembeli eceran. Runyamnya lagi, banyak orang berduit yang lebih suka menghabiskan uang di restoran atau karaoke ketimbang berlanggan koran.

8 comments:

  1. Jaman sekarang orang yang mampu bayar pake internet sudah bisa baca berita. Sumber berita bukan hanya koran saja. Apalagi kalau koran hanya tulis berita korupsi dan gosip saja.

    ReplyDelete
  2. Matur nuwun atas pendapat sampean.

    Konteksnya agak beda. Jauh sebelum ada internet, orang2 kaya yang saya survei ini memang tidak berlangganan media. Karena kebiasaan MEMBACA media ini tidak ada, boro2 langganan, maka di era internet pun sama saja. Tetap aja gak baca informasi di internet.

    Koran banyak muat skandal korupsi akhir2 ini di Indonesia memang benar. Dan perlu. Bayangkan kalau korupsi dibiarkan saja, tak disorot media. Tapi kalau dibilang koran banyak muat gosip, wah, koran apa itu? Berita2 gosip di Indonesia itu porsinya televisi yang sering disebut INFOTAINMENT.

    ReplyDelete
  3. Halo Bernie, kalau saya mau kasih komentar, karena sekarang yang namanya televisi hampir tiap jam menyiarkan berita, mungkin itu salah satu yang membuat orang kaya tidak mau berlangganan koran. Atau waktu mereka untuk meluangkan baca koran juga tidak ada. Sementara mereka dikejar target untuk memenuhi kebutuhan hidup-nya atau cari uang sebanyak-banyaknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alasan klasik dari salah satu bangsa yang malas baca

      Delete
    2. alasan klasik dari suatu bangsa yang malas membaca sehingga wawasannya kalo ngga rendah ya hoax

      Delete
  4. Lha aku gak langganan koran tapi download koran dari internet. Kan sekarang banyak tuh koran lewat media online. Jadi buat apa langganan, toh lewat internet aku malah bisa banyak baca 2 - 3 koran setiap harinya dan gak perlu keluarin uang lagi. hehehehe.
    :D
    Nih aku kasih contoh salah satu link untuk download koran jawa pos.
    http://www.mediafire.com/download/d4ndr3997vv23eu/jawapos.16.08.2013.pdf
    Tiap hari update lho.

    ReplyDelete
  5. wakakakkk... sukurin, gaya seh loe, sekarang jawapos online sudah ga gratis lagi alias harus bayar

    ReplyDelete
  6. Yg mau langganan jawa pos, hub.aku ya di adihdihdih@gmail.com :)

    ReplyDelete