04 July 2011

Nunung Bakhtiar Pelukis Surabaya




Oleh Lambertus Hurek

Menandai perjalanan berkeseniannya selama 25 tahun, pelukis Nunung Bakhtiar (59) saat ini sedang menggelar pameran tunggal di Hotel Mercure-Grand Mirama Surabaya. Ibu dua anak ini menjadikan pameran tunggal ini sebagai ajang untuk berterima kasih kepada masyarakat, khususnya para kolektor, yang telah mengapresiasi karya-karyanya.


Nah, di sela kesibukannya melayani pertanyaan pengunjung, Nunung Bakhtiar bersedia menerima Radar Surabaya untuk sebuah wawancara khusus. Pelukis yang murah senyum ini bicara panjang lebar tentang perjalanan karier, pengalaman berpameran di luar negeri, hingga dahsyatnya the power of mind and the power of positive thinking. Tuturan Nunung Bakhtiar sarat dengan motivasi, layaknya motivator kawakan. Berikut petikannya:

Ini pameran keberapa?

Waduh, sudah terlalu banyak deh saya ikut pameran bersama teman-teman pelukis yang lain. Tapi, kalau pameran tunggal, ini yang kelima. Pameran tunggal saya yang terakhir tahun 2007.

Ada makna khusus pameran kali ini?

Yah. Pameran ini menandai 25 tahun perjalanan dan pergulatan saya dalam dunia seni rupa. Tidak terasa, saya sudah berjalan selama sejauh ini di dunia seni lukis dengan segala macam peluang dan tantangannya. Tapi, alhamdulillah, saya bersyukur karena bisa menikmati kebahagiaan dengan profesi ini. Berkat seni lukisan, saya bisa punya kesempatan untuk jalan-jalan ke luar negeri, bikin pameran, punya relasi dengan teman-teman di luar negeri, punya kolektor baik di di dalam dan luar negeri.

Dan, supaya Anda tahu, semua perjalanan saya ke luar negeri (untuk pameran) itu gratis lho! Selalu ada saja jalan bagi saya untuk mengembangkan karier di seni lukis, sekaligus memperkenalkan Indonesia di luar negeri.

Anda sudah pernah pameran ke negara mana saja?

Pertama kali di Toronto, Kanada, tahun 1995. Waktu itu ada perayaan 50 tahun Indonesia merdeka atau Indonesia Emas. Saya punya peluang untuk berdiskusi dengan pelukis-pelukis di sana, mengunjungi studio di sana, bertemu dengan para peminat dan kolektor lukisan. Kemudian saya juga sempat ke Swiss, Prancis, Belanda, Jerman, New Zealand.

Yang membuat saya bahagia, pameran saya di luar negeri selalu berlangsung lama, minimal satu bulan. Jadi, saya punya kesempatan untuk berdialog dan berinteraksi dengan teman-teman (sesama seniman) di luar negeri. Dari situ saya menemukan banyak hal yang menarik, baik alamnya, pemandangannya, hingga manusianya.

Ternyata, orang-orang Eropa seperti di Belanda atau Swiss hampir sama dengan kita di Indonesia. Ada semacam gethuk tular di antara mereka. Dan itu membuat teman-teman seniman di sana selalu mendatangi pameran saya.

Bagaimana ceritanya Anda akhirnya bisa menembus Eropa, sementara perjalanan berkesenian Anda boleh dikata belum terlalu panjang?

Yah, semuanya terjadi begitu saja. Jalan itu sepertinya selalu terbuka untuk saya. Awalnya, saya sering email-emailan sama kenalan sesama pelukis di Belanda. Saya sempat menitipkan lukisan di sana. Akhirnya, suatu ketika saya dapat tawaran, bagaimana kalau Anda menggelar pameran lukisan di Belanda? Wow, tentu saja tawaran tahun 2003 ini langsung saya respons dengan baik. Saya sampaikan rencana itu kepada Wali Kota Bambang DH. Beliau ternyata benar-benar memberikan dukungan, sehingga saya akhirnya berangkat ke Den Haag.

Sampai di sana saya disambut dengan sangat baik. Saya dapat gedung untuk pameran selama satu bulan. Bahkan, saya juga dapat tempat tinggal dan fasilitas akomodasi. Anda bisa bayangkan, kalau diuangkan sudah berapa itu?

Lantas, bikin pameran serupa di Prancis?

Nah, saat pameran di Belanda, ada teman yang menawarkan bagaimana kalau saya pameran di Prancis? Oke! Akhirnya, saya naik kereta api ke Prancis, bawa lukisan-lukisan saya dari Belanda. Di Prancis, selama satu bulan saya nginap di rumah teman. Pokoknya, kalau pameran di luar negeri saya maunya paling tidak satu bulan. Buat apa jauh-jauh ke sana kalau hanya pameran cuma satu minggu? Orang Prancis ini apresiasi seninya sangat baik. Saya diundang ke mana-mana untuk melukis di taman mereka. Yah, lumayan, sambil pameran saya bisa bekerja juga di sana. Hehehe...

Kemudian pameran di New Zealand pun sama. Satu bulan saya bikin pameran, bahkan saya datang sama suami saya. Kebetulan dapat sponsor seorang pencinta seni yang juga pemilik hotel di sana. Saya disiapkan tiket pulang-pergi, fasilitas nginap di hotel milik dia dan sebagainya. Bahkan, lukisan-lukisan saya diborong untuk dipajang di hotel itu.

Kira-kira apa rahasia sukses Anda yang terkesan begitu mudah berpameran di luar negeri dalam waktu lama?

Selama 25 tahun ini saya sudah membuktikan kekuatan pikiran. The power of mind! Jangan sepelekan kekuatan pikiran Anda. Selalu berpikir positif. Selalu optimistis, yakin, bahwa kita bisa. Sejak dulu saya selalu tanamkan di pikiran saya bahwa saya tidak mau hanya jadi pelukis yang biasa-biasa saja. Saya membayangkan di pikiran saya, suatu ketika saya berada di tengah-tengah publik seni di Eropa atau Amerika. Dan, alhamdulillah, semua itu akhirnya terbukti dalam kenyataan. Makanya, saya ingin menularkan the power of mind dan berpikir positif ini kepada siapa saja. Yakinlah, Anda pun pasti bisa! (rek)

BIODATA SINGKAT

Nama lahir : Lembah Setoawaty
Nama : Nunung Bakhtiar
Lahir : Malang, 14 Juni 1952
Orangtua : Suwarno Harso dan Sujeti
Suami : Syahrul Bakhtiar
Anak : Arya Suryawan dan Maharani
Pendidikan terakhir : Psikologi Untag Surabaya

PAMERAN TUNGGAL
1. Symphony 2000 di Novotel Surabaya.
2. Dancing on The Canvas (Menari di Atas Kanvas), 2003, di Belanda
3. Pameran di New Zealand selama satu bulan, 2005
4. Pameran di Surabaya, 2007
5. Pameran 25 Tahun Berkarya, Mercure-Grand Mirama Hotel Surabaya, 2011

Pameran bersama: Berkali-kali sejak 1991 sampai 2011




Dari Dancer, Model, hingga Pelukis

TIDAK terlalu aneh kalau Nunung Bakhtiar (49) punya passion luar biasa pada dunia kesenian. Maklum, sang ayah, Suwarno Harso, senang melukis di kala senggang. Meski hanya sebatas hobi, aktivitas melukis sang ayah ikut menular kepada Nunung, sulung dari lima bersaudara.

Yang menarik, di masa kecil Nunung justru bercita-cita menjadi seorang dancer, penari terkenal. Karena itu, dia sempat berlatih di Sanggar Viatikara, komunitas tari terkenal di Surabaya. Sayang, panggung tari rupanya kurang mendukung si Nunung yang punya ambisi menjadi seniman besar.

“Saya tidak mau sekadar jadi orang yang biasa-biasa saja,” begitu prinsip Nunung Bakhtiar sejak dulu. Sempat menjajaki dunia modeling, pada 1970-an, Nunung masih terus ‘bermain-main’ dengan potlot dan keras gambar. Melukis apa saja sesuai keinginan hatinya.

Ketika menikah dengan Syahrul Bakhtiar, waktu itu petinggi kantor berita Antara, atmosfer kesenian yang melingkupi Nunung kian kental. Betapa tidak. Sang mertua, Wiwiek Hidayat, seorang pelukis profesional. Sang suami pun sesekali melukis dan suka mengoleksi lukisan.

Ketika hijrah ke Bali mengikuti sang suami pada 1983, greget berkesenian semakin kental saja. Nunung senang menghabiskan waktu dari museum ke museum, galeri, dan berkunjung ke studio para pelukis di Pulau Dewata itu. Berjam-jam dia memperhatikan cara kerja para seniman, gaya lukisan, hingga persahabatan di antara mereka.

Sejak itu dia bertemu pelukis-pelukis kondang macam Wayan Jati, Made Titib, Antonio Blanco, Arie Smith, Widayat, Affandi, Navarro, Roger San Miguel, Kriyono, OH Soepono, hingga Tedja Suminar. Lingkungan yang begitu kondusif ini kian melejitkan bakat seni yang sudah lama terpendam di dalam diri Nunung. Dia mulai melukis dengan cat minyak, kadang pastel.

“Waktu itu saya belum berani pameran,” kenang ibu dua anak dan nenek dua cucu ini.

Ketika kembali ke Surabaya, 1991, lagi-lagi karena ikut suami, Nunung Bakhtiar mencoba mengikuti pameran bersama di Hotel Hyatt (sekarang Hotel Bumi) dalam rangka konferensi Rotary Club Indonesia. Kebetulan Nunung seorang rotarian alias anggota klub sosial internasional itu. Tak dinyana, ada tiga lukisannya ditaksir pengunjung.

Kolektor asal Jepang ngotot mengoleksi lukisan berjudul Gadis Bali I. Si turis berani bayar mahal, pakai dolar, namun Nunung tak tega melepas lukisan itu ke negeri sakura. Semalaman dia tak bisa tidur memikirkan negosiasi dengan orang Jepang itu.

Akhirnya, Nunung Bakhtiar meminta maaf tidak bisa melepas lukisan kesayangannya itu. Sampai sekarang lukisan itu menjadi koleksi pribadi yang tak akan dilepasnya. Sebagai otodidak, pelukis tanpa guru dan tanpa latar belakang pendidikan seni lukis, Nunung gemar berdiskusi dengan sesama pelukis. Termasuk dengan pelukis yang ‘gagal berkembang’. Semua itu diolah, dipetik hikmahnya, untuk mengarungi dunia seni rupa yang penuh gelora itu. (rek)

No comments:

Post a Comment