05 July 2011

Nicky Astria Masih Ciamik




Akhirnya, Metro TV mau menayangkan Nicky Astria, salah satu penyanyi favorit saya, di acara ZONA MEMORI, Minggu 3 Juni 2011. Dipandu Ronny Sianturi dan Gladys Suwandi, yang juga penyanyi lawas, Nicky Astria tampil seorang diri. Macam konser tunggal Nicky Astria. Band pengiring Widya Kristianti, Cendy Luntungan, Denny TR, dan kawan-kawan yang memang sudah lama dapat job tetap di Zona Memori, nama baru Zona 80.

Nicky Astria memang sudah lama hilang dari peredaran. Televisi-televisi kita, juga blantika musik pop Indonesia, sejak dulu memang tak ramah dengan penyanyi-penyanyi atau musisi lawas. Habis manis sepah dibuang.

Penyanyi-penyanyi lama, sehebat dan seterkenal apa pun, selalu dianggap 'sepah' di masa senja. Maka, artis-artis yang sudah berusia 30 tahun biasanya deg-degan, stres, bahkan bisa gila kalau tak bisa menghadapi iklim musik pop Indonesia.

Nicky Astria bukanlah penyanyi kacangan. Vokalnya melengking tinggi, punya vibrasi, teknik produksi suara bagus. Penampilan oke. Bahkan, ketika muncul di Metro TV barusan, si lady rocker ini masih terlihat ciamik di usia 40-an. Wajah boleh, tubuh tetap terjaga. Tidak kegemukan.

Hanya saja, tak bisa dimungkiri, kualitas vokal Nicky Astria sudah tidak prima lagi. Maklum, job-joban manggung sudah hampir tak ada lagi. Nicky mengembangkan karier di luar jalur musik. Karena itu, dia seperti tak punya kewajiban untuk berlatih olah vokal, pernapasan, atau main musik tiap hari. Nyanyi dan musik kayaknya hanya untuk hobi, kangen-kangenan dengan penggemar lama.

Maka, tak heran Nicky Astria malam itu saya lihat kesulitan membidik nada-nada tinggi. Oh ya, lagu-lagu yang dibuat untuk Nicky Astria sejak dulu memang punya rentang nada (ambitus) yang lebar. Ini memang kelebihan Nicky Astria ketika usianya di bawah 30. Selepas 30, apalagi setelah menikah, meskipun gagal beberapa kali, kelenturan dan ketinggian suara sudah sulit dikembalikan ke era 1980-an dan 1990-an. Manusia memang sulit kompromi dengan faktor usia, bukan?

Ketika sampai pada nada-nada tinggi, Nicky Astria bikin improvisasi. Dia pakai nada-nada rendah. Atau, bikin melodi baru, improvisasi. Atau, ini yang sulit dimengerti, si Nicky malah menyodorkan mike ke ibu-ibu atau seorang bapak di depan panggung yang suaranya hancur bener. Lha, jangankan orang awam seperti si ibu berjilbab merah dan seorang bapak berkacamata tebal, artis sekaliber Nicky Astria saja sudah sulit membawakan refren yang menantang itu.

Hehehe.... Rupanya, Nicky Astria menghindari jebakan nada-nada tinggi dengan 'mendelegasikan' kepada penonton. Asal comot pula. Setahu saya, biasanya penonton itu sudah 'dikoordinasikan' lebih dulu, dipilih yang punya suara bagus. Dengan begitu, suara penonton tidak malah mengganggu konser solo sang vokalis. Itu berdasar pengalaman saya meliput konser artis-artis top beberapa tahun lalu di Surabaya dan Sidoarjo. Tidak pernah ada penonton yang benar-benar spontan.

Ketika ada cewek yang diminta naik panggung, misalnya, hampir pasti sudah diseleksi ketat. Postur oke, suara bagus, punya kemampuan public speaking, tidak grogi. Mungkin Nicky Astria lupa dengan 'rahasia di belakang panggung' atau memang sengaja polos, apa adanya. Oke-oke saja kalau memang konser ini sekadar kangen-kangenan dengan penggemar lama!

Saya sendiri punya banyak kenangan manis dengan lagu-lagu Nicky Astria. Hampir semuanya enak-enak, khususnya album yang digarap Ian Antono dan Jelly Tobing. Ketika ada lomba vocal group semasa SMP dan SMA, kelompok kami menggunakan lagu hit Nicky Astria: Biar Semua Hilang (Jockey Suryoprayogo) dan Di Antara Bias Ragu (Titiek Hamzah). Kedua lagu ini bukan saja manis melodinya, tapi punya syair yang kuat. Syair puitis, indah, yang sangat sulit dijumpai dalam lagu-lagu pop Indonesia hari ini.

"...Usah lagi perpisahan jadi beban di hati
Tak kan lagi... ada harapan kita tuk kembali
Biar semua hilang... bagai mimpi-mimpi
Biar semua hilang usah kau sesali..."


Ada pula lagu Misteri Cinta (karya Ully Sigar Rusadi), yang menjadi 'lagu wajib' kami, anak kos-kosan, ketika masih mahasiswa di Jember. Atau: "Uang bisa bikin orang senang tiada kepalang. Uang bikin mabuk kepayang...." Teman saya, Deddy, paling suka 'Kuping Cap Lang'.

Saya juga masih ingat penyiar radio AM spesialis lagu-lagu pop kewalahan karena selalu mendapat request lagu Remang-Remang Dirimu. Masih ingat syairnya? Kalau ingatan saya tidak meleset, demikian:

"Tiada lagi indah hidupku ini
Kau tinggalkan luka di hatiku
Ke mana ku bawa diriku
Tuk melepas duka di hatiku
Derai air mata jatuh di pipiku
Bila ku mengenang dirimu..."


Meski tidak melihat langsung konser Nicky Astria, dan terlepas dari kualitas Nicky yang tak sebagus era 1990-an, saya puas menikmati penampilan Nicky Astria di Metro TV selama satu jam. Saya pun jadi rindu penyanyi-penyanyi yang punya karakter, kualitas, dan ciri khas macam Nicky Astria. Bukan penyanyi atau musisi yang sekadar lewat, setelah itu hilang tak berbekas, tanpa meninggalkan nada-nada dan syair di memori kita.

6 comments:

  1. seharusnya kualitas seperti nicky tidak dilupakan begitu saja. saya yakin kualitasnya yang sekarangpun (walaupun kurang latihan) masih jauh di atas dari para penyanyi2 jaman sekarang. mudah2an ada produser yg mau menggaet bakat emas ini kembali.

    ReplyDelete
  2. setuju..belum ada yang menandingi teh nicky

    ReplyDelete
  3. Download lagu slowrock Indonesia 90an Nike ardilla, Inka Christie, Nicky Astria, Conny Dio, Ani Carera dll. di www.rockers90s.blogspot.com

    ReplyDelete
  4. lady rocker Surabaya 80-90an juga tidak kalah hebat lho..!! Ita Purnamasari dan Ayu Wedhayanti. Tapi mojang Bandung memang diuntungkan kesempatan tampil lebih besar

    ReplyDelete
  5. buat lady rocker yang satu ini cuma ada stu kata "HEBAT".

    ReplyDelete
  6. iya pak, saya yang masih muda (ciee) juga bisa merasakan kalo nicky astria itu salah satu diva indonesia terbaik sepanjang masa :)

    ReplyDelete