24 July 2011

Misbahul Huda, Presdir Temprina




Oleh Lambertus Hurek

Sebagai anak kampung Takeran, Magetan, Misbahul Huda tak pernah membayangkan bakal dipercaya mengelola sejumlah perusahaan dengan total karyawan mencapai 2.000 orang. Namun, berkat kerja keras, kecerdasan, kegigihan, serta doa-doa yang tak kunjung putus, putra sulung pasangan KH Muslich (alm) dan Siti Fathonah ini sukses mengembangkan PT Temprina Media Grafika.

Sukses di Temprina, Misbahul Huda dipercaya memimpin PT Adiprima Suraprinta, pabrik kertas di kawasan Sumengko, Gresik. Bukan itu saja. Pria 48 tahun ini juga mengelola PT Jepe Press Media Utama dan beberapa perusahaan lagi.

Bisa diceritakan latar belakang keluarga Anda?

Bapak saya itu pegawai negeri sipil, guru Aliyah di Takeran. Ibu saya guru Ibtidaiyah. Jadi, latar belakang orangtua saya memang guru sederhana di desa. Saya juga ngaji di pesantren, tapi nggak mondok karena kebetulan rumah saya dekat pondok pesantren. Baru setelah tamat Tsanawiyah saya sekolah di SMAN 2 Madiun. Kemudian kuliah di UGM, Teknik Elektro.

Lulus dari UGM, Anda gabung dengan Jawa Pos?

Saya diajak Pak Dahlan Iskan untuk bekerja di percetakan. Yah, benar-benar dari bawah karena saya harus berhadapan dengan mesin cetak, listrik, dan sebagainya. Situasi saat itu memang berat karena saya digaji dengan standar UMR, Rp 150.00 per bulan. Untungnya, istri saya juga mantan aktivis mahasiswa yang sudah biasa hidup dengan uang saku yang pas-pasan. Kami hanya bisa kontrak rumah petak berukuran 2,5 x 5 meter, disekat jadi dua.

Pihak keluarga tidak keberatan?

Protes sih pasti ada, khususnya dari keluarga Ummi (Herlina Fauziah, sang istri). Kenapa sudah capek-capek kuliah, mahal-mahal kok tidak dimanfaatkan untuk mencari kerja? Pertanyaan itu wajar karena dulu jarang ada orang di kampung saya yang menyelesaikan pendidikan sampai sarjana. Alhamdulillah, Ummi bisa menjadi penjaga gawang keluarga yang andal.

Lantas, mulai kapan Anda mulai merintis Temprina?

Nah, setelah dipelonco selama lima tahun, saya ditantang sama Pak Dahlan untuk memisahkan unit produksi dan percetakan. Saya sempat mendapat semacam pembekalan khusus di Chicago, Amerika Serikat, untuk mendalam mesin cetak dan sebagainya. Sejak 15 tahun lalu itulah saya merintis Temprina, unit percetakan di bawah Grup Jawa Pos.

Awalnya, berapa orang ikut Anda ke Temprina?

Hanya tiga orang. Empat lainnya kembali ke Jawa Pos. Sebab, situasi waktu itu memang sangat berat. Percetakan masih menjadi cost center, bukan profit center. Jadi, kami harus merintis dari nol. Karena sudah sering dipelonco, saya selalu optimis dan positif. Bagi saya, mission ini possible. Tidak ada yang tidak mungkin, if you believe in Allah!

Apa pengalaman berkesan selama memimpin Temprina?

Salah satunya ketika saya diminta mencari mesin cetak untuk Rakyat Merdeka di Jakarta yang oplahnya sudah menembus 40 ribu. Saya diberi deadline satu bulan harus dapat. Saya cari informasi ke sana kemari, akhirnya ketemu di Jerman Timur. Mesin cetak itu beratnya 60 ton. Lha, kalau dikirim pakai kapal laut, mungkin dua bulan baru sampai ke Indonesia. Akhirnya, saya carter pesawat kargo Martin Air untuk angkut dari Jerman ke Cengkareng.

Pengalaman lain?

Suatu ketika, saya diperintahkan membongkar mesin cetak, kemudian harus pasang lagi di tempat lain di Jakarta. Saya dikasih waktu satu hari karena harus bisa dipakai untuk mencetak koran besoknya. Alhamdulillah, mission itu bisa kami selesaikan. Itulah gunanya kalau kita sering diajari untuk berbuat salah.

Bagaimana perkembangan Temprina sekarang?

Alhamdulillah, saat ini omzet kami mencapai Rp 850 miliar setahun. Sebagian besar income Temprina justru bukan dari media-media di lingkungan Grup Jawa Pos. Penghasilan kami dari luar seperti proyek, tender, dan sebagainya. Dari lingkungan Jawa Pos cuma 43 persen.

Ada kesulitan ketika Anda diminta mengelola Adiprima dan JP Books?

Tidak ada. Bagi saya, tidak ada kata gagal. Yang ada hanya sukses dan belajar. Kita di Indonesia ini umumnya punya penyakit inferior. Rendah diri. Kita sering kali menganggap seolah-olah orang Barat, bule-bule, itu lebih hebat dari kita. Mindset ini harus dibuang kalau kita mau maju. Asal tahu saja, Adiprima itu satu-satunya pabrik kertas yang tidak ada WNA-nya. Semuanya warga negara Indonesia. (lambertus hurek)


BIODATA SINGKAT

Nama : Ir Misbahul Huda
Lahir : Madiun, 27 Januari 1963
Istri : Dra Herlina Fauziah
Anak :
1. Farhatul Muti'ah (sarjana teknik ITS, konsultan arsitek)
2. Wafi Ihtikamiddin (mahasiswa teknik mesin ITB)
3. Ahmad Fahmi Shidqi (OTTU Ankara, Turki)
4. Fatinatul Istiqomah (SMA Al-Hikmah Surabaya)
5. Nu'man Tamimi (SMP Al-Hikmah Surabaya)
6. Fauzan Zaidi (SD Al-Hikmah Surabaya)
Hobi : Main golf

Pendidikan
MI/MTs Takeran, Magetan
SMAN 2 Madiun
UGM Jogjakarta, Teknik Elektro (lulus cum laude)

Pekerjaan
Presidir PT Temprina Media Grafika
Presidir Adiprima Suraprinta
Presdir JP Books

3 comments:

  1. Salam kenal pak. kemaren saya tahunya pas ada yg minta dibuaitn WPAP dg foto pak Huda ... ternyata.
    masyaAllah... kok saya baru ngeh....

    salam

    Mohammad Helmi

    foto WPAP (Wedha's Pop Art Portrait) bapak ada di album wpap saya : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=2918590125595&l=540babc2a9

    ReplyDelete
  2. Assalamualailkum wr.wb
    Perkenalkan kami dari Yayasan Istiqomah Sidoarjo jika berkenan minta nomor kontak Bp. Misbahul Huda yg bisa dihubungi.
    Terima Kasih
    Wassalamualaikum wr.wb

    ReplyDelete
  3. Assalamualailkum wr.wb

    perkenalkan saya : Mustar Saguni putra Taliwang Sumbawa barat, mantan karyawan Cakrawala Print, Mantan karyawan Askaf medi grafika, Mantan karyawan Yayasan Al Uswah keputih Surabaya.
    Sekarang sudah pulang kampung (sumbawa) dan jadi Bos ayam potong, heheheheh..
    awalnya sy iseng-iseng browsing dgn kata kunci "percetakan di surabya" ehhh... ketemunya Foto pak huda. sekalian aja saya coment di blog ini. saya pernah di kasih pencerahan/studi banding sama pak Huda sewaktu saya kerja di Cakrawala print saat itu direkturnya masih pak Nasir mutado,
    jadi tidak ada maksud apa-apa dgn coment ini, hanya membuat saya teringat sama surabaya terlebih dunia offset, hemmmm.... bisa di bilang saya ini profesional di mesin offset tapi sayang kini saya ada di sumbawa barat tepatnya di kota taliwang dan jd pedagang ayam potong. hehhehehehe..

    ok pak Huda sukses selalu

    Wassalam...

    ReplyDelete