02 July 2011

Koran Digelontor Cerpen

Setiap hari saya lihat minimal ada empat sampai enam cerpen yang masuk ke koran kecil di daerah. Cerpen yang diterima Kompas rata-rata 9-10 sehari. Jawa Pos saya rasa tak berbeda jauh dengan Kompas: 10 cerpen sehari, bahkan bisa lebih.

Berbeda dengan berita atau foto, cerpen hanya dapat jatah muat SATU kali seminggu di koran. Itu pun tidak semua koran membuka halaman khusus untuk sastra, khususnya cerpen. Artinya, dalam setahun hanya ada 52 cerpen yang dimuat di sebuah koran.

Misal kata--meminjam gaya Lin Xiansheng yang suka membumbui ujarannya dengan 'misal kata'--dalam sehari ada lima cerpen masuk sebuah koran, berarti dalam sebulan ada 150 cerpen. Setahun ada 1.800 cerpen. Dus, cerpen yang tidak termuat 1.748.

Wuih, banyak banget!
Mau dikemanakan cerpen-cerpen yang tidak dimuat salah satu koran itu?
Dikirim ke koran-koran atau majalah lain?
Dijadikan buku kumpulan cerpen?

Tanpa menyinggung kualitas, harus diakui terjadi ledakan produktivitas yang luar biasa di kalangan penulis-penulis kita. Ide makin banyak, komputer, laptop, dan perangkat lain kian mempermudah orang untuk menuangkan ide-idenya dalam tulisan.

Bahkan, ada cerpenis di Jawa Timur yang saking produktifnya, hampir setiap hari bisa mengirim dua cerpen ke sebuah koran. Bisa dipastikan penulis yang sama juga mengirim cerpen (lain) ke koran lain. Sebab, kalau sampai ketahuan mengirim cerpen yang sama ke lebih dari satu koran, bakal masuk daftar hitam.

Sulit membayangkan cara kerja cerpenis yang superproduktif ini. Bikin cerpen kayak pabrik panci di kawasan Aloha, Sidoarjo! Padahal, tak sedikit cerpenis yang tergolong senior belum tentu mampu menulis lima cerpen dalam setahun.

Sebelum pertengahan 1990-an, ketika internet belum ada, blog belum dikenal, penulis-penulis cerpen memang mengandalkan koran edisi Minggu untuk publikasi cerpen. Ada juga majalah bulanan sastra macam Horizon yang bisa menampung banyak cerpen. Beberapa pengarang berjuang sendiri, syukur-syukur dapat penerbit, untuk menerbitkan kumpulan cerpen mereka.

Maka, muncul istilah 'sastra koran' untuk melabelisasi cerpen-cerpen yang dimuat di koran. Cerpen yang (dulu) dinilai dangkal karena halaman koran memang terbatas. Plot cerita, panjang naskah, disesuaikan dengan ruangan yang tersedia. Tak lagi bebas lepas menulis cerpen tanpa pertimbangan space, isu-isu mutakhir, aktualitas, dan sebagainya.

Nah, ketika internet makin massal, maka batasan-batasan space tentunya tak ada lagi. Mau bikin cerpen yang panjang-panjang, puluhan halaman, terserah. (Namanya bukan 'cerita pendek' lagi kalau ceritanya berpanjang-panjang? Hehehe...)

Tak perlu lagi menghadapi pisau editor atau redaktur yang sering dikritik para cerpenis itu. Mau bikin cerpen macam apa saja, eksperimen dengan ragam apa pun... silakan. Internet memang wahana demokrasi yang nyaris tanpa batasan dan sensor.

Tapi mengapa penulis-penulis itu masih tetap ngotot menggelontor koran dengan cerpen? Kenapa tidak dimuat saja di blog pribadi atau laman khusus cerpen atau sastra di internet?

Apa gerangan yang kaucari, wahai sang cerpenis, di koran? Honorarium? Nama besar? Pengakuan? Kebanggaan diri?

Saya sering mengusulkan kepada penulis-penulis muda, termasuk cerpenis, untuk bikin website atau blog pribadi. Posting-lah tulisan-tulisan kalian, termasuk cerpen, di internet. Dengan begitu, energi kreativitas yang meluap-luap itu bisa disalurkan dan bisa dibaca banyak orang di jagat maya yang tak berbatas itu.

Kalau hanya sekadar menunggu cerpen dimuat di koran, yang dijatah satu cerpen seminggu, sementara cerpen yang masuk 35 biji, wah-wah-wah....

No comments:

Post a Comment