Pernah dengar nama Kartina Dahari?
Saya sendiri baru tahu dari seorang bekas wartawan yang kini jadi pelukis dan pengoleksi lagu-lagu lama. Awalnya saya kira Kartina ini berasal dari Jawa. Tapi ternyata biduanita legendaris bersuara empuk ini orang Melayu tulen. Dia warga negara Singapura, kerap tinggal di London bersama putranya.
Saya pun menikmati 10 lagu---delapan lagu berirama keroncong---dari rekaman lama Kartina Dahari yang sudah ditransfer ke file MP3. Wah, luar biasa suara puan Melayu-Singapura yang satu ini. Caranya menyanyinya santai, tentang, penuh perasaan, gayeng. Enak dinikmati buat relaksasi, mengendorkan pikiran yang kusut.
Vokal Kartina Dahari jenis alto. Nada dasar yang dipakai selalu rendah. Ini membuat lagu-lagu keroncong ala Kartina Dahari terasa ‘gak ngoyo’. Mirip gaya penyanyi-penyanyi Latin membawakan irama bossanova yang santai banget.
“Kartina Dahari sangat terkenal tahun 1960-an. Dia dijuluki ratu keroncong dari Melayu,” kata paman saya yang pernah merantau di Sabah, Malaysia Timur, tahun 1960-an. “Sekarang sih orang-orang muda tidak kenal Kartina Dahari. Tapi zaman dulu, wah, Kartina Dahari itu penyanyi yang luar biasa.”
Saya pun mulai mencermati nyanyian Kartina Dahari dari album lawas itu. Ah, ternyata Encik Kartina ini banyak membawakan lagu-lagu keroncong Indonesia yang sangat populer. Sebut saja Rindu Malam, Di Bawah Sinar Bulan Purnama, Jali-Jali, Rujak Uleg, Soleram (Suriram), Selendang Sutra, Jangan Ditanya ke Mana Aku Pergi, Tidurlah Intan, Sapu Tangan, Pohon Beringin, Es Lilin.
Boleh dikata lagu-lagu keroncong, langgam, dan tradisional Indonesia sangat dominan dalam album-album Kartina Dahari pada era 1960-an dan 1970-an. Meski cengkok Melayu masih terasa, ucapan-ucapan syair Kartina Dahari tidak sekental Melayu-Malaysia atau Malaysia-Singapura. Kalau terdengar sepintas, kita menyangka Kartina Dahari ini orang Indonesia tulen.
Lagu Rujak Uleg dari Jawa Timur dibawakan Kartina Dahari dalam nada dasar Bes (dua mol). Tembang dolanan berbahasa Jawa ini dibawakan dalam bahasa Indonesia (Melayu). Di bagian refrein nuansa Melayu ala Kartina sangat terasa, dan justru membuat lagu ini lebih manis.
Begitu juga lagu Jali-Jali yang dinyanyikan Kartina Dahari dengan nada dasar C (natural). Aransemen musik khas Betawi tetap terasa kental. Hanya saja, dia mengganti kata CAPEK dengan PENAT, mungkin lebih cocok untuk pendengar berbahasa melayu.
Bagi saya, yang tidak hidup di era kejayaan Kartina Dahari, keberadaan Kartina Dahari dan penyanyi-penyanyi seangkatan beliau ini membuktikan bahwa Indonesia, Malaysia, Singapura, kemudian Brunei Darussalam pada suatu masa pernah berbagi selera. Kita punya selera musik yang sama. Lagu-lagu yang populer di Indonesia ikut diminati di Malaysia, Singapura, atau Brunei.
Bahkan, biduan-biduan Melayu macam Kartina Dahari membawakan lagu-lagu keroncong atau etnik Indonesia tanpa beban politik, sentimen kebangsaan, dan sebagainya. Padahal, sebagian besar lagu-lagu Kartina Dahari dipetik dari karya Ismail Marzuki, komposer besar Indonesia, yang paling banyak menggubah lagu-lagu perjuangan. Lagu-lagu yang bercerita tentang perjuangan heroik bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda.
Di masa lalu, khususnya sebelum tahun 1960-an, hubungan antara orang Indonesia dengan orang Malaysia, Singapura, dan Brunai begitu mesra dan hangat. Tak ada kecurigaan, sentimen kebangsaan, klaim kebudayaan dan sempadan seperti yang berkembang sejak 30 tahun terakhir. Sebuah era ketika negara-negara bertetangga ini belum lama merdeka, masih berjuang keras untuk mencapai kemakmuran.
Kini, ketika Malaysia dan Singapura jauh lebih maju dan makmur meninggalkan Indonesia [sementara Indonesia hanya bisa mengirim pembantu dan pekerja-pekerja kasar ke Malaysia dan Singapura], kita makin sulit mengulang masa-masa indah ketika Kartina Dahari sangat digandrungi karena melantukan lagu-lagu Ismail Marzuki. Tak punya beban apa pun.
Orang Indonesia hari ini rupanya ‘makin jauh’ dari Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Sebaliknya, orang Malaysia pun kerap hanya memandang Indonesia sebagai INDON-INDON yang hanya bisa menjadi pekerja-pekerja kasar dan dibayar murah. Alamak!
Tembang paling kondang dari Kartina Dahari tak lain Sayang Disayang karya Zubir Said. Ini dia liriknya:
SAYANG DISAYANG
By Zubir Said
Angin menderu
Dahan jatuh menimpa batu
Kuburan... kuburan
Murai terkejut berkicau-kicau
Langit mendung diliputi awan
Alamat bumi disirami hujan
Sayang disayang
Hatiku rindu
Orang jauh lupa diri
Kenangan ... kenangan
Fikiran kusut berisau-risauan
Sakit untung ditinggalkan abang
Ibarat kapal tidak berhaluan
Sayang disayang

Hebat sekali...
ReplyDeletebu tina memang legenda keroncong di masa lalu. beliau sangat dikenal org2 lama.
ReplyDelete