10 July 2011

Kanak-Kanak Melantjong Petjinan



Banyak cara untuk mengisi liburan sekolah. Sekitar 30 anak-anak yang tergabung dalam Yongchun Hanyu Zhongxia diajak menikmati pertunjukan wayang potehi di Kelenteng Hong Tek Hian di Jl Dukuh Surabaya, Kamis (7/7/2011) pagi.

Bocah-bocah TK dan SD peserta kursus bahasa Mandarin ini juga diajari cara membuat dan memainkan wayang potehi. “Kita ingin memperkenalkan salah satu khasanah seni budaya Tionghoa kepada anak-anak,” ujar Paulina Mayasari, koordinator Komunitas Jejak Petjinan.

Selama satu tahun lebih, Paulina dan kawan-kawan aktif menggelar program Melantjong Petjinan dengan berbagai tema baik di Surabaya hingga Tuban. Namun, baru sekali ini acara melancong dikemas khusus untuk anak-anak.

Pihak Kelenteng Dukuh, nama populer TITD Hong Tek Hian, tampak antusias menyambut rombongan Yongchun dan Jejak Petjinan. Ong Khing Kiong, pimpinan kelenteng, bahkan meminta para pemain wayang potehi untuk tampil dalam formasi lengkap dan kostum panggung. Di depan panggung, disediakan meja panjang dan tempat duduk untuk bocah-bocah dari sejumlah TK dan SD di Surabaya itu.

Setelah menyampaikan selamat datang dan penjelasan singkat tentang sejarah wayang putehi, Ki Sukar Mujiono, dalang senior yang juga pemimpin Grup Lima Merpati, mulai memainkan wayang khas Fujian, Tiongkok Selatan, itu.

Ceritanya tentang petualangan Sie Teng San, putra pendekar sakti mandraguna Sie Jin Kwie. Adegan perang pun terasa seru karena didukung oleh instrumen musik Tionghoa yang riuh-rendah.

Bocah-bocah polos ini deg-degan melihat Sie Teng San sempat terpojok ketika bertarung satu lawan satu melawan pendekar jahat. Namun, toh akhirnya pendekar sakti itu beroleh kemenangan. Anak-anak pun bertepuk tangan riuh.

Selepas atraksi wayang potehi, peserta Melantjong Petjinan Kanak-Kanak mendapat kesempatan khusus untuk belajar membuat wayang potehi. Ki Sukar Mujiono memberikan panduan singkat tentang cara membuat karakter harimau. Juga cara menggerakkan harimau agar terlihat hidup. “Susah bikin wayang potehi, tapi asyik,” kata Shannon (7), murid kelas dua SD Bunga Bangsa.

Menurut Ong Khing Kiong, yang juga tokoh tokoh Majelis Tridharma Indonesia, pertunjukan wayang potehi selalu dimainkan setiap hari di Kelenteng Dukuh selama 30 tahun terakhir. Setiap hari wayang golek ala Tiongkok ini dimainkan tiga kali.

“Ini merupakan bagian dari ritual sekaligus untuk melestarikan seni budaya,” kata Ong. (rek)

Dimuat Radar Surabaya edisi Jumat 8 Juli 2011

2 comments:

  1. Artikel yang menarik..
    Salam dari sahabat di Jogja...^_^

    Universitas Islam Indonesia
    http://uii.ac.id/
    Universitas Swasta Terbaik di Yogyakarta

    ReplyDelete
  2. Ikut merasakan kebahagiaan para anak anak kecil ini

    Bagai bumi dan langit bedanya dengan apa yg tua tua seperti saya ini alami di masa masa seperti jaman tidak normal penuh penindasan dahulu

    Berbahagialah para anak anak kecil, memang seharusnya begitu :)

    ReplyDelete