Oleh Yenny Wijayanti
Mahasiswi UK Petra Surabaya
Kota Shenzhen dikenal sebagai salah satu kota di Tiongkok menyediakan segala macam produk dengan harga supermurah. Sang tour guide beberapa waktu lalu mengajak kami untuk singgah dan belanja di Shenzhen.
Tentu saja ibu-ibu, bahkan kami, peserta tur yang masih muda-muda, langsung bersemangat turun dari bus yang berhenti di depan salah satu mal. Kami pun bergegas masuk ke dalam mal tersebut untuk mulai berburu barang-barang. Ternyata kata-kata tour guide itu: barang-barang yang dijual di sini memang jauh lebih murah daripada di toko-toko lain.
Barang-barang yang aku incar adalah tas, sepatu, dan handphone. Karena memang harganya bisa setengah lebih murah daripada di Indonesia. Sayangnya, saat aku masuk ke dalam salah satu gerai di mal tersebut, aku serasa mengalami shock therapy.
Sudah biasa jika kita masuk ke dalam sebuah toko di Indonesia melihat-lihat barang, memegang barang itu, kemudian mencobanya. Bahkan, kita bisa keluar toko tanpa membeli apa pun jika memang tidak ada barang yang cocok buat kita.
Ini berbeda dengan apa yang aku lihat di Shenzhen. Semua penjaga toko seakan-akan memaksa kita untuk membeli barang-barang yang sudah kita pegang. Meskipun kita tidak seberapa tertarik, mereka akan marah dan tidak mengizinkan kita keluar dari tokonya tanpa membeli barang yang sudah kita sentuh.
Aku waktu itu masuk ke toko tas, kemudian memeriksa bagian dalamnya, takutnya ada yang rusak atau cacat. Ternyata benar dugaannku, tas itu bagus luarnya saja, di bagian dalamnya ada yang robek. Maka, tentu aku tak jadi membeli. Langsung aku taruh lagi tas itu dan aku keluar toko buat mencari di toko yang lain.
Tak lama setelah aku menaruh tas dan hendak keluar dari toko tersebut, ternyata sudah ada dua laki-laki tinggi besar berbadan kekar berpakaian hitam berdiri di depan pintu toko untuk mencegah aku keluar toko. Dua laki-laki tersebut ternyata memang sengaja menunggu di luar dan menunggu aba-aba dari penjaga toko jika ada pembeli yang masuk toko tanpa membeli barangnya.
Aku takut luar biasa, karena hanya seorang turis yang berlibur di negeri orang, dengan bekal bahasa Mandarin yang pas-pasan. "Kamu tidak boleh keluar dari toko saya kalau tidak beli tas yang kamu pegang tadi," kata xiaojie (nona) yang menjaga toko itu. aku gemetar dan takut bukan main.
"Hmm... wo mei you qien a.. wo deng wo de beng you, ge yi ma?" kataku dalam bahasa Mandarin pas-pasan. (Hmm, aku gak bawa uang, aku nunggu temanku dulu, bolehkah?)
Tanpa menjawab apa pun xiaojie itu menarik tanganku dan tidak mengizinkan aku untuk keluar toko. Untung saja, badanku kecil, dan cewek itu tangannya agak seret waktu menarik aku, terus dua cowok yang badannya kekar itu tinggi-tinggi.
Jadi, aku bisa langsung lari menyelundup dari bawah lengannya yang diangkat sambil memegang pintu. Lari sekencang-kencangnya, dan syukurlah, aku tidak dikejar. (*)
Sumber: Radar Surabaya edisi 14 Juli 2011

Kebiasaan orang kita pegang2 barang janganlah dibawa2 apalagi di Shzenzhen & HongKong. Berbahaya. Saya pernah alami pemerasan di "Klinik Antah Berantah" dipaksa beli obat2an yg ga jelas. 1996 dg kurs HKD, yg saat itu lebih tinggi drpd YuanRMB. Dan di suatu show room Chinese Arts yg saya tidak mau masuki.
ReplyDeleteMasih untung Anda tidak ditahan. Kita harus extra hati2. Harus tetap dalam rombongan !!!
pelajaran yg bagus buat semua org yg ingin jalan2 ke china....
ReplyDeletethanks infonya, buat pelajaran
ReplyDeleteternyata Indonesia msi lebih ramah & menyenangkan utk yg hobi belanja, tp kenapa msi merasa lbh gengsi klo ke LN ya ????
ReplyDelete