17 July 2011

Hati-Hati Belanja di Shenzhen



Oleh Yenny Wijayanti
Mahasiswi UK Petra Surabaya


Kota Shenzhen dikenal sebagai salah satu kota di Tiongkok menyediakan segala macam produk dengan harga supermurah. Sang tour guide beberapa waktu lalu mengajak kami untuk singgah dan belanja di Shenzhen.



Tentu saja ibu-ibu, bahkan kami, peserta tur yang masih muda-muda, langsung bersemangat turun dari bus yang berhenti di depan salah satu mal. Kami pun bergegas masuk ke dalam mal tersebut untuk mulai berburu barang-barang. Ternyata kata-kata tour guide itu: barang-barang yang dijual di sini memang jauh lebih murah daripada di toko-toko lain.

Barang-barang yang aku incar adalah tas, sepatu, dan handphone. Karena memang harganya bisa setengah lebih murah daripada di Indonesia. Sayangnya, saat aku masuk ke dalam salah satu gerai di mal tersebut, aku serasa mengalami shock therapy.

Sudah biasa jika kita masuk ke dalam sebuah toko di Indonesia melihat-lihat barang, memegang barang itu, kemudian mencobanya. Bahkan, kita bisa keluar toko tanpa membeli apa pun jika memang tidak ada barang yang cocok buat kita.

Ini berbeda dengan apa yang aku lihat di Shenzhen. Semua penjaga toko seakan-akan memaksa kita untuk membeli barang-barang yang sudah kita pegang. Meskipun kita tidak seberapa tertarik, mereka akan marah dan tidak mengizinkan kita keluar dari tokonya tanpa membeli barang yang sudah kita sentuh.

Aku waktu itu masuk ke toko tas, kemudian memeriksa bagian dalamnya, takutnya ada yang rusak atau cacat. Ternyata benar dugaannku, tas itu bagus luarnya saja, di bagian dalamnya ada yang robek. Maka, tentu aku tak jadi membeli. Langsung aku taruh lagi tas itu dan aku keluar toko buat mencari di toko yang lain.

Tak lama setelah aku menaruh tas dan hendak keluar dari toko tersebut, ternyata sudah ada dua laki-laki tinggi besar berbadan kekar berpakaian hitam berdiri di depan pintu toko untuk mencegah aku keluar toko. Dua laki-laki tersebut ternyata memang sengaja menunggu di luar dan menunggu aba-aba dari penjaga toko jika ada pembeli yang masuk toko tanpa membeli barangnya.

Aku takut luar biasa, karena hanya seorang turis yang berlibur di negeri orang, dengan bekal bahasa Mandarin yang pas-pasan. "Kamu tidak boleh keluar dari toko saya kalau tidak beli tas yang kamu pegang tadi," kata xiaojie (nona) yang menjaga toko itu. aku gemetar dan takut bukan main.

"Hmm... wo mei you qien a.. wo deng wo de beng you, ge yi ma?" kataku dalam bahasa Mandarin pas-pasan. (Hmm, aku gak bawa uang, aku nunggu temanku dulu, bolehkah?)

Tanpa menjawab apa pun xiaojie itu menarik tanganku dan tidak mengizinkan aku untuk keluar toko. Untung saja, badanku kecil, dan cewek itu tangannya agak seret waktu menarik aku, terus dua cowok yang badannya kekar itu tinggi-tinggi.

Jadi, aku bisa langsung lari menyelundup dari bawah lengannya yang diangkat sambil memegang pintu. Lari sekencang-kencangnya, dan syukurlah, aku tidak dikejar. (*)

Sumber: Radar Surabaya edisi 14 Juli 2011

10 comments:

  1. Kebiasaan orang kita pegang2 barang janganlah dibawa2 apalagi di Shzenzhen & HongKong. Berbahaya. Saya pernah alami pemerasan di "Klinik Antah Berantah" dipaksa beli obat2an yg ga jelas. 1996 dg kurs HKD, yg saat itu lebih tinggi drpd YuanRMB. Dan di suatu show room Chinese Arts yg saya tidak mau masuki.
    Masih untung Anda tidak ditahan. Kita harus extra hati2. Harus tetap dalam rombongan !!!

    ReplyDelete
  2. pelajaran yg bagus buat semua org yg ingin jalan2 ke china....

    ReplyDelete
  3. thanks infonya, buat pelajaran

    ReplyDelete
  4. ternyata Indonesia msi lebih ramah & menyenangkan utk yg hobi belanja, tp kenapa msi merasa lbh gengsi klo ke LN ya ????

    ReplyDelete
  5. Orang cina sifatnya memang brengsek, tetapi kita juga keturunan cina, jadi didalam chromosom-kita juga ada sifat kebrengsekan. Ngacalah sebelum komentar. Tourist Jepang yang melancong keluar negeri selalu bersikap sopan, ramah dan berwibawa, mereka datang untuk melihat keindahan alam, kesenian dan kebudayaan negara yang mereka kunjungi. Sebelum datang mereka sudah membaca buku2 tentang negara yang mereka akan kunjungi. Tidak ada tourist Jepang yang melancong untuk shopping. Bedalah dengan tacik2-Indonesia yang melancong keluar negeri, pengetahuan mereka tentang sejarah, geografi, kesenian dan kebudayaan negara tujuan tidak penting atau tidak tahu sama-sekali. Pokoknya sudah pernah kesana, tidak mau kalah sama teman2-nya.
    Begitu turun dari bus-wisata, tacik2-Indonesia langsung semburat bak kucing yang dilepas, lari ngalor ngidul masuk toko2 untuk shopping. Mereka tidak perduli perasaan si-guide yang ingin menerangkan hal sejarah dan seni. Kampungan tacik2 itu !
    Yenny, lu sendiri bilang, wo mei you qian, mengapa lu masuk toko, pegang ini-itu, coba ini-itu. Karena yang lu lakukan itu di Tiongkok, yah gua tenang2 saja, biarlah brengsek ketemu brengsek. Lu tidak usah takut kepada orang China, mereka suka teriak2, tetapi mereka jarang aggresiv, anggaplah perilaku mereka seperti dagelan. Perilaku kasar orang China, seperti garam, lombok dan terasi dalam bumbu masakan Indonesia, tidak perlu dianggap serius. Lu bentak yang keras, mereka akan takut sendiri. Tapi jangan se-kali2 bentak orang Madura, maka belati nancap diperut-lu.
    Gua sering ikut jalan2 sama tacik2-Indonesia di Seminyak-Kuta/Bali. Tiap ketemu boutique para tacik masuk, coba baju ini-itu, tidak beli, langsung ngeloyor keluar. Gua bilang; lu orang tidak kasian kepada mbak penjaga toko ?
    Mereka jawab; oh, tidak apa2, biasa begini di Indonesia ! Dasar kalian tidak berperikemanusiaan, mengganggu orang lain, dianggap biasa. Pelayan toko di Indonesia paling sebal lihat tacik, sebab rewel, cerewet, pelit, menawar barang dengan harga tidak masuk akal.
    Para Guide di Tiongkok memang dipaksa oleh agen wisata untuk mengajak para tamu masuk toko2 perhiasan, perusahaan teh atau rumah sakit TCM, mereka juga dapat persenan, jika ada tamu yang kena tipu. Karena tujuan mereka memang untuk menipu, maka kita tidak usah membeli barang disitu. Kalau mereka rewel, silahkan bentak yang keras, jangan takut, lha wong podo cino-ne, koq wedi, tetapi kalian jangan coba ini-itu.
    14 tahun silam, gua ajak ipar-gua ke Xiamen, oleh si-guide kita diajak kerumah sakit TCM, katanya si-guide: saya perkenalkan anda dengan dokter TCM yang paling masyur di Xiamen. Ipar-gua diperiksa nadi-nya, lalu katanya, kamu punya penyakit ini-itu, kalau tidak diobati bisa sangat berbahaya. harga obatnya 800 Yuan perbungkus, kamu harus minum paling sedikit 3 bungkus.
    Ipar-ku orang jahil, dia pura2 sedih, berkata dengan suara ter-bata2 yang di-buat2; Xian-sheng, ya gua sudah tahu tentang penyakit-gua itu, gua ini orang malang, lebih cepat mati lebih baik. Kenapa ? tanya si-Sin-she.
    Istri-gua orang bule Jerman, judesnya minta ampun, seperti Siluman Ular Putih dicerita silat. Sin-she itu tetap memaksa dia untuk membeli obat-cina.
    Ipar-ku tetap ngengkel minta cepat mati. Gua dan istri-gua yang ikut mendengarkan tertawa geli melihat ludrukan itu. Achirnya si-Sin-she marah maki2. Kita ya ketawa ngeloyor keluar. Shin-she-nya marah kepada guide;
    orang gila koq lu bawa ke-gua, habis waktu-gua setengah jam percuma.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehehe.... matur nuwun Xiangshen sudah berbagi cerita yg bagus dan bikin kita ketawa sendiri. ada kritik, satir, humor, informasi... campur aduk jadi satu. selamat belanja di zhongguo.

      Delete
    2. Bung Hurek yang budiman, belasan tahun silam, saya dan istri belanja di Beijing-Zhongguo. Bojoku ingin membelikan pakaian cina (cheongsam, jibao) untuk anak2 kami, supaya mereka pakai waktu carnival. Karena ketika itu bojoku tidak bisa berbahasa Mandarin, maka dia menyuruh aku menawar ditoko.
      Piro cik ? 400 ! 200 boleh ? Tidak bisa, rugi, rugi ! Yo wis ora sido tuku.
      Ya ambillah, mau beli berapa potong ? Dua !
      Setelah keluar dari toko, bojoku ngomel2 ; kalian orang laki2 goblok, tidak bisa menawar, kita telah tertipu ! Aku ngambek; Lain kali gua tidak mau menawarkan lagi untuk lu, lu tawar sendiri, mboh pakai boso Jowo, Inggris, sak karep mu !
      Kita lalu jalan2, ditoko lain ada jual baju yang sama. Bojoku yang masih penasaran memaksa aku untuk masuk dan bertanya harga.
      Lelaki cina pada umumnya sok2 galak terhadap istri, padahal
      kenyataan sebenarnya mereka semuanya takut istri. Lelaki cina kalau sudah menikah, seperti kerbau yang tercocok hidungnya. Perempuan cina lah yang paling berkuasa didalam rumah tangga Tionghoa.
      Karena aku juga laki cina, yah terpaksa masuk toko lagi, nurut sama bojo. ( Wahai lelaki Jawa-Muslim, betapa bahagianya kalian, bojo-tua neko2 langsung ditalak, yo golek meneh sing enom, sing sabar ).
      Ditoko satunya: Piro koh ? 900 ! Aku terperanjat, membisu. Ayo kamu tawar berani berapa ? Aku diam. 600 lah ! Aku diam. 400 lah !
      Aku marah meledak; Kamu ini seorang penipu, aku tidak sudi ngomong sama kau ! Pedagang cina-nya kaget lihat gua marah, lalu berkata dengan memelas; Da-ge (大哥) harap jangan marah, saya kasih anda 60 Yuan, ini sungguh mati, harga kulakan saya.
      Aku tidak perduli, langsung keluar dari toko itu.
      Dari Beijing kita terbang ke Quanzhou, ketemu saudara sepupu, orang cina asli pribumi sana. Aku bilang; Koh istri-gua mau beli baju jibao untuk anak2, lu bisa mengantar kami ketoko ? Okay, toko itu milik teman baik-ku sejak kita kanak2, kalian disana jangan tawar-menawar, sebab harganya pasti fair ! Ditoko ini harganya 70 Yuan, jadi pedagang di Beijing tidak berdusta ketika bilang dia kulak 60 Yuan.


      Delete
    3. Kamsia Xiangshen, ceritanya makin seru dan segar. Namanya aja pedagang ya cari untung sebanyak2nya. Apalagi pembelinya itu bisa ditipu dengan mudah. Kalau di Indonesia, khususnya di pelosok, orang bule yg digarap karena dianggap uangnya buanyaak dan gampang kasihan sama wong pribumi. Maka harga barang2 untuk bule2 dibedakan sama wong pribumi. hehehe...

      Saya suka kutipan yang bagus ini: "Lelaki cina pada umumnya sok2 galak terhadap istri, padahal kenyataan sebenarnya mereka semuanya takut istri. Lelaki cina kalau sudah menikah, seperti kerbau yang tercocok hidungnya. Perempuan cina lah yang paling berkuasa didalam rumah tangga Tionghoa.."

      Gak hanya tenglang, wong jowo maduro flores batak pun sami mawon. Selamat belanja teh cungkuo.

      Delete
    4. Bung Hurek, Sampeyan ngileni kulo meneh, jangkrik lek dikileni, yo ngerik ! Cerita tentang belanja di Tiongkok, penasarannya tidak bakal habis2-nya, seperti cerita silat bersambung ala Kho Ping Ho. Tentang Teh-cungkuo kili anda : Tahun 2006 saya pergi keperkampungan Hoakiao di Dong-guan / Fujian. Kecamatan ini dibangun oleh para Hoakiao Indonesia yang exodus tahun 1960, berpenduduk kurang lebih 15 ribu orang. Saya ketemu seorang teman sekolah asal Banyuwangi. Dikota ini sebagian besar penduduk yang berusia diatas 60 tahun memakai bahasa Jawa dalam percakapan se-hari2. Ada sebuah toko teh, milik seorang Hoakiao asal Banjarmasin.
      Kita minum teh sambil ngobrol, dia membuka rahasia : Teh yang gua jual disini harganya ber-macam2, ada yang sampai 2000 Yuan per pound. Harga kulakan-gua yang paling mahal adalah 50 Yuan per pound. Begitulah trik seorang pedagang, tergantung bungkusan- dan
      merek-nya. Saya ini perokok berat, doeloe ngudut Bentoel, Grendel atau Wismilak. Di-Eropa ngudut Marlboro. Di Tiongkok ngudut Hong-mei (红梅) yang harganya cuma 2,50 Yuan per bungkus. Karena gara2 Deng Xiao-ping ngudut rokok merek Zhong-hua (中华), maka harganya dijual 70 sampai 100 Yuan per bungkus. Dasar orang2 Cina sekarang jadi OKB, mereka juga gengsi merokok Zhong-hua. Saya yang memiliki pengalaman perokok selama setengah abad, tidak merasakan ada perbedaan antara Hong-mei dan Zhong-hua, hanya beda bungkus dan gengsi. Gara2 ngudut Hong-mei, saya sering diolok oleh teman2 China; yang lu isap itu, khan rokoknya 老百姓 (rakyat jelata ).
      Apropos istilah Hoakiao atau Hua-qiao ; yalah warga negara China yang lahir dan hidup diluar negeri. Jika seorang Hua-qiao ( 华侨 ) sudah kembali dan menetap di China, maka mereka menjadi Gui-qiao ( 归侨 ). Saya walaupun sekarang menetap di Tiongkok, tidak bisa disebut Hua-qiao atau Gui-qiao, tetapi disebut Hua-ren ( 华人 ), sama halnya dengan para saudara WNI-Keturunan Chinese yang hidup di Indonesia.
      Istilah Tionghoa yang lazim digunakan di-Indonesia sebenarnya salah kaprah " per definisi ". Supaya lebih jelas apakah definisi Tionghoa, itu bisa dilihat di baidu.com : 中华是什么意思 ?
      Keluarga istri-saya adalah golongan Tionghoa-Baba. Sekeluarga kaget waktu mendengar, anak perempuan- atau adik-nya, akan saya gondol ke Tiongkok. Ipar-saya bilang; dasar Cino edan ! Karena penasaran, dia pergi ke Tiongkok. Sepulang dari Tiongkok, dia malah lebih rajin daripada saya belajar Putonghua, bahkan ada ungkapan, yang pertama kali saya dengar dari mulutnya.落叶归根, luo ye gui gen,
      ( daun rontok kembali keakar ). Istri-saya sebenarnya masih ragu2 ikut saya ke-Tiongkok, lha wong wis enak2 di Eropa. Engkohnya dia ( ipar-saya) bilang ke adik-nya; melok o, kenaken bojo-mu ning tiongkok dewe-an, pasti dek e golek sui-ie ( gundik ) ning kono.

      Delete
  6. Saya pernah ke Shenzen beberapa kali, juga pernah ke Shanghai tinggal selama 2 minggu, saya tidak pernah mengalami hal hal yang tidak menyenangkan, semua fine fine saja :)

    ReplyDelete