18 July 2011

Goro-gorone Versi SATB



Pagi tadi saya bersepeda santai ke Jembatan Suramadu di kawasan Tambakwedi. Asyik, ngopi di pinggir laut sambil menikmati jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura itu. Sekitar 50 biker juga cangkrukan, membahas macam-macam hal, mulai dari yang serius, setengah serius, hingga bercanda khas Suroboyoan.

Saya pesan kopi pahit plus mi instan soto sama mbok warung langganan saya di pojok, dekat gudang peluru. Lalu, baca koran pagi. Acara sepeda santai ini memang asyik, terutama buat orang-orang yang tak ada tugas di kantor atau tempat kerja.

Pulang dari Suramadu, aha, saya dengar anak-anak sekolah menyanyikan lagu Goro-gorone. Lagu daerah Maluku yang sangat saya kenal. Lagu ini pernah menjadi lagu wajib lomba paduan suara tingkat sekolah dasar di kampung saya di pelosok Flores Timur. Sederhana, tapi indah.

Ketika jadi aktivis paduan suara mahasiswa, lagu Goro-gorone pun sering dibawakan teman-teman mahasiswa baru dalam lomba paduan suara. Komposer yang bikin aransemen tak lain Lilik Sugiarto, almarhum. Pak Lilik adalah tokoh paduan suara terkemuka di Indonesia. Dia banyak membuat aransemen lagu-lagu daerah sehingga enak dibawakan paduan suara mahasiswa.

Saya memang pengagum aransemen paduan suara yang dibuat Lilik Sugiarto. Tidak terlalu sulit, tapi juga tidak terlalu gampang. Dan, ketika dibawakan di atas panggung, penonton bisa hanyut dalam irama khas Nusantara. Lagu-lagu yang aslinya sederhana berubah menjadi sangat berbobot. Tapi melodi pokok alias cantus firmus tidak tenggelam.

Saya kemudian mencoba membongkar arsip lama yang sudah berdebu itu. Kumpulan paritutur paduan suara mahasiswa tempo doeloe ternyata masih ada. Saya bolak-balik, dan ternyata ada partitur Goro-gorone garapan Lilik Sugiarto. Saya coba nyanyi sendiri. Ehmm... enak juga!

Selamat menyanyi!

No comments:

Post a Comment