27 July 2011

Dosen Kencing Berdiri


Guru kencing berdiri
Murid kencing berlari


Pepatah lama ini layak direnungkan oleh guru-guru di Indonesia, mulai sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Gara-gara kurang serius merapikan ejaan, tata bahasa, logika siswa dan mahasiswanya, saat ini sebagian besar orang Indonesia kurang memahami aturan main bahasa nasionalnya.

Hampir setiap bulan saya mendapat ‘titipan’ mahasiswa dari berbagai universitas di Surabaya. Saya pernah mengampu setidaknya mahasiswa dari sembilan kampus swasta dan negeri. Yakni, UPN Veteran, Universitas Bhayangkara, IAIN Sunan Ampel, Universitas Kristen Petra, Stikosa/AWS, ITS Surabaya, Universitas Airlangga, Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, dan Universitas Negeri Surabaya.

Dari perjumpaan yang intensif dengan adik-adik mahasiswa ini, akhirnya saya tahu bahwa 94 persen dari mereka tidak menguasai ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD). Tak usah jauh-jauh, mahasiswa-mahasiswa ini belum bisa membedakan kata depan DI dan awalan DI-. Menulis DIMANA selalu dirangkai, padahal seharusnya dipisah: DI MANA. Penempatan tanda-tanda baca pun kacau-balau.

“Apakah dosen-dosen kamu pernah membaca, kemudian mengoreksi tulisanmu?” tanya saya kepada seorang mahasiswi cantik dari kampus swasta terkenal di Surabaya.

“Baca sih baca, tapi gak sedetil yang Anda lakukan!” jawabnya.

Yah. Saya tahu dosen-dosen di Indonesia tak punya cukup waktu untuk memelototi tulisan mahasiswanya. Apalagi, harus memperbaiki ejaan, sintaksis, morfologi, hingga pilihan kata alias diksi. Semua dibiarkan mengalir begitu saja. Tahu-tahu si mahasiswa sudah sampai di tahap skripsi, dan tak lama lagi akan lulus. Jadi sarjana!

Sudah pasti, dengan situasi kampus-kampus yang macam begini, ribuan sarjana yang diproduksi pun tetap membawa kesalahan-kesalahan elementer dalam bahasa Indonesia. Grammatical error yang seharusnya sudah tuntas di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Lha, kalau SD-nya parah, SMP dan SMA dibiarkan ngawur, ya, sampai universitas hingga S-3 atau doktoral pun akan terbawa-bawa.

Belakangan saya dapat kesempatan untuk mengedit artikel yang ditulis dosen-dosen di Surabaya. Bahkan, saya sangat sering menyunting tulisan seorang profesor terkenal, senior, yang disegani. Pak Profesor ini sudah menulis puluhan buku. Di kampus, menurut beberapa mahasiswanya yang saya kenal, si Prof ini dianggap orang hebat. Top banget deh!

Mau tahu kualitas tulisan beliau? Dari segi isi, referensi, analisis, solusi... sudah bagus. Yang repot justru di tata bahasa, khususnya sintaksis dan morfologi. Kesalahan-kesalahan ejaan, sebagaimana dilakukan mahasiswa-mahasiswanya, pun dia lakukan. Dia masih sulit membedakan awal DI- yang harus dirangkai dan kata depan DI yang harus dipisah.

Sang profesor selalu menulis STANDARISASI (salah), bukan STANDARDISASI (benar). Dia menulis KATHOLIK, padahal yang benar KATOLIK. Dia tulis PROPINSI, padahal seharusnya PROVINSI. Karena punya latar belakang pendidikan tempo doeloe ala Belanda, Pak Prof ini juga suka mencampur kata-kata Belanda, Inggris, dan entah dari mana lagi dalam karangannya. Padahal, bahasa Indonesia sudah punya kosa kata yang lebih sederhana dan populer.

Saya beberapa kali memberi masukan dan catatan kecil untuk Pak Prof. Hasilnya sia-sia. Orang tua, yang usianya di atas 60 tahun, memang sangat sulit diberi ‘pelajaran’ oleh penyunting yang lebih pantas jadi cucunya. Keras kepala!

Sejak itu saya semakin memaklumi mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sangat lemah dalam penguasaan bahasa Indonesia tulis. Sang profesor saja tidak tertib, alih-alih menuntut mahasiswa yang usianya 20-an tahun itu. Maka, saya pun ingat peribahasa lama:

Guru kencing berdiri
Murid kencing berlari

No comments:

Post a Comment