31 July 2011

Didi WS Bos Pasar Atum Mall



Oleh Lambertus Hurek

Pasar Atum Mall punya tradisi tahunan menggelar upacara bendera memperingati detik-detik Proklamasi setiap tanggal 17 Agustus. Yang menarik, perayaan Hari Kemerdekaan ini diikuti hampir 2.000 warga keturunan Tionghoa di Surabaya dan sekitarnya. Hajatan kebangsaan ini merupakan gagasan Didi Woelyadi Simson (61 tahun), direktur PT Prosam Plano, investor Pasar Atum Mall di Surabaya.


Selain masyarakat Tionghoa, peserta upacara bendera di halaman Pasar Atum Mall ini adalah pedagang pasar, karyawan, pejabat, hingga pihak Konsulat Jenderal Tiongkok di Surabaya. Didi Woelyadi Simson, yang juga putra seorang tentara, selalu didaulat sebagai inspektur upacara. Berikut petikan saya dengan Didi Woelyadi Simson, Sabtu (30/7/2011).

Untuk 17 Agustus tahun ini apakah masih ada upacara bendera?

Ya, jelas pasti kami adakan. Kualat kalau kami sampai tidak mengadakan upacara bendera untuk HUT Kemerdekaan RI. Hukumnya wajib.

Sejak kapan Anda menggelar acara tujuh belasan di Pasar Atum?

Sebetulnya sejak saya mulai masuk tahun 2001 sudah ada. Cuma, waktu itu lingkupnya masih kecil, hanya untuk karyawan dan sejumlah pedagang. Lantas, saya mulai mengundang pihak luar agar lebih meriah. Ternyata responsnya belum begitu bagus. Maka, sejak 2003 saya mulai bekerja dengan Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya (PMTS), bicara dengan Pak Liem Ouyen sebagai koordinator PMTS, untuk bikin upacara bendera dengan melibatkan teman-teman masyarakat Tionghoa.

Hasilnya luar biasa! Ada sekitar 800 orang Tionghoa yang ikut pada tahun 2003. Ini merupakan upacara bendera bersama PMTS yang pertama. Makin tahun makin ramai, begitu banyak orang yang ingin hadir. Tahun lalu saja ada 1.600 peserta. Jadi, sudah naik dua kali lipat. Tahun 2011 ini merupakan tahun kesembilan.

Apa pertimbangan Anda mengajak masyarakat Tionghoa?

Begini ya. Teman-teman Tionghoa itu yang justru minta untuk dilibatkan. Mereka itu, meskipun keturunan Tionghoa, sudah menjadi warga negara Indonesia. Mereka sudah turun-temurun tinggal dan bekerja di Indonesia. Karena itu, mereka merasa menjadi bagian dari republik ini. Nah, sebagai bukti rasa nasionalisme itu, mereka ingin selalu ikut upacara bendera yang kami adakan.

Jadi, antusiasme masyarakat Tionghoa di Surabaya sangat besar?

Persis. Bahkan, yang menarik, hampir semuanya berebut untuk terlibat aktif di upacara bendera sebagai tim paduan suara. Jadi, bukan sekadar peserta pasif di lapangan. Kalau tidak salah ada 68 perkumpulan atau organisasi masyarakat Tionghoa yang tergabung di PMTS. Semuanya ingin tampil. Karena itu, Pak Liem Ouyen memberi tugas secara bergilir kepada perkumpulan-perkumpulan Tionghoa itu dari tahun ke tahun.

Untuk upacara bendera tahun ini kira-kira berapa banyak undangan yang hadir?

Mungkin hampir sama seperti tahun lalu. Kalau tahun lalu 1.600 orang, tahun ini bisa sekitar 2.000 orang. Sebetulnya peserta upacara bisa lebih banyak lagi. Tapi kapasitas lapangan yang ada kan terbatas.

Agustus ini kan sudah bulan puasa. Apakah kemeriahan upacara seperti atraksi kesenian Indonesia dan Tionghoa masih dilakukan?

Nggak masalah. Tahun lalu juga upacara bendera dilakukan saat puasa. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengadakan upacara mengenang detik-detik proklamasi kemerdekaan negara kita. (rek)

Tentang Didi

Nama : Didi Woelyadi Simson
Lahir : Jombang, 6 Juni 1950
Istri : dr Agustin Tri Suryani
Anak : dua orang
1. Yoga Praditya
2. Sukma Resti Dinar

Hobi : Hunting (berburu)
Jabatan : PT Prosam Plano (investor Pasar Atum dan Pasar Atum Mall) sejak 2001


Pendidikan :
SD-SMA di Jombang
FE Unika Widya Mandala Surabaya



Dimuat Radar Surabaya edisi Minggu, 31 Juli 2011

1 comment:

  1. satuju,hukumnya wajib mengibarkan bendera merah putih,teruskan kebiasaan almarhum bapak affandi,setiap agustus diwajibkan mengikuti upacara
    mengibarkan bendera

    ReplyDelete