19 July 2011

Aris Sudibyo dari Surabaya ke Papua




Sejak 2005 Aris Sudibyo memilih pindah ke Papua. Mantan pelatih paduan suara Universitas Kristen Petra Surabaya itu memang sejak dulu berniat memoles potensi vokal orang-orang di kawasan Indonesia Timur, khususnya Papua. Pilihan yang berani plus idealis mengingat Aris Sudibyo tadinya dikenal sebagai salah satu pelatih kor terbaik di Jawa Timur, bahkan Indonesia.

Saya beberapa kali menyaksikan latihan paduan suara mahasiswa UK Petra. Pun sering menyaksikan konser yang diarahkan Aris Sudibyo. Ciamik soro, kata orang Tionghoa di Surabaya. Semua konser yang ditangani Aris pasti sukses besar. Penontonnya banyak, kualitas paduan suara, pun luar biasa.

Boleh dikata, PSM Universitas Kristen Petra kian mencorong prestasinya setelah ditangani pria yang mulai belajar paduan suara pada Paul Widyawan di Pusat Musik Liturgi Jogjakarta itu. Setelah Aris Sudibyo hijrah ke Papua, saya hampir tak pernah lagi mengikuti perkembangan PSM UK Petra. Tapi saya dengar kualitas Petra Choir masih terjaga karena ditangani pelatih baru yang juga mumpuni.

Syukurlah, saya akhirnya mengetahui perkembangan kiprah Aris Sudibyo setelah membaca koran Kompas edisi 11 Juli 2011. Tangan dingin Aris di Surabaya terbawa pula ke Papua. Guru musik di Sekolah Kristen Kalam Kudus, Jayapura, ini sukses membentuk paduan suara kaum muda Papua. Bersama dua tokoh paduan suara setempat, Agus Samori dan Hannoch Tanatty, Aris membentuk Paduan Suara Wakhu Bhim---dalam bahasa Sentani Tengah berarti gaung tifa---pada Oktober 2007.

Belum genap setahun, seperti ditulis Kompas, Wakhu Bhim sukses di 5th World Choir Games atau Olimpiade Paduan Suara Dunia di Graz, Austria (2008), yang diikuti 93 negara. Dapat medali emas kategori folklore dengan lagu E MAMBO SIMBO (Asmat) dan YESUS NIT HASIK (Dani). Juga medali perak kategori Mixed Choir.

Penampilan Wakhu Bim di Graz membuat mereka diminta tampil dalam 8th World Choir Symposium di Kopenhagen, Denmark. Wakhu Bim juga terpilih mewakili Asia Tenggara untuk tampil di televisi Austria dalam program We Are The World, Die Grosse Sommer-Nacht der Chore.

Aris mengaku tak mudah membentuk paduan suara di Papua meskipun kualitas vokal para heiren (berkulit gelap) ini bagus-bagus. Dari 180 peserta audisi, Aris memilih 40 personel berusia 20-35 tahun. Paduan suara ini tak hanya melatih teknik bernyanyi. ”Saya ingin membangun karakter orang Papua yang lebih baik, lewat musik. Jangan lagi Papua tertinggal dan dipandang sebelah mata,” katanya.

Karena itu, Aris menetapkan disiplin yang keras bagi personel Wakhu Bhim. Tak boleh merokok, minum minuman keras, melakukan seks bebas. Makan pinang pun tak boleh. Lewat Wakhu Bhim diharapkan muncul generasi Papua yang berkualitas secara mental, spiritual, dan intelektual.

Ketika pertama kali mendengar Aris Sudibyo pindah ke Papua untuk membentuk tim paduan suara yang tanggung, saya sendiri sempat skeptis. Apa mungkin Bung Aris yang saya tahu persis punya standar paduan suara kelas tinggi (internasional) bisa ‘bermain’ di Papua?

Maklum, anak-anak PSM UK Petra hampir semuanya punya latar belakang musikal di atas rata-rata. Sebagian besar anggota kor UK Petra sejak kecil sudah les piano klasik. Sudah biasa dengar rekaman musik klasik, paduan suara, dan musik-musik kelas tinggi. Bahkan, beberapa anggota kor di Surabaya sehari-hari nyambi jadi guru musik klasik.

Sebagai orang dari kawasan Indonesia Timur, termasuk Papua, saya tahu persis tak ada tradisi musik klasik. Alih-alih ikut les piano, melihat alat musik yang namanya piano saja bukan pekerjaan mudah. Paduan suara klasikal adalah barang langka di Papua, NTT, Maluku, Timor Leste, dan sekitarnya.

Lantas, bagaimana cara Aris Sudibyo membentuk ‘orang-orang kampung’ itu menjadi penyanyi paduan suara berkelas dunia? Kesangsian ini pun tersimpan dalam hati saya selama bertahun-tahun. Puji Tuhan, Aris Sudibyo membuktikan bahwa tak ada yang mustahil bagi orang yang mau bekerja keras (dan cerdas), mengabdi tanpa pamrih, di provinsi paling timur itu.

Aris Sudibyo telah berhasil memoles bakat-bakat alam Papua ke tingkat dunia. Semoga Bung Aris tetap semangat! Kapan-kapan bikin konser khusus di Surabaya ya?

No comments:

Post a Comment