31 July 2011

Didi WS Bos Pasar Atum Mall



Oleh Lambertus Hurek

Pasar Atum Mall punya tradisi tahunan menggelar upacara bendera memperingati detik-detik Proklamasi setiap tanggal 17 Agustus. Yang menarik, perayaan Hari Kemerdekaan ini diikuti hampir 2.000 warga keturunan Tionghoa di Surabaya dan sekitarnya. Hajatan kebangsaan ini merupakan gagasan Didi Woelyadi Simson (61 tahun), direktur PT Prosam Plano, investor Pasar Atum Mall di Surabaya.


Selain masyarakat Tionghoa, peserta upacara bendera di halaman Pasar Atum Mall ini adalah pedagang pasar, karyawan, pejabat, hingga pihak Konsulat Jenderal Tiongkok di Surabaya. Didi Woelyadi Simson, yang juga putra seorang tentara, selalu didaulat sebagai inspektur upacara. Berikut petikan saya dengan Didi Woelyadi Simson, Sabtu (30/7/2011).

Untuk 17 Agustus tahun ini apakah masih ada upacara bendera?

Ya, jelas pasti kami adakan. Kualat kalau kami sampai tidak mengadakan upacara bendera untuk HUT Kemerdekaan RI. Hukumnya wajib.

Sejak kapan Anda menggelar acara tujuh belasan di Pasar Atum?

Sebetulnya sejak saya mulai masuk tahun 2001 sudah ada. Cuma, waktu itu lingkupnya masih kecil, hanya untuk karyawan dan sejumlah pedagang. Lantas, saya mulai mengundang pihak luar agar lebih meriah. Ternyata responsnya belum begitu bagus. Maka, sejak 2003 saya mulai bekerja dengan Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya (PMTS), bicara dengan Pak Liem Ouyen sebagai koordinator PMTS, untuk bikin upacara bendera dengan melibatkan teman-teman masyarakat Tionghoa.

Hasilnya luar biasa! Ada sekitar 800 orang Tionghoa yang ikut pada tahun 2003. Ini merupakan upacara bendera bersama PMTS yang pertama. Makin tahun makin ramai, begitu banyak orang yang ingin hadir. Tahun lalu saja ada 1.600 peserta. Jadi, sudah naik dua kali lipat. Tahun 2011 ini merupakan tahun kesembilan.

Apa pertimbangan Anda mengajak masyarakat Tionghoa?

Begini ya. Teman-teman Tionghoa itu yang justru minta untuk dilibatkan. Mereka itu, meskipun keturunan Tionghoa, sudah menjadi warga negara Indonesia. Mereka sudah turun-temurun tinggal dan bekerja di Indonesia. Karena itu, mereka merasa menjadi bagian dari republik ini. Nah, sebagai bukti rasa nasionalisme itu, mereka ingin selalu ikut upacara bendera yang kami adakan.

Jadi, antusiasme masyarakat Tionghoa di Surabaya sangat besar?

Persis. Bahkan, yang menarik, hampir semuanya berebut untuk terlibat aktif di upacara bendera sebagai tim paduan suara. Jadi, bukan sekadar peserta pasif di lapangan. Kalau tidak salah ada 68 perkumpulan atau organisasi masyarakat Tionghoa yang tergabung di PMTS. Semuanya ingin tampil. Karena itu, Pak Liem Ouyen memberi tugas secara bergilir kepada perkumpulan-perkumpulan Tionghoa itu dari tahun ke tahun.

Untuk upacara bendera tahun ini kira-kira berapa banyak undangan yang hadir?

Mungkin hampir sama seperti tahun lalu. Kalau tahun lalu 1.600 orang, tahun ini bisa sekitar 2.000 orang. Sebetulnya peserta upacara bisa lebih banyak lagi. Tapi kapasitas lapangan yang ada kan terbatas.

Agustus ini kan sudah bulan puasa. Apakah kemeriahan upacara seperti atraksi kesenian Indonesia dan Tionghoa masih dilakukan?

Nggak masalah. Tahun lalu juga upacara bendera dilakukan saat puasa. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengadakan upacara mengenang detik-detik proklamasi kemerdekaan negara kita. (rek)

Tentang Didi

Nama : Didi Woelyadi Simson
Lahir : Jombang, 6 Juni 1950
Istri : dr Agustin Tri Suryani
Anak : dua orang
1. Yoga Praditya
2. Sukma Resti Dinar

Hobi : Hunting (berburu)
Jabatan : PT Prosam Plano (investor Pasar Atum dan Pasar Atum Mall) sejak 2001


Pendidikan :
SD-SMA di Jombang
FE Unika Widya Mandala Surabaya



Dimuat Radar Surabaya edisi Minggu, 31 Juli 2011

28 July 2011

Kartina Dahari Ratu Keroncong Melayu




Pernah dengar nama Kartina Dahari?

Saya sendiri baru tahu dari seorang bekas wartawan yang kini jadi pelukis dan pengoleksi lagu-lagu lama. Awalnya saya kira Kartina ini berasal dari Jawa. Tapi ternyata biduanita legendaris bersuara empuk ini orang Melayu tulen. Dia warga negara Singapura, kerap tinggal di London bersama putranya.

Saya pun menikmati 10 lagu---delapan lagu berirama keroncong---dari rekaman lama Kartina Dahari yang sudah ditransfer ke file MP3. Wah, luar biasa suara puan Melayu-Singapura yang satu ini. Caranya menyanyinya santai, tentang, penuh perasaan, gayeng. Enak dinikmati buat relaksasi, mengendorkan pikiran yang kusut.

Vokal Kartina Dahari jenis alto. Nada dasar yang dipakai selalu rendah. Ini membuat lagu-lagu keroncong ala Kartina Dahari terasa ‘gak ngoyo’. Mirip gaya penyanyi-penyanyi Latin membawakan irama bossanova yang santai banget.

“Kartina Dahari sangat terkenal tahun 1960-an. Dia dijuluki ratu keroncong dari Melayu,” kata paman saya yang pernah merantau di Sabah, Malaysia Timur, tahun 1960-an. “Sekarang sih orang-orang muda tidak kenal Kartina Dahari. Tapi zaman dulu, wah, Kartina Dahari itu penyanyi yang luar biasa.”

Saya pun mulai mencermati nyanyian Kartina Dahari dari album lawas itu. Ah, ternyata Encik Kartina ini banyak membawakan lagu-lagu keroncong Indonesia yang sangat populer. Sebut saja Rindu Malam, Di Bawah Sinar Bulan Purnama, Jali-Jali, Rujak Uleg, Soleram (Suriram), Selendang Sutra, Jangan Ditanya ke Mana Aku Pergi, Tidurlah Intan, Sapu Tangan, Pohon Beringin, Es Lilin.
Boleh dikata lagu-lagu keroncong, langgam, dan tradisional Indonesia sangat dominan dalam album-album Kartina Dahari pada era 1960-an dan 1970-an. Meski cengkok Melayu masih terasa, ucapan-ucapan syair Kartina Dahari tidak sekental Melayu-Malaysia atau Malaysia-Singapura. Kalau terdengar sepintas, kita menyangka Kartina Dahari ini orang Indonesia tulen.

Lagu Rujak Uleg dari Jawa Timur dibawakan Kartina Dahari dalam nada dasar Bes (dua mol). Tembang dolanan berbahasa Jawa ini dibawakan dalam bahasa Indonesia (Melayu). Di bagian refrein nuansa Melayu ala Kartina sangat terasa, dan justru membuat lagu ini lebih manis.

Begitu juga lagu Jali-Jali yang dinyanyikan Kartina Dahari dengan nada dasar C (natural). Aransemen musik khas Betawi tetap terasa kental. Hanya saja, dia mengganti kata CAPEK dengan PENAT, mungkin lebih cocok untuk pendengar berbahasa melayu.

Bagi saya, yang tidak hidup di era kejayaan Kartina Dahari, keberadaan Kartina Dahari dan penyanyi-penyanyi seangkatan beliau ini membuktikan bahwa Indonesia, Malaysia, Singapura, kemudian Brunei Darussalam pada suatu masa pernah berbagi selera. Kita punya selera musik yang sama. Lagu-lagu yang populer di Indonesia ikut diminati di Malaysia, Singapura, atau Brunei.

Bahkan, biduan-biduan Melayu macam Kartina Dahari membawakan lagu-lagu keroncong atau etnik Indonesia tanpa beban politik, sentimen kebangsaan, dan sebagainya. Padahal, sebagian besar lagu-lagu Kartina Dahari dipetik dari karya Ismail Marzuki, komposer besar Indonesia, yang paling banyak menggubah lagu-lagu perjuangan. Lagu-lagu yang bercerita tentang perjuangan heroik bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda.

Di masa lalu, khususnya sebelum tahun 1960-an, hubungan antara orang Indonesia dengan orang Malaysia, Singapura, dan Brunai begitu mesra dan hangat. Tak ada kecurigaan, sentimen kebangsaan, klaim kebudayaan dan sempadan seperti yang berkembang sejak 30 tahun terakhir. Sebuah era ketika negara-negara bertetangga ini belum lama merdeka, masih berjuang keras untuk mencapai kemakmuran.

Kini, ketika Malaysia dan Singapura jauh lebih maju dan makmur meninggalkan Indonesia [sementara Indonesia hanya bisa mengirim pembantu dan pekerja-pekerja kasar ke Malaysia dan Singapura], kita makin sulit mengulang masa-masa indah ketika Kartina Dahari sangat digandrungi karena melantukan lagu-lagu Ismail Marzuki. Tak punya beban apa pun.

Orang Indonesia hari ini rupanya ‘makin jauh’ dari Malaysia, Singapura, dan Brunei. Sebaliknya, orang Malaysia pun kerap hanya memandang Indonesia sebagai INDON-INDON yang hanya bisa menjadi pekerja-pekerja kasar dan dibayar murah. Alamak!

Tembang paling kondang dari Kartina Dahari tak lain Sayang Disayang karya Zubir Said. Ini dia liriknya:

SAYANG DISAYANG
By Zubir Said

Angin menderu
Dahan jatuh menimpa batu
Kuburan... kuburan

Murai terkejut berkicau-kicau
Langit mendung diliputi awan
Alamat bumi disirami hujan
Sayang disayang

Hatiku rindu
Orang jauh lupa diri
Kenangan ... kenangan

Fikiran kusut berisau-risauan
Sakit untung ditinggalkan abang
Ibarat kapal tidak berhaluan
Sayang disayang

27 July 2011

Dosen Kencing Berdiri


Guru kencing berdiri
Murid kencing berlari


Pepatah lama ini layak direnungkan oleh guru-guru di Indonesia, mulai sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Gara-gara kurang serius merapikan ejaan, tata bahasa, logika siswa dan mahasiswanya, saat ini sebagian besar orang Indonesia kurang memahami aturan main bahasa nasionalnya.

Hampir setiap bulan saya mendapat ‘titipan’ mahasiswa dari berbagai universitas di Surabaya. Saya pernah mengampu setidaknya mahasiswa dari sembilan kampus swasta dan negeri. Yakni, UPN Veteran, Universitas Bhayangkara, IAIN Sunan Ampel, Universitas Kristen Petra, Stikosa/AWS, ITS Surabaya, Universitas Airlangga, Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, dan Universitas Negeri Surabaya.

Dari perjumpaan yang intensif dengan adik-adik mahasiswa ini, akhirnya saya tahu bahwa 94 persen dari mereka tidak menguasai ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD). Tak usah jauh-jauh, mahasiswa-mahasiswa ini belum bisa membedakan kata depan DI dan awalan DI-. Menulis DIMANA selalu dirangkai, padahal seharusnya dipisah: DI MANA. Penempatan tanda-tanda baca pun kacau-balau.

“Apakah dosen-dosen kamu pernah membaca, kemudian mengoreksi tulisanmu?” tanya saya kepada seorang mahasiswi cantik dari kampus swasta terkenal di Surabaya.

“Baca sih baca, tapi gak sedetil yang Anda lakukan!” jawabnya.

Yah. Saya tahu dosen-dosen di Indonesia tak punya cukup waktu untuk memelototi tulisan mahasiswanya. Apalagi, harus memperbaiki ejaan, sintaksis, morfologi, hingga pilihan kata alias diksi. Semua dibiarkan mengalir begitu saja. Tahu-tahu si mahasiswa sudah sampai di tahap skripsi, dan tak lama lagi akan lulus. Jadi sarjana!

Sudah pasti, dengan situasi kampus-kampus yang macam begini, ribuan sarjana yang diproduksi pun tetap membawa kesalahan-kesalahan elementer dalam bahasa Indonesia. Grammatical error yang seharusnya sudah tuntas di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Lha, kalau SD-nya parah, SMP dan SMA dibiarkan ngawur, ya, sampai universitas hingga S-3 atau doktoral pun akan terbawa-bawa.

Belakangan saya dapat kesempatan untuk mengedit artikel yang ditulis dosen-dosen di Surabaya. Bahkan, saya sangat sering menyunting tulisan seorang profesor terkenal, senior, yang disegani. Pak Profesor ini sudah menulis puluhan buku. Di kampus, menurut beberapa mahasiswanya yang saya kenal, si Prof ini dianggap orang hebat. Top banget deh!

Mau tahu kualitas tulisan beliau? Dari segi isi, referensi, analisis, solusi... sudah bagus. Yang repot justru di tata bahasa, khususnya sintaksis dan morfologi. Kesalahan-kesalahan ejaan, sebagaimana dilakukan mahasiswa-mahasiswanya, pun dia lakukan. Dia masih sulit membedakan awal DI- yang harus dirangkai dan kata depan DI yang harus dipisah.

Sang profesor selalu menulis STANDARISASI (salah), bukan STANDARDISASI (benar). Dia menulis KATHOLIK, padahal yang benar KATOLIK. Dia tulis PROPINSI, padahal seharusnya PROVINSI. Karena punya latar belakang pendidikan tempo doeloe ala Belanda, Pak Prof ini juga suka mencampur kata-kata Belanda, Inggris, dan entah dari mana lagi dalam karangannya. Padahal, bahasa Indonesia sudah punya kosa kata yang lebih sederhana dan populer.

Saya beberapa kali memberi masukan dan catatan kecil untuk Pak Prof. Hasilnya sia-sia. Orang tua, yang usianya di atas 60 tahun, memang sangat sulit diberi ‘pelajaran’ oleh penyunting yang lebih pantas jadi cucunya. Keras kepala!

Sejak itu saya semakin memaklumi mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sangat lemah dalam penguasaan bahasa Indonesia tulis. Sang profesor saja tidak tertib, alih-alih menuntut mahasiswa yang usianya 20-an tahun itu. Maka, saya pun ingat peribahasa lama:

Guru kencing berdiri
Murid kencing berlari

26 July 2011

Gharwang Rinpoche Kunjungi Surabaya





Selama dua hari umat Buddha di Kota Surabaya mendapat kunjungan tamu istimewa, YM Zurmang Gharwang Rinpoche XII. Pemimpin tertinggi Tradisi Zurmang Kagyud ini tadi malam memimpin upacara inisiasi Buddha Amitabha di kompleks ruko Jalan Jemursari 203 Surabaya.

“Hari Selasa ada program teaching mulai pagi sampai petang hari. Jadwal hari kedua beliau di Surabaya ini sangat padat,” ujar Thrinley Norbu Tukiman, pengurus Pusat Dharma Zurmang Kagyud Surabaya.

Lama alias rohaniwan buddhis yang telah berpengalaman dalam membabarkan dharma ke berbagai negara Asia ini dijawalkan memberikan pengajaran dan pelatihan kepada umat Buddha di Surabaya dan sekitarnya. Diawali dengan materi tentang makna dan manfaat perlindungan, disusul visualisasi objek perlindungan, sore hari YM Zurmang Gharwang Rinpoche XII memberikan latihan sadhana bersama.

Lawatan pria kelahiran India, 30 Juni 1965, ini diakhiri dengan tanya-jawab. Menurut Norbu Tukiman, kedatangan Rinpoche ke Surabaya ini merupakan kesempatan emas bagi umat Buddha untuk belajar dan bertanya secara langsung tentang seluk-beluk agama Buddha. “Beliau didampingi delapan lama yang juga berasal dari India dan Nepal,” katanya.

Siang kemarin (25/7/2011), YM Zurmang Gharwang Rinpoche XII memberikan kesempatan kepada Radar Surabaya untuk melakukan wawancara khusus. Lama yang murah senyum ini terlihat antusias menjelaskan sejumlah agenda kegiatannya di Indonesia.

“Saya baru saja kembali dari Pekanbaru. Setelah acara di Surabaya, saya akan berkunjung ke Jakarta dan Medan,” paparnya.

Mengenai ritual inisiasi yang diikuti puluhan jemaat tadi malam, Rinpoche menjelaskan bahwa latihan ini sangat unik dan penting dilakukan bagi kalangan buddhis. Ritual ini mampu melenyapkan emosi dan energi negatif dalam diri manusia. “Dengan begitu, muncul kebijaksanaan Buddha dalam diri kita,” ujarnya dalam bahasa Inggris yang fasih.

Setelah mengikuti proses inisiasi, sambung Rinpoche, diharapkan tumbuh komitmen untuk melakukan kebajikan-kebajikan sebagaimana diajarkan Sang Buddha. Inisiasi yang juga disebut zenang ini juga diyakini mampu memberikan berkah kepada jemaat.

Ketika ditanya tentang perkembangan Buddha Tantrayana di Jawa Timur yang tidak sepesat aliran-aliran Buddha yang lain, Rincpoce kontan tersenyum lebar. Menurut dia, agama dalam konsep buddhis adalah persoalan ‘karma-jodoh’, tak bisa dipaksakan.

“Bagi saya, yang paling penting itu ada satu orang baik daripada seribu orang yang tidak baik,” katanya. (rek/radar surabaya, 26 Juli 2011)

25 July 2011

Indah Kurnia untuk Artis Lawas





Oleh Lambertus Hurek

Artis-artis kita tak seberuntung di negara maju. Tak sedikit penyanyi, pemusik, pelawak, atau bintang film Indonesia yang terpuruk di usia senja. Ketika sakit, misalnya, artis-artis lawas ini tak punya biaya untuk berobat ke rumah sakit. Bahkan, karena sepi job manggung, mereka umumnya kesulitan membiayai hidup keluarga sehari-hari.


Karena itulah, Indah Kurnia (48 tahun) menggagas konser bertajuk Soerabaia Legends yang diadakan di Grand City Surabaya, Rabu (20/7/2011) malam. Selain memberikan apresiasi kepada beberapa band legendaris, penyanyi dan mantan bankir yang sekarang menjadi anggota DPR RI ini mengusahakan asuransi kesehatan untuk artis-artis Kota Pahlawan. Dia tak ingin ada artis-artis Surabaya, dan Jawa Timur umumnya, yang keleleran gara-gara tak mampu membayar biaya rumah sakit.

Dihadiri sekitar 1.200 orang, termasuk Menteri Pertahanan Punomo Yusgiantoro, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, konser bertajuk Indahnya Kebersamaan itu menampilkan Abouwhim Band, Casino Band, Master Band, dan Yeah Yeah Boys.

Setelah penampilan Tri Wijayanto dan kawan-kawan dari Master Band yang rancak, Indah Kurnia selaku ketua Surabaya Entertainers Club (SEC) memanggil beberapa wakil musisi untuk menerima polisi asuransi kesehatan. Kemudian, secara spontan Menhan Purnomo Yusgiantoro, Wagub Saifullah Yusuf, dan Danny Jozal (produser) ikut memberikan ‘santunan’ untuk para musisi.

Suasana panggung yang tadinya ceria berubah nelangsa ketika beberapa artis senior naik ke atas panggung. Bintang-bintang panggung era 1970-an dan 1980-an itu terlihat ringkih di usia senja. Mereka terpaksa bekerja serabutan untuk menyambung hidup. Atau, bergantung pada anak dan cucu. Tak heran, beberapa artis senior membuat puisi khusus untuk berterima kasih kepada Indah Kurnia. Ibu tiga anak ini pun tak kuasa menahan tangis.

“Kita di Jawa Timur beruntung punya Indah Kurnia. Orangnya sangat kreatif dan peduli sama seniman,” ujar Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf, wakil gubernur Jawa Timur.
Di sela-sela penampilan Yeah Yeah Boys, band legendaris Surabaya, yang sekarang hijrah ke Jakarta, Indah Kurnia bersedia memberikan wawancara khusus kepada saya.

Berikut petikannya:

Berapa artis yang dapat asuransi kesehatan?

Untuk tahap awal ini 50 artis. Mereka terdiri dari musisi, penyanyi, MC, yang pernah memberi warna dalam dunia entertainment di Surabaya. Ke depan, kita ingin semakin banyak artis yang bisa di-cover asuransi. Sebab, Anda tahu yang namanya musisi itu mendapat job manggung sampai usia senja. Ada masa jaya dan masa surut. Nah, sampai saat ini di Indonesia belum ada asuransi untuk para seniman.

Anda ingin memulai dengan konser Soerabaia Legends ini?

Persis. Makanya, hasil penjualan tiket konser malam ini kita pakai untuk membiayai polis asuransi. Syukurlah, pihak Jasindo bersedia memberikan asuransi untuk artis-artis kita. Kemudian pihak Bank Jatim juga memberikan semacam tabungan bagi musisi yang tidak ter-cover asuransi kesehatan.

Apa kriteria penerima asuransi mengingat artisartis senior di Surabaya sangat banyak?

Kita dari SEC punya tim khusus yang melakukan survei dan pendataan di lapangan. Kita memprioritaskan artis-artis yang pernah mengharumkan nama Surabaya dan Jawa Timur di masa kejayaannya. Mereka-mereka ini konsisten di dunia musik meskipun job manggungnya sudah sepi, bahkan tidak ada lagi.

Termasuk empat band (Abouwhim, Casino, Master, Yeah Yeah Boys) yang manggung sekarang?

Ya. Empat grup band ini sampai sekarang masih eksis lebih dari dua dasawarsa atau 20 tahun. Ketika band-band lain sudah bubar, mereka tetap solid. Yang menarik, di masa jaya dulu, mereka sering ditawari oleh produser untuk rekaman dan pindah ke Jakarta. Namun, mereka tidak mau karena mereka ingin setia dengan Surabaya. Selama ini saya lihat orang-orang daerah lebih suka mengundang artis-artis Jakarta atau luar negeri.

Buat saya, sikap seperti itu kurang tepat karena kualitas artis atau musisi di Surabaya tidak kalah dengan Jakarta. Makanya, konser yang saya adakan selalu menghadirkan artis-artis lokal. Semuanya band-band yang berbasis di Surabaya.

Konser Soerabaia Legend ini sudah sesuai harapan Anda?
Syukurlah, semuanya berjalan lancar. Dua macam tiket yang kami siapkan, tiket dulur dan tiket bolo dhewe, sold out (terjual habis). Sehingga, konser ini kita gelar di Grand City yang kapasitasnya lebih besar. Para penonton yang membeli tiket berarti secara tidak langsung ikut meng-cover asuransi bagi para musisi legendaris itu. (*)




Nyanyikan 714 Lagu tanpa Teks

JAUH sebelum terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Indah Kurnia sudah sering bikin gebrakan kreatif. Salah satunya mencatatkan dirinya pada Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) pada 2007.


Saat itu nama Indah Kurnia dicatat Muri sebagai sebagai orang Indonesia pertama yang membawakan 714 lagu tanpa teks. Angka 714 ini memang sengaja disesuaikan dengan hari jadi ke-714 Kota Surabaya.

Demi mencetak rekor nasional itu, Indah menyanyi selama lima hari berturut-turut di Balai Pemuda, ITC, Galaxy Mall, dan Le-Ballroom Pakuwon City. Lagu pertama berjudul Persembahan (Bing Slamet), sedangkan lagu ke-714 Hip-Hip Hura (Adjie Sutama). Macam-macam lagu dari jenis pop, country, perjuangan, daerah, rock, keroncong, campursari... dilahap habis Indah tanpa teks.
Indah juga mengaku ingin memberi pelajaran untuk penyanyi-penyanyi zaman sekarang. Kok bisa?

"Terus terang, penyanyi-penyanyi kita banyak yang tidak bertanggung jawab dengan profesinya. Banyak yang menyanyi dengan membaca teks yang disembunyikan di monitor speaker, padahal lagunya ya itu-itu saja. Tidak jarang para diva kita membawakan lagu bahasa Inggris dengan lafal yang tidak tepat,” kata Indah.

Lantas, bagaimana rahasia menghafal lagu-lagu berbahasa Indonesia, Inggris, Jawa, atau Spanyol yang jumlahnya sekian banyak?

"Saya menyanyikan lagu-lagu itu tiap hari di rumah. Kalau dinyanyikan terus-terus, ya, akan nancap di sini," ujar mantan manajer Persebaya itu.

Indah yang mulai menyanyi sejak 1978 ini juga mengaku tidak melakukan latihan khusus untuk memecahkan rekor Muri. Dia hanya latihan biasa di rumah, mendata lagu, koordinasi dengan band, paduan suara, dan penari latar. Yang lebih banyak justru memikirkan hal-hal di luar urusan menyanyi: panggung, sound system, undangan, negosiasi dengan pemilik gedung. (rek)

24 July 2011

Misbahul Huda, Presdir Temprina




Oleh Lambertus Hurek

Sebagai anak kampung Takeran, Magetan, Misbahul Huda tak pernah membayangkan bakal dipercaya mengelola sejumlah perusahaan dengan total karyawan mencapai 2.000 orang. Namun, berkat kerja keras, kecerdasan, kegigihan, serta doa-doa yang tak kunjung putus, putra sulung pasangan KH Muslich (alm) dan Siti Fathonah ini sukses mengembangkan PT Temprina Media Grafika.

Sukses di Temprina, Misbahul Huda dipercaya memimpin PT Adiprima Suraprinta, pabrik kertas di kawasan Sumengko, Gresik. Bukan itu saja. Pria 48 tahun ini juga mengelola PT Jepe Press Media Utama dan beberapa perusahaan lagi.

Bisa diceritakan latar belakang keluarga Anda?

Bapak saya itu pegawai negeri sipil, guru Aliyah di Takeran. Ibu saya guru Ibtidaiyah. Jadi, latar belakang orangtua saya memang guru sederhana di desa. Saya juga ngaji di pesantren, tapi nggak mondok karena kebetulan rumah saya dekat pondok pesantren. Baru setelah tamat Tsanawiyah saya sekolah di SMAN 2 Madiun. Kemudian kuliah di UGM, Teknik Elektro.

Lulus dari UGM, Anda gabung dengan Jawa Pos?

Saya diajak Pak Dahlan Iskan untuk bekerja di percetakan. Yah, benar-benar dari bawah karena saya harus berhadapan dengan mesin cetak, listrik, dan sebagainya. Situasi saat itu memang berat karena saya digaji dengan standar UMR, Rp 150.00 per bulan. Untungnya, istri saya juga mantan aktivis mahasiswa yang sudah biasa hidup dengan uang saku yang pas-pasan. Kami hanya bisa kontrak rumah petak berukuran 2,5 x 5 meter, disekat jadi dua.

Pihak keluarga tidak keberatan?

Protes sih pasti ada, khususnya dari keluarga Ummi (Herlina Fauziah, sang istri). Kenapa sudah capek-capek kuliah, mahal-mahal kok tidak dimanfaatkan untuk mencari kerja? Pertanyaan itu wajar karena dulu jarang ada orang di kampung saya yang menyelesaikan pendidikan sampai sarjana. Alhamdulillah, Ummi bisa menjadi penjaga gawang keluarga yang andal.

Lantas, mulai kapan Anda mulai merintis Temprina?

Nah, setelah dipelonco selama lima tahun, saya ditantang sama Pak Dahlan untuk memisahkan unit produksi dan percetakan. Saya sempat mendapat semacam pembekalan khusus di Chicago, Amerika Serikat, untuk mendalam mesin cetak dan sebagainya. Sejak 15 tahun lalu itulah saya merintis Temprina, unit percetakan di bawah Grup Jawa Pos.

Awalnya, berapa orang ikut Anda ke Temprina?

Hanya tiga orang. Empat lainnya kembali ke Jawa Pos. Sebab, situasi waktu itu memang sangat berat. Percetakan masih menjadi cost center, bukan profit center. Jadi, kami harus merintis dari nol. Karena sudah sering dipelonco, saya selalu optimis dan positif. Bagi saya, mission ini possible. Tidak ada yang tidak mungkin, if you believe in Allah!

Apa pengalaman berkesan selama memimpin Temprina?

Salah satunya ketika saya diminta mencari mesin cetak untuk Rakyat Merdeka di Jakarta yang oplahnya sudah menembus 40 ribu. Saya diberi deadline satu bulan harus dapat. Saya cari informasi ke sana kemari, akhirnya ketemu di Jerman Timur. Mesin cetak itu beratnya 60 ton. Lha, kalau dikirim pakai kapal laut, mungkin dua bulan baru sampai ke Indonesia. Akhirnya, saya carter pesawat kargo Martin Air untuk angkut dari Jerman ke Cengkareng.

Pengalaman lain?

Suatu ketika, saya diperintahkan membongkar mesin cetak, kemudian harus pasang lagi di tempat lain di Jakarta. Saya dikasih waktu satu hari karena harus bisa dipakai untuk mencetak koran besoknya. Alhamdulillah, mission itu bisa kami selesaikan. Itulah gunanya kalau kita sering diajari untuk berbuat salah.

Bagaimana perkembangan Temprina sekarang?

Alhamdulillah, saat ini omzet kami mencapai Rp 850 miliar setahun. Sebagian besar income Temprina justru bukan dari media-media di lingkungan Grup Jawa Pos. Penghasilan kami dari luar seperti proyek, tender, dan sebagainya. Dari lingkungan Jawa Pos cuma 43 persen.

Ada kesulitan ketika Anda diminta mengelola Adiprima dan JP Books?

Tidak ada. Bagi saya, tidak ada kata gagal. Yang ada hanya sukses dan belajar. Kita di Indonesia ini umumnya punya penyakit inferior. Rendah diri. Kita sering kali menganggap seolah-olah orang Barat, bule-bule, itu lebih hebat dari kita. Mindset ini harus dibuang kalau kita mau maju. Asal tahu saja, Adiprima itu satu-satunya pabrik kertas yang tidak ada WNA-nya. Semuanya warga negara Indonesia. (lambertus hurek)


BIODATA SINGKAT

Nama : Ir Misbahul Huda
Lahir : Madiun, 27 Januari 1963
Istri : Dra Herlina Fauziah
Anak :
1. Farhatul Muti'ah (sarjana teknik ITS, konsultan arsitek)
2. Wafi Ihtikamiddin (mahasiswa teknik mesin ITB)
3. Ahmad Fahmi Shidqi (OTTU Ankara, Turki)
4. Fatinatul Istiqomah (SMA Al-Hikmah Surabaya)
5. Nu'man Tamimi (SMP Al-Hikmah Surabaya)
6. Fauzan Zaidi (SD Al-Hikmah Surabaya)
Hobi : Main golf

Pendidikan
MI/MTs Takeran, Magetan
SMAN 2 Madiun
UGM Jogjakarta, Teknik Elektro (lulus cum laude)

Pekerjaan
Presidir PT Temprina Media Grafika
Presidir Adiprima Suraprinta
Presdir JP Books

19 July 2011

Aris Sudibyo dari Surabaya ke Papua




Sejak 2005 Aris Sudibyo memilih pindah ke Papua. Mantan pelatih paduan suara Universitas Kristen Petra Surabaya itu memang sejak dulu berniat memoles potensi vokal orang-orang di kawasan Indonesia Timur, khususnya Papua. Pilihan yang berani plus idealis mengingat Aris Sudibyo tadinya dikenal sebagai salah satu pelatih kor terbaik di Jawa Timur, bahkan Indonesia.

Saya beberapa kali menyaksikan latihan paduan suara mahasiswa UK Petra. Pun sering menyaksikan konser yang diarahkan Aris Sudibyo. Ciamik soro, kata orang Tionghoa di Surabaya. Semua konser yang ditangani Aris pasti sukses besar. Penontonnya banyak, kualitas paduan suara, pun luar biasa.

Boleh dikata, PSM Universitas Kristen Petra kian mencorong prestasinya setelah ditangani pria yang mulai belajar paduan suara pada Paul Widyawan di Pusat Musik Liturgi Jogjakarta itu. Setelah Aris Sudibyo hijrah ke Papua, saya hampir tak pernah lagi mengikuti perkembangan PSM UK Petra. Tapi saya dengar kualitas Petra Choir masih terjaga karena ditangani pelatih baru yang juga mumpuni.

Syukurlah, saya akhirnya mengetahui perkembangan kiprah Aris Sudibyo setelah membaca koran Kompas edisi 11 Juli 2011. Tangan dingin Aris di Surabaya terbawa pula ke Papua. Guru musik di Sekolah Kristen Kalam Kudus, Jayapura, ini sukses membentuk paduan suara kaum muda Papua. Bersama dua tokoh paduan suara setempat, Agus Samori dan Hannoch Tanatty, Aris membentuk Paduan Suara Wakhu Bhim---dalam bahasa Sentani Tengah berarti gaung tifa---pada Oktober 2007.

Belum genap setahun, seperti ditulis Kompas, Wakhu Bhim sukses di 5th World Choir Games atau Olimpiade Paduan Suara Dunia di Graz, Austria (2008), yang diikuti 93 negara. Dapat medali emas kategori folklore dengan lagu E MAMBO SIMBO (Asmat) dan YESUS NIT HASIK (Dani). Juga medali perak kategori Mixed Choir.

Penampilan Wakhu Bim di Graz membuat mereka diminta tampil dalam 8th World Choir Symposium di Kopenhagen, Denmark. Wakhu Bim juga terpilih mewakili Asia Tenggara untuk tampil di televisi Austria dalam program We Are The World, Die Grosse Sommer-Nacht der Chore.

Aris mengaku tak mudah membentuk paduan suara di Papua meskipun kualitas vokal para heiren (berkulit gelap) ini bagus-bagus. Dari 180 peserta audisi, Aris memilih 40 personel berusia 20-35 tahun. Paduan suara ini tak hanya melatih teknik bernyanyi. ”Saya ingin membangun karakter orang Papua yang lebih baik, lewat musik. Jangan lagi Papua tertinggal dan dipandang sebelah mata,” katanya.

Karena itu, Aris menetapkan disiplin yang keras bagi personel Wakhu Bhim. Tak boleh merokok, minum minuman keras, melakukan seks bebas. Makan pinang pun tak boleh. Lewat Wakhu Bhim diharapkan muncul generasi Papua yang berkualitas secara mental, spiritual, dan intelektual.

Ketika pertama kali mendengar Aris Sudibyo pindah ke Papua untuk membentuk tim paduan suara yang tanggung, saya sendiri sempat skeptis. Apa mungkin Bung Aris yang saya tahu persis punya standar paduan suara kelas tinggi (internasional) bisa ‘bermain’ di Papua?

Maklum, anak-anak PSM UK Petra hampir semuanya punya latar belakang musikal di atas rata-rata. Sebagian besar anggota kor UK Petra sejak kecil sudah les piano klasik. Sudah biasa dengar rekaman musik klasik, paduan suara, dan musik-musik kelas tinggi. Bahkan, beberapa anggota kor di Surabaya sehari-hari nyambi jadi guru musik klasik.

Sebagai orang dari kawasan Indonesia Timur, termasuk Papua, saya tahu persis tak ada tradisi musik klasik. Alih-alih ikut les piano, melihat alat musik yang namanya piano saja bukan pekerjaan mudah. Paduan suara klasikal adalah barang langka di Papua, NTT, Maluku, Timor Leste, dan sekitarnya.

Lantas, bagaimana cara Aris Sudibyo membentuk ‘orang-orang kampung’ itu menjadi penyanyi paduan suara berkelas dunia? Kesangsian ini pun tersimpan dalam hati saya selama bertahun-tahun. Puji Tuhan, Aris Sudibyo membuktikan bahwa tak ada yang mustahil bagi orang yang mau bekerja keras (dan cerdas), mengabdi tanpa pamrih, di provinsi paling timur itu.

Aris Sudibyo telah berhasil memoles bakat-bakat alam Papua ke tingkat dunia. Semoga Bung Aris tetap semangat! Kapan-kapan bikin konser khusus di Surabaya ya?

18 July 2011

Goro-gorone Versi SATB



Pagi tadi saya bersepeda santai ke Jembatan Suramadu di kawasan Tambakwedi. Asyik, ngopi di pinggir laut sambil menikmati jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura itu. Sekitar 50 biker juga cangkrukan, membahas macam-macam hal, mulai dari yang serius, setengah serius, hingga bercanda khas Suroboyoan.

Saya pesan kopi pahit plus mi instan soto sama mbok warung langganan saya di pojok, dekat gudang peluru. Lalu, baca koran pagi. Acara sepeda santai ini memang asyik, terutama buat orang-orang yang tak ada tugas di kantor atau tempat kerja.

Pulang dari Suramadu, aha, saya dengar anak-anak sekolah menyanyikan lagu Goro-gorone. Lagu daerah Maluku yang sangat saya kenal. Lagu ini pernah menjadi lagu wajib lomba paduan suara tingkat sekolah dasar di kampung saya di pelosok Flores Timur. Sederhana, tapi indah.

Ketika jadi aktivis paduan suara mahasiswa, lagu Goro-gorone pun sering dibawakan teman-teman mahasiswa baru dalam lomba paduan suara. Komposer yang bikin aransemen tak lain Lilik Sugiarto, almarhum. Pak Lilik adalah tokoh paduan suara terkemuka di Indonesia. Dia banyak membuat aransemen lagu-lagu daerah sehingga enak dibawakan paduan suara mahasiswa.

Saya memang pengagum aransemen paduan suara yang dibuat Lilik Sugiarto. Tidak terlalu sulit, tapi juga tidak terlalu gampang. Dan, ketika dibawakan di atas panggung, penonton bisa hanyut dalam irama khas Nusantara. Lagu-lagu yang aslinya sederhana berubah menjadi sangat berbobot. Tapi melodi pokok alias cantus firmus tidak tenggelam.

Saya kemudian mencoba membongkar arsip lama yang sudah berdebu itu. Kumpulan paritutur paduan suara mahasiswa tempo doeloe ternyata masih ada. Saya bolak-balik, dan ternyata ada partitur Goro-gorone garapan Lilik Sugiarto. Saya coba nyanyi sendiri. Ehmm... enak juga!

Selamat menyanyi!

Wakil PM Malaysia Lawat Surabaya



Wartawan televisyen (televisi) Melayu Malaysia sibuk bikin laporan di kantor Radar Surabaya. Kerja keras!


Jumat 15 Juli 2011. Kaget juga saya menyaksikan begitu banyak orang berpenampilan formal berjubel di depan newsroom kami. Suasananya macam di Kuala Lumpur atau Johor saja. Kata-kata yang mirip bahasa Indonesia, tapi lagunya beda. Ada apa gerangan ini?

Aha, saya kenal seorang perempuan asal Sabah, Malaysia Timur, Aurelia. “Ape kaber? Selamat datang balik ke Surabaye!” sapa saya dengan logat Malaysia yang kurang fasih. Hehehe...

Akhirnya, saya dikasih tahu bahwa ada tamu sangat-sangat penting, VVIP, tengah mengunjungi markas Jawa Pos di Graha Pena Surabaya. Wakil Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Dato’ H Muhyiddin Mohd Yassin. Sebagai pejabat penting negara jiran, Pak Muhyiddin membawa sejumlah staf, pejabat tinggi, dan tentu saja... rombongan wartawan. Sebagian besar Melayu, tapi ada beberapa berwajah India.

Saya juga lihat seorang xiaojie, seorang wartawati Tionghoa, yang meminjam tempat Indra Wijayanto, staf pemasaran Radar Surabaya, untuk mengetik berita dengan laptopnya. Sibuk benar pemberita-pemberita Malaysia sore itu. Dus, kita orang tidak bisa banyak cakap karena teman-teman Melayu ini harus mengejar tenggat, deadline. Mungkin, kali lain teman-teman pemberita dari Malaysia ini boleh melawat lagi dengan suasana yang lebih santai.

“Di mana tempat salat?” tanya seorang wartawan Melayu.

“Oh, sila tuan turun di tingkat dua, ada musala,” jawab saya.

Begitulah. Salat magrib petang itu di Graha Pena jadi istimewa, kata teman saya, karena langsung diimami Pak Muhyiddin, timbalan PM Malaysia.

“Moga-moga doa Pak Muhyiddin dan pejabat-pejabat Malaysia ini bisa membuat Indonesia lebih maju, makmur, kaya, tak lagi mengirim pembantu dan kuli-kuli kasar ke Malaysia...,” kata saya dalam hati.

Setiap kali bicara tentang Malaysia, saya memang selalu ingat pekerja-pekerja unskilled Indonesia, tenaga kerja Indonesia (TKI), yang jumlahnya lima juta atau mungkin delapan juta. Jauh lebih banyak daripada jumlah penduduk Singapura, apalagi Brunei Darussalam.

Jika Indonesia tetap tidak maju-maju, doyan korupsi, tak punya komitmen untuk membuat lapangan kerja... bukan tak mungkin TKI di Malaysia membengkak jadi 15 juta orang dalam beberapa tahun ke depan. Dan itu sangat mengerikan bagi citra Indonesia di mata orang Malaysia. Kita bakal tetap dipandang remeh, negara pengekspor pembantu, bangsa tak berpendidikan... dan bangsa kuli! Dan kuli tak pernah tegak sama tinggi, duduk sama rendah, dengan sang majikan.

Wakil PM Malaysia Muhyiddin Yassin petang itu juga berbincang-bincang dengan para kuli di Surabaya. Tapi yang ini kuli tinta alias kuli flashdisk alias kuli laptop alias wartawan. Kuli macam ini bolehlah diajak diskusi karena wawasan dan pendidikannya relatif lebih baik ketimbang jutaan TKI di Malaysia itu. Ada juga 16 pengusaha muda Surabaya yang diajak diskusi di sesi kedua.

Sebagai tamu yang baik, Pak Muhyiddin mengapresiasi Indonesia. Negara tetangga yang bahasa nasionalnya mirip karena memang diangkat dari bahasa Melayu. Hubungan Indonesia-Malaysia harus dijaga karena kedua negara saling membutuhkan. Masalah perbatasan selalu timbul tenggelam, tapi kedua negara selalu mengedepankan perundingan. Tak akan ada perang antara Malaysia dan Indonesia!

“Kecuali perang kata-kata dan saling gertak! Hehehe...,” yang ini tambahan saya sendiri.

Pak Muhyiddin melihat Indonesia, khususnya Provinsi Jawa Timur, punya potensi ekonomi yang besar. Dengan penduduk 40 juta, Jawa Timur punya kekuatan pasar. Apalagi, Surabaya sejak dulu menjadi lokomotif ekonomi di kawasan Indonesia Timur.

Kita di Surabaya layak bangga dengan apresiasi Wakil PM Malaysia. Begitu strategisnya Surabaya dan Jawa Timur, Pak Muhyiddin ‘tembak langsung’ ke Surabaya dengan pesawat pribadi (atau pesawat kerajaan?) tanpa melalui Jakarta. Pak Muhyiddin juga berani ‘menerobos’ pagar birokrasi atau protokoler. Kunjungan beliau ke Surabaya ini memang diniatkan untuk silaturahmi, diskusi, berbincang dengan redaksi media-media di lingkungan Grup Jawa Pos plus pengusaha muda Surabaya.

Terobosan Pak Muhyiddin ini, saya kira, tak lepas dari ‘provokasi’ Karim Raslan. Kolumnis terkenal dari Malaysia ini sudah lama memposisikan diri sebagai jembatan penghubung Indonesia-Malaysia. Karena banyak duit---Karim ini putra bankir terkenal Malaysia--Karim bisa dengan leluasa berkeliling kota-kota dan desa-desa di Malaysia dan Indonesia untuk mencari bahan tulisan. Karim Raslan selalu tenang, bijaksana, dan mampu melihat dengan jernih dinamika hubungan Malaysia-Indonesia.

Berbeda dengan wartawan-wartawan dan kolumnis-kolumnis Malaysia lainnya, sejak lama Karim Raslan melihat potensi Indonesia yang sangat besar di masa depan. Indonesia begitu luas, penduduknya banyak (230 juta), punya kekayaan alam, kaya seni budaya, alam nan indah... serta warga kelas menengah yang punya wawasan. Karim juga melihat demokrasi yang sedang berjalan sekarang, meski tidak mulus, membuat Indonesia ibarat ‘raksasa tidur’ yang sedang menunggu saat tepat untuk bangkit.

“Nanti justru orang-orang Malaysia yang datang ke Indonesia untuk cari kerja,” kata Karim Raslan. Basa-basi khas Melayu untuk menyenangkan tamu, atau bisa jadi pandangan optimistis ini ada benarnya. Kita lihat saja!

Eh, ngomong-ngomong bagaimana dengan kebebasan pers di Malaysia?

Wakil PM Malaysia Pak Muhyiddin dengan gaya yang cair bilang tak ada masalah dengan pers di Malaysia. “Pers di Malaysia cukup bebas. Kami tidak mengekang pers,” katanya.

Teman-teman pekerja pers di Surabaya tersenyum, ada yang tertawa kecil. Hehehe... Kita tentu tahu beberapa hari lalu polisi Malaysia membubarkan unjuk rasa ribuan orang di Kuala Lumpur, kemudian menangkap seribu lebih tokohnya. Pak Anwar Ibrahim, tokoh utama pembangkang (oposisi), sempat pula dirawat di hospital karena terkena pentungan aparat keamanan.

Media-media di Malaysia tentu saja menulis kejadian ini dengan ‘angle’ resmi pemerintah. Sangat musykil kita membaca pernyataan kritis orang macam Anwar Ibrahim di koran-koran utama Malaysia. Tak ada ruang bagi pembangkang untuk bikin koran atau media karena sistem pengawasan media di Malaysia tak ubahnya rezim Soeharto di Indonesia.

Menurut Yang Mulia Pak Muhyiddin, Malaysia punya aturan yang harus dipatuhi oleh semua media massa. Apakah aturan itu sama atau tidak dengan yang berlaku di Indonesia, “Itu soalan berbedza!” tegas Pak Muhyiddin.

Kata-kata Pak Muhyiddin tentang pers atau media ini mengingatkan saya pada Harmoko, menteri penerangan paling top di era Orde Baru, tangan kanan Presiden Soeharto (1966-1998). Tugas utama Harmoko adalah mengawasi pers, menentukan pemimpin redaksi hingga kebijakan redaksional demi mengamankan rezim Orde Baru yang otoriter. Tak ada ruang bagi oposisi. Menpen Harmoko dengan enteng mencabut izin surat kabar kapan saja.

Tapi, setiap kali dikritik, Menteri Harmono selalu mengatakan bahwa sistem pers di Indonesia paling baik di dunia. Alasan Harmoko: Indonesia tidak menganut paham liberal ala media-media Barat, juga bukan penganut sistem pers sosialis-komunis, melainkan PERS PANCASILA. Berkat sistem Pancasilan itulah Orde Baru bisa bertahan selama 32 tahun sebelum digulingkan oleh gerakan reformasi mahasiswa pada 21 Mei 1998.

Semoga Pak Muhyiddin, Karim Raslan, dan teman-teman wartawan Malaysia bisa mengambil hikmah kebijaksanaan dari sistem pers otoriter ala Indonesia yang ternyata keropos. Malaysia Boleh!

17 July 2011

Hati-Hati Belanja di Shenzhen



Oleh Yenny Wijayanti
Mahasiswi UK Petra Surabaya


Kota Shenzhen dikenal sebagai salah satu kota di Tiongkok menyediakan segala macam produk dengan harga supermurah. Sang tour guide beberapa waktu lalu mengajak kami untuk singgah dan belanja di Shenzhen.



Tentu saja ibu-ibu, bahkan kami, peserta tur yang masih muda-muda, langsung bersemangat turun dari bus yang berhenti di depan salah satu mal. Kami pun bergegas masuk ke dalam mal tersebut untuk mulai berburu barang-barang. Ternyata kata-kata tour guide itu: barang-barang yang dijual di sini memang jauh lebih murah daripada di toko-toko lain.

Barang-barang yang aku incar adalah tas, sepatu, dan handphone. Karena memang harganya bisa setengah lebih murah daripada di Indonesia. Sayangnya, saat aku masuk ke dalam salah satu gerai di mal tersebut, aku serasa mengalami shock therapy.

Sudah biasa jika kita masuk ke dalam sebuah toko di Indonesia melihat-lihat barang, memegang barang itu, kemudian mencobanya. Bahkan, kita bisa keluar toko tanpa membeli apa pun jika memang tidak ada barang yang cocok buat kita.

Ini berbeda dengan apa yang aku lihat di Shenzhen. Semua penjaga toko seakan-akan memaksa kita untuk membeli barang-barang yang sudah kita pegang. Meskipun kita tidak seberapa tertarik, mereka akan marah dan tidak mengizinkan kita keluar dari tokonya tanpa membeli barang yang sudah kita sentuh.

Aku waktu itu masuk ke toko tas, kemudian memeriksa bagian dalamnya, takutnya ada yang rusak atau cacat. Ternyata benar dugaannku, tas itu bagus luarnya saja, di bagian dalamnya ada yang robek. Maka, tentu aku tak jadi membeli. Langsung aku taruh lagi tas itu dan aku keluar toko buat mencari di toko yang lain.

Tak lama setelah aku menaruh tas dan hendak keluar dari toko tersebut, ternyata sudah ada dua laki-laki tinggi besar berbadan kekar berpakaian hitam berdiri di depan pintu toko untuk mencegah aku keluar toko. Dua laki-laki tersebut ternyata memang sengaja menunggu di luar dan menunggu aba-aba dari penjaga toko jika ada pembeli yang masuk toko tanpa membeli barangnya.

Aku takut luar biasa, karena hanya seorang turis yang berlibur di negeri orang, dengan bekal bahasa Mandarin yang pas-pasan. "Kamu tidak boleh keluar dari toko saya kalau tidak beli tas yang kamu pegang tadi," kata xiaojie (nona) yang menjaga toko itu. aku gemetar dan takut bukan main.

"Hmm... wo mei you qien a.. wo deng wo de beng you, ge yi ma?" kataku dalam bahasa Mandarin pas-pasan. (Hmm, aku gak bawa uang, aku nunggu temanku dulu, bolehkah?)

Tanpa menjawab apa pun xiaojie itu menarik tanganku dan tidak mengizinkan aku untuk keluar toko. Untung saja, badanku kecil, dan cewek itu tangannya agak seret waktu menarik aku, terus dua cowok yang badannya kekar itu tinggi-tinggi.

Jadi, aku bisa langsung lari menyelundup dari bawah lengannya yang diangkat sambil memegang pintu. Lari sekencang-kencangnya, dan syukurlah, aku tidak dikejar. (*)

Sumber: Radar Surabaya edisi 14 Juli 2011

Paulus Latera Tulis 10 Buku




Oleh Yenny Wijayanti
Mahasiswi UK petra Surabaya


Berawal dari hobi menulis puisi, novel, dan kata-kata bijak sejak kecil, Paulus Latera telah menghasilkan 10 buku. Padahal, guru SMA Kristen Petra 3 Surabaya ini sibuk di sekolah, rukun warga, gereja, hingga persekutuan di perumahannya.


BUKU-BUKU Paulus Latera sudah disebarkan di Toko Buku Togamas serta perpustakaan sekolah tempat dia mengajar saat ini, SMA Kristen Petra 3 Surabaya. Karya Paulus antara lain Sebuah Perjalanan (99 Puisi), Setegar Hati Nienna, 123 Kata-Kata Bijak, Jakarta- Masih Ada Cinta, dan Pantun Bahasa Lamaholot (Flores Timur).

Pria kelahiran Adonara, Flores Timur, 15 Oktober ini mengaku senang menulis sejak kecil di kampung halamannya. Namun, dia mengaku belum berani mempublikasikan karya-karyanya untuk dibaca banyak orang. “Jadi, saya hanya sekadar menulis, kemudian menyimpan saja di komputer,” tutur mantan guru SMA Kristen Petra 4 Sidoarjo ini.

Pada 2008, sejak pindah mengajar di SMA Kristen Petra 3 Surabaya, barulah Paulus berani menerbitkan kumpulan tulisan-tulisannya tersebut. Tak perlu repot-repot karena file-file lama sudah disimpan rapi. Tinggal diedit sedikit, mencari percetakan dan penerbit, untuk dijadikan buku.

Keinginan Paulus untuk membukukan karya-karyanya semata-mata agar dibaca oleh banyak orang, terlebih orang-orang terdekatnya. “Saya tidak cari hasil penjualan buku saya. Tapi, ketika saya tahu buku-buku saya dibeli, lalu dibaca sama orang lain, apalagi siswa-siswi yang pernah saya ajar dulu, wah, itu sungguh merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya,” kata suami Christin Setyowati ini seraya tersenyum.

Dia mengaku tidak pernah menyuruh, apalagi memaksa murid-muridnya di SMA Kristen Petra 3, untuk membeli buku-bukunya. Namun, dia selalu menyampaikan informasi bahwa buku-bukunya sudah ada di toko buku dan perpustakaan. Bahkan, buku-buku itu sering dijadikan bahan pengajarannya.

“Yah, kalau mau dibaca silakan, kalau mau dibeli, ya, lebih syukur lagi. Pokoknya, saya ingin membuat murid-murid saya bangga memiliki guru Bahasa Indonesia yang bukan hanya bisa mengajar lewat buku karya orang lain, tapi bisa menghasilkan buku sendiri,” kata Paulus, ayah dua putri bernama Santi dan Ina.

Meski senang menulis, Paulus ternyata tidak pernah memaksakan kedua anaknya untuk meneruskan bakatnya sebagai penulis. Dia hanya ingin kedua anaknya berkembang secara alami, tanpa paksaan, atau embel-embel dari ayahnya.

“Saya hanya mengajarkan sama anak-anak, kalau kamu memang punya talenta, kenapa nggak dikembangkan?” tandas pria yang pernah menjadi pengurus RW selama 17 tahun ini.

“Saya mau menjadi contoh dan teladan yang baik buat anak-anak saya. Lakukan apa pun selama kamu mampu. Saya juga mengajarkan sikap adil serta kerja sama kepada anak-anak saya di rumah,” pungkasnya. (*)

Sumber: Radar Surabaya 15 Juli 2011

10 July 2011

Kanak-Kanak Melantjong Petjinan



Banyak cara untuk mengisi liburan sekolah. Sekitar 30 anak-anak yang tergabung dalam Yongchun Hanyu Zhongxia diajak menikmati pertunjukan wayang potehi di Kelenteng Hong Tek Hian di Jl Dukuh Surabaya, Kamis (7/7/2011) pagi.

Bocah-bocah TK dan SD peserta kursus bahasa Mandarin ini juga diajari cara membuat dan memainkan wayang potehi. “Kita ingin memperkenalkan salah satu khasanah seni budaya Tionghoa kepada anak-anak,” ujar Paulina Mayasari, koordinator Komunitas Jejak Petjinan.

Selama satu tahun lebih, Paulina dan kawan-kawan aktif menggelar program Melantjong Petjinan dengan berbagai tema baik di Surabaya hingga Tuban. Namun, baru sekali ini acara melancong dikemas khusus untuk anak-anak.

Pihak Kelenteng Dukuh, nama populer TITD Hong Tek Hian, tampak antusias menyambut rombongan Yongchun dan Jejak Petjinan. Ong Khing Kiong, pimpinan kelenteng, bahkan meminta para pemain wayang potehi untuk tampil dalam formasi lengkap dan kostum panggung. Di depan panggung, disediakan meja panjang dan tempat duduk untuk bocah-bocah dari sejumlah TK dan SD di Surabaya itu.

Setelah menyampaikan selamat datang dan penjelasan singkat tentang sejarah wayang putehi, Ki Sukar Mujiono, dalang senior yang juga pemimpin Grup Lima Merpati, mulai memainkan wayang khas Fujian, Tiongkok Selatan, itu.

Ceritanya tentang petualangan Sie Teng San, putra pendekar sakti mandraguna Sie Jin Kwie. Adegan perang pun terasa seru karena didukung oleh instrumen musik Tionghoa yang riuh-rendah.

Bocah-bocah polos ini deg-degan melihat Sie Teng San sempat terpojok ketika bertarung satu lawan satu melawan pendekar jahat. Namun, toh akhirnya pendekar sakti itu beroleh kemenangan. Anak-anak pun bertepuk tangan riuh.

Selepas atraksi wayang potehi, peserta Melantjong Petjinan Kanak-Kanak mendapat kesempatan khusus untuk belajar membuat wayang potehi. Ki Sukar Mujiono memberikan panduan singkat tentang cara membuat karakter harimau. Juga cara menggerakkan harimau agar terlihat hidup. “Susah bikin wayang potehi, tapi asyik,” kata Shannon (7), murid kelas dua SD Bunga Bangsa.

Menurut Ong Khing Kiong, yang juga tokoh tokoh Majelis Tridharma Indonesia, pertunjukan wayang potehi selalu dimainkan setiap hari di Kelenteng Dukuh selama 30 tahun terakhir. Setiap hari wayang golek ala Tiongkok ini dimainkan tiga kali.

“Ini merupakan bagian dari ritual sekaligus untuk melestarikan seni budaya,” kata Ong. (rek)

Dimuat Radar Surabaya edisi Jumat 8 Juli 2011

08 July 2011

Orang Kaya Tak Langgan Koran

Sebagai xinwen jizhe, saya biasa melakukan survei amatiran di sekitar tempat tinggal saya tentang minat warga terhadap koran alias surat kabar. Berapa banyak rumah tangga di Jambangan Gang II yang berlangganan koran? Atau, di Bangah, Gedangan, Sidoarjo, yang langganan atau rutin membeli koran?

Nah, sejak lama saya ‘main mata’ di sebuah gang di Ngagel Jaya Selatan, Surabaya. Kawasan perumahan yang tergolong menengah ke atas. Sebagian besar dari 40-an rumah di sini punya mobil. Bahkan, mobil-mobil mereka lebih dari satu, keluaran baru, bagus-bagus. Saya lihat ada keluarga kaya, Tionghoa, yang mobilnya empat atau lima. Pokoke, sugih buanget!

Pagi-pagi, menjelang sepeda santai atau ikut senam Ling Tien Kung bersama etnis Tionghoa di Lapangan Barata, Ngagel, saya selalu perhatikan tukang koran yang bagi-bagi koran di dalam gang. Aha, ternyata tak sampai tujuh rumah yang berlangganan koran. Orang kaya yang punya banyak mobil malah tidak berlangganan koran.

Di gang ini hanya ada satu rumah yang berlangganan majalah bulanan Intisari. Beliau ini sejak 1970-an sudah menjadi pelanggan setia Intisari... sampai sekarang. Yang menarik, pelanggan koran dan majalah, termasuk satu keluarga yang langganan Panjebar Semangat, majalah mingguan berbahasa Jawa, ini justru bukan keluarga-keluarga yang sangat kaya.

Mereka yang mobilnya lebih dari satu kayaknya tidak mendapat kiriman koran setiap pagi. Jangan-jangan sudah berlanggan di tempat kerja. Jangan-jangan membaca koran atau media via internet. Atau, jangan-jangan memang tidak punya minat baca koran. Saya hanya bisa menduga-duga saja karena tidak berani bertanya langsung ke orang-orang kaya yang tidak butuh koran itu.

“Dulu saya pernah nawarin, kirim nomor perkenalan, tapi nggak mau langganan,” kata seorang tukang koran kepada saya. Ada lagi tetangga sebelah, punya mobil, yang lebih suka pinjam dan minta koran ke saya karena memang tidak berlangganan.

Orang-orang media cetak, khususnya pekerja surat kabar, sudah lama pusing karena sulit menaikkan oplah koran. Begitu banyak strategi pemasaran, kiat jitu menarik pelanggan baru, tapi hasilnya kurang optimal. Bahkan, ada koran di Surabaya yang banting harga tinggal Rp 1.000 pun kurang mempan untuk menambah jumlah pelanggan.

Berapa sih harga langganan koran sebulan? Tidak sampai Rp 100.000. bahkan, lebih banyak koran di Surabaya yang di bawah Rp 50.000. Dengan duit segini, tiap pagi pelanggan menerima kiriman koran tepat waktu, sebelum berangkat kerja.

Lantas, kenapa orang-orang kaya bermobil bagus dan baru itu tidak mau langganan juga? Saya kira, perlu ada kajian khusus dari periset-periset lapangan atau akademisi di Surabaya. Bahwa ternyata begitu banyak orang di Surabaya yang lebih rela membayar ratusan ribu rupiah hanya untuk sekali makan di restoran ketimbang berlangganan koran.

Yang menarik, sekali lagi berdasar survei amatiran, saya melihat mahasiswa-mahasiswa kos-kosan justru punya minat besar berlangganan koran. Anak-anak PMKRI Surabaya di Taman Simpang sejak dulu patungan untuk berlangganan Jawa Pos dan Kompas. Padahal, mahasiswa-mahasiswa aktivis ini, khususnya yang dari Flores, sering terlambat dapat kiriman uang. Setiap hari mereka berebut membaca koran meskipun sering tidak sempat sarapan.

Mahasiswa-mahasiswa IAIN Sunan Ampel di kawasan Wonocolo pun doyan membaca koran. Ada yang berlangganan tiga koran sekaligus. Arek-arek IAIN penggemar koran ini sudah pasti tidak punya mobil bagus layaknya warga perumahan elite yang kaya-raya.

“Saya kalau nggak baca koran, rasanya ada yang kurang,” ujar seorang mahasiswa IAIN Sunan Ampel yang juga aktif mengirim artikel di koran.

Saya jadi ingat guru-guru SD di pelosok Flores Timur pada tahun 1980-an dan 1990-an. Jangankan punya mobil, membeli sepeda motor saja pun sangat sulit. Tapi sejak dulu pater-pater misionaris SVD berhasil menjadikan guru-guru kampung ini sebagai pelanggan koran mingguan DIAN dan majalah mingguan HIDUP.

Karena itu, bisa dimengerti kalau HIDUP, majalah khusus untuk umat Katolik itu, bisa bertahan hidup sampai saat ini. Padahal, HIDUP ini sudah terbit jauh sebelum Indonesia merdeka. Dengan berlangganan, maka koran-koran atau majalah sudah punya konsumen tetap. Tidak perlu mumet mencari pembeli, menjual eceran di jalan, dan sebagainya.

Maka, saya selalu terkagum-kagum ketika membaca tulisan atau cerita bahwa pelanggan koran-koran di Eropa bisa mencapai 90 atau 95 persen. Kita di Indonesia terbalik: pelanggan koran kurang dari 10 persen, 90 persen hanya pembeli eceran. Runyamnya lagi, banyak orang berduit yang lebih suka menghabiskan uang di restoran atau karaoke ketimbang berlanggan koran.

07 July 2011

Prof Han Hwie-song Bahas Pecinan Surabaya




Prof Dr Han Hwie-song belum lama ini menerbitkan memoar tentang masa kecilnya di kawasan pecinan Surabaya hingga sukses menjadi dokter dan menerima bintang Ridder in de Orde van Oranje Nassau dari pemerintah Kerajaan Belanda. Banyak hal menarik tentang pecinan Surabaya era 1950-an yang dituturkan Prof Han. Berikut petikannya:

Ketika saya masih menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universiteit van Indonesia di Surabaya (belakangan oleh Presiden Sukarno diubah namanya menjadi Universitas Airlangga), 1951, seingat saya jumlah penduduk Surabaya hanya sekitar 300 ribu jiwa saja. Padahal, saat ini, tahun 2011, penduduk Surabaya sudah berjumlah jutaan jiwa (sekitar empat juta jiwa).

Yang menarik, daerah pecinan masih tetap tidak berubah dan masih favorit bagi etnis Tionghoa untuk tinggal dan berdagang. Ini terbukti dari banyaknya toko-toko dan perusahaan-perusahaan dagang baik besar maupun kecil di daerah pecinan yang pada umumnya milik etnis Tionghoa.

Di pecinan Surabaya, ada dua pasar utama, yaitu Pasar Pabean dan Pasar Kapasan. Pasar Kapasan, walaupun lebih kecil daripada Pabean, merupakan pusat perdagangan emas dan perhiasan di Jawa Timur. Sebaliknya, Pasar Pabean merupakan pasar yang menjual barang-barang keperluan sehari-hari. Di dalam pasar ini terdapat banyak toko yang menjual barang pecah-belah, alat-alat rumah tangga, sembako, atau makanan-makanan Tionghoa seperti haisom atau teripang, jamur kering, ikan asin.

Saya tidak pernah mengunjungi pasar basahnya yang menjual ikan, daging, dan sebagainya. Tetapi pembantu rumah selalu pergi belanja ke Pasar Pabean karena lebih lengkap. Ada ikan bandeng, gurami, udang, kepiting, rajungan, ayam, daging sapi, babi, dan sebagainya.

Di Pasar Pabean juga ada tiga restoran yang sering saya kunjungi bersama teman-teman kuliah saya, Bhe Kian Ho dan Sie Hong Ik, yang masing-masing membawa teman perempuannya. Pasar Pabean juga merupakan pusat perdagangan palawija Jatim. Komoditas ini oleh perusahaan-perusahaan Belanda diekspor ke berbagai negara. Ada beberapa teman saya yang orangtuanya berdagang palawija di sekitar Pasar Pabean.

Pasar Bong dan Pasar Kapasan dahulu menjadi pusat penjualan tekstil. Sehingga, tidak salah kalau orang mengatakan bahwa pecinan dahulu adalah pusat perdagangan Surabaya.



Jalan Kembang Jepun Surabaya, Juli 2011.

Kantor Kamar Dagang Tionghoa, yang pengaruhnya besar di Surabaya dengan akronim P3-CH, terletak di Jalan Kembang Jepun. Kantor-kantor koran Tionghoa baik yang peranakan (Pewarta) maupun yang totok (Ta Kung Siang Pao dan Yu Yi Pao) berada di daerah pecinan. Sedangkan koran Belanda yang pertama, Soerabajasc Handelsblad, berdomisili di Pasar Besar atau Aloon-Aloon Straat.


Setelah jam 18.00 dan kantor-kantor sudah tutup, di muka kantor P3-CH beroperasi berbagai warung makan Tionghoa. Setiap warung makan memiliki kekhasan masing-masing. Mulai dari mi pangsit, kwetiao, masakan ikan, babi, dan sebagainya. Berbagai merek mobil diparkir di depan warung-warung tersebut. Sebab, walaupun cuma warung makan, kelezatan masakannya tidak kalah dengan restoran, saya bersama saudara-saudara dan teman-teman sering makan di sana.

Toko-toko buku yang besar juga berada di Kembang Jepun, antara lain Toko Buku Ta Chen Soe Tji yang menjual buku-buku cerita dan pelajaran bahasa Tionghoa. Saya masih ingat bersama kakak atau teman perempuan saya sering membeli buku Mandarin antara lain karangan Ba Jin, Bing Xin, Lu Xin, dan Kojen (komik strip terbitan Hongkong yang saat itu sangat digemari) dan buku-buku pelajaran untuk adik-adik saya.

Pemilik toko buku ini orang Shanghai. Di Surabaya, yang saya ketahui, ada tiga toko buku Tionghoa. Berbeda dengan di Eropa, di Asia Tenggara pada umumnya orang-orang totok menggunakan bahasa Tjengim, Kuoyu atau Mandarin, sedangkan di Eropa dan Amerika Utara yang biasa digunakan adalah berbagai dialek, terutama Kanton (Guangdong).

Buku-buku Barat haya dapat diperoleh di tokot-oko buku Barat seperti Van Dorp dan Kolff di Tunjungan. Saya suka membaca dan mengoleksi buku-buku Barat antara lain tentang Perang Dunia II, cerita klasik Barat, cerita klasik Tiongkok, dan filsafat. Juga buku-buku tulisan Bung Karno, Mao Zedong, dan buku-buku politik lainnya.



Li Lihua, artis Mandarin terkenal yang digandrungi warga pecinan Surabaya tempo dulu.


Ketika terjadi peristiwa Gerakan 30 September 1965, buku-buku tersebut dibakar istri saya. Sementara buku-buku lain disimpan dalam dua peti kayu jati besar dan disimpan di rumah mertua saya.

Di pecinan Surabaya terdapat dua bioskop Tionghoa, Shin Hua di Bongkaran dan Nan King Theatre di dekat Pabean. Bioskop-bioskop ini biasa memutar film-film dari Shanghai, kemudian film-film Hongkong. Ini disebabkan setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, banyak produser, pekerja film, dan artis terkenal yang melarikan diri ke Hongkong. Dulu kami mengenal artis-artis Hongkong terkenal seperti Li Li-hua, Wang Tanfeng, Chou Sian, Li Sianglan, Auwyang Shi Fei.

Setiap bulan sekali atau dua kali saya bersama calon istri pasti nonton di Shinhua Theatre. Menurut saya, masa pacaran yang paling menyenangkan adalah menonton bioskop, makan di restoran. Dan, yang terutama, ngobrol dengan tenang tanpa gangguan, sehingga kita dapat lebih bebas mengutarakan kasih sayang kita. Dengan demikian, kita dapat lebih mengenal sifat masing-masing yang menurut saya sangat penting dalam membangun dan membina keluarga kelak.

Sekolah-sekolah Tionghoa baik sekolah dasar maupun sekolah menengah bertebaran di Surabaya. Sekolah yang terkenal pada masa itu ialah Sin Hwa High School yang terletak di Jl Ngaglik, Chung Hua Chung Shueh di Jl Baliwerti, Khai-Ming Chung Hsueh di Jl Kalianyar, Chiao Chung di Jl Pengampon, dan Chiao Lian Chung Hsueh di Jl Undaan.

Kebanyakan sekolah-sekolah Tionghoa ini pro-RRT. Hanya Chiao Lian yang berhaluan kanan dan pro-Taiwan. Walaupun demikian, banyak murid-muridnya ketika lulus meneruskan studinya di RRT, sehingga orientasi politiknya tidak mutlak pro-Taiwan.

Setiap tahun pada hari nasional RRT, tanggal 1 Oktober, diselenggarakan pertandingan atletik antarsekolah Tionghoa se-Kota Surabaya. Pertandingan tersebut biasanya diadakan di lapangan sepak bola Tambaksari dan berlangsung selama beberapa hari. Suasananya meriah dan ramai. Sekolah menengah Chiao Lian tidak ikut dalam pertandingan atletik ini karena orientasi politik pimpinan sekolah dan guru-gurunya berkiblat ke Taiwan.



Di pecinan Surabaya juga terdapat berbagai toko yang menjual kelontong, P&D, sampai toko obat Tionghoa dan apotek. Juga terdapat hotel-hotel khusus untuk orang-orang Tionghoa. Di Jl Bakmi saja ada tiga hotel, yaitu Grand Hotel yang terbesar, Hotel Nan Zhou untuk orang-orang Hokkian, dan Hotel Hai Yong Zhou yang kebanyakan tamunya orang-orang Hakka.

Di Jl Kapasan ada dua hotel, yaitu Hotel Ganefo dan Hotel Hollywood, serta beberapa losmen. Hotel Hai Yong Zhou lokasinya di sebelah sekolah Chiao Nan. Hotel ini didirikan orang-orang Hakka. Mungkin dulu di sekitar Jl Bakmi penghuninya banyak orang Hakka atau berasal dari Provinsi Guangdong.

Hotel-hotel ini setiap hari ramai dikunjungi para pedagang Tionghoa dan tamu-tamu dengan keperluan lainnya. Banyaknya hotel di daerah tersebut membuktikan ramainya perdagangan di pecinan Surabaya pada era 1950-an.

Restoran-restoran terkenal di pecinan Surabaya yang saya ingat dalah Kiet Wan Kie, Tai Sie Hie, Nan Yuan dan beberapa lagi di dalam Pasar Pabean. Di samping itu, banyak terdapat warung-warung yang menjual bakmi pangsit, bakwan, hiwan, dan sebagainya.

Di luar pecinan juga terdapat banyak restoran besar dan menengah. Restoran peranakan yang terkenal adalah Hoenkwee Huis dan Helendoorn yang keduanya berlokasi di Tunjungan. Restoran-restoran Tionghoa biasanya milik orang-orang Guangzhou (Kanton). Kelezatan masakan orang-orang Kongfu memang sangat terkenal di dunia. Di samping itu, ada juga restoran gagrak Shanghai yang bernama 369 atau San Lo Jiu. Saya tidak pernah mendengar adanya restoran Sechuan di Surabaya.

Biasanya, setiap hari Minggu ada pesta perkawinan anak-anak orang kaya di restoran-restoran besar yang sangat ramai. Hiburannya musik Mandarin yang hingar-bingar dari Hongkong dan Shanghai. Jarang sekali diputar lagu-lagu Barat atau musik live seperti sekarang.

Teman saya, Chai Su-rung, adalah putra pemilik Restoran Tai Sie Hie yang terkenal di Surabaya. Sebelum saya meninggalkan Indonesia untuk huiguo, saya dan istri sempat makan di restoran ini. Saya memesan roti goreng ham yang merupakan favorit saya.



Artis lawas Li Xianglan yang sering ditanggap ke Surabaya jaman biyen.

Daerah pertokoan bovenstad yang elit dan menjadi tempat belanja favorit orang-orang kaya Surabaya tempo doeloe terletak di Tunjungan, Simpang, Palmenlaan (Panglima Sudirman, Red), dan Tegalsari. Kawasan ini bisa langsung terhubung ke Jl Raya Darmo, yang merupakan tempat tinggal orang-orang Belanda pegawai tinggi pemerintah atau pegawai tinggi perusahaan besar Belanda.

Daerah pertokoan yang paling ramai adalah Tunjungan. Di sini ada Toko Aurora dan Tjijoda. Yang terakhir kepunyaan orang Jepang. Konon kabarnya, Toko Tjijoda adalah sarang mata-mata Jepang. Banyak dari mereka turut memimpin tentara Jepang ketika Jepang menyerbu Hindia Belanda. Kedua toko ini adalah mal zaman dulu.

Setelah Perang Dunia II, di Tunjungan ada dua toko Tionghoa yang terkenal, yaitu Toko Piet dan Toko Nam, yang bisa menyaingi kedua toko kepunyaan Belanda dan Jepang tadi. Orang Tionghoa yang tinggal di pecinan jarang belanja di Tunjungan karena bisa membeli barang-barang di Kapasan dan Kembang Jepun. Kualitas barang-barangnya sama, tapi harganya lebih murah.

Kalau kita ingin menonton film-film Barat, kita harus keluar dari pecinan. Metropole Theatre berada di Pasar Besar, Luxor di seberangnya, Bioskop Rex di Tegalsari, Maxim di Palmenlaan, dan Capitol Theatre di Kranggan.

Tempat-tempat hiburan malam, yang umumnya untuk orang-orang kulit putih, berada di Tunjungan, Simpang, Palmenlaan, dan Tegalsari. Yang masih saya ingat Simpang Club, tempat fine dining, berdansa, dan menonton konser musik Barat. Bangunan klub ini dengan arsitektur kolonial masih berdiri sampai sekarang.

Pada masa itu tidak setiap orang diperkenankan masuk ke dalam klub tersebut. Hanya pegawai-pegawai Belanda yang diperkenankan masuk. Tapi, setelah Indonesia merdeka, Simpang Club dapat dikunjungi masyarakat umum, asalkan punya uang untuk membayar. Menonton pertunjukan di sini kita harus berpakaian rapi. Beda dengan menonton pertunjukan kesenian di pecinan.

06 July 2011

Aksara Hanzi yang Rumit




Aksara Tionghoa atau hanzi merupakan aksara tertua di dunia. Sebab, orang Tiongkok sudah mengenal aksara jauh sebelum Masehi. Aksara hanzi ini tidak hanya digunakan masyarakat di Tiongkok, tapi juga Jepang, Korea, dan Vietnam.

Aksara Jepang biasa kita kenal dengan tulisan kanji, sedangkan Korea hanja, dan Vietnam hantu. Dalam bahasa Inggris, hanzi ini biasa diterjemahkan sebagai Chinese character.

Aksara Mandarin atau hanzi ini sangat berbeda dengan sistem alfabet Romawi atau Inggris yang dipakai di Indonesia. Dalam sistem alfabet, menurut Mario, satu huruf tidak punya makna apa-apa. Ini berbeda dengan hanzi, di mana masing-masing aksara mempunyai makna tertentu.

Merujuk Kamus Kangxi, jumlah aksara Tionghoa kira-kira 47.035. Kamus Kangxi ini merupakan salah satu kamus terlengkap yang disusun pada masa pemerintahan Kangxi (Dinasti Qing).

Hanzi ini kali pertama ditemukan sekitar 6.600 sebelum Masehi pada zaman Dinasti Shang. Hanzi yang ditemukan saat itu mirip lukisan pada tempurung kura-kura dan tulang rusa. Jadi, sangat berbeda dengan aksara hanzi yang kita kenal sekarang.

Selama ribuan tahun, hanzi terus mengalami perubahan, metamorfosa, hingga menjadi bentuknya yang sekarang. Hampir setiap dinasti melakukan perubahan hanzi. Perubahan yang cukup radikal dilakukan Mao Zedong setelah Republik Rakyat Tiongkok diproklamasikan pada 1 Oktober 1949.

Sadar bahwa sebagian besar rakyatnya buta huruf, Mao kemudian menyederhanakan sekitar 3.000 aksara yang biasa digunakan sehari-hari.
Hasil penyederhanaan aksara itu disebut Simplified Chinese atau aksara yang disederhanakan. Goresan-goresannya jauh lebih sedikit ketimbang aksara tradisional atau Traditional Chinese.

Aksara tradisional ini masih digunakan di Taiwan, Hongkong, dan Makau.

Karena pelajaran bahasa Mandarin di sekolah-sekolah di Indonesia berkiblat ke Beijing, maka hanzi sederhanalah yang dipakai. Beda dengan para siswa sekolah-sekolah Tionghoa tempo doeloe yang menggunakan hanzi tradisional.

05 July 2011

Nicky Astria Masih Ciamik




Akhirnya, Metro TV mau menayangkan Nicky Astria, salah satu penyanyi favorit saya, di acara ZONA MEMORI, Minggu 3 Juni 2011. Dipandu Ronny Sianturi dan Gladys Suwandi, yang juga penyanyi lawas, Nicky Astria tampil seorang diri. Macam konser tunggal Nicky Astria. Band pengiring Widya Kristianti, Cendy Luntungan, Denny TR, dan kawan-kawan yang memang sudah lama dapat job tetap di Zona Memori, nama baru Zona 80.

Nicky Astria memang sudah lama hilang dari peredaran. Televisi-televisi kita, juga blantika musik pop Indonesia, sejak dulu memang tak ramah dengan penyanyi-penyanyi atau musisi lawas. Habis manis sepah dibuang.

Penyanyi-penyanyi lama, sehebat dan seterkenal apa pun, selalu dianggap 'sepah' di masa senja. Maka, artis-artis yang sudah berusia 30 tahun biasanya deg-degan, stres, bahkan bisa gila kalau tak bisa menghadapi iklim musik pop Indonesia.

Nicky Astria bukanlah penyanyi kacangan. Vokalnya melengking tinggi, punya vibrasi, teknik produksi suara bagus. Penampilan oke. Bahkan, ketika muncul di Metro TV barusan, si lady rocker ini masih terlihat ciamik di usia 40-an. Wajah boleh, tubuh tetap terjaga. Tidak kegemukan.

Hanya saja, tak bisa dimungkiri, kualitas vokal Nicky Astria sudah tidak prima lagi. Maklum, job-joban manggung sudah hampir tak ada lagi. Nicky mengembangkan karier di luar jalur musik. Karena itu, dia seperti tak punya kewajiban untuk berlatih olah vokal, pernapasan, atau main musik tiap hari. Nyanyi dan musik kayaknya hanya untuk hobi, kangen-kangenan dengan penggemar lama.

Maka, tak heran Nicky Astria malam itu saya lihat kesulitan membidik nada-nada tinggi. Oh ya, lagu-lagu yang dibuat untuk Nicky Astria sejak dulu memang punya rentang nada (ambitus) yang lebar. Ini memang kelebihan Nicky Astria ketika usianya di bawah 30. Selepas 30, apalagi setelah menikah, meskipun gagal beberapa kali, kelenturan dan ketinggian suara sudah sulit dikembalikan ke era 1980-an dan 1990-an. Manusia memang sulit kompromi dengan faktor usia, bukan?

Ketika sampai pada nada-nada tinggi, Nicky Astria bikin improvisasi. Dia pakai nada-nada rendah. Atau, bikin melodi baru, improvisasi. Atau, ini yang sulit dimengerti, si Nicky malah menyodorkan mike ke ibu-ibu atau seorang bapak di depan panggung yang suaranya hancur bener. Lha, jangankan orang awam seperti si ibu berjilbab merah dan seorang bapak berkacamata tebal, artis sekaliber Nicky Astria saja sudah sulit membawakan refren yang menantang itu.

Hehehe.... Rupanya, Nicky Astria menghindari jebakan nada-nada tinggi dengan 'mendelegasikan' kepada penonton. Asal comot pula. Setahu saya, biasanya penonton itu sudah 'dikoordinasikan' lebih dulu, dipilih yang punya suara bagus. Dengan begitu, suara penonton tidak malah mengganggu konser solo sang vokalis. Itu berdasar pengalaman saya meliput konser artis-artis top beberapa tahun lalu di Surabaya dan Sidoarjo. Tidak pernah ada penonton yang benar-benar spontan.

Ketika ada cewek yang diminta naik panggung, misalnya, hampir pasti sudah diseleksi ketat. Postur oke, suara bagus, punya kemampuan public speaking, tidak grogi. Mungkin Nicky Astria lupa dengan 'rahasia di belakang panggung' atau memang sengaja polos, apa adanya. Oke-oke saja kalau memang konser ini sekadar kangen-kangenan dengan penggemar lama!

Saya sendiri punya banyak kenangan manis dengan lagu-lagu Nicky Astria. Hampir semuanya enak-enak, khususnya album yang digarap Ian Antono dan Jelly Tobing. Ketika ada lomba vocal group semasa SMP dan SMA, kelompok kami menggunakan lagu hit Nicky Astria: Biar Semua Hilang (Jockey Suryoprayogo) dan Di Antara Bias Ragu (Titiek Hamzah). Kedua lagu ini bukan saja manis melodinya, tapi punya syair yang kuat. Syair puitis, indah, yang sangat sulit dijumpai dalam lagu-lagu pop Indonesia hari ini.

"...Usah lagi perpisahan jadi beban di hati
Tak kan lagi... ada harapan kita tuk kembali
Biar semua hilang... bagai mimpi-mimpi
Biar semua hilang usah kau sesali..."


Ada pula lagu Misteri Cinta (karya Ully Sigar Rusadi), yang menjadi 'lagu wajib' kami, anak kos-kosan, ketika masih mahasiswa di Jember. Atau: "Uang bisa bikin orang senang tiada kepalang. Uang bikin mabuk kepayang...." Teman saya, Deddy, paling suka 'Kuping Cap Lang'.

Saya juga masih ingat penyiar radio AM spesialis lagu-lagu pop kewalahan karena selalu mendapat request lagu Remang-Remang Dirimu. Masih ingat syairnya? Kalau ingatan saya tidak meleset, demikian:

"Tiada lagi indah hidupku ini
Kau tinggalkan luka di hatiku
Ke mana ku bawa diriku
Tuk melepas duka di hatiku
Derai air mata jatuh di pipiku
Bila ku mengenang dirimu..."


Meski tidak melihat langsung konser Nicky Astria, dan terlepas dari kualitas Nicky yang tak sebagus era 1990-an, saya puas menikmati penampilan Nicky Astria di Metro TV selama satu jam. Saya pun jadi rindu penyanyi-penyanyi yang punya karakter, kualitas, dan ciri khas macam Nicky Astria. Bukan penyanyi atau musisi yang sekadar lewat, setelah itu hilang tak berbekas, tanpa meninggalkan nada-nada dan syair di memori kita.

04 July 2011

Nunung Bakhtiar Pelukis Surabaya




Oleh Lambertus Hurek

Menandai perjalanan berkeseniannya selama 25 tahun, pelukis Nunung Bakhtiar (59) saat ini sedang menggelar pameran tunggal di Hotel Mercure-Grand Mirama Surabaya. Ibu dua anak ini menjadikan pameran tunggal ini sebagai ajang untuk berterima kasih kepada masyarakat, khususnya para kolektor, yang telah mengapresiasi karya-karyanya.


Nah, di sela kesibukannya melayani pertanyaan pengunjung, Nunung Bakhtiar bersedia menerima Radar Surabaya untuk sebuah wawancara khusus. Pelukis yang murah senyum ini bicara panjang lebar tentang perjalanan karier, pengalaman berpameran di luar negeri, hingga dahsyatnya the power of mind and the power of positive thinking. Tuturan Nunung Bakhtiar sarat dengan motivasi, layaknya motivator kawakan. Berikut petikannya:

Ini pameran keberapa?

Waduh, sudah terlalu banyak deh saya ikut pameran bersama teman-teman pelukis yang lain. Tapi, kalau pameran tunggal, ini yang kelima. Pameran tunggal saya yang terakhir tahun 2007.

Ada makna khusus pameran kali ini?

Yah. Pameran ini menandai 25 tahun perjalanan dan pergulatan saya dalam dunia seni rupa. Tidak terasa, saya sudah berjalan selama sejauh ini di dunia seni lukis dengan segala macam peluang dan tantangannya. Tapi, alhamdulillah, saya bersyukur karena bisa menikmati kebahagiaan dengan profesi ini. Berkat seni lukisan, saya bisa punya kesempatan untuk jalan-jalan ke luar negeri, bikin pameran, punya relasi dengan teman-teman di luar negeri, punya kolektor baik di di dalam dan luar negeri.

Dan, supaya Anda tahu, semua perjalanan saya ke luar negeri (untuk pameran) itu gratis lho! Selalu ada saja jalan bagi saya untuk mengembangkan karier di seni lukis, sekaligus memperkenalkan Indonesia di luar negeri.

Anda sudah pernah pameran ke negara mana saja?

Pertama kali di Toronto, Kanada, tahun 1995. Waktu itu ada perayaan 50 tahun Indonesia merdeka atau Indonesia Emas. Saya punya peluang untuk berdiskusi dengan pelukis-pelukis di sana, mengunjungi studio di sana, bertemu dengan para peminat dan kolektor lukisan. Kemudian saya juga sempat ke Swiss, Prancis, Belanda, Jerman, New Zealand.

Yang membuat saya bahagia, pameran saya di luar negeri selalu berlangsung lama, minimal satu bulan. Jadi, saya punya kesempatan untuk berdialog dan berinteraksi dengan teman-teman (sesama seniman) di luar negeri. Dari situ saya menemukan banyak hal yang menarik, baik alamnya, pemandangannya, hingga manusianya.

Ternyata, orang-orang Eropa seperti di Belanda atau Swiss hampir sama dengan kita di Indonesia. Ada semacam gethuk tular di antara mereka. Dan itu membuat teman-teman seniman di sana selalu mendatangi pameran saya.

Bagaimana ceritanya Anda akhirnya bisa menembus Eropa, sementara perjalanan berkesenian Anda boleh dikata belum terlalu panjang?

Yah, semuanya terjadi begitu saja. Jalan itu sepertinya selalu terbuka untuk saya. Awalnya, saya sering email-emailan sama kenalan sesama pelukis di Belanda. Saya sempat menitipkan lukisan di sana. Akhirnya, suatu ketika saya dapat tawaran, bagaimana kalau Anda menggelar pameran lukisan di Belanda? Wow, tentu saja tawaran tahun 2003 ini langsung saya respons dengan baik. Saya sampaikan rencana itu kepada Wali Kota Bambang DH. Beliau ternyata benar-benar memberikan dukungan, sehingga saya akhirnya berangkat ke Den Haag.

Sampai di sana saya disambut dengan sangat baik. Saya dapat gedung untuk pameran selama satu bulan. Bahkan, saya juga dapat tempat tinggal dan fasilitas akomodasi. Anda bisa bayangkan, kalau diuangkan sudah berapa itu?

Lantas, bikin pameran serupa di Prancis?

Nah, saat pameran di Belanda, ada teman yang menawarkan bagaimana kalau saya pameran di Prancis? Oke! Akhirnya, saya naik kereta api ke Prancis, bawa lukisan-lukisan saya dari Belanda. Di Prancis, selama satu bulan saya nginap di rumah teman. Pokoknya, kalau pameran di luar negeri saya maunya paling tidak satu bulan. Buat apa jauh-jauh ke sana kalau hanya pameran cuma satu minggu? Orang Prancis ini apresiasi seninya sangat baik. Saya diundang ke mana-mana untuk melukis di taman mereka. Yah, lumayan, sambil pameran saya bisa bekerja juga di sana. Hehehe...

Kemudian pameran di New Zealand pun sama. Satu bulan saya bikin pameran, bahkan saya datang sama suami saya. Kebetulan dapat sponsor seorang pencinta seni yang juga pemilik hotel di sana. Saya disiapkan tiket pulang-pergi, fasilitas nginap di hotel milik dia dan sebagainya. Bahkan, lukisan-lukisan saya diborong untuk dipajang di hotel itu.

Kira-kira apa rahasia sukses Anda yang terkesan begitu mudah berpameran di luar negeri dalam waktu lama?

Selama 25 tahun ini saya sudah membuktikan kekuatan pikiran. The power of mind! Jangan sepelekan kekuatan pikiran Anda. Selalu berpikir positif. Selalu optimistis, yakin, bahwa kita bisa. Sejak dulu saya selalu tanamkan di pikiran saya bahwa saya tidak mau hanya jadi pelukis yang biasa-biasa saja. Saya membayangkan di pikiran saya, suatu ketika saya berada di tengah-tengah publik seni di Eropa atau Amerika. Dan, alhamdulillah, semua itu akhirnya terbukti dalam kenyataan. Makanya, saya ingin menularkan the power of mind dan berpikir positif ini kepada siapa saja. Yakinlah, Anda pun pasti bisa! (rek)

BIODATA SINGKAT

Nama lahir : Lembah Setoawaty
Nama : Nunung Bakhtiar
Lahir : Malang, 14 Juni 1952
Orangtua : Suwarno Harso dan Sujeti
Suami : Syahrul Bakhtiar
Anak : Arya Suryawan dan Maharani
Pendidikan terakhir : Psikologi Untag Surabaya

PAMERAN TUNGGAL
1. Symphony 2000 di Novotel Surabaya.
2. Dancing on The Canvas (Menari di Atas Kanvas), 2003, di Belanda
3. Pameran di New Zealand selama satu bulan, 2005
4. Pameran di Surabaya, 2007
5. Pameran 25 Tahun Berkarya, Mercure-Grand Mirama Hotel Surabaya, 2011

Pameran bersama: Berkali-kali sejak 1991 sampai 2011




Dari Dancer, Model, hingga Pelukis

TIDAK terlalu aneh kalau Nunung Bakhtiar (49) punya passion luar biasa pada dunia kesenian. Maklum, sang ayah, Suwarno Harso, senang melukis di kala senggang. Meski hanya sebatas hobi, aktivitas melukis sang ayah ikut menular kepada Nunung, sulung dari lima bersaudara.

Yang menarik, di masa kecil Nunung justru bercita-cita menjadi seorang dancer, penari terkenal. Karena itu, dia sempat berlatih di Sanggar Viatikara, komunitas tari terkenal di Surabaya. Sayang, panggung tari rupanya kurang mendukung si Nunung yang punya ambisi menjadi seniman besar.

“Saya tidak mau sekadar jadi orang yang biasa-biasa saja,” begitu prinsip Nunung Bakhtiar sejak dulu. Sempat menjajaki dunia modeling, pada 1970-an, Nunung masih terus ‘bermain-main’ dengan potlot dan keras gambar. Melukis apa saja sesuai keinginan hatinya.

Ketika menikah dengan Syahrul Bakhtiar, waktu itu petinggi kantor berita Antara, atmosfer kesenian yang melingkupi Nunung kian kental. Betapa tidak. Sang mertua, Wiwiek Hidayat, seorang pelukis profesional. Sang suami pun sesekali melukis dan suka mengoleksi lukisan.

Ketika hijrah ke Bali mengikuti sang suami pada 1983, greget berkesenian semakin kental saja. Nunung senang menghabiskan waktu dari museum ke museum, galeri, dan berkunjung ke studio para pelukis di Pulau Dewata itu. Berjam-jam dia memperhatikan cara kerja para seniman, gaya lukisan, hingga persahabatan di antara mereka.

Sejak itu dia bertemu pelukis-pelukis kondang macam Wayan Jati, Made Titib, Antonio Blanco, Arie Smith, Widayat, Affandi, Navarro, Roger San Miguel, Kriyono, OH Soepono, hingga Tedja Suminar. Lingkungan yang begitu kondusif ini kian melejitkan bakat seni yang sudah lama terpendam di dalam diri Nunung. Dia mulai melukis dengan cat minyak, kadang pastel.

“Waktu itu saya belum berani pameran,” kenang ibu dua anak dan nenek dua cucu ini.

Ketika kembali ke Surabaya, 1991, lagi-lagi karena ikut suami, Nunung Bakhtiar mencoba mengikuti pameran bersama di Hotel Hyatt (sekarang Hotel Bumi) dalam rangka konferensi Rotary Club Indonesia. Kebetulan Nunung seorang rotarian alias anggota klub sosial internasional itu. Tak dinyana, ada tiga lukisannya ditaksir pengunjung.

Kolektor asal Jepang ngotot mengoleksi lukisan berjudul Gadis Bali I. Si turis berani bayar mahal, pakai dolar, namun Nunung tak tega melepas lukisan itu ke negeri sakura. Semalaman dia tak bisa tidur memikirkan negosiasi dengan orang Jepang itu.

Akhirnya, Nunung Bakhtiar meminta maaf tidak bisa melepas lukisan kesayangannya itu. Sampai sekarang lukisan itu menjadi koleksi pribadi yang tak akan dilepasnya. Sebagai otodidak, pelukis tanpa guru dan tanpa latar belakang pendidikan seni lukis, Nunung gemar berdiskusi dengan sesama pelukis. Termasuk dengan pelukis yang ‘gagal berkembang’. Semua itu diolah, dipetik hikmahnya, untuk mengarungi dunia seni rupa yang penuh gelora itu. (rek)

02 July 2011

Koran Digelontor Cerpen

Setiap hari saya lihat minimal ada empat sampai enam cerpen yang masuk ke koran kecil di daerah. Cerpen yang diterima Kompas rata-rata 9-10 sehari. Jawa Pos saya rasa tak berbeda jauh dengan Kompas: 10 cerpen sehari, bahkan bisa lebih.

Berbeda dengan berita atau foto, cerpen hanya dapat jatah muat SATU kali seminggu di koran. Itu pun tidak semua koran membuka halaman khusus untuk sastra, khususnya cerpen. Artinya, dalam setahun hanya ada 52 cerpen yang dimuat di sebuah koran.

Misal kata--meminjam gaya Lin Xiansheng yang suka membumbui ujarannya dengan 'misal kata'--dalam sehari ada lima cerpen masuk sebuah koran, berarti dalam sebulan ada 150 cerpen. Setahun ada 1.800 cerpen. Dus, cerpen yang tidak termuat 1.748.

Wuih, banyak banget!
Mau dikemanakan cerpen-cerpen yang tidak dimuat salah satu koran itu?
Dikirim ke koran-koran atau majalah lain?
Dijadikan buku kumpulan cerpen?

Tanpa menyinggung kualitas, harus diakui terjadi ledakan produktivitas yang luar biasa di kalangan penulis-penulis kita. Ide makin banyak, komputer, laptop, dan perangkat lain kian mempermudah orang untuk menuangkan ide-idenya dalam tulisan.

Bahkan, ada cerpenis di Jawa Timur yang saking produktifnya, hampir setiap hari bisa mengirim dua cerpen ke sebuah koran. Bisa dipastikan penulis yang sama juga mengirim cerpen (lain) ke koran lain. Sebab, kalau sampai ketahuan mengirim cerpen yang sama ke lebih dari satu koran, bakal masuk daftar hitam.

Sulit membayangkan cara kerja cerpenis yang superproduktif ini. Bikin cerpen kayak pabrik panci di kawasan Aloha, Sidoarjo! Padahal, tak sedikit cerpenis yang tergolong senior belum tentu mampu menulis lima cerpen dalam setahun.

Sebelum pertengahan 1990-an, ketika internet belum ada, blog belum dikenal, penulis-penulis cerpen memang mengandalkan koran edisi Minggu untuk publikasi cerpen. Ada juga majalah bulanan sastra macam Horizon yang bisa menampung banyak cerpen. Beberapa pengarang berjuang sendiri, syukur-syukur dapat penerbit, untuk menerbitkan kumpulan cerpen mereka.

Maka, muncul istilah 'sastra koran' untuk melabelisasi cerpen-cerpen yang dimuat di koran. Cerpen yang (dulu) dinilai dangkal karena halaman koran memang terbatas. Plot cerita, panjang naskah, disesuaikan dengan ruangan yang tersedia. Tak lagi bebas lepas menulis cerpen tanpa pertimbangan space, isu-isu mutakhir, aktualitas, dan sebagainya.

Nah, ketika internet makin massal, maka batasan-batasan space tentunya tak ada lagi. Mau bikin cerpen yang panjang-panjang, puluhan halaman, terserah. (Namanya bukan 'cerita pendek' lagi kalau ceritanya berpanjang-panjang? Hehehe...)

Tak perlu lagi menghadapi pisau editor atau redaktur yang sering dikritik para cerpenis itu. Mau bikin cerpen macam apa saja, eksperimen dengan ragam apa pun... silakan. Internet memang wahana demokrasi yang nyaris tanpa batasan dan sensor.

Tapi mengapa penulis-penulis itu masih tetap ngotot menggelontor koran dengan cerpen? Kenapa tidak dimuat saja di blog pribadi atau laman khusus cerpen atau sastra di internet?

Apa gerangan yang kaucari, wahai sang cerpenis, di koran? Honorarium? Nama besar? Pengakuan? Kebanggaan diri?

Saya sering mengusulkan kepada penulis-penulis muda, termasuk cerpenis, untuk bikin website atau blog pribadi. Posting-lah tulisan-tulisan kalian, termasuk cerpen, di internet. Dengan begitu, energi kreativitas yang meluap-luap itu bisa disalurkan dan bisa dibaca banyak orang di jagat maya yang tak berbatas itu.

Kalau hanya sekadar menunggu cerpen dimuat di koran, yang dijatah satu cerpen seminggu, sementara cerpen yang masuk 35 biji, wah-wah-wah....