21 June 2011

TKI dan Sapi Australia

Orang Australia marah besar karena sapi-sapi mereka ‘disiksa’ di Indonesia. Cara menyembelih sapi di rumah jagal kita dinilai tidak memenuhi standar Aussie. Pisau kurang tajam, perlakuan sebelum penyembelihan, dianggap melanggar animal rights. Sapi-sapi pun terlalu stres, menderita, sebelum meregang nyawa.

Maka, sejak bulan lalu pemerintah Australia menghentikan pengiriman sapi-sapinya ke Indonesia. Peternak-peternak sapi di Jawa Timur, termasuk gubernur dan bupati-bupati, justru senang dengan ngambeknya si Aussie ini. Kenapa? Dengan begitu, sapi-sapi lokal bisa lebih mudah masuk pasar. Toh, stok sapi di Jawa Timur, Indonesia umumnya, masih berlimpah.

Saya tidak hendak membahas teknik memotong sapi atau perdagangan sapi Indonesia-Australia. Tapi bagaimana pemerintah Australia begitu memperhatikan sapi-sapinya meskipun sudah berada di dalam rumah jagal. Cara penyembelihan, perlakuan menjelang penyembelihan, cara mengambil daging, hingga penjualan daging di pasar... rupanya dipantau betul oleh bule-bule Aussie.

Kalau sapi yang jelas-jelas binatang saja diperhatikan hak-hak kebinatangannya, bagaimana pula dengan manusia Australia? Bisa dipahami mengapa Australia begitu cerewet menekan Indonesia agar membebaskan warga negaranya yang dihukum di penjara Indonesia. Padahal, kita tahu, orang-orang Australia yang dihukum di Bali itu sudah terbukti terlibat mafia narkotika internasional.

Apa pun, kita perlu belajar dari komitmen dan kepedulian pemerintah Australia terhadap warga negaranya, bahkan terhadap sapi-sapinya yang dikirim ke Indonesia. Dan memang negara seharusnya berusaha melindungi warganya semaksimal mungkin. Berapa pun harganya!

Lain Australia, lain pula Indonesia. Manusia-manusia Indonesia yang bekerja di negara lain, khususnya Arab Saudi dan Malaysia, sudah jelas bukan binatang sekelas sapi. Mereka manusia-manusia yang punya hak hidup, human rights, yang harus dilindungi dan dihormati. Pemerintah Indonesia harus tegas, berani mengambil risiko, ketika ada pekerja asal Indonesia (TKI) yang terancam kehilangan nyawa.

Kasus hukuman pancung yang dialami almarhumah RUYATI akhir pekan lalu kembali menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia tidak berdaya. Gagal, gagal, dan gagal melindungi nyawa manusia Indonesia di Arab Saudi. Kita baru terkejut ketika Ruyati sudah dipancung. Sudah jadi mayat, tinggal nama. Ironisnya, pemerintah Indonesia pun ternyata baru tahu bahwa Ibu Ruyati ini dieksekusi sesuai dengan hukum yang berlaku di Saudi.

Tak guna kita marah-marah pada Arab Saudi, unjuk rasa di kedutaan mereka, teriak-teriak, ancam sana-sini, dan seterusnya. Nasi pun sudah jadi bubur. Ruyati sudah tak ada lagi di dunia. Kita layak malu pada Australia yang habis-habisan membeli SAPI-SAPI mereka, sementara Indonesia selalu alpa membela manusia-manusianya yang terpaksa bekerja di luar negeri sebagai pembantu, kuli bangunan, dan pekerja-pekerja kasar.

Apa boleh buat. Harus diakui, harga dan derajat manusia-manusia Indonesia di luar negeri sudah jatuh hingga titik terendah. Pekerja rumah tangga di Saudi rupanya dianggap sebagai budak belian yang bisa diperlakukan semau-maunya oleh majikan. Dan, sayang sekali, pemerintah Indonesia sejak dulu tak punya komitmen untuk menghentikan pengiriman TKI-TKI yang jadi kuli-kuli kasar.

Ah, saya jadi ingat kata-kata Presiden Sukarno:

KITA SUDAH MENJADI BANGSA KULI, DAN KULI DI ANTARA BANGSA-BANGSA!

0 comments:

Post a Comment

Silakan menulis komentar Anda di dalam kotak.Terima kasih banyak.