05 June 2011

Slamet Abdul Sjukur dan Yijing



Selama ini Slamet Abdul Sjukur (86 tahun) lebih dikenal sebagai komponis, guru piano, budayawan, hingga kolumnis. Tak banyak yang tahu kalau pria kelahiran Surabaya itu menekuni filsafat Yijing dari Tiongkok.

Di dinding ruang tengah rumahnya di kawasan Keputran Panjunan, ada papan liushisi gua khas Tionghoa. Para tamu Slamet Abdul Sjukur, yang kebanyakan siswa piano, biasanya penasaran dengan papan itu. Kok sang komponis yang tak punya darah Tionghoa menjadikan papan Yijing (baca: I-Ching) sebagai hiasan dinding?

Nah, begitu ada pancingan pertanyaan, maka Slamet pun dengan sabar menjelaskan asal mula dia berkenalan dengan Yijing, hingga kaitannya dengan komposisi musik. Berbekal papan Yijing itu, Slamet kerap diminta membuat ramalan tentang peluang usaha, karir, dan sebagainya. “Teman-teman dekat sudah banyak yang tahu,” katanya seraya tersenyum.

Slamet Abdul Sjukur mengaku mulai dikenalkan dengan filsafat Yijing ketika masih bocah ingusan. Sang kakek, Arsyad (almarhum), dengan gaya main-main memberi masukan tentang filsafat klasik Tiongkok itu. Caranya begitu halus, santai, ibarat main-main. “Kakek saya itu tidak menggurui. Itu yang membuat saya senang,” kenangnya. Tentu saja, Slamet cilik belum paham nama-nama asing seperti Yijing alias I-Ching itu.

Slamet kemudian mendapat kesempatan untuk mendalami musik klasik dan kontemporer di Prancis. Sedang asyik-asyiknya belajar dan bermain musik, sekitar tahun 1966 dan 1997, muncul semacam tren menarik di Prancis dan negara-negara Eropa lainnya. Ini dipicu oleh komponis Amerika Serikat bernama John Cage yang membuat kejuatan di dunia musik.

John Cage ini, menurut Slamet, menciptakan komposisi musik dengan pola berbeda dari komponis-komponis biasa. Dia menolak segala sesuatu yang serbateratur dan tertib. Gerakan-gerakan musiknya tak harus dimainkan secara berurutan. “Dia malah membuang dadu untuk menentukan gerakan mana yang dimainkan lebih dulu,” papar pemusik yang menerima penghargaan dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Taman Surya, Selasa (31/5/2011).

Tentu saja, gebrakan John Cage ini bikin geger dunia musik klasik yang dikenal sangat sistematis dan teratur itu. John Cage bergeming. Dia sangat percaya bahwa justru di dalam ketidakteraturan, kekacauan, chaos... itu justru terdapat keteraturan. Terbosan John Cage ini ternyata dipengaruhi filsafat Yijing dari Tiongkok.

“Dia belajar dari seorang suhu filsafat Zen, aliran Buddhisme yang ada di Jepang,” papar Slamet. Sejak itulah orang-orang Eropa tertarik mempelajari Yijing yang diperkirakan muncul pada masa Dinasti Zhou, sekitar seribu tahun sebelum Masehi itu.


Kemunculan John Cage, komponis eksentrik asal Amerika Serikat, di Eropa tak ayal mempopulerkan Yijing (baca: I-Ching) dan filsafat Tiongkok lainnya. Orang Eropa mulai ramai-ramai membaca buku tentang Yijing yang sudah diterjemahkan dalam beberapa bahasa Eropa.

Slamet Abdul Sjukur, yang tinggal di Paris pada akhir 1960-an, pun tentu saja ikut dilanda demam Yijing ini. Dia membaca buku, berdiskusi dengan orang-orang Prancis, yang sedang penasaran dengan filsafat klasik Tiongkok itu.

“Setelah saya baca, saya langsung teringat kakek saya di Surabaya. Lha, itu kan dulu pernah diajari kakek saya. Poin-poin yang dibahas hampir sama dengan apa yang sudah saya ketahui di Surabaya,” kata Slamet Abdul Sjukur.

Melihat orang-orang Eropa tertarik mendalami Yijing, Slamet pun semakin bergairah mengembangkan ‘teori dasar’ yang pernah disampaikan kakeknya, Arsyad (almarhum). Bukan sekadar membaca atau diskusi, Slamet mulai coba-coba menerapkan filsafat Yijing dalam praktik. Permaiannya seperti yang biasa kita lihat di kelenteng-kelenteng.

“Ada 50 tusuk bambu dimasukkan di dalam sebuah wadah, kemudian dikacaukan, digoyang. Nantinya salah satu bambu itu akan jatuh secara terpisah. Nah, kita bisa membaca semacam ramalan dari situ,” tutur Slamet seraya tersenyum.

Aplikasi lain berupa papan Yijing berisi 64 kotak (8 x 8) yang kini menjadi dekorasi di rumahnya di kawasan Keputran Panjunan, Surabaya. Saking hafalnya, Slamet mengaku tidak perlu lagi menggunakan alat bantu seperti tusuk bambu dan papan itu. Ketika diminta teman-teman atau relasinya untuk membuat semacam ‘ramalan’, Slamet sudah punya gambaran tentang metode Yijing di kepalanya.

Apakah ramalannya dijamin tepat?

Slamet mengaku hanya memberi gambaran mengenai peluang usaha, karir, dan sebagainya tanpa pernah menentukan apa yang akan terjadi di masa depan. Karena itu, sukses tidaknya seseorang akan terpulang kepada orang yang bersangkutan.

Metode pernujuman Tionghoa hanyalah salah satu dari sedikit aplikasi filsafat Yijing. Tapi, yang lebih penting, filsafat ini sebetulnya bisa dipakai untuk menjelaskan berbagai macam fenomena kehidupan. Bahwa segala sesuatu yang kelihatannya berantakan, kacau-balau, tidak teratur... sebetulnya punya keteraturan tersendiri.

Nah, komponis John Cage berhasil mencengangkan dunia dengan komposisi musiknya yang oleh banyak orang dianggap nyeleneh, tidak teratur, atau menyalahi pakem. Mungkin, lantaran terpengaruh Yijing itulah, Slamet Abdul Sjukur dan komposisi-komposisinya kerap dianggap ‘nyeleneh’ oleh banyak kalangan.

Dimuat RADAR SURABAYA, 2-3 Juni 2011

Oleh LAMBERTUS HUREK

1 comment:

  1. Beruntung sekali kota Surabaya 'memiliki' 2 orang yang berbakat luar biasa ini.
    Terus berkarya Pak SAS dan Pak TS
    Henry najoan

    ReplyDelete