11 June 2011

Senja Kala Gang Dolly




Sudah lama ada keinginan Pemerintah Kota Surabaya untuk menutup Gang Dolly, Jarak, Moroseneng, Bangunrejo... dan beberapa kompleks pelacuran di Sidoarjo. Tapi keinginan itu sulit terwujud karena banyak pertimbangan. Reaksi pro-kontra muncul dari banyak kalangan.

Apakah mungkin kota sebesar Surabaya yang sangat maju dan modern, dengan penduduk 4 juta, bisa bebas dari prostitusi?

Gang Dolly dan kompleks-kompleks PSK (pekerja seks komersial) lain di Kota Surabaya sejatinya ilegal. Tak pernah ada izin dari pemerintah, parlemen, dan sebagainya. Dia tumbuh sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat modern. Kata orang, pelacuran itu sudah ada jauh sebelum Masehi. Hari ini ditutup, bulan depan, akan muncul lagi di tempat yang sama atau tempat lain.

Jangankan Dolly atau Jarak yang sudah bertahan 50-an tahun, kompleks PSK pinggir kali pun susah diberantas. PSK-PSK bersama germo kucing-kucingan sama aparat. Razia hari ini, besok, bahkan malam hari buka praktik lagi. Hal yang sama di sepanjang rel Wonokromo, Irian Barat, Bundaran Waru, pinggir Jalan Pangsud, dan entah di mana lagi.

Setelah reformasi, 1998, DPRD Surabaya sempat bersikeras menutup Gang Dolly. Saat beberapa kali diskusi serius dengan Pak Hidayat Tauhid (sekarang almarhum), kemudian Pak Bambang Sujiono (DPRD Jatim, juga sudah almarhum), mengenai masalah yang memang sangat kompleks itu. Juga beberapa kali melakukan kunker, dialog, hingga 'pembinaan', bersama Komisi E baik DPRD Jawa Timur maupun DPRD Surabaya.

Pak Hidayat, ketua Komisi E DPRD Surabaya, waktu itu menyatakan sudah saatnya PSK-PSK itu dientaskan. Cari pekerjaan lain. Mana ada PSK yang bahagia dengan pekerjaannya?

Lantas, muncul semacam perda atau surat keputusan untuk menutup Gang Dolly dan semua lokalisasi di Surabaya. Toh, kenyataannya perda itu cuma macan kertas. Lokalisasi tak bisa ditutup drastis begitu saja, tapi harus melalui proses. Salah satu cara efektif yang bisa dilakukan adalah melarang masuknya PSK baru. Syaratnya, aparat keamanan tak boleh main mata atau kompromi dengan para germo dan pemasok PSK.

Rupanya, ada perkembangan menggembirakan. Makin tahun jumlah PSK makin berkurang. Sebagai gambaran, tahun 2006 ada sekitar 3.000 PSK. Bahkan, 10 tahun lalu mendekati 5.000 PSK hanya di satu kompleks. Kita belum bicara PSK-PSK di lokalisasi di luar Kecamatan Sawahan.

Jika tren ini terus berlanjut, masyarakat di kawasan Dukuh Kupang, Banyuurip, dan sekitarnya boleh berharap dalam dua tiga tahun ke depan Dolly akan habis. Apalagi Jarak yang sejak dulu hanya menyediakan PSK-PSK 'kewut' alias tuwir alias tua.

Pertanyaannya, setelah Gang Dolly tutup, akankah prostitusi hilang dari Surabaya?

Hmmm.... Sejarah membuktikan bahwa 'profesi tertua' ini selalu mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Ia bisa praktik dari hotel ke hotel, salon, panti pijat, vila, dan sebagainya.

Kini, di zaman internet, germo-germo pun membuka bisnis esek-esek online. Orang tak perlu capek-capek mencari PSK ke Dolly atau Moroseneng -- dengan risiko digerebek Satpol PP dan polisi atau ketahuan orang -- tapi cukup duduk manis di depan komputer, laptop, atau ponsel.

Yang pasti, selama permintaan akan PSK masih ada, maka selama itu pula selalu ada penawaran. Apa pun caranya!

3 comments:

  1. Kalau PSK dilarang, dampaknya ialah kekerasan seksual seperti yang kita lihat di Arab dan negara negara lain yang menekan seksualitas.

    ReplyDelete
  2. kalau doly di gusurrr,pindah ke jalanan dech.......

    ReplyDelete