08 June 2011

Pinggo Jati Rahmanu, Dalang Remaja



Oleh NI LUH ANGRAENI/ENDAH FADILAH

Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Lahir dari pasangan suami-istri yang sama-sama seniman kawakan membuat Pringgo Jati Rachmanu mewarisi bakat seni. Kini, remaja 15 tahun itu memilih menekuni dunia pewayangan.


RUMAH berlantai tiga di Perumahan Bluru Permai itu pekan lalu terlihat ramai. Sejumlah remaja sedang asyik memainkan gamelan Jawa. Sementara di bagian depan seorang remaja tampak lincah memainkan wayangnya.

Untuk ukuran ABG, sabetannya boleh dibilang sangat oke. Celetukan-celetukan sang dalang kerap membuat teman-temannya tertawa atau ikut menimpali dengan gojlokan-gojlokan yang khas.

Yah, si dalang remaja itu tak lain Pringgo Jati Rachmanu. Putra sulung pasangan Subiantoro (45) dan Sri Mulyani (35) ini memang aktif berlatih memainkan wayang diiringi teman-temannya yang main karawitan. Sang ayah, Subiantoro, dikenal sebagai seniman serbabisa. Ki Toro, sapaan akrab Subiantoro, selain komposer musik tradisional dan kontemporer, juga menekuni pedalangan Jawa Timur. Adapun Sri Mulyani tak lain penari sekaligus koreografer berprestasi di Jawa Timur. Baik Ki Toro maupun Sri Mulyani sudah beberapa kali menggelar pertunjukan di luar negeri.

Begitulah. Suasana rumah, lingkungan pergaulan orangtua, yang sangat kental dengan kesenian ini ikut berperan dalam mematangkan bakat seni dalam diri Pringgo. Namun, awalnya si Pringgo cilik kurang tertarik dengan aktivitas ayah ibunya. Ketika Ki Toro sedang berlatih, mempersiapkan pergelaran, Pringgo tenang-tenang saja. Belum ada ketertarikan untuk sekadar mencoba memainkan wayang atau memainkan gamelan.

Baru setelah berusia 12 tahun, tepatnya awal 2007, Pringgo merengek minta diajari main wayang kepada Ki Toro. Tentu saja, seniman yang pernah memukau publik Belanda dan Australia ini terkejut bercampur haru. “Sebab, selama ini saya nggak pernah mengarahkan dia jadi seniman. Saya biarkan semuanya mengalir begitu saja,” kenang Ki Toro seraya tersenyum.

Namanya juga putra sang dalang, potensi seni dalam diri Pringgo memang luar biasa. Remaja yang senang main sepak bola dan bulu tangkis ini bisa dengan cepat menyerap arahan-arahan dari sang ayah. Bahkan, mungkin lebih cepat ketimbang Ki Toro pada usia yang sama dulu. Sejak itulah Ki Toro dan istrinya, Sri Mulyani, sadar bahwa sang putra telah menjelma menjadi seorang dalang cilik.

Setahun kemudian, ada festival dalang cilik se-Jawa Timur di Taman Budaya Surabaya. Iseng-iseng Ki Toro mendaftarkan Pringgo untuk mengikuti festival pada 2-3 Juli 2008 itu. Sebagai dalang cilik yang belum lama masuk ke jagat pewayangan, penampilan Pringgo tak mengecewakan. Dua tahun kemudian, 2010, Pringgo sudah berhasil menggondol penghargaan sebagai penyaji, penata pakeliran, dan sabet terbaik festival yang sama.

Sukses di beberapa festival membuat nama Ki Pringgo mulai diperhitungkan. Dia kemudian sering ditanggap mengisi hajatan-hajatan di Sidoarjo, Surabaya, dan sekitarnya. Tentu saja dia masih tetap didampingi Ki Toro sebagai ayah, guru, maupun instruktur. Pengalaman manggung yang terus bertambah membuat Pringgo mampu tampil luwes, bicara lancar, membuat improvisasi, hingga banyolan-banyolan segar.

Kamis (14/4/2011) malam, Ki Pringgo beserta rombongan meluncur ke Bali untuk mengisi acara Kerukunan Umat Beragama Internasional di Puri Pejeng, Gianyar, Bali. Sebelumnya, dia bersama sang ayah sudah mempersiapkan konsep pertunjukan dengan Tolak Kolo alias Tolak Bala.

“Kita ingin agar masyarakat bisa hidup rukun dan damai, dijauhkan dari bala bencana,” kata pelajar SMK Negeri 9 Surabaya ini.

Popularitas yang mulai diraih, sejumlah penghargaan, honorarium, hingga jadwal manggung yang padat rupanya tak lantas membuat Pringgo sombong. Layaknya remaja, dia masih tetap suka bermain dan bercanda dengan teman-teman sebaya. Meski begitu, dia berusaha untuk terus mengembangkan permainannya dengan berlatih setiap hari di rumah sekaligus sanggarnya.

Pringgo juga punya trik-trik khusus untuk sulukan dengan mengatur suara saat memerankan tokoh antagonis, protagonis, bersedih, menangis, cekikikan, hingga vokal sang raja yang besar dan berwibawa. Ketika sedang memainkan wayang, karakter Pringgo yang pendiam, tak suka banyak bicara, sepertinya lenyap begitu saja.

“Pringgo itu pintar mengatur waktu. Kapan dia belajar, bermain wayang, mengisi pentas seni, dan bermain,” tutur Sri Mulyani, sang ibu. (*)





Nama : Pringgo Jati Rachmanu
Lahir : Surabaya, 13 Mei 1995
Ayah : Subiantoro (Ki Toro)
Ibu : Sri Mulyani
Adik : Enggar Blezky Tosabila, Lanang Puja Ningwang
Alamat : Perum Bluru Permai Blok BH-2 Sidoarjo
Hobi : Dalang, Sepak bola, Bulu tangkis

Pendidikan
* TK Al-Ikhlas Sidoarjo
* SD Muhammadiyah I Sidoarjo
* SMP Negeri 5 Sidoarjo
* SMK Negeri 9 Surabaya

Prestasi :
- Juara I Pekan Seni Mahasiswa Regional Jawa Timur mewakili Unair di Malang
* Penyaji, penata pakeliran, dan sabet terbaik festival dalang bocah Jawa Timur 2010, mewakili Kabupaten Sidoarjo.

1 comment: