13 June 2011

Peter A. Rohi, "Penemu" Rumah Soekarno



Peringatan hari lahir Soekarno, proklamator dan presiden pertama RI, di Surabaya, Senin (6/6/2011) lalu, punya makna penting bagi bangsa Indonesia. Di sini terungkap kembali, setelah ‘ditenggelamkan’ selama tiga dekade, bahwa Bung Karno ternyata lahir di Surabaya.

Oleh Lambertus Hurek

PENGUNGKAPAN fakta sejarah ini tak lepas dari kerja keras Peter A. Rohi (69) dan kawan-kawan dari Soekarno Institute. Tak heran, Peter sebagai direktur lembaga kajian ini tampak sangat bahagia ketika mendapat ucapan selamat dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di rumah tempat kelahiran Bung Karno, Jalan Pandean IV/40 Surabaya.

Berikut petikan wawancara saya dengan Peter A Rohi di kediamannya, Kampung Malang VIII/6, mengenai liku-liku dan proses ‘menemukan kembali’, reinventing, rumah kelahiran Bung Karno di Kampung Pandean itu.


Bagaimana ceritanya sampai akhirnya Soekarno Institute mengumumkan kepada publik bahwa Bung Karno sebenarnya lahir di Surabaya?

Masalah ini sebetulnya sudah lama menjadi keresahan banyak orang. Sekitar 10 tahun lalu, saya bersama Cak Kadaruslan (almarhum), dan Pak Tjuk K. Sukiadi berdiskusi kecil di TIM Jakarta. Kami sepakat harus ada pelurusan sejarah, khususnya tempat kelahiran Bung Karno. Kenapa? Dulu, sebelum tahun 1965, di pelajaran sejarah dan buku-buku itu disebutkan bahwa Bung Karno itu lahir di Surabaya, bukan di Blitar.

Kita bisa periksa itu di semua buku yang terbit sebelum tahun 1965. Termasuk di buku otobiografi Bung Karno yang ditulis Cindy Adams. Eh, belakangan, setelah 1965, fakta sejarah yang tertulis di buku terjemahan Cindy Adams itu berbeda. Ternyata, terjemahan itu dilakukan pihak militer dan Kopkamtib karena ada kepentingan politik.

Maksudnya?

Indoktrinasi dengan memelintir fakta sejarah ini, menurut kami, merupakan cara untuk menjauhkan Soekarno dari rakyat ketika meninggal nanti. Kondisi kesehatan Bung Karno setelah 1965 memang sudah kurang bagus, sehingga pihak militer mengantisipasi tempat pemakaman Bung Karno setelah meninggal nanti. Bayangkan jika jenazah Bung Karno tidak dimakamkan di Blitar, tapi di Surabaya. Nah, terjemahan bukunya Cindy Adams itu sudah diluruskan. Di edisi revisi tertulis Bung Karno lahir di Surabaya.

Lantas, mengapa wacana yang sudah lama itu baru direalisasikan sekarang?

Saya, Pak Tjuk Sukiadi, Cak Kadar kan punya kesibukan masing-masing. Kemudian tahun lalu Cak Kadar meninggal dunia. Menjelang pemakaman, Pak Tjuk Sukiadi memberikan kata sambutan. Ternyata, Pak Tjuk menyinggung kembali apa yang pernah kami bicarakan di TIM dulu itu. Dari situ, tekad kami semakin kuat untuk segera melakukan sesuatu karena ini merupakan amanat dari Cak Kadar. Jadi, apa yang kami lakukan kemarin itu sekaligus membayar utang kepada almarhum Cak Kadar.

Apa yang Anda lakukan untuk meyakinkan masyarakat bahwa Bung Karno benar-benar lahir di Surabaya?

Tahun lalu kami adakan seminar di Balai Pemuda membahas kota tempat lahir Bung Karno. Pembicaranya beberapa akademisi, sejarawan dari LIPI, Universitas Trisakti, dan sebagainya. Mereka melakukan studi literatur, membaca arsip-arsip sebelum 1965, membaca buku-buku di Perpustakaan Nasional. Dan semua literatur menyebutkan Bung Karno lahir di Surabaya. Kecuali buku-buku yang diterbitkan setelah 1965 oleh rezim Orde Baru.

Anda tidak membahas masalah ini dengan keluarga Bung Karno?

Oh iya. Hasil seminar itu kami sampaikan kepada Ibu Megawati Soekarnoputri di Jakarta. Saya bersama Pak Bambang DH, dan Pak L. Soepomo diterima langsung oleh Ibu Megawati. Dan beliau berterima kasih karena kami sudah melakukan upaya peluruskan sejarah tentang Bapak Bangsa Indonesia.

Mengapa para intelektual dan sejarawan tidak segera melakukan pelurusan?


Di zaman Orde Baru jarang ada intelektual yang punya keberanian. Hanya beberapa intelektual saja yang berani seperti Dr Nurinwa dari LIPI. Tapi orang-orang Barat, yang memang punya tradisi intelektualitas yang tinggi, tidak termakan rekayasa sejarah oleh rezim Orde Baru. Peneliti-peneliti asing tetap yakin bahwa Bung Karno lahir di Surabaya. Karena apa? Mereka itu studi arsip, membaca dokumen yang tebal-tebal itu. Beda dengan orang kita yang cuma dengar-dengar saja... katanya, katanya, katanya....

Orang kita tahunya, ya, dari pelajaran sejarah yang sudah dipelintir itu. Anda bisa bayangkan, berapa juta orang Indonesia yang mendapat informasi yang salah tentang Bung Karno. Maka, kita tidak bisa tinggal diam. Harus ada action yang nyata untuk meluruskan sejarah.

Bagaimana jika ada intelektual lain yang punya bukti bahwa Bung Karno ternyata lahir di Blitar atau tempat lain?

Oh, silakan bawa bukti-bukti, dokumen, arsip ke sini! Mari kita uji bersama secara ilmiah. Kami sih siap adu bukti, adu arsip, dan adu dokumen. Saya dari dulu pasang dada untuk Bung Karno. Dulu, di zaman Orde Baru, saya dipanggil aparat berwajib karena membuat tulisan di Sinar Harapan untuk meluruskan fakta sejarah tentang Bung Karno di pelajaran PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) yang sengaja diselewengkan. Jadi, saya sudah biasa pasang dada, Bung!

Setelah rumah tempat kelahiran Bung Karno dikenal publik dan diakui Pemkot Surabaya, apa lagi langkah Anda dan Soekarno Institute?


Tugas utama kami untuk meluruskan fakta sejarah, bahwa Bung Karno lahir di Surabaya, sudah selesai. Sekarang tugas pemerintah untuk merawat dan menjadikan rumah itu sebagai museum, bangunan cagar budaya, atau situs bersejarah, silakan. Saya sih ingin kita meniru India yang punya Gandhi Memorial. Itu akan menjadi kebanggaan seluruh bangsa. Setiap tamu negara yang datang ke India biasanya diantar untuk melihat Gandhi Memorial. Seharusnya rumah di Kampung Pandean itu juga begitu.

Jadi, rumah itu perlu diambil alih pemerintah?


Intinya begini. Bung Karno itu tidak pernah mau menyusahkan rakyatnya. Beliau bersedia mundur dari jabatannya untuk menghindari pertumpahan darah di kalangan rakyat. Begitu juga dengan rumah di Pandean, jangan sampai merugikan pemilik sekarang. Negara tidak boleh membuat dia rugi. Baik pemerintah maupun pemilik masyarakat harus sama-sama untung. Jadi, negara harus memberikan ganti untung kepada pemilik rumah itu. (*)



Wartawan Investigasi yang Gigih

Jam terbang Peter A. Rohi di dunia jurnalistik sudah sulit dihitung saking banyaknya. Begitu pula koran-koran yang ikut dia bidani, kemudian ditinggal, untuk membuat koran baru. Karena itu, Peter hampir punya kedekatan dengan hampir semua pentolan media-media utama di tanah air.

“Saya senang melihat koran yang pernah saya bidani tetap bertahan selama bertahun-tahun meskipun saya tidak lagi berada di dalam. Artinya, secara tidak langsung saya ikut memberi makan kepada banyak orang,” ujar Peter Rohi kepada saya.

Ketika koran-koran yang dibidaninya gagal di pasar, kemudian mati, Peter pun tetap saja ceria. Bicaranya tetap keras, tawanya pun selalu lepas, seolah tak pernah ada masalah. Tenggelam beberapa saat, kemudian muncul lagi dengan koran baru. Membuat koran, bagi wartawan kawakan sekelas Peter Rohi, bukan pekerjaan sulit. Yang sulit adalah menjual dan mempertahankan keberadaan surat kabar itu.

“Sebab, persaingan media sekarang ini sangat luar biasa. Lha, kalau saya harus menghadapi sendirian, ya, nggak mungkin,” ujar pria yang juga akrab disapa Kore Rohi di kalangan masyarakat Pulau Sabu itu.

Mantan anggota KKO (sekarang Korps Marinir) ini memang tipe manusia lapangan, bukan orang kantoran. Karena itu, ketika mendengar kabar tentang penderitaan warga di daerah-daerah terpencil, Peter langsung berangkat ke lokasi. Dia tak peduli sang bos atau atasannya memberi izin atau tidak. Beberapa hari kemudian, Peter mengirim reportasenya dari jauh.

“Saya bukan tipe wartawan yang suka menulis berita ecek-ecek. Saya punya prinsip bahwa tulisan saya harus jadi headline, menyangkut kemanusiaan, berkesinambungan, dan harus direspons oleh pemerintah. Kalau tulisan kita didiamkan saja oleh pemerintah, buat apa?” tukasnya.

Begitulah. Pada 1977, reportase Peter A Rohi di koran Sinar Harapan berhasil ‘memaksa’ Presiden Soeharto turun ke Sumba Timur, NTT, tepatnya di daerah Tambundung. Saat itu serangan hama belalang yang dahsyat membuat 72.000 warga menderita kelaparan.

Peristiwa kemanusiaan ini tak mampu ditangani oleh pemerintah daerah. Tanpa bantuan pemerintah pusat, bisa dipastikan banyak orang yang akan meninggal dunia. “Pak Harto akhirnya turun langsung ke Sumba Timur. Dan peristiwa ini akhirnya menjadi sorotan nasional,” kenang Peter.

Sukses mengangkat kasus kelaparan di NTT, Peter kemudian bikin ‘geger’ lagi dengan liputan investigasinya tentang kasus harta karun di Riau, menyusutnya air Danau Toba, sisa-sisa tentara Jepang di Morotai, pembunuhan massal di Pulau Babar, hingga konflik di Timor Timur (sekarang Timor Leste).

Peter menjadi wartawan pertama yang menyusup ke Timor Portugis dan wartawan terakhir yang meninggalkan Timor Timur setelah kerusuhan pada 1999.

Karena kritiknya yang tajam menentang pembunuhan misterius, Peter mendapat kiriman paket kepala manusia. Di usia menjelang 70, sang wartawan senior ini tetap menulis dan bikin gebrakan yang akhirnya juga direspons pemerintah. Termasuk ‘menemukan’ rumah kelahiran Bung Karno di Surabaya. (rek)

BIODATA SINGKAT

Nama : Peter Apollonius Rohi
Lahir : Timor, NTT, 14 November 1942
Istri : Welmintje Giri
Anak : 5 orang
1. Engelbert Johanes Rohi
2. Manja Maria Rohi
3. Don Peter Rohi
4. Joaquim Lede Valentino Rohi
5. Wilmar do Nataga Kant Rohi

Pekerjaan : Wartawan, penulis buku, kolumnis
Organisasi : Soekarno Institute (direktur)
Hobi : Bertualang, menulis
Alamat : Kampung Malang VIII/6 Surabaya

PENDIDIKAN
Komunikasi dan Intelijen Militer (Trikora)
Akademi Wartawan Surabaya (AWS)

PENGALAMAN MILITER
Message Center di KKO (Marinir)
Detasemen Amphibi pada Operasi Tumpas di Sulawesi
Komandan Peleton Panser Intai Amphibi (Dwikora)
Batalyon Tank Amphibi KKO

PENGALAMAN JURNALISTIK
Wartawan majalah Sketsmassa
Wartawan Sinar Harapan
Wartawan Pikiran Rakyat
Redaktur Pelaksana Suara Indonesia
Redaktur pelaksana Jayakarta
Wartawan Surya
Redaktur pelaksana Suara Bangsa
Pemimpin redaksi Harian Indonesia
Ikut mendirikan Memorandum
Ikut mendirikan Suara Pembaruan
Merintis kembali Sinar Harapan
Produser senior wartatv.com




Dimuat Radar Surabaya edisi Minggu, 12 Juni 2011

9 comments:

  1. selamat utk bung peter rohi!!!! merdeka!!!!

    ReplyDelete
  2. kayaknya telat banget deh diluncurkan. harusnya sejak 1998 atau 2000-an...

    ReplyDelete
  3. Setelah saya baca kok tiba2 saya jadi hebat. Padahal setengah jam lalu saya masih gelantungan di bus kota di Jakarta di antara ketiak2 orang.
    Terima kasih dan salam juga untuk Mas Leak.

    Peter A. Rohi

    ReplyDelete
  4. terima kasih banyak pak Rohi,anda adalah orang hebat yang berjuang keras untuk kebenaran sejarah..saya sebagai kaum muda benar-benar bangga...

    ReplyDelete
  5. permisi kawan, mari mampir ke website berita online dan majalah yang masih berada di bawah asuhan om peter rohi. berikut link-nya.

    http://wartatv.com/index.php?option=com_content&view=article&id=20&Itemid=29

    ReplyDelete
  6. peter a rohi... wartawan lawas yg masih semangat dan berapi2. semoga sehat.

    ReplyDelete
  7. Rumah kelahiran BK ini perlu dijadikan museum sejarah oleh pemerintah. Tidak bisa dibiarkan begitu saja.

    ReplyDelete
  8. Pemikiran cerdas dari seorang wartwan senior yang selalu memberikan terobosan didalam meruskan sejarah bangsa Indonesia...kami sebagai pemuda indonesia sangat bersterimkasih karena sejarah sudah diluruskan oleh senior Peter A Rohi

    Terimakasih atas sumbangsihnya bagi kami generasi penerus

    ReplyDelete
  9. Hormat dib'ri buat Ama Tana Peter A. Rohi, putra asli NTT yg sangat membanggakan. Syalom.

    ReplyDelete