19 June 2011

Pemenang Kalpataru dari Rungkut




Oleh Lambertus Hurek

Perjuangan Lulut Sri Yuliani (46), warga Rungkut, Kota Surabaya, untuk melestarikan hutan bakau di kawasan Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) beroleh apresiasi dari pemerintah pusat. Pada peringatan Hari Lingkungan Sedunia, ibu satu anak ini mendapat penghargaan Kalpataru 2011 kategori perintis lingkungan.


SELEPAS mendapat Kalpataru, aktivitas Lulut, yang sebetulnya sudah padat, kian padat saja. Dalam sehari dia harus memenuhi undangan untuk bicara atau memberikan semacam pelatihan di empat lima tempat yang berbeda.

“Saya baru saja diundang memberikan materi di Universitas Widya Mandala. Di sana ada pelatihan membuat tempe. Yah, saya sharing bagaimana kami membuat tempe dari bahan mangrove,” ujar Lulut Sri Yuliani di rumahnya, Wisma Kedungasem Indah J-28, Jumat (17/6/2011).

Meski begitu, sang srikandi lingkungan ini masih bersedia melayani wawancara khusus dengan saya. Sang suami, Budiono Halim, beberapa kali mewanti-wanti Lulut yang sedang ditunggu di sebuah acara lingkungan. Mula-mula saya meminta Lulut mengangkat Piala Kalpataru yang ditaruh di ruang tamu. Lulut terlihat agak kewalahan. Dan, percakapan akrab dengan Lulut Sri Yuliani pun dimulai.

Rupanya berat juga Piala Kalpataru itu?

Pialanya sih nggak seberapa berat, tapi tanggung jawabnya itu lho yang berat. Sebab, para penerima Kalpataru punya tanggung jawab dan komitmen terhadap lingkungan hidup sampai seumur hidup. Saya tentu semakin mendapat sorotan dan perhatian dari banyak orang.

Bagaimana perasaan Anda ketika tahu akan dapat Kalpataru?

Surprise. Nggak nyangka kalau aktivitas kecil di bidang pelestarian mangrove di Pamurbaya, juga di sejumlah tempat lain, mendapat apresiasi setinggi ini. Saya bukan tipe orang yang suka mencari penghargaan dari mana pun. Saya melakukan ini karena komitmen pribadi saya, keinginan untuk ikut melestarikan mangrove di Kota Surabaya. Saya mencoba kegiatan ini menjadi gerakan bersama seluruh masyarakat.

Apa reaksi Anda ketika ada petugas atau tim penilai Kalpataru datang melakukan survei dan wawancara di rumah Anda?

Saya tanya-tanya dulu, saya cek ke sana kemari latar belakang dan motivasi di balik sebuah penghargaan. Saya tidak ingin menerima penghargaan yang punya muatan kepentingan tertentu. Saya hanya ingin yang objektif, independen, dan fair. Buat apa dapat penghargaan yang tidak jelas juntrungannya?

Anda akhirnya sreg dengan penghargaan lingkungan ala Kalpataru?

Setelah saya meminta informasi dari berbagai pihak, saya merasa Kalpataru ini penghargaan yang objektif dan independen. Ada indikator yang jelas, tim seleksi, dan sebagainya. Apalagi, melibatkan jajaran pemerintah mulai dari pemkot hingga pusat. Maka, saya tentu bersyukur ditetapkan sebagai penerima Kalpataru 2011.

Apa arti Kalpataru ini buat Anda?

Bagi saya, Kalpataru ini bukan hadiah untuk saya, tapi untuk masyarakat di Rungkut dan sekitarnya. Saya sendirian kan tidak mungkin bisa menyelamatkan lingkungan, khususnya hutan mangrove yang rusak karena pembalakan. Saya itu hanya ngomporin saja, sementara yang bergerak. Nah, gerakan bersama masyarakat ini yang harus terus kita jaga dan kembangkan. Penghargaan ini, menurut saya, sebetulnya cuma alat saja. Kalpataru itu mendorong saya dan masyarakat untuk bekerja lebih keras lagi bagi kelestarian lingkungan hidup.

Ada proyek atau kegiatan khusus setelah Anda mendapat Kalpataru?

Kegiatan-kegiatan yang sudah ada, seperti pemberdayaan masyarakat, menurunkan angka kemiskinan, pembuatan batik mangrove, dan aneka produk dari mangrove, penerima Kalpataru seperti saya ini harus membangun hutan kebun rakyat. Saya sudah mencoba melakukan survei di beberapa lokasi di Surabaya. Prinsipnya, kita bersama masyarakat setempat melestarikan hutan dan hasil-hasil hutan itu bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Modalnya dari mana? Apa Anda mendapat semacam kucuran dana dari pemerintah?

Hutan kebun rakyat ini kerja sama dengan Kementerian Kehutanan. Setelah survei, dibuat konsep yang matang, bikin proposal... baru jalan.

Kapan dimulai?
Ya, secepatnya. Kalau bisa ya tahun ini juga.

Lebih enak dong karena Anda di-back up langsung oleh Kementerian kehutanan dan jajaran pemerintah?

Nggak gitu! Bagi saya, proyek seperti ini justru jauh lebih berat pertanggungjawabannya karena melibatkan sejumlah orang di luar tim kerja kami yang sudah ada. Proyek seperti ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena menyangkut akuntabilitas anggaran dan sebagainya. Beda dengan apa yang saya lakukan bersama teman-teman selama ini. Kita bisa bergerak kapan saja kita mau. (rek)



BIODATA SINGKAT

Nama : Lulut Sri Yuliani
Lahir : Surabaya, 24 Juli 1965
Suami : Ferdinand Yulianus Budiono Halim
Anak : Nadia Chrissanty Halim
Hobi : Mancing

PENDIDIKAN
SMPN 12 Surabaya
SPG Pringadi Surabaya
IKIP Surabaya (S-1)
STIE Mahardika (S-2)

PENGHARGAAN
Kalpataru, Perintis Lingkungan, 2011
Pejuang Lingkungan Kota Surabaya, 2006
Guru Musik Teladan Jatim (runner-up), 1994




Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu, 19 Juni 2011

No comments:

Post a Comment