12 June 2011

Mario Andreas: Bahasa dan Wisata ke Tiongkok




Di usia yang masih relatif muda, 28 tahun, Mario Andreas telah mampu membina hubungan bisnis, pariwisata, bahasa, dan kebudayaan dengan warga Tiongkok. Bahkan, Mario belum lama ini menerbitkan buku laris berjudul Cepat & Praktis Belajar Bahasa Mandarin.

Sejak kuliah di program studi Tionghoa Universitas Indonesia, Jakarta, Mario Andreas sudah belajar banyak tentang bahasa, budaya, dan berbagai aspek seputar Tiongkok. Saking tertariknya dengan negara berpenduduk 1,3 miliar ini, Mario akhirnya bisa menguasai bahasa Mandarin dengan cepat. Dia kemudian mendalami bahasa Mandarin di Taiwan selama satu tahun. Tepatnya di National Chengchi University.

Kepada para pembaca bukunya, Mario selalu meyakinkan bahwa belajar bahasa Mandarin sebetulnya tidak sulit. Siapa pun bisa mempelajari dan menguasai dengan cepat. “Yakinkan dirimu bahwa kamu bisa,” ujar pria kelahiran 18 April 1982 ini.

Selama ini banyak orang selalu menganggap Mandarin sebagai bahasa tersulit di dunia, tak mudah dipelajari oleh orang asing. Nah, sikap mental seperti ini akhirnya membuat motivasi orang merosot ketika harus mendalami bahasa Mandarin.

“Jangan gampang menyerah. Kamu harus punya motivasi yang sangat kuat,” ujarnya.

Jika ada kesempatan, Mario juga mengimbau orang Indonesia yang tengah belajar Mandarin baik di lembaga pendidikan formal maupun kursus-kursus agar melanjutkan studi di Tiongkok atau Taiwan. Sebab, saat ini ada begitu banyak perguruan tinggi di Tiongkok yang membuka program studi Mandarin untuk orang asing. Biasanya, satu periode pelatihan berlangsung selama tiga bulan.

Tiongkok sendiri rupanya berkepentingan agar masyarakat internasional sebanyak mungkin bisa berkomunikasi dalam bahasa nasionalnya. Ini pun tak lepas dari makin menguatnya pengaruh Tiongkok dalam investasi dan ekonomi global. “Silakan ambil kursus yang ditawarkan itu. percayalah, kamu akan jauh lebih cepat menguasai bahasa Mandarin,” katanya.

Belajar bahasa asing mana pun, menurut dia, harus dicoba, dilatih, dan selalu dipraktikkan sehari-hari dalam berbagai kesempatan. Harus sering-sering merangkai kata-kata yang baru ditemukan. Terus berlatih dan berlatih sampai mahir. “Nah, kalau kita berada di Tiongkok, maka kita terus dituntut untuk menggunakan bahasa Mandarin sejak bangun tidur hingga tidur kembali,” katanya.

TIAP HARI ADA HOTEL BARU

Dalam sepuluh tahun terakhir, industri pariwisata di Tiongkok berkembang sangat pesat. Sebagai negara terluas di dunia, Tiongkok punya begitu banyak objek wisata yang sangat kaya dan beragam. Begitu banyak situs bersejarah yang berusia ribuan tahun dirawat dengan baik untuk disaksikan para wisatawan dari berbagai negara di dunia.


Rata-rata dalam setahun tercatat 120 juta turis asing berkunjung ke Tiongkok. Devisa yang diraih dari sektor ini pun tidak main-main, USD 29 miliar. Perkembangan sektor pariwisata akhirnya memicu perkembangan industri perhotelan. “Boleh dikata, hampir setiap hari didirikan hotel baru di Tiongkok,” katanya.

Dari sekitar 13 ribu hotel berbintang yang tersebar di seluruh Tiongkok, beberapa di antaranya merupakan hotel-hotel berjaringan internasional. Sebut saja Hyatt, Sheraton, Hilton, Marriott, Shangri-La, Holiday Inn, Four Seasons, hingga Kempinski. Mario Andreas memberikan beberapa tips bagi warga Indonesia yang hendak berwisata ke Tiongkok, khususnya yang tidak ditangani biro perjalawan wisata.

Semua hotel di Tiongkok, menurut Mario, punya jadwal check-in setelah pukul 14.00, dan check-out sebelum pukul 12.00 di hari berikutnya. Saat check-in, tamu akan diminta menunjukkan paspor dan mengisi formulir yang telah disediakan. Pihak hotel juga umumnya meminta uang jaminan, yang akan dikembalikan setelah check-out.

Selama menginap di hotel, ungkap Mario, sebaiknya Anda membawa hotel room card ke mana pun Anda pergi. Pada kartu itu terdapat nomor telepon dan alamat hotel dalam bahasa Mandarin dan Inggris. Hal ini akan memudahkan tamu untuk mengenali hotel tempatnya menginap alias tidak sampai kesasar.

Tarif hotel di bawah bintang tiga berkisar antara USD 12 hingga USD 25 per malam untuk standard room. Hotel bintang tiga berkisar USD 25-50. sedangkan bintang empat atau lima USD 50-100. Fasilitas yang disediakan hotel-hotel di Tiongkok tak kalah dengan di negara-negara maju umumnya. Apalagi, hotel-hotel berbintang di kota-kota besar macam Shanghai, Hongkong, Beijing, Guangzhou, Xian, atau Shenzhen.

“Jangan ragu-ragu bertanya kepada resepsionis. Mereka umumnya bisa berbahasa Inggris dengan lancar,” ujar Mario Andreas.

JANGAN SEGAN MENAWAR

Tiongkok merupakan negara yang sangat luas dengan begitu banyak objek wisata menarik. Padahal, waktu yang dimiliki wisatawan sangat terbatas. Berikut tips dari Mario Andreas untuk para pelancong asal Indonesia.


Sebelum berangkat, rencanakan tempat-tempat yang akan dikunjungi. Carilah informasi mengenai tempat-tempat itu di internet, brosur, agen pariwisata, atau orang-orang yang pernah jalan-jalan di Tiongkok.

“Ingat, Tiongkok itu negara yang sangat luas, sehingga jarak antara satu kota dengan kota lain sangat jauh,” ujar Mario Andreas.

Pertimbangkan juga transportasi yang nyaman. Syukurlah, negara tirai bambu ini punya fasilitas transportasi umum yang sangat lengkap dan nyaman untuk turis asing. Kita bisa menggunakan bus umum atau taksi untuk keliling kota. “Tapi, saat jam pulang kerja, sebaiknya gunakan subway agar tidak terjebak kemacetan,” katanya.

Hampir semua kota di Tiongkok menawarkan tempat belanja yang berlimpah. Aneka macam barang, mulai yang paling sederhana hingga hi-tech tersedia di sana. Namun, Mario mengingatkan bahwa kelakuan pedagang di Tiongkok tak berbeda jauh dengan di Indonesia. Yakni, sangat manipulatif dan suka menawarkan harga tinggi, khususnya untuk turis.

“Maka, kita harus rajin-rajin menawar dan mengecek kondisi barang sebelum membeli. Banyak barang di Tiongkok yang kualitasnya tidak sama,” pesan Mario. Akan lebih aman jika para pelancong baru ditemani oleh kenalan atau teman yang sudah lama tinggal di Tiongkok. Dengan begitu, kita terhindar dari permainan ‘goreng harga’.

Bagi masyarakat Indonesia, yang mayoritas muslim, kehalalan makanan menjadi isu yang sangat krusial. Ini bisa dimengerti mengingat restoran-restoran di Tiongkok selalu menawarkan menu babi. Sayur-sayuran pun sering dicampur dengan organ babi. Karena itu, umat Islam dianjurkan memilih restoran vegetarian, sea food, atau restoran muslim.

“Saat ini kita mudah menemukan restoran muslim di kota-kota besar seperti Guangdong, Shenzhen, Xian, Beijing, atau Shanghai,” tutur Mario yang juga konsultan wisata dan penerjemah bahasa Mandarin itu.

Mayoritas orang Tiongkok tidak bisa berbahasa Inggris, apalagi berbahasa Indonesia. Karena itu, sangat diajurkan membawa kamus kecil yang dilengkapi aksara hanzi. Bila mengalami kesulitan, kita bisa menunjukkan kata-kata tertentu di kamus itu untuk mendapat bantuan sekadarnya. (lambertus hurek)

No comments:

Post a Comment