29 June 2011

Legenda Musik dan Diabetes




Semalam, 29 Juni 2011, hujan cukup deras di kawasan Ngagel Jaya. Saya berteduh di Linda Jaya, travel terkenal di Surabaya. Aha, di situ ternyata ada LEO KRISTI, pemusik yang terkenal banget dengan Konser Rakyat Leo Kristi.

Seniman 62 tahun ini, seperti biasa, pakai topi, kaos hitam ketat, dan... tetap semangat. Apa kabar Bung? Cak Leo menjabat tangan saya erat-erat. Dan kami mulai ngobrol ngalor-ngidul sembari menunggu hujan reda. Leo Kristi datang ke Linda Jaya untuk cari tiket pesawat ke Denpasar, kota tempat tinggal istri dan kedua anaknya.

Saya langsung menyinggung seniman-seniman musik legendaris dari Surabaya yang mulai meninggalkan kita satu per satu. Dua minggu lalu Pak ABDUL MALIK BUZAID, musisi Melayu dari Orkes Sinar Kemala, yang kondang tahun 1960-an hingga 1970-an, meninggal dunia. Diabetes, gulanya naik, Pak Malik Bz ambruk di kamar mandi rumahnya. Wassalam!

Sebelumnya, FRANKY SAHILATUA meninggalkan kita semua karena kanker tulang belakang. Sebelumnya lagi, saya cerita ke Leo Kristi, dedengkot hard rock dari Surabaya, UCOK AKA HARAHAP, meninggal di Rumah Sakit Darmo Surabaya. Juga akibat komplikasi diabetes.

Almarhum Ucok dimakamkan di kawasan Kebraon, pinggiran Surabaya. Saya ‘beruntung’ masih sempat memijat kaki Bang Ucok di paviliun RS Darmo beberapa hari sebelum beliau meninggal. Bahkan, saya sempat ‘memancing’ Bang Ucok untuk menyenandungkan lagu hitnya: Badai Bulan Desember.

“Siapa lagi ya musisi legendaris Surabaya?” tanya Leo Kristi.

“Ya, Leo Kristi. Syukurlah, Anda masih terlihat sehat, segar, dan semangat!” kata saya. Leo pun tertawa lepas. Sawung Jabo masih sering konser di Surabaya dan kota-kota lain. Dan Cak Jabo ini sehat walafiat. Sekitar tiga minggu lalu Sawung Jabo bikin konser di Jakarta.

Legenda musik Surabaya yang layak disebut siapa lagi kalau bukan BUBI CHEN, maestro jazz. Apa kabar Bubi Chen?

Saya lantas memperlihatkan foto-foto jepretan saya di kamera digital. Konser apresiasi untuk Bubi Chen di Hotel Garden Palace Surabaya. Leo Kristi tak menyangka ada hajatan jazz khusus untuk Bubi Chen. Cak Leo melihat foto Bubi Chen yang terlihat tidak sesegar dulu.

“Om Bubi Chen baru saja diamputasi kedua kakinya. Sekarang beliau sudah tidak punya kaki. Hanya bisa duduk di kursi roda,” kata saya.

“Ah, yang benar saja!” tukas Leo Kristi. Setelah saya tunjukkan foto, Leo Kristi pun geleng-geleng kepala. “Tapi beliau masih tetap main piano, jazz khas Bubi Chen,” saya menyergah. Leo Kristi pun kelihatan puas.

Yah, lagi-lagi diabetes menjadi biang penyebab hilangnya kedua kaki Bubi Chen. Sakit gula begitu parah sehingga, apa boleh buat, amputasi pun tak bisa terelakkan. Leo Kristi menyimak cerita saya dengan penuh perhatian.

Satu lagi pemusik legendaris Surabaya yang tak boleh dilupakan: SLAMET ABDUL SJUKUR. Saya perlihatkan foto komponis, pianis, budayawan, dan kolumnis asal kampung Keputran Panjunan itu. Kebetulan Slamet Abdul Sjukur hadir saat konser apresiasi untuk Bubi Chen. Jadi, letak fotonya tak jauh dari Bubi Chen.

Leo Kristi tertawa melihat Slamet, teman lamanya itu. Saya bilang setiap bulan Slamet Abdul Sjukur bikin acara Pertemuan Musik Surabaya (PMS), tak jauh dari tempat kami ngobrol. “Di Wisma Musik Melodia?”

Persis, Cak!

Di situlah Slamet A Sjukur mengajak guru-guru piano, penikmat musik, orang biasa... menonton film musikal, menikmati permainan piano atau musik tradisional, bincang santai, tapi sarat pesan kebudayaan. Gaya Slamet masih sama. Bicaranya halus, nyaris berbisik, banyak guyon, tapi sentilannya sangat tajam.

Hujan musim kemarau pun reda. Obrolan santai di teras Linda Jaya Travel itu pun selesai. Saya pun pamitan. Moga-moga Leo Kristi tetap sehat, semangat, dan terus bikin konser! Dan moga-moga pula lahir pemusik-pemusik generasi baru yang punya karakter dan idealisme macam legenda-legenda Surabaya ini.

No comments:

Post a Comment