18 June 2011

Lan Fang: Ciuman di Bawah Hujan




Novel Ciuman di Bawah Hujan ternyata mengandung perspektif gender yang kuat. Sang penulis, Lan Fang, menyinggung posisi perempuan dalam tradisi Tionghoa dan Jawa sama-sama tak punya pilihan. Perempuan sering dianggap kanca wingking, jadi subordinasi kaum laki-laki.

“Kalau dalam budaya Tionghoa ada cerita tentang Sam Pek Eng Tay, di Jawa juga ada cerita Ande-Ande Lumut. Kedua cerita klasik ini menggambarkan betapa perempuan ditempatkan dalam posisi tidak bisa memilih,” ujar Lan Fang, novelis yang juga pengurus Perkumpulan Indonesia-Tionghoa Jawa Timur.

Selain Lan Fang, diskusi yang dihadiri sekitar 200 mahasiswa ini menghadirkan pembicara Konsul Jenderal Amerika Serikat (AS) Kristen F Bauer dan Rektor IAIN Sunan Ampel Prof Nur Syam. Diskusi yang hangat ini digelar di lantai dua Gedung Rektorat IAIN Sunan Ampel.

Cerita Ande-Ande Lumut, papar Lan Fang, menggambarkan betapa beberapa gadis, Klething, berada dalam posisi sangat pasif. Orangtua bahkan sudah punya konsep bibit-bebet-bobot, siapa gerangan yang bakal jadi istri Ande-Ande Lumut. Si Klething Kuning akhirnya dipilih Ande-Ande Lumut meski sebenarnya tak diinginkan si Randa Dadapan.

Inti cerita Sam Pek Eng Tay dari negeri Tiongkok pun mirip. Menurut Lan Fang, orang Tionghoa, khususnya yang konservatif, selalu ingin menentukan calon jodoh anaknya. Dilihat shio, hari baik, fengshui, dan sebagainya. “Eng Tay sampai harus menyamar jadi laki-laki agar bisa sekolah,” ujar Lan Fang.

Sistem patriarki yang meminggirkan kaum perempuan seperti di Tiongkok atau Indonesia, menurut Lan Fang, tak lepas tradisi agraris yang kuat di Asia. Ketika bidang pertanian menjadi sumber nafkah, maka anak laki-laki dianggap lebih penting ketimbang perempuan. “Anak perempuan malah dilihat sebagai beban,” tukas Lan Fang.

Konjen AS Kristen Bauer menekankan bahwa persoalan gender atau peran laki-laki dan perempuan di masyarakat tak lepas dari konstruksi sosial masyarakat. Cara pandang kita yang terus berubah sesuai dengan zaman. “Basic biologis laki-laki dan perempuan sih tetap sama,” ujarnya.

Karya-karya sastra, menurut Kristen, selalu merefleksikan cara pandangan masyarakat saat itu. Pembaca bisa mengidentifikasi karakter-karakter dalam karya itu. “Tapi karya sastra juga bisa memimpin masyarakat dalam melakukan perubahan,” katanya.

Konjen AS ini mengaku senang karena novel Lan Fang ini bisa membuka ruang diskusi tentang gender di IAIN Sunan Ampel. Meski sudah terjadi loncatan besar dalam soal gender, dia optimistis Indonesia bisa berkembang menjadi lebih baik lagi ke depan.

1 comment:

  1. Novel-novelnya penuh inspiratif pak...!!!!
    Sayangnya beliau sudah dipanggil...!!!!!!

    ReplyDelete