21 June 2011

Kita Impor Wartawan Mandarin

Sejak reformasi 13 tahun silam, koran-koran berbahasa Mandarin tumbuh subur di berbagai kota di tanah air. Ada yang masih bertahan, tapi tak sedikit pula yang gulung tikar.

Yang pasti, kehadiran media-media berbahasa Mandarin ini disambut gembira warga Tionghoa di tanah air yang selama 30 tahun tak punya koran berbahasa Mandarin.

Selama Orde Baru hanya ada satu koran berbahasa Mandarin, yakni HARIAN INDONESIA, yang dikendalikan langsung oleh pemerintah. Sekarang ini koran-koran Mandarin sepenuhnya tergantung pada mekanisme pasar.

"Dan, itu sulit karena segmen pasarnya sangat sempit," ujar Huang Xiaozhong, wartawan senior QIANDAO RIBAO, kepada saya pekan lalu.

Sejak ditutupnya sekolah-sekolah Tionghoa, juga pelarangan bahasa Tionghoa di Indonesia, pada akhir 1960-an praktis perkembangan bahasa Mandarin mandek. Hanya orang-orang lama macam Huang Xiaozhong, alumni SMA Chung-Chung Surabaya, 1962, yang mampu membaca dan menulis aksara hanzi. Adapun generasi kelahiran 1970 dan sesudahnya tak bisa lagi berbahasa Tionghoa.

"Jangankan menulis atau membaca, ngomong saja susah. Baru sejak reformasi inilah bahasa Mandarin mulai diajarkan lagi di sejumlah sekolah dan universitas," ujar Huang.

Selain tak bisa menulis dan berkomunikasi dalam bahasa Mandarin, sangat jarang ada generasi muda Tionghoa yang mau bekerja di surat kabar. Karena itu, koran-koran Mandarin di tanah air umumnya mempekerjakan sejumlah wartawan muda asal Tiongkok. Dua koran Mandarin di Surabaya, QIANDAO RIBAO dan GUOJI RIBAO, misalnya, juga mendatangkan beberapa wartawan fresh-graduated dari Tiongkok.

"Kami di QIANDAO RIBAO punya tiga wartawan asal Chongqing. Mereka dikontrak selama satu tahun untuk membantu redaksi," ujar Huang yang asli Surabaya.

Huang mengakui wartawan-wartawan muda Tiongkok ini punya kelebihan karena punya latar belakang pendidikan jurnalistik dan komunikasi di universitas ternama. Etos kerja mereka pun sangat tinggi. Sebagai penutur asli, kemampuan berbahasa Mandarin mereka baik tertulis maupun lisan tak perlu diragukan lagi.

Begitu pula kemampuan mereka dalam mengoperasikan program-program komputer dalam aksara hanzi. "Jadi, kita bisa belajar banyak," ujar Huang.

Sayang, reporter-reporter cantik itu tidak bisa berbahasa Inggris dan Indonesia. Karena itu, selama ini mereka hanya efektif meliput kegiatan-kegiatan masyarakat Tionghoa di Surabaya dan sekitarnya.

"Kalau disuruh liput seminar di IAIN Sunan Ampel atau acara di pemerintahan, ya, tidak bisa. Paling ideal kalau wartawan koran Mandarin itu lancar bahasa Indonesia dan Mandarin. Ini yang sulit," pungkasnya.

No comments:

Post a Comment