01 June 2011

Cuti Bersama dan Ancaman Tiongkok



Suasana Kembang Jepun, pusat bisnis utama dan pecinan di Surabaya.

Di tengah dampak China-ASEAN Free Trade Area, yang membuat produk-produk Tiongkok membanjiri pasar Indonesia, kita seharusnya belajar dari etos kerja masyarakat Tiongkok. Kebijakan ‘cuti bersama’ yang digulirkan pemerintah dinilai kontraproduktif.

Meski cuti bersama itu sejatinya hanya untuk kantor-kantor pemerintah, pihak swasta pun terkena imbasnya. Sebab, roda bisnis ikut terpengaruh. “Kita tentu susah kalau berhubungan dengan perbankan karena mereka pasti tutup. Belum bicara sektor pengangkutan dan sebagainya,” ujar Djono Antowijono, pengusaha terkenal di Kembang Jepun, kawasan pecinan Surabaya, kemarin (1/6/2011).

Ketika kantor-kantor pemerintah tutup selama empat hari, karena cuti bersama, otomatis toko-toko dan pabrik-pabrik pun menyesuaikan diri. Transaksi menjadi sangat berkurang, bahkan hampir tidak ada. Otomatis penghasilan perusahaan pun berkurang. Dan ujung-ujungnya karyawan pula yang dirugikan.

Djono, yang juga tokoh masyarakat Tionghoa Surabaya, mengingatkan bahwa banyak pabrik di Jawa Timur yang mempekerjakan karyawan dengan sistem upah harian. Mereka tentunya akan dibayar jika masuk kerja. “Lha, kalau pabriknya tutup empat hari, ya, dia nggak dapat bayaran. Belum lagi uang makan yang jumlahnya lumayan untuk dibawa pulang. Ini yang harus dipikirkan pemerintah,” tegasnya.

Menurut Djono serta beberapa pengusaha Surabaya, sebaiknya sistem libur nasional dikembalikan seperti semula tanpa harus menerapkan cuti bersama. Warga cukup berlibur pada tanggal merah. Tidak perlu ‘merapel’ hari libur ketika ada ‘hari kejepit’. “Ingat, sekarang ini kita harus menghadapi persaingan bisnis dengan dunia luar,” ujarnya.

Sebagai perbandingan, Tiongkok sukses menjadi kekuatan ekonomi utama dunia sejak 20 tahun silam punya sistem kerja yang sangat produktif dan efisien. Etos kerja karyawan di Tiongkok luar biasa tinggi. Pun tak ada cuti bersama, kecuali liburan panjang setiap tahun baru Imlek (Xinnian).

“Karyawan-karyawan di Tiongkok itu bahkan hampir tidak kenal yang namanya liburan. Mereka bahkan selalu membawa pekerjaan dari pabrik untuk diselesaikan di rumah supaya hasilnya lebih banyak,” tutur Djono yang berkali-kali menjadi semacam ‘pemandu wisata’ di Tiongkok.

Menurut Djono, sistem industri di Tiongkok memang dibuat sedemikian rupa agar karyawan terpacu untuk menghasilkan produk sebanyak-banyaknya. Makin banyak produk yang dibuat, maka bayaran si karyawan makin banyak. Itu sebabnya, setiap hari warga Tiongkok sangat seakan berlomba menggarap produk sebanyak-banyaknya.

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

No comments:

Post a Comment