18 June 2011

Ellen Pantouw Rilis Buku Ketujuh



Oleh YENNY WIJAYANTI
Mahasiswi Universitas Kristen Petra Surabaya

Di tengah kesibukannya sebagai dosen Universitas Pelita Harapan (UPH) Surabaya, Ellen Ruth Pantouw masih sempat menulis buku. Belum lama ini, Ellen merilis buku terbarunya yang berjudul Sukses Usaha Bersama Semen Gresik: Profil Pemenang Semen Gresik UKM Award 2010.

“Buku ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin menjalankan usahanya,” ujar Ellen Pantouw dalam diskusi di ruang redaksi Radar Surabaya, Kamis siang (16/6/2011).

Di dalam bukunya, Ellen menceritakan liku-liku para pemenang UKM Award 2010 berjuang merintis usahanya hingga mencapai kemajuan yang signifikan. Berdasar hasil penelusuruannya, dia menemukan bahwa pendirian sebuah usaha kecil dan menengah (UKM) sebenarnya tidak membutuhkan teori yang berbelit serta modal yang banyak. Asalkan rajin, ulet, dan mau bekerja keras, seseorang dapat menjadi pengusaha yang sukses.

“Jadi, jika orang berpikir bahwa untuk menjadi pengusaha membutuhkan modal besar, itu salah. Saya melihat sendiri bagaimana para pemenang UKM Award ini awalnya tidak punya apa-apa,” kata alumnus Universitas Kristen Petra Surabaya itu.

Hal yang paling mengesankan bagi Ellen saat menemui pasangan suami-istri M Ikhwan Ashari dan Sunti’ah, pengusaha batik gedog di daerah Tuban. Usaha batik tulis tersebut ternyata dijalankan di sebuah rumah gedhek, bukan pabrik yang megah layaknya perusahaan besar. Pasutri ini benar-benar memulai usahanya dari nol. Namun, Ikhwan-Sunti’ah tidak patah semangat untuk menjalankan usaha batik tersebut.

"Mulailah dengan apa yang kamu punyai sekarang, gak usah takut. Kalau kamu memang punyanya segitu, kalau memang bujetnya gak mencukupi, ya, sudah. Syukuri saja, niati saja," ujar Ellen menirukan kata-kata Sunti’ah.

Ellen terbelalak ketika melihat kemajuan usaha Royyan Collection ini. Betapa tidak. Hanya dengan modal awal Rp 300 ribu, tanpa mesin jahit, dikerjakan di rumah berlantai tanah, kini omzet batik Ikhwan-Sunti’ah mencapai Rp 500 juta sebulan. Sekarang keduanya sudah bisa membeli rumah besar, yang juga dijadikan toko dan showroom, juga memiliki kendaraan roda empat.

“Bagi saya, pengalaman pasutri dari Tuban ini paling menyentuh. Dan, saya kira, ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja untuk menjadi wiraswasta,” ujar Ellen seraya memperlihatkan foto rumah lama Ikhwan Anshari yang berdinding gedhek dan berlantai tanah.

Ellen Pantouw sendiri, selain mengajar di UPH Surabaya dan SMAK Hendrikus, dikenal sebagai penulis yang produktif. Mantan wartawan Gloria ini sebelumnya telah menerbitkan enam buku, mulai dari biografi pendeta hingga kiat mencari pinjaman untuk modal usaha.

“Ini merupakan buku ketujuh saya,” katanya.

No comments:

Post a Comment