05 June 2011

Bubi Chen setelah Diamputasi




Oleh LAMBERTUS HUREK

Cukup lama menghilang dari panggung musik jazz, lantaran bergelut dengan diabetes, Bubi Chen akhirnya tampil juga di hadapan penggemar jazz Kota Surabaya. Kehadiran maestro berusia 73 tahun ini membahagiakan, tapi sekaligus mengharukan.

SUASANA di Caesar Palace, lantai 24 Hotel Garden Palace Surabaya, malam itu (25/5/2011), berbeda dengan konser-konser musik yang biasa melibatkan Bubi Chen. Sebab, sang maestro jazz yang biasanya lincah bergerak ke sana kemari, bersalaman dengan penggemarnya, kali ini hanya bisa duduk manis di atas kursi roda.

Sudah lama beredar kabar di kalangan penggemar jazz kalau Om Bubi tengah bergelut dengan diabetes kronis. Namun, tak ada yang menyangka kalau penyakit gula itu akhirnya membuat dua kaki Bubi Chen terpaksa diamputasi. “Makanya, saya harus ke sini agar bisa salaman dan memberi semangat untuk Om Bubi. Saya harap beliau bisa tetap main jazz dan membimbing kami, pemusik-pemusik muda,” ujar Bagus Adimas Prasetya, mahasiswa tunanetra dari Unesa, yang juga murid Om Bubi.

Pemandangan mengharukan terlihat ketika Bagus, yang kehilangan dua matanya sejak kecil, bersalaman dan memeluk erat Bubi Chen, yang kini kehilangan kedua kakinya. Toh, Bubi tetap melemparkan senyum khasnya sembari membisikkan kata-kata motivasi untuk Bagus. Kedua pemusik ini membuktikan bahwa, meminjam istilah Bubi Chen, the show must go on, meskipun kondisi fisik tak sempurna.

Tak hanya Bagus, ratusan penggemar jazz malam itu memang sengaja menyempatkan diri untuk memeriahkan acara apresiasi bertajuk Achievement for Bubi Chen yang dihelat Radio Suara Surabaya. Indah Kurnia, penyanyi plus anggota DPR RI, khusus datang dari Jakarta untuk even ini. Bahkan, Indah bersama temannya sempat menulis puisi khusus di atas pesawat untuk dibacakan di depan Bubi Chen.

Syaharani, penyanyi jazz asal Malang, pun rela tak dibayar demi memberikan semangat kepada sang guru. Mengenakan kostum merah menyala, Syaharani bahkan beberapa kali bersimpuh dan menjabat tangan erat Bubi Chen.

“I love you, Om Bubi! I love you!” kata Syaharani berkali-kali disambung tepuk tangan meriah hadirin.

Apresiasi yang sama ditunjukkan Ervinna, penyanyi senior asli Surabaya, kemudian Ermy Kullit, vokalis jazz, khususnya bosas, Johan Untung, serta tujuh pianis jazz yang sama-sama murid Bubi Chen. Para penyanyi dan musisi ikhlas tampil tanpa honor. Bahkan, mereka sengaja menunda atau membatalkan acara di tempat lain... demi Bubi Chen.

“Kita semua punya kecintaan dan kepedulian yang sama terhadap Bubi Chen. Sampai saat ini Bubi Chen masih tetaplah seorang pianis jazz terbaik di Indonesia, bahkan salah satu yang terbaik di dunia,” kata Indah Kurnia.




YANG menggembirakan, passion bermusik seorang Bubi Chen masih tetap prima meskipun pria yang aktif main musik sejak 1955 ini pada Maret lalu menjalani amputasi kaki kedua di Semarang. Ketika Surabaya All Stars, band jazz yang anggotanya rekan sekaligus muridnya, mengiringi Syaharani, Ervinna, Indah Kurnia, Johan Untung, dan beberapa penyanyi lain... Bubi Chen terlihat begitu menghayati.

Sambil tersenyum, dia menggoyang-goyangkan kepala mengikuti irama musik. Di akhir permainan, Bubi Chen pun bertepuk tangan. Seakan-akan tak ada masalah meskipun hampir semua penggemar jazz di tanah air cemas ketika mendengar kabar bahwa kedua kaki pria kelahiran Surabaya, 9 Februari 1938, ini sudah hilang diamputasi.

“The show must go on!” kata Bubi Chen usai menerima penghargaan dan hadiah khusus dari Errol Jonathans, direktur Suara Surabaya Media.

Menurut Errol, selama 25 tahun Bubi Chen dengan setia mengasuh program Bubi Chen Jazz Show di Radio Suara Surabaya. Acara jazz itu, meski tidak komersial, kata Errol, sangat membantu meningkatkan apresiasi jazz di kalangan warga Surabaya, dan masyarakat Jawa Timur umumnya.

Di sela acara, Bubi Chen sempat melayani wawancara singkat dengan pemandu acara Isa Anshori, disusul wawancara dengan belasan wartawan.

Bagaimana perasaan Om Bubi malam ini?

Puji Tuhan, saya sangat bahagia, senang, karena ternyata teman-teman di Surabaya, juga dari kota-kota lain, tidak pernah lupa sama saya. Teman-teman Suara Surabaya bahkan memberikan penghargaan khusus. Saya hanya bisa bilang terima kasih atas kebaikan teman-teman.

Maaf, kapan Om Bubi menjalani amputasi kaki?

Kaki kanan saya diamputasi tahun 2010, sedangkan kaki kiri menyusul bulan Maret 2011 lalu. Setelah diamputasi, saya malah merasa enteng. Nggak ada beban. Dulu, sebelum diamputasi, kaki saya sakit-sakitan, sekarang tidak ada rasa sakit sedikit pun. Amputasi itu pilihan yang tepat karena kalau tidak diamputasi penyakit diabetes ini akan menyerang ginjal. Dan itu lebih berbahaya.

Apakah Om Bubi masih tetap akan main jazz seperti dulu?


Tetap main. Tadi kan saya main beberapa lagu. Seperti biasa lah. The show must go on! Musik, khususnya jazz, harus tetap jalan terus karena sekarang sudah banyak anak-anak muda yang bagus-bagus. Saya memang tidak punya kaki, tapi kan jari tangan saya masih ada.

Saya main piano atau keyboard kan pakai tangan. Hehehe... Mudah-mudahan dengan jari-jari ini saya masih bisa menyenangkan sesama manusia, khususnya arek-arek Surabaya.

Anda tadi sempat memainkan lagu Surabaya (Dara Puspita). Apa arti Surabaya buat Anda?

Wah, Surabaya itu segalanya. Saya lahir di Surabaya, besar di Surabaya, main musik sampai sekarang, ya, mulainya juda di Surabaya. Saya ini sudah ke mana-mana, keliling dunia, tapi saya ini tetap arek Surabaya. Rujak uleg, petis, pecel, sate klopo... nggak bisa saya lupakan. Hehehe....

Bagaimana Anda melihat perkembangan jazz di Surabaya?

Sebenarnya sudah muncul banyak musisi dari sini. Sayang, banyak yang pindah ke Jakarta. Padahal, mereka bisa menjalankan karir musiknya di Surabaya. Mai musik itu sebenarnya untuk menyenangkan sesama. (rek)

No comments:

Post a Comment