09 June 2011

Bacang Peneleh yang Wuenak




Senin 6 Juni 2011, bertepatan dengan tanggal 5 bulan kelima kalender Imlek. Warga Tionghoa punya acara tahunan pecun alias duan wujie. Inilah saat paling tepat untuk menikmati bacang, panganan khas Tionghoa yang selalu disajikan setiap Pecun.

Pecun tanpa bacang tidak akan afdal! Bagaikan sayur tanpa garam!

Hmm... Kalau tahun lalu saya mampir ke rumah Bu Swie Giok di Sidoarjo, pembuat bacang spesialis hari pecun yang sangat terkenal. Sayang, tahun lalu bacangnya belum matang. Maka, saya hanya bisa menikmati teh hijau impor dari Tiongkok.

Kali ini saya mampir ke Bu Giok yang di Jalan Peneleh 92 Surabaya. Tepatnya Oei Kung Giok, pembuat bacang terkenal di Surabaya. Bu Giok tiap hari bikin bacang, tak hanya musiman setiap pecun. Bahkan, BAKCANG PENELEH sudah cukup terkenal di kalangan penggemar bacang di Surabaya, Jawa Timur, bahkan katanya di luar Jawa.

“Bacang buatan saya juga dikirim ke luar negeri seperti Belanda. Jakarta, Bandung, Semarang, Malang, Banjarmasin, Makassar... banyak kotalah yang pesan ke sini,” tutur Oei Kung Giok dengan sangat ramah.

Oh ya, di sebelah rumah Bu Giok, saat itu sedang ada upacara peresmian situs bersejarah rumah kelahiran Bung Karno di Jalan Pandean IV/40 Surabaya oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Jalan Peneleh ditutup sementara saking banyaknya kendaraan pejabat, politisi, aktivis, budayawan, wartawan, hingga anak-anak sekolah.

Maka, saya bisa menyelam sambil minum air. Mengikuti acara di Pandean Gang 4, hanya 50-an meter dari Bakcang Peneleh, kemudian berbincang dan mencicipi bacang buatan Bu Giok yang terkenal itu.

“Bu, hari ini kan pesta bacang, perayaan pecun, bagaimana pesanan bacang saat ini?” pancing saya. Pertanyaan yang terkesan basa-basi, tapi sangat efektif menjadi pintu masuk berdialog dengan Bu Giok. Maka, perbincangan pun berlangsung akrab, layaknya teman lama saja.

Benar sekali. Pemesanan pada musim pecun ini memang meningkat drastis. Kalau hari biasa hanya 400 bungkus, saat ini melejit hingga 6.000 bungkus. Naik 1.400 persen! Panen besar untuk Bu Giok dan dua anaknya yang menekuni usaha ini sejak 20 tahun silam.

Banyaknya order ini juga tak lepas dari perubahan kebiasaan di kalangan masyarakat Tionghoa. Kalau dulu bacang dibuat di rumah, masak sendiri, cukup belanja ketan, daging, bumbu, dan bahan-bahan lain, sekarang orang lebih suka membeli bacang yang sudah jadi. Sebab, proses memasak bacang yang makan tempo lima sampai enam jam, dengan api kompor atawa panas yang stabil, memang cukup merepotkan.

Maka, orang-orang macam Oei Kung Giok inilah yang menangguk rezeki tahunan. Bagus juga orang bagi-bagi rezeki kepada para pembuat bacang. Industri rumahan bacang [Bu Giok juga terima pesanan nasi kuning, nasi kotak, nasi goreng, soun goreng, pastel tutup, kue cang] bisa berkembang dengan baik. Sama-sama enaklah!

Ada beberapa isian bacang cap Peneleh ini. Harganya cukup terjangkau mengingat rasanya memang mantap. Saya sudah mencoba beberapa kali.

Ayam Rp 13.000
Ayam telur Rp 15.000
Ayam spesial Rp 24.000
[Disebut spesial karena lengkap dengan jamur, telur, sosis, dan sebagainya]

Babi Rp 13.000
Babi telur Rp 15.000
Babi spesial Rp 22.500
Vegetarian Rp 10.000

Di mana-mana yang namanya bacang itu bahan dasarnya beras ketan. Tapi, menurut Bu Giok, beberapa pelanggan dari Jakarta malah senang memesan bacang dari beras biasa. Bu Giok, yang suaminya sudah meninggal dunia ini, pun melayani dengan senang hati. Bacang pakai beras ini jadinya seperti lontong di pasaran.

Seperti industri rumahan umumnya, BAKCANG PENELEH ini pun mula-mula dirintis sebagai usaha kecil-kecilan oleh Bu Lena (sekarang 83 tahun), mamanya Oei Kung Giok. Setiap kali pecun, banyak orang memesan bacang sama Bu Lena.

Aha, ternyata bacang yang diproduksi secara tradisional ini disukai kerabat, kenalan, relasi... yang kemudian gethuk tular ke mana-mana. Sementara itu, bacang sudah berkembang menjadi makanan yang disukai berbagai kalangan, tak hanya warga Tionghoa pada saat pecun saja. Pelanggan meminta agar bacang ini bisa diperoleh setiap saat.

Maka, bisnis yang tadinya hanya musiman akhirnya berubah menjadi bisnis rutin. Tentu saja, jumlah bacang yang dibuat di hari-hari baisa lebih sedikit ketimbang saat pecun. Rata-rata setiap hari Bu Giok menghabiskan beras ketan sebanyak 20-25 kilogram. Sekali masak, di hari biasa, ada sekitar 150 bacang yang dibungkus erat dengan daun bambu.

BAKCANG PENELEH
Jalan Peneleh 92 Surabaya
Telepon 031 531 7521, 031 7190 9666

3 comments:

  1. Setiap tahun pada hari raya duan-wu-jie,端午节,atau hari sembahyangan bacang, pasti saya adu mulut dengan bojo-ku. Mergone pada hari itu kami disumbangi bacang dan kue-cang oleh teman2 di Tiongkok. Saya selalu bilang bacang-nya tidak enak. Yang paling uenak ialah bacang bikinan mama-ku. Wis mulailah bojo-ku mengkritisi mertuanya, dan aku membalas misuhi emboknya dia.
    Tiap2 tahun ludrukan itu pasti terpentaskan.
    Bacangnya walaupun tidak enak, ya dimakan juga, daripada harus masak nasi.
    Kalau kue-cang-nya, saya kasihkan ke-ayam2-ku.
    Opo sih enake kue-cang ? Kalau kue lopis jawa barulah uenak.
    Saya heran kenapa masakan chinese di Indonesia rasanya lebih sedap daripada masakan chinese di Tiongkok. Mungkinkah masakan chinese di Indonesia yang lebih asli resepnya daripada yang di Tiongkok. Saya yakin, masak atau semua pekerjaan harus dibarengi dengan perasaan hati yang suka dan senang, bukan asal matang atau jadi.
    Kalau saya mudik ke Surabaya, selalu diundang makan oleh teman2 lawas. Ditanya, lu pingin makan apa ? Saya bilang: rujak cingur, gule kambing pasar turi, semanggi, kikil, pokoke sing murah meriah. Chinese Food aku ora gelem, ora doyan !
    Jawab teman2-ku : Lek kon arep mangan ngonoan, wis tukuo, mangano dhewe.
    Akhirnya kompromi ke Galeria atau Bon Amy. OKB sok aksi, ataukah mereka takut aku mencret.
    Bung Hurek, mengapa saya 16 tahun di Tiongkok, makan dikaki-lima pinggir jalan, tapi tidak pernah mencret. Di Indonesia makan di Mall-mall, tapi bisa mules, mejen. Mungkin air-ledeng di Indonesia tidak bersih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama. 20+ tahun tinggal di Amrik, saya makin merasakan lidah saya ialah lidah Asia Tenggara. Makanan yang paling sedap harus yang ada cabe, kemiri, lengkuas, serai, daun jeruk purut. Kalau tidak ada aroma dari bahan2 tersebut, terasa hidup ini kurang ... wkwkwkwk

      Kalau bacang, buatan TIonghoa Indonesia menggunakan beras ketan yang lebih manis dan kenyal. Di daratan TIongkok berasnya tidak sekenyal dan semanis di Indo, makanya kurang ... gimana yah ..

      Delete
  2. wah saya tertarik banget ingin lihat langsung proses pembuatan bacang. tapi sayang jauhya di surabaya, saya di jakarta.
    saya juga membahas tentangbacang di blog saya saya juga nulis ttg bacang di blog saya https://andietafoodjourney.wordpress.com/2016/10/15/indonesian-food-fun-fact-2-bacang-kwecang-and-caicang/ :D

    ReplyDelete