26 June 2011

Artikel Dalam Rangka

Begitu banyak penulis artikel (opini), sementara ruangan dan media massa sangat terbatas. Karena itu, ada-ada saja akal para penulis, termasuk akal bulus, untuk menembus meja sunting si redaktur. Salah satu kiat lawas adalah menulis 'artikel dalam rangka'. Artikel yang sengaja dibuat dalam rangka memeriahkan hari-hari tertentu. Asumsinya, peluang dimuat jauh lebih besar.

Sejak pekan lalu, saya lihat artikel-artikel dalam rangka Isra Mikraj, 29 Juni 2011, sudah masuk ke surat kabar. Ada penulis yang mahasiswa, aktivis organisasi, penceramah, dosen, hingga pekerja biasa. Bagaimana kualitas artikel-artikel dalam rangka itu?

Hmmm... macam-macamlah. Ada yang bagus, sedang, hingga cukup buruk. Jam terbang, kualitas dan kuantitas bacaan, latar belakang pendidikan dan pergaulan... sangat menentukan.

Di Indonesia, berdasar pengamatan saya yang selintas, bukan kajian serius, artikel-artikel dalam rangka ini sudah mewabah sejak zaman baheula. Dalam rangka Natal atau Paskah, Monsinyur Suharyo, sekarang Uskup Agung Jakarta, selalu menulis artikel di Kompas. Romo Mardiatmadja pun suka menulis artikel dalam rangka hari raya keagamaan kristiani.

Romo Benny Susetyo, yang jauh lebih muda, pun naga-naganya menjadi penulis artikel dalam rangka. Artikel-artikel Romo Benny yang berbau dalam rangka Natal atau Paskah dimuat di beberapa koran sekaligus. Cukup produktif pastor satu ini meskipun mutunya belum sebagus tulisan almarhum Romo Mangunwijaya, guru sekaligus idolanya. Tulisan-tulisan Romo Benny cenderung berteriak, marah, blak-blakan layaknya aktivis gerakan.

Penulis-penulis dalam rangka hari keagamaan Islam sudah pasti jauh lebih banyak lagi. Ada yang kaliber profesor macam Azyumardi Azra atau Nurcholis Madjid (almarhum), hingga mahasiswa IAIN semester awal yang sedang berlatih menulis. Penulis-penulis artikel dalam rangka dari kalangan Hindu, Buddha, atau Khonghucu masih sangat terbatas jumlahnya di Indonesia.

Ada yang salah dengan artikel dalam rangka? Tentu tidak. Sebab, media-media mana pun tak pernah lepas dari news peg. Aktualitas. Yang repot, makin lama jumlah hari-hari 'dalam rangka' itu makin banyak. Ada hari lahir Bung Karno. Hari kematian Bung Karno. Hari Pancasila. Hari Antinarkoba. Hari Buruh Sedunia yang hanya berselang sehari dengan Hari Pendidikan.

Hari Bakau. Hari Listrik. Hari Ulang Tahun Surabaya. HUT Jawa Timur. Hari Kartini. Hari Ibu. Hari Perempuan Internasional. Hari Pemuda. Hari Anak Nasional. Hari Lingkungan. Hari AIDS. Dan hari-hari atau HUT-HUT yang tak akan habis-habisnya di negara ini.

Belum lagi hari-hari keagamaan dari berbagai agama di Indonesia yang jumlahnya sangat banyak. Lha, kalau semua hari itu, baik yang berskala lokal, regional, nasional, dunia... dibuatkan artikel dalam rangka, wah... lama-lama tulisan opini di media massa tak pernah beranjak jauh dari artikel dalam rangka. Dan itu tidak sehat, pun biasanya mengorbankan kualitas. Sebab, penulis-penulis artikel dalam rangka umumnya punya kecenderungan untuk MENGEBOM koran dengan artikel secara bertubi-tubi.

Kalau makin banyak artikel dikirim, asumsinya peluang dimuat lebih besar. Hehehe.... Rupanya, dia lupa bahwa kuantitas itu sering kali berbanding terbalik dengan kualitas. Mengapa si redaktur harus memaksakan diri memuat artikel berkualitas C (sedang-sedang saja) hanya artikel pertimbangan dalam rangka?

Saya sendiri sejak dulu senang membaca tulisan tokoh-tokoh yang punya kedalaman visi, pengetahuan, wawasan, kebijaksaan. Sebut saja Ignas Kleden, Goenawan Mohamad, Sindhunata, Mahbub Djunaedi, MT Zein, Slamet Abdul Sjukur, atau Soetjipto Wirosardjono. Mereka-mereka ini jelas bukan tipe penulis artikel dalam rangka.

Sayang, akhir-akhir ini saya jarang sekali menemukan tulisan-tulisan mereka di media massa, kecuali Goenawan Mohamad yang punya Catatan Pinggir di majalah TEMPO.

No comments:

Post a Comment