19 June 2011

Abah Malik Bz Meninggal Dunia




Insaflah, wahai manusia
Jika dirimu bernoda
Dunia hanya naungan
'tuk makhluk ciptaan Tuhan....


Oleh LAMBERTUS HUREK

Jenazah Abdul Malik Buzaid (67 tahun), pencipta lagu Keagungan Tuhan, siang kemarin, dimakamkan di TPU Kureksari, Waru, Sidoarjo, tak jauh dari rumahnya yang sederhana. Pemusik senior kelahiran Surabaya ini meninggal setelah jatuh di kamar mandi rumahnya, Rabu (15/6/2011), pukul 16.30.

NAMA A. Malik Bz--begitu nama populer Abdul Malik Buzaid--tak bisa dilepaskan dari perkembangan musik melayu di tanah air, yang kemudian bermetamorfosa menjadi dangdut setelah ‘direformasi’ oleh Rhoma Irama pada awal 1970-an. Sejak 1960-an, di usia belia, Malik sudah aktif bermusik bersama Orkes Melayu (OM) Sinar Kemala. Sebagai tokoh di belakang layar, baik sebagai komposer maupun arranger, Malik Bz berhasil mempopulerkan sejumlah artis melayu/dangdut di tanah air.

Namun, secara umum almarhum lebih dikenal sebagai pencipta lagu Keagungan Tuhan. Gara-gara tembang ini pula, A Malik Bz mendapat penghargaan Anugerah Bakti Musik Indonesia (2005) dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Jero Wacik.

“Keagungan Tuhan itu memang lagu abadi. Saya yakin itu merupakan ilham dari Allah SWT. Maka, biarpun nanti saya sudah nggak ada (meninggal), saya ingin lagu itu tetap abadi dan menjadi inspirasi bagi orang banyak,” ujar Malik Bz kepada saya beberapa bulan sebelum meninggal akibat diabetes.

Lagu yang diciptakan Malik Bz pada 1964 ini memang telah dirilis dalam puluhan artis dan grup band. Vidi Aldiano membawakannya dalam versi R&B dan sempat ngetop di kalangan remaja tahun lalu. GIGI dalam versi rock. Ada juga versi Ida Laila, D'Lloyd, Titiek Sandhora, Hetty Koes Endang, Rita Effendy, hingga Victor Hutabarat. Belum lagi orkes-orkes lokal yang umumnya tak sempat meminta izin dari Malik Bz.

“Kalau nggak salah ingat, ada lebih dari 40 versi. Mulai pop, melayu, dangdut, koplo, gambus, kasidah, shalawatan, rock, soul, R&B, sound track film, sampai jingle iklan seluler. Itu belum termasuk versi bajakan,” ujar Malik.

Kepada saya, pria kelahiran Kampung Ampel, 31 Desember 1944, ini menceritakan secara detail proses kelahiran lagu Keagungan Tuhan itu. Suatu ketika, di tahun 1964, Malik bersama beberapa temannya jalan-jalan di Kremil, salah satu kawasan ‘lampu merah’ di Kota Surabaya. Malik mengaku gelisah.

“Saya lihat ada orang mabuk, ngomong nggak karuan, kelonan, tertawa cekakan... macam-macamlah. Kepala saya langsung pusing. Saya kemudian minta kertas dan potlot kepada seseorang,” tuturnya.

Seperti ada yang menggerakkan, dia dengan cepat menyelesaikan syair dan notasi sebuah lagu baru. Esoknya, Malik datang ke rumah Abdul Kadir, pimpinan OM Sinar Kemala di kawasan Ampel. Malik lantas memainkan lagu baru itu dengan piano di ruang tamu. “Kok enak rasanya. Pak Kadir juga senang. Sorenya saya benahi lagi, tambah bagus,” tuturnya.

Dua hari kemudian, para personel OM Sinar Kemala melakukan latihan bersama di rumah Abdul Kadir. Urip Santoso, arranger utama Sinar Kemala, memuji kekuatan syair dan melodi Keagungan Tuhan. “Nah, sejak itulah kami mainkan bersama Sinar Kemala. Penyanyinya Ida Laila, dengan nada dasar Bes,” tuturnya seraya memperlihatkan partitur Keagungan Tuhan yang ditulis tangan.

Setelah dibawakan di sejumlah hajatan, dan kondang di Surabaya dan sekitarnya, lagu itu direkam di Studio RRI Surabaya. Kemudian, masternya dibawa ke Lokananta, Solo, untuk produksi piringan hitam (PH) pada 1966 untuk kebutuhan radio-radio di seluruh Indonesia. Maka, Keagungan Tuhan akhirnya populer hingga ke Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

“Bahkan, diputar juga di Radio Australia, BBC London, Voice of America,” tukasnya.

Sejak itulah Malik Bz rajin menulis lagu baik untuk Sinar Kemala dan artis-artis lain. Di antaranya, Ida Laila, Nur Halimah, A Rafiq, hingga penyanyi masa kini. Bahkan, beberapa pekan sebelum meninggalnya, suami Aisyah ini masih sempat memberikan dua lagu terbarunya untuk Maria Eva.

“Saya dikasih lagu Tragedi Cinta dan Ratu Zahara,” ujar Maria Eva kepada saya ketika melayat jenazah almarhum Malik Bz di rumah duka.

Di mata Maria Eva, Abah Malik merupakan seniman musik idealis yang sulit diajak berkompromi dengan pasar. Karena itu, pedangdut asal Sidoarjo ini berkali-kali melakukan ‘pendekatan khusus’ agar dibuatkan lagu dan aransemen yang sesuai dengan tren musik sekarang.

“Alhamdulillah, Abah akhirnya bersedia,” tuturnya.

Sayang, album baru ME dilempar ke pasar, Abah Malik keburu ‘kembali ke asalnya, menghadap Tuhan yang Esa’.

1 comment:

  1. Terima Kasih, pak Lambert. Seingat saya dulu sekitar akhir thn 70-an, ada album kumpulan lagu2 instrumental organ yg dimainkan oleh almarhum. Dimana bisa diperoleh rekaman tsb? Terima ksh.

    ReplyDelete