29 June 2011

Legenda Musik dan Diabetes




Semalam, 29 Juni 2011, hujan cukup deras di kawasan Ngagel Jaya. Saya berteduh di Linda Jaya, travel terkenal di Surabaya. Aha, di situ ternyata ada LEO KRISTI, pemusik yang terkenal banget dengan Konser Rakyat Leo Kristi.

Seniman 62 tahun ini, seperti biasa, pakai topi, kaos hitam ketat, dan... tetap semangat. Apa kabar Bung? Cak Leo menjabat tangan saya erat-erat. Dan kami mulai ngobrol ngalor-ngidul sembari menunggu hujan reda. Leo Kristi datang ke Linda Jaya untuk cari tiket pesawat ke Denpasar, kota tempat tinggal istri dan kedua anaknya.

Saya langsung menyinggung seniman-seniman musik legendaris dari Surabaya yang mulai meninggalkan kita satu per satu. Dua minggu lalu Pak ABDUL MALIK BUZAID, musisi Melayu dari Orkes Sinar Kemala, yang kondang tahun 1960-an hingga 1970-an, meninggal dunia. Diabetes, gulanya naik, Pak Malik Bz ambruk di kamar mandi rumahnya. Wassalam!

Sebelumnya, FRANKY SAHILATUA meninggalkan kita semua karena kanker tulang belakang. Sebelumnya lagi, saya cerita ke Leo Kristi, dedengkot hard rock dari Surabaya, UCOK AKA HARAHAP, meninggal di Rumah Sakit Darmo Surabaya. Juga akibat komplikasi diabetes.

Almarhum Ucok dimakamkan di kawasan Kebraon, pinggiran Surabaya. Saya ‘beruntung’ masih sempat memijat kaki Bang Ucok di paviliun RS Darmo beberapa hari sebelum beliau meninggal. Bahkan, saya sempat ‘memancing’ Bang Ucok untuk menyenandungkan lagu hitnya: Badai Bulan Desember.

“Siapa lagi ya musisi legendaris Surabaya?” tanya Leo Kristi.

“Ya, Leo Kristi. Syukurlah, Anda masih terlihat sehat, segar, dan semangat!” kata saya. Leo pun tertawa lepas. Sawung Jabo masih sering konser di Surabaya dan kota-kota lain. Dan Cak Jabo ini sehat walafiat. Sekitar tiga minggu lalu Sawung Jabo bikin konser di Jakarta.

Legenda musik Surabaya yang layak disebut siapa lagi kalau bukan BUBI CHEN, maestro jazz. Apa kabar Bubi Chen?

Saya lantas memperlihatkan foto-foto jepretan saya di kamera digital. Konser apresiasi untuk Bubi Chen di Hotel Garden Palace Surabaya. Leo Kristi tak menyangka ada hajatan jazz khusus untuk Bubi Chen. Cak Leo melihat foto Bubi Chen yang terlihat tidak sesegar dulu.

“Om Bubi Chen baru saja diamputasi kedua kakinya. Sekarang beliau sudah tidak punya kaki. Hanya bisa duduk di kursi roda,” kata saya.

“Ah, yang benar saja!” tukas Leo Kristi. Setelah saya tunjukkan foto, Leo Kristi pun geleng-geleng kepala. “Tapi beliau masih tetap main piano, jazz khas Bubi Chen,” saya menyergah. Leo Kristi pun kelihatan puas.

Yah, lagi-lagi diabetes menjadi biang penyebab hilangnya kedua kaki Bubi Chen. Sakit gula begitu parah sehingga, apa boleh buat, amputasi pun tak bisa terelakkan. Leo Kristi menyimak cerita saya dengan penuh perhatian.

Satu lagi pemusik legendaris Surabaya yang tak boleh dilupakan: SLAMET ABDUL SJUKUR. Saya perlihatkan foto komponis, pianis, budayawan, dan kolumnis asal kampung Keputran Panjunan itu. Kebetulan Slamet Abdul Sjukur hadir saat konser apresiasi untuk Bubi Chen. Jadi, letak fotonya tak jauh dari Bubi Chen.

Leo Kristi tertawa melihat Slamet, teman lamanya itu. Saya bilang setiap bulan Slamet Abdul Sjukur bikin acara Pertemuan Musik Surabaya (PMS), tak jauh dari tempat kami ngobrol. “Di Wisma Musik Melodia?”

Persis, Cak!

Di situlah Slamet A Sjukur mengajak guru-guru piano, penikmat musik, orang biasa... menonton film musikal, menikmati permainan piano atau musik tradisional, bincang santai, tapi sarat pesan kebudayaan. Gaya Slamet masih sama. Bicaranya halus, nyaris berbisik, banyak guyon, tapi sentilannya sangat tajam.

Hujan musim kemarau pun reda. Obrolan santai di teras Linda Jaya Travel itu pun selesai. Saya pun pamitan. Moga-moga Leo Kristi tetap sehat, semangat, dan terus bikin konser! Dan moga-moga pula lahir pemusik-pemusik generasi baru yang punya karakter dan idealisme macam legenda-legenda Surabaya ini.

Leo Kristi Pemusik Surabaya




Oleh LAMBERTUS HUREK

Di usia yang sudah mulai beranjak senja, jelang 62, Leo Kristi masih belum berubah. Di atas panggung, 'pemusik jalanan' asal Surabaya ini tetap saja garang melantunkan suara nelayan, petani, pemulung, gelandangan, dan kaum pinggiran. Leo Kristi pun tetap sibuk 'mengamen' di sana-sini meski nyaris tak pernah lagi masuk televisi.

Ayah dua anak ini juga masih tetap sulit 'ditangkap' wartawan, tapi sering kali tiba-tiba saja muncul di depan khalayak. Tak heran, teman-teman lamanya di Surabaya pun terkejut ketika Leo Kristi hadir di Taman Surya, 31 Mei 2011 untuk menerima penghargaan dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Para penggemar Leo Kristi, biasa disebut LKers, yang rata-rata di atas 30, kontan saja meminta sang idola untuk foto bersama. Nah, di tengah kerumunan fansnya, yang rata-rata berusia 30 tahun ke atas, Leo Kristi bersedia meluangkan waktu untuk berbincang santai dengan saya. Sejumlah teman lama Leo, seperti Cak Kandar, Tedja Suminar, dan Herman Rivai pun ikut nimbrung bersama sang troubador.


ANDA MASIH TERLIHAT SEHAT, GARANG, DAN AWET MUDA. RESEPNYA APA?

Wah, saya tidak punya resep macam-macam. Cukup jalan kaki setiap hari. Itu olahraga favorit saya sejak dulu. Olahraga yang murah meriah dan bisa dilakukan oleh siapa saja.

BIASANYA JALAN KAKI DI MANA?

Yah, di mana saja. Kalau saya lagi di Bali, ya, jalan kaki di Bali, di Surabaya, Jakarta... saya selalu usahakan jalan kaki. Saya percaya kondisi kesehatan saya yang masih fit sampai sekarang, ya, berkat olahraga jalan kaki.

ANDA JALAN KAKI SAMBIL MEMPERHATIKAN SUASANA ALAM, MASYARAKAT, UNTUK DIJADIKAN INSIPIRASI DALAM BERMUSIK?

Bisa juga dari situ. Tapi, bagi saya, inspirasi itu bisa datang dari mana saja. Saya punya prinsip, hidup ini harus warm, fresh, and healthy. Kita perlu menjalani kehidupan ini apa adanya, gak perlu neko-neko. Jadi, kunci kesehatan itu juga sangat ditentukan oleh pikiran kita sendiri.

ANDA MASIH SERING BIKIN KONSER?

Musik itu, bagi saya, seperti kehidupan. Harus jalan terus. Saya baru saja kembali dari Jakarta, ada konser di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Jakarta Pusat. Konser gratis untuk teman-teman Lkers, silaturahmi, saling bertegur sapa. Acara-acara seperti ini membuat saya bahagia karena masih dikangeni sama teman-teman.

TAPI KAYAKNYA ANDA TIDAK PERNAH MUNCUL DI TELEVISI, SEHINGGA SOSOK ANDA KURANG DIKENAL GENERASI MUDA?

Seniman seperti saya memang sulit mendapat tempat di televisi-televisi nasional. Anda bisa lihat selera pengelola stasiun televisi-televisi kita sekarang ini. Yah, itu terserah mereka lah. Bagi saya, muncul di televisi atau tidak sama saja karena sejak dulu juga saya memang jarang tampil di televisi. Saya bisa ngamen, bermusik, di mana saja dan kapan saja.

ANDA MASIH MENGELUARKAN ALBUM BARU?

Masih, karena saya kan masih terus berkarya. Tahun lalu saya luncurkan album ke-12. Dan, yang menarik, album-album saya itu justru sangat diminati oleh orang luar negeri seperti Australia, Jepang, Amerika Serikat, Swiss, Yunani. Di Indonesia, CD-CD saya sudah ada penggemar khusus. Bahkan, komunitas Lkers itu selalu mengundang saya untuk tampil.

TREN MUSIK SEKARANG KAN SUDAH JAUH BERBEDA DENGAN ERA 1970-AN HINGGA 1990-AN. SISTEM PRODUKSI DAN REKAMAN MUSIK SUDAH LAIN. BAGAIMANA ANDA MENYESUAIKAN DIRI DENGAN PERUBAHAN INI?

Yah, saya mengalir saja. Perubahan itu memang harus terjadi, tidak hanya di dunia musik. Sebagai musisi, saya harus bisa mengikuti perubahan ini tanpa harus kehilangan karakter dan ciri khas. Bagi saya, perubahan itu bukan masalah, tapi menjadi tantangan tersendiri untuk semakin kreatif. Kalau mandeg, ya, kita akan habis.

SELAIN BERMUSIK, APA LAGI KESIBUKAN ANDA?

Kontemplasi, berdialog dengan alam sekitar, berhubungan dengan sesama manusia. Olahraga jalan kaki, jaga stamina.

APA MAKNA PENGHARGAAN DARI WALI KOTA SURABAYA UNTUK ANDA?

Paling tidak, saya masih diingat orang Surabaya, khususnya pemkot. Bagaimanapun juga saya ini arek Suroboyo, punya akar dari sini. Ada banyak hal yang konsisten di Surabaya dan tak akan habis-habis kita gali. (rek)




RIANG DALAM KEPEDIHAN

SELAIN Gombloh dan Franky Sahilatua, yang sudah almarhum, Surabaya beruntung punya Leo Kristi. Seniman musik dengan karakter kerakyatan dan patriotisme sangat kental. Boleh dikata, Leo merupakan salah satu dari sedikit pemusik Indonesia yang konsisten mengangkat lirik, melodi, irama, harmoni, dan karakter musiknya dalam nuansa kerakyatan yang riang.


Karena itu, tak berlebihan kalau Leo menyebut grupnya sebagai Konser Rakyat Leo Kristi. Nama Leo Kristi sendiri dipetik dari tiga kata: Leo, Keris, dan Sakti. Dan nama itu menjadi nama gitarnya yang kemudian disingkat menjadi Leo Kristi. Adapun nama asli yang diberikan orang tuanya, Imam Subiantoro dan Roekmini Idajati, adalah Leo Imam Soekarno.

Sang ayah bekerja sebagai pengawas pajak di kantor inspeksi keuangan. Walaupun kehidupan ekonomi orang tuanya serbacukup, sifat kerakyatan sudah kelihatan dalam pribadinya. Leo kecil suka mencuri waktu tidur siang dan pergi main bersama teman-temannya, jajan di pinggir jalan, bergaul dengan anak kampung, bermain lumpur, menyanyi di belakang gubuk para gelandangan.

Sejak kecil Leo sudah menunjukan bakat di bidang musik. Melihat bakat tersebut, sang ayah memberi hadiah sebuah gitar. Semasa SMA, dia sudah memimpin sebuah grup band. Sempat kuliah di ITS Surabaya jurusan arsitektur sampai tingkat kedua, Leo memilih keluar karena jiwa seninya jauh lebih menonjol ketimbang menekuni rumus-rumus arsitektur. Toh, dia dengan mantap memilih menjadi arsitektur musik. Musik yang unik, musik khas Leo Kristi.

Dalam mencipta lagu, Leo selalu mengikuti suara hati dan rasa cintanya kepada tanah air. Lagu-lagunya juga selalu dikasih bumbu dengan mengangkat kejadian sehari-hari, bagaimana perjuangan rakyat menghadapi kehidupan. Dia kerap mengajak bicara anak-anak, orang tua, untuk memahami persoalan sehari-hari.

Selain itu, Leo juga sangat jeli ketika mengamati sosok seseorang. Dia memaknai raut wajah, sorot mata, bahkan guratan garis-garis di wajah seseorang. Itu semua kemudian diangkat menjadi syair dan musik. "Kiblat saya memang rakyat. Manusia," ujar pria yang mengaku terpengaruh pemusik kawakan macam Bob Dylan, Queen, Beatles, Mellani, dan Piere Morlin ini.

Yang menarik, meski selalu memotret kehidupan rakyat kebanyakan yang sederhana, menderita, dan sering kekurangan, Leo tidak sampai jatuh dalam kecengengan. Maka, tak ada rintihan atau kecengengan dalam komposisinya. Dia selalu membawakannya dalam suasana yang riang gembira. (rek)




BIODATA SINGKAT

Nama lahir : Leo Imam Sukarno
Nama populer : Leo Kristi
Lahir : Surabaya, 8 Agustus 1949
Agama : Islam
Istri : Dayu Cemani Pidada
Anak : Panji dan Rayu
Pekerjaan : Seniman musik
Grup/Komunitas : Konser Rakyat Leo Kristi

PENDIDIKAN
SD Kristen, Surabaya (1961)
SMP IV, Surabaya (1964)
SMA I, Surabaya (1967)
Fakultas Teknik ITS Surabaya (1971)
Kursus Musik Dasar Tino Kerdijk
Kursus gitar pada Poei Sing Gwan dan Oei Siok Gwan

KARIER
1. Penjual buku Groliers American Books
2. Karyawan pabrik cat Texmura
3. Penyanyi di restoran China Oriental dan Chez Rose (1974-1975)
4. Menyanyi di LIA dan Goethe Institut

Diskografi

1. Nyanyian Fajar (1975)
2. Nyanyian Malam (1976)
3. Nyanyian Tanah Merdeka (1977)
4. Nyanyian Cinta (1978)
5. Lintasan Biru Emas dan Potret Kecil Citra Negeriku (1984)
6. Biru Emas Bintang Tani (1985)

Penghargaan
Wali Kota Surabaya, 2011

DIMUAT RADAR SURABAYA EDISI MINGGU, 26 JUNI 2011

26 June 2011

Artikel Dalam Rangka

Begitu banyak penulis artikel (opini), sementara ruangan dan media massa sangat terbatas. Karena itu, ada-ada saja akal para penulis, termasuk akal bulus, untuk menembus meja sunting si redaktur. Salah satu kiat lawas adalah menulis 'artikel dalam rangka'. Artikel yang sengaja dibuat dalam rangka memeriahkan hari-hari tertentu. Asumsinya, peluang dimuat jauh lebih besar.

Sejak pekan lalu, saya lihat artikel-artikel dalam rangka Isra Mikraj, 29 Juni 2011, sudah masuk ke surat kabar. Ada penulis yang mahasiswa, aktivis organisasi, penceramah, dosen, hingga pekerja biasa. Bagaimana kualitas artikel-artikel dalam rangka itu?

Hmmm... macam-macamlah. Ada yang bagus, sedang, hingga cukup buruk. Jam terbang, kualitas dan kuantitas bacaan, latar belakang pendidikan dan pergaulan... sangat menentukan.

Di Indonesia, berdasar pengamatan saya yang selintas, bukan kajian serius, artikel-artikel dalam rangka ini sudah mewabah sejak zaman baheula. Dalam rangka Natal atau Paskah, Monsinyur Suharyo, sekarang Uskup Agung Jakarta, selalu menulis artikel di Kompas. Romo Mardiatmadja pun suka menulis artikel dalam rangka hari raya keagamaan kristiani.

Romo Benny Susetyo, yang jauh lebih muda, pun naga-naganya menjadi penulis artikel dalam rangka. Artikel-artikel Romo Benny yang berbau dalam rangka Natal atau Paskah dimuat di beberapa koran sekaligus. Cukup produktif pastor satu ini meskipun mutunya belum sebagus tulisan almarhum Romo Mangunwijaya, guru sekaligus idolanya. Tulisan-tulisan Romo Benny cenderung berteriak, marah, blak-blakan layaknya aktivis gerakan.

Penulis-penulis dalam rangka hari keagamaan Islam sudah pasti jauh lebih banyak lagi. Ada yang kaliber profesor macam Azyumardi Azra atau Nurcholis Madjid (almarhum), hingga mahasiswa IAIN semester awal yang sedang berlatih menulis. Penulis-penulis artikel dalam rangka dari kalangan Hindu, Buddha, atau Khonghucu masih sangat terbatas jumlahnya di Indonesia.

Ada yang salah dengan artikel dalam rangka? Tentu tidak. Sebab, media-media mana pun tak pernah lepas dari news peg. Aktualitas. Yang repot, makin lama jumlah hari-hari 'dalam rangka' itu makin banyak. Ada hari lahir Bung Karno. Hari kematian Bung Karno. Hari Pancasila. Hari Antinarkoba. Hari Buruh Sedunia yang hanya berselang sehari dengan Hari Pendidikan.

Hari Bakau. Hari Listrik. Hari Ulang Tahun Surabaya. HUT Jawa Timur. Hari Kartini. Hari Ibu. Hari Perempuan Internasional. Hari Pemuda. Hari Anak Nasional. Hari Lingkungan. Hari AIDS. Dan hari-hari atau HUT-HUT yang tak akan habis-habisnya di negara ini.

Belum lagi hari-hari keagamaan dari berbagai agama di Indonesia yang jumlahnya sangat banyak. Lha, kalau semua hari itu, baik yang berskala lokal, regional, nasional, dunia... dibuatkan artikel dalam rangka, wah... lama-lama tulisan opini di media massa tak pernah beranjak jauh dari artikel dalam rangka. Dan itu tidak sehat, pun biasanya mengorbankan kualitas. Sebab, penulis-penulis artikel dalam rangka umumnya punya kecenderungan untuk MENGEBOM koran dengan artikel secara bertubi-tubi.

Kalau makin banyak artikel dikirim, asumsinya peluang dimuat lebih besar. Hehehe.... Rupanya, dia lupa bahwa kuantitas itu sering kali berbanding terbalik dengan kualitas. Mengapa si redaktur harus memaksakan diri memuat artikel berkualitas C (sedang-sedang saja) hanya artikel pertimbangan dalam rangka?

Saya sendiri sejak dulu senang membaca tulisan tokoh-tokoh yang punya kedalaman visi, pengetahuan, wawasan, kebijaksaan. Sebut saja Ignas Kleden, Goenawan Mohamad, Sindhunata, Mahbub Djunaedi, MT Zein, Slamet Abdul Sjukur, atau Soetjipto Wirosardjono. Mereka-mereka ini jelas bukan tipe penulis artikel dalam rangka.

Sayang, akhir-akhir ini saya jarang sekali menemukan tulisan-tulisan mereka di media massa, kecuali Goenawan Mohamad yang punya Catatan Pinggir di majalah TEMPO.

21 June 2011

TKI dan Sapi Australia

Orang Australia marah besar karena sapi-sapi mereka ‘disiksa’ di Indonesia. Cara menyembelih sapi di rumah jagal kita dinilai tidak memenuhi standar Aussie. Pisau kurang tajam, perlakuan sebelum penyembelihan, dianggap melanggar animal rights. Sapi-sapi pun terlalu stres, menderita, sebelum meregang nyawa.

Maka, sejak bulan lalu pemerintah Australia menghentikan pengiriman sapi-sapinya ke Indonesia. Peternak-peternak sapi di Jawa Timur, termasuk gubernur dan bupati-bupati, justru senang dengan ngambeknya si Aussie ini. Kenapa? Dengan begitu, sapi-sapi lokal bisa lebih mudah masuk pasar. Toh, stok sapi di Jawa Timur, Indonesia umumnya, masih berlimpah.

Saya tidak hendak membahas teknik memotong sapi atau perdagangan sapi Indonesia-Australia. Tapi bagaimana pemerintah Australia begitu memperhatikan sapi-sapinya meskipun sudah berada di dalam rumah jagal. Cara penyembelihan, perlakuan menjelang penyembelihan, cara mengambil daging, hingga penjualan daging di pasar... rupanya dipantau betul oleh bule-bule Aussie.

Kalau sapi yang jelas-jelas binatang saja diperhatikan hak-hak kebinatangannya, bagaimana pula dengan manusia Australia? Bisa dipahami mengapa Australia begitu cerewet menekan Indonesia agar membebaskan warga negaranya yang dihukum di penjara Indonesia. Padahal, kita tahu, orang-orang Australia yang dihukum di Bali itu sudah terbukti terlibat mafia narkotika internasional.

Apa pun, kita perlu belajar dari komitmen dan kepedulian pemerintah Australia terhadap warga negaranya, bahkan terhadap sapi-sapinya yang dikirim ke Indonesia. Dan memang negara seharusnya berusaha melindungi warganya semaksimal mungkin. Berapa pun harganya!

Lain Australia, lain pula Indonesia. Manusia-manusia Indonesia yang bekerja di negara lain, khususnya Arab Saudi dan Malaysia, sudah jelas bukan binatang sekelas sapi. Mereka manusia-manusia yang punya hak hidup, human rights, yang harus dilindungi dan dihormati. Pemerintah Indonesia harus tegas, berani mengambil risiko, ketika ada pekerja asal Indonesia (TKI) yang terancam kehilangan nyawa.

Kasus hukuman pancung yang dialami almarhumah RUYATI akhir pekan lalu kembali menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia tidak berdaya. Gagal, gagal, dan gagal melindungi nyawa manusia Indonesia di Arab Saudi. Kita baru terkejut ketika Ruyati sudah dipancung. Sudah jadi mayat, tinggal nama. Ironisnya, pemerintah Indonesia pun ternyata baru tahu bahwa Ibu Ruyati ini dieksekusi sesuai dengan hukum yang berlaku di Saudi.

Tak guna kita marah-marah pada Arab Saudi, unjuk rasa di kedutaan mereka, teriak-teriak, ancam sana-sini, dan seterusnya. Nasi pun sudah jadi bubur. Ruyati sudah tak ada lagi di dunia. Kita layak malu pada Australia yang habis-habisan membeli SAPI-SAPI mereka, sementara Indonesia selalu alpa membela manusia-manusianya yang terpaksa bekerja di luar negeri sebagai pembantu, kuli bangunan, dan pekerja-pekerja kasar.

Apa boleh buat. Harus diakui, harga dan derajat manusia-manusia Indonesia di luar negeri sudah jatuh hingga titik terendah. Pekerja rumah tangga di Saudi rupanya dianggap sebagai budak belian yang bisa diperlakukan semau-maunya oleh majikan. Dan, sayang sekali, pemerintah Indonesia sejak dulu tak punya komitmen untuk menghentikan pengiriman TKI-TKI yang jadi kuli-kuli kasar.

Ah, saya jadi ingat kata-kata Presiden Sukarno:

KITA SUDAH MENJADI BANGSA KULI, DAN KULI DI ANTARA BANGSA-BANGSA!

Kita Impor Wartawan Mandarin

Sejak reformasi 13 tahun silam, koran-koran berbahasa Mandarin tumbuh subur di berbagai kota di tanah air. Ada yang masih bertahan, tapi tak sedikit pula yang gulung tikar.

Yang pasti, kehadiran media-media berbahasa Mandarin ini disambut gembira warga Tionghoa di tanah air yang selama 30 tahun tak punya koran berbahasa Mandarin.

Selama Orde Baru hanya ada satu koran berbahasa Mandarin, yakni HARIAN INDONESIA, yang dikendalikan langsung oleh pemerintah. Sekarang ini koran-koran Mandarin sepenuhnya tergantung pada mekanisme pasar.

"Dan, itu sulit karena segmen pasarnya sangat sempit," ujar Huang Xiaozhong, wartawan senior QIANDAO RIBAO, kepada saya pekan lalu.

Sejak ditutupnya sekolah-sekolah Tionghoa, juga pelarangan bahasa Tionghoa di Indonesia, pada akhir 1960-an praktis perkembangan bahasa Mandarin mandek. Hanya orang-orang lama macam Huang Xiaozhong, alumni SMA Chung-Chung Surabaya, 1962, yang mampu membaca dan menulis aksara hanzi. Adapun generasi kelahiran 1970 dan sesudahnya tak bisa lagi berbahasa Tionghoa.

"Jangankan menulis atau membaca, ngomong saja susah. Baru sejak reformasi inilah bahasa Mandarin mulai diajarkan lagi di sejumlah sekolah dan universitas," ujar Huang.

Selain tak bisa menulis dan berkomunikasi dalam bahasa Mandarin, sangat jarang ada generasi muda Tionghoa yang mau bekerja di surat kabar. Karena itu, koran-koran Mandarin di tanah air umumnya mempekerjakan sejumlah wartawan muda asal Tiongkok. Dua koran Mandarin di Surabaya, QIANDAO RIBAO dan GUOJI RIBAO, misalnya, juga mendatangkan beberapa wartawan fresh-graduated dari Tiongkok.

"Kami di QIANDAO RIBAO punya tiga wartawan asal Chongqing. Mereka dikontrak selama satu tahun untuk membantu redaksi," ujar Huang yang asli Surabaya.

Huang mengakui wartawan-wartawan muda Tiongkok ini punya kelebihan karena punya latar belakang pendidikan jurnalistik dan komunikasi di universitas ternama. Etos kerja mereka pun sangat tinggi. Sebagai penutur asli, kemampuan berbahasa Mandarin mereka baik tertulis maupun lisan tak perlu diragukan lagi.

Begitu pula kemampuan mereka dalam mengoperasikan program-program komputer dalam aksara hanzi. "Jadi, kita bisa belajar banyak," ujar Huang.

Sayang, reporter-reporter cantik itu tidak bisa berbahasa Inggris dan Indonesia. Karena itu, selama ini mereka hanya efektif meliput kegiatan-kegiatan masyarakat Tionghoa di Surabaya dan sekitarnya.

"Kalau disuruh liput seminar di IAIN Sunan Ampel atau acara di pemerintahan, ya, tidak bisa. Paling ideal kalau wartawan koran Mandarin itu lancar bahasa Indonesia dan Mandarin. Ini yang sulit," pungkasnya.

19 June 2011

Pelukis Hitam-Putih Kian Langka



Saya sering bersepeda melintasi Jalan Undaan, meluncur ke pecinan, kampung Arab di Ampel, belok ke Kapasan, mampir ke Boen Bio, kelenteng terkenal di Surabaya, kemudian kadang-kadang mancal lagi hingga Kenjeran. Tentu saya melintasi rumah almarhum Lim Keng yang sekarang mangkrak.

Lim Keng selama hidupnya dikenal sebagai ‘raja sketsa’ di Jawa Timur. Garis-garisnya khas. Cara menggunakan tintanya pun sulit ditiru. Dia masukkan tinta ke botol kecap, kemudian dikeluarkan di atas kanvas. Jadilah lukisan-lukisan hitam-putih, skesta Lim Keng, yang unik.

Melihat rumah Lim Keng, tempat saya mampir selama beliau masih hidup dulu, saya pun gundah. Di sepanjang jalan, saya terkenang almarhum. Juga terkenang sketsa. Ingat lukisan hitam putih. Betapa sulitnya menemukan pelukis di Surabaya (atau Jawa Timur) yang mau menekuni hitam-putih secara total.

Dulu, ada Thalib Prasodjo di Sidoarjo, yang juga pendekar sketsa, dan sama seniornya macam Lim Keng. Tapi beliau pun berpulang beberapa bulan setelah Lim Keng. Lalu, siapa lagi ya pelukis di Surabaya yang masih konsisten dengan lukisan hitam-putih? Hm... saya susah menemukan sosok seniman maam itu.

Ada memang Nonot Sukrasmono, yang jago bikin drawing hitam-putih. Lukisan-lukisan Nonot sedap dipandang, menawarkan pemandangan yang alami. Nonot juga menekuni sketsa. Tapi, sebagai pelukis yang masih muda, Nonot juga menekuni gaya yang lain.

Maklum, sampai sekarang lukisan hitam-putih dianggap ‘tidak ramah pasar’. Jarang sekali orang yang mau membeli (baca: koleksi) lukisan dengan warna sangat minimalis itu. Lha, kalau tidak ada pembeli, si pelukis dapat uang dari mana? Mas Nonot masih bisa hidup karena pekerjaan sehari-harinya guru. Tidak mengandalkan hidup dari lukisan yang hitam-putih itu.

Ada juga Hardono, pelukis yang dulu banyak ‘minta petunjuk’ pada Lim Keng. Hardono menekuni drawing, bukan sketsa meski maunya sih sketsa macan Lim Keng. Tapi rupanya Hardono kurang percaya dengan kekuatan lukisan hitam-putih yang sudah dibuat. Bekas wartawan ini suka memberi warna pada darwing-nya. Dus, bukan hitam-putih lagi.

Nah, saat ini saya rasa satu-satunya pelukis di Surabaya yang main hitam-putih hanyalah Tedja Suminar. Baru-baru ini dia dapat penghargaan dari Wali Kota Surabaya sebagai seniman berprestasi Kota Surabaya. Di usia yang sudah 75 tahun, Pak Tedja masih tetap produktif. Semangat menggambarnya tidak kendor, begitu juga semangat humornya yang garing.

Tedja Suminar, meski konsisten betul di sketsa, sedikit beda dengan Lim Keng sebenarnya. Kalau Lim Keng benar-benar murni sketser, Tedja pernah menekuni beberapa gaya, termasuk bikin relief dan patung, sebelum mantap di sketsa hitam-putih. Memang susah menemukan seniman rupa yang sangat beriman pada kekuatan garis dan warna hitam-putih.

Karena itu, ketika Lim Keng dan Thalib Prasodjo berpulang, kemudian Tedja Suminar sudah 75 tahun, pertanyaannya: siapa lagi pelukis di Jawa Timur yang mau melestarikan tradisi melukis hitam-putih? Atau, mungkin lebih tepat: siapa lagi pelukis yang berani memilih hidup dari karya-karya hitam-putih?

Belum lama ini, masih dalam rangka ulang tahun Surabaya ke-718, digelar pasar seni lukis di Balai Pemuda. Ratusan pelukis, dengan ribuan lukisan, dijajakan di pasar yang meriah itu. Tiga kali saya keliling dari stan ke stan untuk menikmati lukisan-lukisan dari seniman berbagai kota di tanah air itu.

Sebagai penggemar hitam-putih, saya perhatikan betul apakah ada stan lukisan sketsa atau drawing hitam-putih. Ternyata, saya hanya menjumpai satu stan saja. Yakni, stan salah satu pelukis dari Semarang yang menggambar sketsa beberapa tokoh kemanusiaan seperti Gandhi, Gus Dur, atau Ibu Teresa. Adapun ribuan lukisan yang lain ngejreng, warna-warni, bahkan boros warna.

“Bikin lukisan hitam-putih itu gampang, Mas, tapi jualnya susah. Kita gak bisa makan kalau hanya jualan hitam-putih,” kata seorang pelukis terus-terang.

Tapi mengapa seniman-seniman besar macam Lim Keng atau Thalib Prasodjo berhasil membuktikan bisa hidup dari hitam-putih? Dan itu berarti ada kolektor-kolektor yang memang suka dengan hitam-putih.

Sepulang dari jalan-jalan keliling kota hingga Jematan Suramadu dengan sepeda pancal, saya memperhatikan lukisan hitam-putih karya Siti Rijati berjudul Penyeberangan Sungai-Ngagel, Dinoyo, 12-1-1986. lukisan ini sederhana saja, hitam-putih, tapi asyik dilihat, menurut saya.

Rupanya, ini merupakan lukisan hitam-putih terakhir dari Bu Rijati. Setelah itu dia membuat lukisan pemandangan, bunga-bunga, suasana, hingga kaligrafi... pakai warna tentu saja. Sementara lukisan suasana penyeberangan dengan perahu tambangnya itu belum laku-laku meski sudah berusia 25 tahun.

FOTO: Lukisan hitam-putih Tedja Suminar tentang suasana kerja di pabrik rokok Wismilak, Surabaya.

Pemenang Kalpataru dari Rungkut




Oleh Lambertus Hurek

Perjuangan Lulut Sri Yuliani (46), warga Rungkut, Kota Surabaya, untuk melestarikan hutan bakau di kawasan Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) beroleh apresiasi dari pemerintah pusat. Pada peringatan Hari Lingkungan Sedunia, ibu satu anak ini mendapat penghargaan Kalpataru 2011 kategori perintis lingkungan.


SELEPAS mendapat Kalpataru, aktivitas Lulut, yang sebetulnya sudah padat, kian padat saja. Dalam sehari dia harus memenuhi undangan untuk bicara atau memberikan semacam pelatihan di empat lima tempat yang berbeda.

“Saya baru saja diundang memberikan materi di Universitas Widya Mandala. Di sana ada pelatihan membuat tempe. Yah, saya sharing bagaimana kami membuat tempe dari bahan mangrove,” ujar Lulut Sri Yuliani di rumahnya, Wisma Kedungasem Indah J-28, Jumat (17/6/2011).

Meski begitu, sang srikandi lingkungan ini masih bersedia melayani wawancara khusus dengan saya. Sang suami, Budiono Halim, beberapa kali mewanti-wanti Lulut yang sedang ditunggu di sebuah acara lingkungan. Mula-mula saya meminta Lulut mengangkat Piala Kalpataru yang ditaruh di ruang tamu. Lulut terlihat agak kewalahan. Dan, percakapan akrab dengan Lulut Sri Yuliani pun dimulai.

Rupanya berat juga Piala Kalpataru itu?

Pialanya sih nggak seberapa berat, tapi tanggung jawabnya itu lho yang berat. Sebab, para penerima Kalpataru punya tanggung jawab dan komitmen terhadap lingkungan hidup sampai seumur hidup. Saya tentu semakin mendapat sorotan dan perhatian dari banyak orang.

Bagaimana perasaan Anda ketika tahu akan dapat Kalpataru?

Surprise. Nggak nyangka kalau aktivitas kecil di bidang pelestarian mangrove di Pamurbaya, juga di sejumlah tempat lain, mendapat apresiasi setinggi ini. Saya bukan tipe orang yang suka mencari penghargaan dari mana pun. Saya melakukan ini karena komitmen pribadi saya, keinginan untuk ikut melestarikan mangrove di Kota Surabaya. Saya mencoba kegiatan ini menjadi gerakan bersama seluruh masyarakat.

Apa reaksi Anda ketika ada petugas atau tim penilai Kalpataru datang melakukan survei dan wawancara di rumah Anda?

Saya tanya-tanya dulu, saya cek ke sana kemari latar belakang dan motivasi di balik sebuah penghargaan. Saya tidak ingin menerima penghargaan yang punya muatan kepentingan tertentu. Saya hanya ingin yang objektif, independen, dan fair. Buat apa dapat penghargaan yang tidak jelas juntrungannya?

Anda akhirnya sreg dengan penghargaan lingkungan ala Kalpataru?

Setelah saya meminta informasi dari berbagai pihak, saya merasa Kalpataru ini penghargaan yang objektif dan independen. Ada indikator yang jelas, tim seleksi, dan sebagainya. Apalagi, melibatkan jajaran pemerintah mulai dari pemkot hingga pusat. Maka, saya tentu bersyukur ditetapkan sebagai penerima Kalpataru 2011.

Apa arti Kalpataru ini buat Anda?

Bagi saya, Kalpataru ini bukan hadiah untuk saya, tapi untuk masyarakat di Rungkut dan sekitarnya. Saya sendirian kan tidak mungkin bisa menyelamatkan lingkungan, khususnya hutan mangrove yang rusak karena pembalakan. Saya itu hanya ngomporin saja, sementara yang bergerak. Nah, gerakan bersama masyarakat ini yang harus terus kita jaga dan kembangkan. Penghargaan ini, menurut saya, sebetulnya cuma alat saja. Kalpataru itu mendorong saya dan masyarakat untuk bekerja lebih keras lagi bagi kelestarian lingkungan hidup.

Ada proyek atau kegiatan khusus setelah Anda mendapat Kalpataru?

Kegiatan-kegiatan yang sudah ada, seperti pemberdayaan masyarakat, menurunkan angka kemiskinan, pembuatan batik mangrove, dan aneka produk dari mangrove, penerima Kalpataru seperti saya ini harus membangun hutan kebun rakyat. Saya sudah mencoba melakukan survei di beberapa lokasi di Surabaya. Prinsipnya, kita bersama masyarakat setempat melestarikan hutan dan hasil-hasil hutan itu bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Modalnya dari mana? Apa Anda mendapat semacam kucuran dana dari pemerintah?

Hutan kebun rakyat ini kerja sama dengan Kementerian Kehutanan. Setelah survei, dibuat konsep yang matang, bikin proposal... baru jalan.

Kapan dimulai?
Ya, secepatnya. Kalau bisa ya tahun ini juga.

Lebih enak dong karena Anda di-back up langsung oleh Kementerian kehutanan dan jajaran pemerintah?

Nggak gitu! Bagi saya, proyek seperti ini justru jauh lebih berat pertanggungjawabannya karena melibatkan sejumlah orang di luar tim kerja kami yang sudah ada. Proyek seperti ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena menyangkut akuntabilitas anggaran dan sebagainya. Beda dengan apa yang saya lakukan bersama teman-teman selama ini. Kita bisa bergerak kapan saja kita mau. (rek)



BIODATA SINGKAT

Nama : Lulut Sri Yuliani
Lahir : Surabaya, 24 Juli 1965
Suami : Ferdinand Yulianus Budiono Halim
Anak : Nadia Chrissanty Halim
Hobi : Mancing

PENDIDIKAN
SMPN 12 Surabaya
SPG Pringadi Surabaya
IKIP Surabaya (S-1)
STIE Mahardika (S-2)

PENGHARGAAN
Kalpataru, Perintis Lingkungan, 2011
Pejuang Lingkungan Kota Surabaya, 2006
Guru Musik Teladan Jatim (runner-up), 1994




Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu, 19 Juni 2011

Abah Malik Bz Meninggal Dunia




Insaflah, wahai manusia
Jika dirimu bernoda
Dunia hanya naungan
'tuk makhluk ciptaan Tuhan....


Oleh LAMBERTUS HUREK

Jenazah Abdul Malik Buzaid (67 tahun), pencipta lagu Keagungan Tuhan, siang kemarin, dimakamkan di TPU Kureksari, Waru, Sidoarjo, tak jauh dari rumahnya yang sederhana. Pemusik senior kelahiran Surabaya ini meninggal setelah jatuh di kamar mandi rumahnya, Rabu (15/6/2011), pukul 16.30.

NAMA A. Malik Bz--begitu nama populer Abdul Malik Buzaid--tak bisa dilepaskan dari perkembangan musik melayu di tanah air, yang kemudian bermetamorfosa menjadi dangdut setelah ‘direformasi’ oleh Rhoma Irama pada awal 1970-an. Sejak 1960-an, di usia belia, Malik sudah aktif bermusik bersama Orkes Melayu (OM) Sinar Kemala. Sebagai tokoh di belakang layar, baik sebagai komposer maupun arranger, Malik Bz berhasil mempopulerkan sejumlah artis melayu/dangdut di tanah air.

Namun, secara umum almarhum lebih dikenal sebagai pencipta lagu Keagungan Tuhan. Gara-gara tembang ini pula, A Malik Bz mendapat penghargaan Anugerah Bakti Musik Indonesia (2005) dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Jero Wacik.

“Keagungan Tuhan itu memang lagu abadi. Saya yakin itu merupakan ilham dari Allah SWT. Maka, biarpun nanti saya sudah nggak ada (meninggal), saya ingin lagu itu tetap abadi dan menjadi inspirasi bagi orang banyak,” ujar Malik Bz kepada saya beberapa bulan sebelum meninggal akibat diabetes.

Lagu yang diciptakan Malik Bz pada 1964 ini memang telah dirilis dalam puluhan artis dan grup band. Vidi Aldiano membawakannya dalam versi R&B dan sempat ngetop di kalangan remaja tahun lalu. GIGI dalam versi rock. Ada juga versi Ida Laila, D'Lloyd, Titiek Sandhora, Hetty Koes Endang, Rita Effendy, hingga Victor Hutabarat. Belum lagi orkes-orkes lokal yang umumnya tak sempat meminta izin dari Malik Bz.

“Kalau nggak salah ingat, ada lebih dari 40 versi. Mulai pop, melayu, dangdut, koplo, gambus, kasidah, shalawatan, rock, soul, R&B, sound track film, sampai jingle iklan seluler. Itu belum termasuk versi bajakan,” ujar Malik.

Kepada saya, pria kelahiran Kampung Ampel, 31 Desember 1944, ini menceritakan secara detail proses kelahiran lagu Keagungan Tuhan itu. Suatu ketika, di tahun 1964, Malik bersama beberapa temannya jalan-jalan di Kremil, salah satu kawasan ‘lampu merah’ di Kota Surabaya. Malik mengaku gelisah.

“Saya lihat ada orang mabuk, ngomong nggak karuan, kelonan, tertawa cekakan... macam-macamlah. Kepala saya langsung pusing. Saya kemudian minta kertas dan potlot kepada seseorang,” tuturnya.

Seperti ada yang menggerakkan, dia dengan cepat menyelesaikan syair dan notasi sebuah lagu baru. Esoknya, Malik datang ke rumah Abdul Kadir, pimpinan OM Sinar Kemala di kawasan Ampel. Malik lantas memainkan lagu baru itu dengan piano di ruang tamu. “Kok enak rasanya. Pak Kadir juga senang. Sorenya saya benahi lagi, tambah bagus,” tuturnya.

Dua hari kemudian, para personel OM Sinar Kemala melakukan latihan bersama di rumah Abdul Kadir. Urip Santoso, arranger utama Sinar Kemala, memuji kekuatan syair dan melodi Keagungan Tuhan. “Nah, sejak itulah kami mainkan bersama Sinar Kemala. Penyanyinya Ida Laila, dengan nada dasar Bes,” tuturnya seraya memperlihatkan partitur Keagungan Tuhan yang ditulis tangan.

Setelah dibawakan di sejumlah hajatan, dan kondang di Surabaya dan sekitarnya, lagu itu direkam di Studio RRI Surabaya. Kemudian, masternya dibawa ke Lokananta, Solo, untuk produksi piringan hitam (PH) pada 1966 untuk kebutuhan radio-radio di seluruh Indonesia. Maka, Keagungan Tuhan akhirnya populer hingga ke Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

“Bahkan, diputar juga di Radio Australia, BBC London, Voice of America,” tukasnya.

Sejak itulah Malik Bz rajin menulis lagu baik untuk Sinar Kemala dan artis-artis lain. Di antaranya, Ida Laila, Nur Halimah, A Rafiq, hingga penyanyi masa kini. Bahkan, beberapa pekan sebelum meninggalnya, suami Aisyah ini masih sempat memberikan dua lagu terbarunya untuk Maria Eva.

“Saya dikasih lagu Tragedi Cinta dan Ratu Zahara,” ujar Maria Eva kepada saya ketika melayat jenazah almarhum Malik Bz di rumah duka.

Di mata Maria Eva, Abah Malik merupakan seniman musik idealis yang sulit diajak berkompromi dengan pasar. Karena itu, pedangdut asal Sidoarjo ini berkali-kali melakukan ‘pendekatan khusus’ agar dibuatkan lagu dan aransemen yang sesuai dengan tren musik sekarang.

“Alhamdulillah, Abah akhirnya bersedia,” tuturnya.

Sayang, album baru ME dilempar ke pasar, Abah Malik keburu ‘kembali ke asalnya, menghadap Tuhan yang Esa’.

18 June 2011

Jurus Bisnis Alim Markus



Siap tak kenal Alim Markus? Presiden direktur Grup Maspion ini merupakan contoh pengusaha sukses yang merintis usaha dari bawah. “Kerja, kerja, kerja, kemudian belajar!” begitu salah satu kiat suksesnya. Belum lama ini, Alim Markus (60) merilis buku berjudul 100 Jurus Bisnis Alim Markus di kampus Untag Surabaya. Berikut nukilannya:

Saya mulai terjun di dunia usaha di umur belia. Sebelum usia 20 tahun, hidup saya bergantung 100% rajin kerja keras. Pada usia 20 hingga tahun, usaha saya sudah kelihatan sedikit baik. Ada fondasi, 10% tergantung unsur luck (keberuntungan), 90% tergantung rajin kerja keras.

Unsur luck itu bisa pelan-pelan bertambah kira-kira, ya, 20% sampai 40%. Tapi suatu usaha timing tidak tepat. Tempatnya salah dan tidak cocok, organisasinya tidak kompak. Dengan gegabah dilaksanakan usaha itu. Jadi, bisa dibayangkan kegagalannya.

Sejak usia 15 tahun, saya mengetahui bahwa cari uang itu sulit. Hidup itu banyak tantangan karena usaha orangtua masih kecil. Tinggal di sebuah rumah petak seluas 4 X 4 meter persegi di Jalan Kapasan Gang II Nomor 2, saya hidup uyel-uyelan dengan ayah, ibu, dan keempat adik saya.

Jadi, saya harus bekerja keras. Orang lain bekerja delapan jam sehari, saya 14 jam, dari jam lima pagi, ayam berkokok sampai jam 19.00, setan mulai keluar, katanya.

Sejak muda saya mempunya cita-cita yang besar untuk menjadi pengusaha besar. Saya juga memiliki keinginan untuk tidak menjadi nomor dua atau tiga, tapi harus nomor satu. Tetapi tentu saja keinginan itu saya simpan dalam hati, karena saya tidak boleh sombong.

Karena itu, saya berusaha untuk lebih rajin belajar. Dalam hal ini, awalnya saya banyak belajar dari kerja keras dan ketekunan ayah saya, Alim Husin, dan kemudian belajar dari pengusaha lainnya.

Saat usia masih sangat muda, saya sudah jadi verkoper. Masuk keluar pasar yang becek. Hidup yang sulit itu merupakan latihan yang ampuh. Suatu hal yang sangat berharga, tidak bisa dibeli dengan uang satu miliar pun.

Banyak orang mungkin tidak percaya bahwa saya mengalami hidup yang berat di masa remaja. Mereka mungkin berpikir, saya adalah anak pengusaha kaya, yang menikmati kehidupan mewah sehari-hari. Bagaimana mungkin. Bisnis orangtua saya masih kecil, rumah pun di gang sempit. Tapi, untungnya, keluarga saya mendidik saya tidak menjadi anak yang suka mengeluh. Ini sungguh saya syukuri.




Saya mengalami usaha sebagai pengusaha lemah, tanpa modal banyak. Tetapi, ibarat tanaman, saya tidak tumbuh di dalam rumah, namun di hutan belantara. Sehingga, saat jadi besar, saya tidak takut pada angin ribut dan hujan yang lebat. Karena akarnya masuk ke tanah dalam sekali.


Setelah memulai usaha, setapak demi setapak, saya memahami tidak ada jalan lain untuk terus-menerus mengakumulasi modal. Di kemudian hari saya pun tahu nasihat seorang pengusaha Amerika kaya-raya, yang di masa kecil berjualan pembersih peralatan dapur. Bagaimana caranya?

Pengusaha Amerika ini mengatakan, kalau kita ingin penghasilan lebih besar, ya, menjual barang lebih banyak. Untuk itu, kita harus menawarkan barang kepada lebih banyak orang. Semakin banyak menawarkan, semakin banyak barang terjual.

Di masyarakat bisnis itu tidak ada pemberian gelar dari universitas biarpun Anda sudah berusaha selama 40 tahun. Sehingga, banyak pengusaha yang usahanya dari nol, setelah sukses pun tidak ada gelar. Businessman melalui kegiatannya memberikan kontribusi kepada masyarakat dan masyarakat memberikan penghargaan.

Dunia bisnis adalah dunia yang riil atau nyata, banyak perubahan. Tidak mesti seperti yang diajarkan di sekolah bahwa 1 + 1 = 2.

Dalam suatu usaha bisnis tidak ada formula yang baku. Demikian pula sukses tidak ada formula bakunya. Namun, kalau bisa tahu unsur-unsurnya, persentase suksesnya akan lebih besar.

Di antara unsur-unsur sukses tersebut tentunya adalah belajar dari orang-orang yang sudah sukses. Seandainya kita ingin jadi dokter, kita tentunya juga harus belajar dari dokter beneran. Bukan orang di luar dokter, meskipun dia pernah belajar ilmu kedokteran.

Dari orang-orang yang telah sukses itulah nantinya kita memperoleh beragam pelajaran. Kita pun akan tahu unsur-unsur dasar untuk sukses seperti belajar dan bekerja secara tekun.

Saya melakukan segalanya dengan well-prepared. Persiapan sebaik-baiknya. Seperti dalam menghadapi perubahan cuaca. Sebelum hujan, siaplah payung. Seperti ketika kita menjalani ujian sekolah, kita harus membuat persiapan.

Tidak mungkin kita tidak mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik bila kita menginginkan hasil ujian yang baik. Dalam berbisnis pun sama saja. Tak mungkin kita memperoleh hasil yang baik tanpa persiapan yang bagus pula.




Dalam berusaha, kita harus maju terus, tapi dengan hati-hati. Dengan hati-hati majulah terus seperti kapal berlayar. Harus dihitung ombak laut seberapa tinggi. Sebelum berlayar, perhatikan ombak lautnya seberapa keras.


Konfusius (Khonghuchu) pernah mengatakan, sikap hati-hati jarang memunculkan kesalahan. Saya percaya benar. Dengan prinsip kehati-hatian dalam binis, kita dikondisikan untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan apa yang akan terjadi di masa depan dengan melihat fakta-fakta yang ada.

Dipadu dengan pengalaman-pengalaman kita, dan juga pengalaman pengusaha lain, kita dapat menganalisis sebelum memutuskan langkah-langkah yang akan kita ambil.
Berbisnis itu seperti main golf. Hole pertama jelek, ya, di hole kedua. Sikap tenang dan direncanakan dengan baik bukan berarti tidak bisa jelek. Selalu ada pasang surutnya. Anda sendiri harus tenang untuk menghadapinya.

Filosofi dalam permainan golf adalah bagaimana pemain menaklukkan diri sendiri. Saat memukul, pegolf tidak sembarang memukul. Sebelum bola jauh melayang, mereka harus punya perhitungan plus insting yang kuat agar bola tepat sasaran.

Perhitungan ini meliputi arah angin dan energi pukulan. Energi yang akan dikeluarkan, jika tidak dikontrol, akan membuat bola terlempar jauh dari sasaran. Intinya, semua dikerjakan dengan hati disertai kesabaran tinggi. Dengan kesabaran dan ketekunan, didapat strategi serta kecermatan menganalisis masalah.

Tak aneh kalau penggemar golf adalah para pebisnis, pengusaha, atau pejabat. Karena golf memberi efek positif bagi pekerjaan mereka, terlebih pada saat membuat perencanaan dan program kerja.

Filosofi lain dalam bermain golf adalah tak ada lawan yang kuat, kecuali melawan diri sendiri. Jika seorang pegolf menang, bukan berarti dia mengalahkan lawannya, tetapi dia sudah mampu mengalahkan diri sendiri. Di dunia golf, para pemain diminta untuk mewasiti dan menjadi polisi untuk diri sendiri. Ini disebabkan area permainan sedemikian luasnya, sehingga tidak mungkin untuk selalu memonitor setiap gerak-gerik pemain di lapangan.

Hanya pada turnamen-turnamen utama, setiap grup pemain didampingi wasit berjalan. Untuk itu, perlu dipupuk integritas, kejujuran, dan tentunya pengetahuan peraturan yang cukup baik agar mampu menjadi wasit untuk diri sendiri. Maka, golf banyak disebut sebagai a gentlement game, sebuah permainan untuk para ksatria yang mengedepankan kehormatan, integritas, dan kejujuran

Nah, dalam persaingan bisnis, kalau Anda kalah berarti Anda juga kalah waktu. Kita bisa semakin ketinggalan. Sebaliknya, bila menang ya menang waktu. Kompetitor kita bisa semakin ketinggalan. Jangan lengah!





Selain para staf dan karyawan, saya bekerja bahu-membahu bersama adik-adik saya (Alim Mulia Sastra, Alim Satria, Alim Prakasa) serta beberapa direktur lainnya. Mana mungkin saya dapat mengatasi sendiri berbagai perusahaan dalam Grup Maspion yang dibagi dalam beberapa divisi?


Dia setiap divisi, saya berduet dengan salah satu adik saya. Misalnya, di Indal Aluminium, yang memproduksi peralatan rumah tangga dan produk aluminium lainnya, saya memimpin bersama Alim Prakasa. Kalau adik saya pergi ke luar negeri, ya, saya yang menangani.

Manusia yang pengalaman, yang profesional, dan berbakat sangat penting. Negara yang kekurangan sumber daya alam, tapi sumber daya manusianya berkualitas, bisa maju. Manusialah yang menentukan negaranya maju dan makmur. Sejarah telah membuktikannya. Negara-negara yang miskin sumber daya alam seperti Singapura dan Jepang bisa sangat maju karena tingginya kualitas sumber daya manusianya.

Di benak saya, tidak mesti harus dari famili, dari Tionghoa, atau kalangan tertentu. Yang penting, dia punya kontribusi. Kontribusi itu berarti gajinya itu lebih kecil daripada dia punya sumbangan untuk perusahaan. Dialah yang cocok di tempat itu. The right man on the right palace.

Satu orang CEO itu sama dengan komandan satu batalyon tentara. Tidak apa-apa kalau komandannya tidak mahir dalam menggunakan senjata otomatis atau meriam. Yang penting, dia bisa membawahi anak buahnya dan organisasi dan mempunya strategi. Jadi, seorang komandan tidak perlu atau tidak harus lebih pandai mengoperasikan senjata otomatis atau meriam dibandingkan prajuritnya.

Kalau Anda dekat dengan manajer-manajer yang berbakat dan profesional, dan Anda baik dengan mereka, otomatis mereka baik sama Anda. Anda jadi center-nya. Bahkan, Anda tidak akan kekurangan manajer.

Manusia mempunya kekurangan dan kelebihan. Kombinasi antara kekurangan dan kelebihan itu akan menjadikan sesuatu yang sempurna. Sebuah baut, misalnya, jangan dilihat dari ukurannya yang kecil. Meskipun kecil, baut sangat penting karena tanpa itu mesin tidak bisa jalan. Maka, sesungguhnya pegawailah yang membesarkan perusahaan. Perusahaan harus berterima kasih kepada pegawai (karyawan).

Para pegawai lama yang ikut berjuang sejak awal, dari perusahaan kecil menjadi besar, hendaknya ditempatkan di tempat yang semestinya. Dengan demikian, mereka merasa aman dan tidak sampai menjadi batu sandungan bagi perkembangan perusahaan.





Sebagai ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Timur, Alim Markus punya banyak pengalaman dalam menghadapi karyawan dan serikat pekerja. Berikut jurus Alim Markus untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara manajemen dan karyawan.


Saya merasakan belajar banyak dan kerja keras itu merupakan unsur kesuksesan. Kalau kita menanam padi, kita akan mendapat padi. Kalau kita menanam jagung, ya, mendapat jagung. Kalau kita menanam banyak, kita pun akan mendapat banyak hasil, sehingga usaha bisa maju dan sukses.

Namun, bekerja keras juga perlu pemikiran yang strategis. Maspion itu suatu pabrikan manufaktur. Tetapi Anda bisa lihat bahwa lokasi Maspion unit I, II, III, IV, V, dan di Jakarta berada di lokasi yang sangat strategis. Dengan demikian, usaha Maspion punya dua keuntungan. Jika ada kenaikan harga tanah pun untung karena lokasinya yang strategis.

Beri pegawai yang baik dan berprestasi honor dan jenjang karir yang baik, dan hari depan yang baik. Sehingga, mereka merasa diperhatikan. Tentu dengan sistem pengawasan dan sistem rotasi, dengan catatan hanya dua atau tiga bagian saja dari 10 bagian, misalnya. Tidak perlu dirotasi total. Bagian vital yang ada kerahasiaannya tidak semua orang bisa mengerjakannya.

Jangan menganakemaskan satu pegawai karena 99 pegawai bisa jadi anak tiri. Segala masalah yang menyangkut sumber daya manusia harus cepat ditangani, karena kalau tidak pegawai baik pun bisa menjadi jelek.

Sebagai pemimpin atau dewan direksi, kita harus saling menghormati dan menjalin komunikasi dengan staf dan karyawan. Di Maspion, tiga layer tersebut (pimpinan, staf, dan karyawan) penting menjaga kekompakan dan semangat teamwork. Tentu saja diimbangi dengan gaji atau honor yang layak.

Terhadap pegawai yang bekerja tidak teliti, ngawur, dan malas-malasan, saya bisa menegur. Tapi kalau kesalahannya tidak disengaja, juga pertama kali, saya kasih kesempatan untuk berubah atau memperbaiki diri. Sebagai bos, tekanan memang lebih berat. Tetapi jangan lupa memberikan kepada pegawai apa yang harus mereka dapatkan.

Cintailah pegawai karena gaji mereka sering kecil. Selain itu, ingat, setiap orang memiliki kehormatan. Untuk menjaga hubungan, kehormatan itu harus selalu dijaga. Lantas, apa kita saya mengelola karyawan Maspion yang jumlahnya lebih dari 20 ribu? Saya lugas saja menjawab: Mereka harus diperlakukan secara manusiawi!

Ellen Pantouw Rilis Buku Ketujuh



Oleh YENNY WIJAYANTI
Mahasiswi Universitas Kristen Petra Surabaya

Di tengah kesibukannya sebagai dosen Universitas Pelita Harapan (UPH) Surabaya, Ellen Ruth Pantouw masih sempat menulis buku. Belum lama ini, Ellen merilis buku terbarunya yang berjudul Sukses Usaha Bersama Semen Gresik: Profil Pemenang Semen Gresik UKM Award 2010.

“Buku ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin menjalankan usahanya,” ujar Ellen Pantouw dalam diskusi di ruang redaksi Radar Surabaya, Kamis siang (16/6/2011).

Di dalam bukunya, Ellen menceritakan liku-liku para pemenang UKM Award 2010 berjuang merintis usahanya hingga mencapai kemajuan yang signifikan. Berdasar hasil penelusuruannya, dia menemukan bahwa pendirian sebuah usaha kecil dan menengah (UKM) sebenarnya tidak membutuhkan teori yang berbelit serta modal yang banyak. Asalkan rajin, ulet, dan mau bekerja keras, seseorang dapat menjadi pengusaha yang sukses.

“Jadi, jika orang berpikir bahwa untuk menjadi pengusaha membutuhkan modal besar, itu salah. Saya melihat sendiri bagaimana para pemenang UKM Award ini awalnya tidak punya apa-apa,” kata alumnus Universitas Kristen Petra Surabaya itu.

Hal yang paling mengesankan bagi Ellen saat menemui pasangan suami-istri M Ikhwan Ashari dan Sunti’ah, pengusaha batik gedog di daerah Tuban. Usaha batik tulis tersebut ternyata dijalankan di sebuah rumah gedhek, bukan pabrik yang megah layaknya perusahaan besar. Pasutri ini benar-benar memulai usahanya dari nol. Namun, Ikhwan-Sunti’ah tidak patah semangat untuk menjalankan usaha batik tersebut.

"Mulailah dengan apa yang kamu punyai sekarang, gak usah takut. Kalau kamu memang punyanya segitu, kalau memang bujetnya gak mencukupi, ya, sudah. Syukuri saja, niati saja," ujar Ellen menirukan kata-kata Sunti’ah.

Ellen terbelalak ketika melihat kemajuan usaha Royyan Collection ini. Betapa tidak. Hanya dengan modal awal Rp 300 ribu, tanpa mesin jahit, dikerjakan di rumah berlantai tanah, kini omzet batik Ikhwan-Sunti’ah mencapai Rp 500 juta sebulan. Sekarang keduanya sudah bisa membeli rumah besar, yang juga dijadikan toko dan showroom, juga memiliki kendaraan roda empat.

“Bagi saya, pengalaman pasutri dari Tuban ini paling menyentuh. Dan, saya kira, ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja untuk menjadi wiraswasta,” ujar Ellen seraya memperlihatkan foto rumah lama Ikhwan Anshari yang berdinding gedhek dan berlantai tanah.

Ellen Pantouw sendiri, selain mengajar di UPH Surabaya dan SMAK Hendrikus, dikenal sebagai penulis yang produktif. Mantan wartawan Gloria ini sebelumnya telah menerbitkan enam buku, mulai dari biografi pendeta hingga kiat mencari pinjaman untuk modal usaha.

“Ini merupakan buku ketujuh saya,” katanya.

Lan Fang: Ciuman di Bawah Hujan




Novel Ciuman di Bawah Hujan ternyata mengandung perspektif gender yang kuat. Sang penulis, Lan Fang, menyinggung posisi perempuan dalam tradisi Tionghoa dan Jawa sama-sama tak punya pilihan. Perempuan sering dianggap kanca wingking, jadi subordinasi kaum laki-laki.

“Kalau dalam budaya Tionghoa ada cerita tentang Sam Pek Eng Tay, di Jawa juga ada cerita Ande-Ande Lumut. Kedua cerita klasik ini menggambarkan betapa perempuan ditempatkan dalam posisi tidak bisa memilih,” ujar Lan Fang, novelis yang juga pengurus Perkumpulan Indonesia-Tionghoa Jawa Timur.

Selain Lan Fang, diskusi yang dihadiri sekitar 200 mahasiswa ini menghadirkan pembicara Konsul Jenderal Amerika Serikat (AS) Kristen F Bauer dan Rektor IAIN Sunan Ampel Prof Nur Syam. Diskusi yang hangat ini digelar di lantai dua Gedung Rektorat IAIN Sunan Ampel.

Cerita Ande-Ande Lumut, papar Lan Fang, menggambarkan betapa beberapa gadis, Klething, berada dalam posisi sangat pasif. Orangtua bahkan sudah punya konsep bibit-bebet-bobot, siapa gerangan yang bakal jadi istri Ande-Ande Lumut. Si Klething Kuning akhirnya dipilih Ande-Ande Lumut meski sebenarnya tak diinginkan si Randa Dadapan.

Inti cerita Sam Pek Eng Tay dari negeri Tiongkok pun mirip. Menurut Lan Fang, orang Tionghoa, khususnya yang konservatif, selalu ingin menentukan calon jodoh anaknya. Dilihat shio, hari baik, fengshui, dan sebagainya. “Eng Tay sampai harus menyamar jadi laki-laki agar bisa sekolah,” ujar Lan Fang.

Sistem patriarki yang meminggirkan kaum perempuan seperti di Tiongkok atau Indonesia, menurut Lan Fang, tak lepas tradisi agraris yang kuat di Asia. Ketika bidang pertanian menjadi sumber nafkah, maka anak laki-laki dianggap lebih penting ketimbang perempuan. “Anak perempuan malah dilihat sebagai beban,” tukas Lan Fang.

Konjen AS Kristen Bauer menekankan bahwa persoalan gender atau peran laki-laki dan perempuan di masyarakat tak lepas dari konstruksi sosial masyarakat. Cara pandang kita yang terus berubah sesuai dengan zaman. “Basic biologis laki-laki dan perempuan sih tetap sama,” ujarnya.

Karya-karya sastra, menurut Kristen, selalu merefleksikan cara pandangan masyarakat saat itu. Pembaca bisa mengidentifikasi karakter-karakter dalam karya itu. “Tapi karya sastra juga bisa memimpin masyarakat dalam melakukan perubahan,” katanya.

Konjen AS ini mengaku senang karena novel Lan Fang ini bisa membuka ruang diskusi tentang gender di IAIN Sunan Ampel. Meski sudah terjadi loncatan besar dalam soal gender, dia optimistis Indonesia bisa berkembang menjadi lebih baik lagi ke depan.

13 June 2011

Peter A. Rohi, "Penemu" Rumah Soekarno



Peringatan hari lahir Soekarno, proklamator dan presiden pertama RI, di Surabaya, Senin (6/6/2011) lalu, punya makna penting bagi bangsa Indonesia. Di sini terungkap kembali, setelah ‘ditenggelamkan’ selama tiga dekade, bahwa Bung Karno ternyata lahir di Surabaya.

Oleh Lambertus Hurek

PENGUNGKAPAN fakta sejarah ini tak lepas dari kerja keras Peter A. Rohi (69) dan kawan-kawan dari Soekarno Institute. Tak heran, Peter sebagai direktur lembaga kajian ini tampak sangat bahagia ketika mendapat ucapan selamat dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di rumah tempat kelahiran Bung Karno, Jalan Pandean IV/40 Surabaya.

Berikut petikan wawancara saya dengan Peter A Rohi di kediamannya, Kampung Malang VIII/6, mengenai liku-liku dan proses ‘menemukan kembali’, reinventing, rumah kelahiran Bung Karno di Kampung Pandean itu.


Bagaimana ceritanya sampai akhirnya Soekarno Institute mengumumkan kepada publik bahwa Bung Karno sebenarnya lahir di Surabaya?

Masalah ini sebetulnya sudah lama menjadi keresahan banyak orang. Sekitar 10 tahun lalu, saya bersama Cak Kadaruslan (almarhum), dan Pak Tjuk K. Sukiadi berdiskusi kecil di TIM Jakarta. Kami sepakat harus ada pelurusan sejarah, khususnya tempat kelahiran Bung Karno. Kenapa? Dulu, sebelum tahun 1965, di pelajaran sejarah dan buku-buku itu disebutkan bahwa Bung Karno itu lahir di Surabaya, bukan di Blitar.

Kita bisa periksa itu di semua buku yang terbit sebelum tahun 1965. Termasuk di buku otobiografi Bung Karno yang ditulis Cindy Adams. Eh, belakangan, setelah 1965, fakta sejarah yang tertulis di buku terjemahan Cindy Adams itu berbeda. Ternyata, terjemahan itu dilakukan pihak militer dan Kopkamtib karena ada kepentingan politik.

Maksudnya?

Indoktrinasi dengan memelintir fakta sejarah ini, menurut kami, merupakan cara untuk menjauhkan Soekarno dari rakyat ketika meninggal nanti. Kondisi kesehatan Bung Karno setelah 1965 memang sudah kurang bagus, sehingga pihak militer mengantisipasi tempat pemakaman Bung Karno setelah meninggal nanti. Bayangkan jika jenazah Bung Karno tidak dimakamkan di Blitar, tapi di Surabaya. Nah, terjemahan bukunya Cindy Adams itu sudah diluruskan. Di edisi revisi tertulis Bung Karno lahir di Surabaya.

Lantas, mengapa wacana yang sudah lama itu baru direalisasikan sekarang?

Saya, Pak Tjuk Sukiadi, Cak Kadar kan punya kesibukan masing-masing. Kemudian tahun lalu Cak Kadar meninggal dunia. Menjelang pemakaman, Pak Tjuk Sukiadi memberikan kata sambutan. Ternyata, Pak Tjuk menyinggung kembali apa yang pernah kami bicarakan di TIM dulu itu. Dari situ, tekad kami semakin kuat untuk segera melakukan sesuatu karena ini merupakan amanat dari Cak Kadar. Jadi, apa yang kami lakukan kemarin itu sekaligus membayar utang kepada almarhum Cak Kadar.

Apa yang Anda lakukan untuk meyakinkan masyarakat bahwa Bung Karno benar-benar lahir di Surabaya?

Tahun lalu kami adakan seminar di Balai Pemuda membahas kota tempat lahir Bung Karno. Pembicaranya beberapa akademisi, sejarawan dari LIPI, Universitas Trisakti, dan sebagainya. Mereka melakukan studi literatur, membaca arsip-arsip sebelum 1965, membaca buku-buku di Perpustakaan Nasional. Dan semua literatur menyebutkan Bung Karno lahir di Surabaya. Kecuali buku-buku yang diterbitkan setelah 1965 oleh rezim Orde Baru.

Anda tidak membahas masalah ini dengan keluarga Bung Karno?

Oh iya. Hasil seminar itu kami sampaikan kepada Ibu Megawati Soekarnoputri di Jakarta. Saya bersama Pak Bambang DH, dan Pak L. Soepomo diterima langsung oleh Ibu Megawati. Dan beliau berterima kasih karena kami sudah melakukan upaya peluruskan sejarah tentang Bapak Bangsa Indonesia.

Mengapa para intelektual dan sejarawan tidak segera melakukan pelurusan?


Di zaman Orde Baru jarang ada intelektual yang punya keberanian. Hanya beberapa intelektual saja yang berani seperti Dr Nurinwa dari LIPI. Tapi orang-orang Barat, yang memang punya tradisi intelektualitas yang tinggi, tidak termakan rekayasa sejarah oleh rezim Orde Baru. Peneliti-peneliti asing tetap yakin bahwa Bung Karno lahir di Surabaya. Karena apa? Mereka itu studi arsip, membaca dokumen yang tebal-tebal itu. Beda dengan orang kita yang cuma dengar-dengar saja... katanya, katanya, katanya....

Orang kita tahunya, ya, dari pelajaran sejarah yang sudah dipelintir itu. Anda bisa bayangkan, berapa juta orang Indonesia yang mendapat informasi yang salah tentang Bung Karno. Maka, kita tidak bisa tinggal diam. Harus ada action yang nyata untuk meluruskan sejarah.

Bagaimana jika ada intelektual lain yang punya bukti bahwa Bung Karno ternyata lahir di Blitar atau tempat lain?

Oh, silakan bawa bukti-bukti, dokumen, arsip ke sini! Mari kita uji bersama secara ilmiah. Kami sih siap adu bukti, adu arsip, dan adu dokumen. Saya dari dulu pasang dada untuk Bung Karno. Dulu, di zaman Orde Baru, saya dipanggil aparat berwajib karena membuat tulisan di Sinar Harapan untuk meluruskan fakta sejarah tentang Bung Karno di pelajaran PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) yang sengaja diselewengkan. Jadi, saya sudah biasa pasang dada, Bung!

Setelah rumah tempat kelahiran Bung Karno dikenal publik dan diakui Pemkot Surabaya, apa lagi langkah Anda dan Soekarno Institute?


Tugas utama kami untuk meluruskan fakta sejarah, bahwa Bung Karno lahir di Surabaya, sudah selesai. Sekarang tugas pemerintah untuk merawat dan menjadikan rumah itu sebagai museum, bangunan cagar budaya, atau situs bersejarah, silakan. Saya sih ingin kita meniru India yang punya Gandhi Memorial. Itu akan menjadi kebanggaan seluruh bangsa. Setiap tamu negara yang datang ke India biasanya diantar untuk melihat Gandhi Memorial. Seharusnya rumah di Kampung Pandean itu juga begitu.

Jadi, rumah itu perlu diambil alih pemerintah?


Intinya begini. Bung Karno itu tidak pernah mau menyusahkan rakyatnya. Beliau bersedia mundur dari jabatannya untuk menghindari pertumpahan darah di kalangan rakyat. Begitu juga dengan rumah di Pandean, jangan sampai merugikan pemilik sekarang. Negara tidak boleh membuat dia rugi. Baik pemerintah maupun pemilik masyarakat harus sama-sama untung. Jadi, negara harus memberikan ganti untung kepada pemilik rumah itu. (*)



Wartawan Investigasi yang Gigih

Jam terbang Peter A. Rohi di dunia jurnalistik sudah sulit dihitung saking banyaknya. Begitu pula koran-koran yang ikut dia bidani, kemudian ditinggal, untuk membuat koran baru. Karena itu, Peter hampir punya kedekatan dengan hampir semua pentolan media-media utama di tanah air.

“Saya senang melihat koran yang pernah saya bidani tetap bertahan selama bertahun-tahun meskipun saya tidak lagi berada di dalam. Artinya, secara tidak langsung saya ikut memberi makan kepada banyak orang,” ujar Peter Rohi kepada saya.

Ketika koran-koran yang dibidaninya gagal di pasar, kemudian mati, Peter pun tetap saja ceria. Bicaranya tetap keras, tawanya pun selalu lepas, seolah tak pernah ada masalah. Tenggelam beberapa saat, kemudian muncul lagi dengan koran baru. Membuat koran, bagi wartawan kawakan sekelas Peter Rohi, bukan pekerjaan sulit. Yang sulit adalah menjual dan mempertahankan keberadaan surat kabar itu.

“Sebab, persaingan media sekarang ini sangat luar biasa. Lha, kalau saya harus menghadapi sendirian, ya, nggak mungkin,” ujar pria yang juga akrab disapa Kore Rohi di kalangan masyarakat Pulau Sabu itu.

Mantan anggota KKO (sekarang Korps Marinir) ini memang tipe manusia lapangan, bukan orang kantoran. Karena itu, ketika mendengar kabar tentang penderitaan warga di daerah-daerah terpencil, Peter langsung berangkat ke lokasi. Dia tak peduli sang bos atau atasannya memberi izin atau tidak. Beberapa hari kemudian, Peter mengirim reportasenya dari jauh.

“Saya bukan tipe wartawan yang suka menulis berita ecek-ecek. Saya punya prinsip bahwa tulisan saya harus jadi headline, menyangkut kemanusiaan, berkesinambungan, dan harus direspons oleh pemerintah. Kalau tulisan kita didiamkan saja oleh pemerintah, buat apa?” tukasnya.

Begitulah. Pada 1977, reportase Peter A Rohi di koran Sinar Harapan berhasil ‘memaksa’ Presiden Soeharto turun ke Sumba Timur, NTT, tepatnya di daerah Tambundung. Saat itu serangan hama belalang yang dahsyat membuat 72.000 warga menderita kelaparan.

Peristiwa kemanusiaan ini tak mampu ditangani oleh pemerintah daerah. Tanpa bantuan pemerintah pusat, bisa dipastikan banyak orang yang akan meninggal dunia. “Pak Harto akhirnya turun langsung ke Sumba Timur. Dan peristiwa ini akhirnya menjadi sorotan nasional,” kenang Peter.

Sukses mengangkat kasus kelaparan di NTT, Peter kemudian bikin ‘geger’ lagi dengan liputan investigasinya tentang kasus harta karun di Riau, menyusutnya air Danau Toba, sisa-sisa tentara Jepang di Morotai, pembunuhan massal di Pulau Babar, hingga konflik di Timor Timur (sekarang Timor Leste).

Peter menjadi wartawan pertama yang menyusup ke Timor Portugis dan wartawan terakhir yang meninggalkan Timor Timur setelah kerusuhan pada 1999.

Karena kritiknya yang tajam menentang pembunuhan misterius, Peter mendapat kiriman paket kepala manusia. Di usia menjelang 70, sang wartawan senior ini tetap menulis dan bikin gebrakan yang akhirnya juga direspons pemerintah. Termasuk ‘menemukan’ rumah kelahiran Bung Karno di Surabaya. (rek)

BIODATA SINGKAT

Nama : Peter Apollonius Rohi
Lahir : Timor, NTT, 14 November 1942
Istri : Welmintje Giri
Anak : 5 orang
1. Engelbert Johanes Rohi
2. Manja Maria Rohi
3. Don Peter Rohi
4. Joaquim Lede Valentino Rohi
5. Wilmar do Nataga Kant Rohi

Pekerjaan : Wartawan, penulis buku, kolumnis
Organisasi : Soekarno Institute (direktur)
Hobi : Bertualang, menulis
Alamat : Kampung Malang VIII/6 Surabaya

PENDIDIKAN
Komunikasi dan Intelijen Militer (Trikora)
Akademi Wartawan Surabaya (AWS)

PENGALAMAN MILITER
Message Center di KKO (Marinir)
Detasemen Amphibi pada Operasi Tumpas di Sulawesi
Komandan Peleton Panser Intai Amphibi (Dwikora)
Batalyon Tank Amphibi KKO

PENGALAMAN JURNALISTIK
Wartawan majalah Sketsmassa
Wartawan Sinar Harapan
Wartawan Pikiran Rakyat
Redaktur Pelaksana Suara Indonesia
Redaktur pelaksana Jayakarta
Wartawan Surya
Redaktur pelaksana Suara Bangsa
Pemimpin redaksi Harian Indonesia
Ikut mendirikan Memorandum
Ikut mendirikan Suara Pembaruan
Merintis kembali Sinar Harapan
Produser senior wartatv.com




Dimuat Radar Surabaya edisi Minggu, 12 Juni 2011

12 June 2011

Kwan Sing Bio Surabaya





Dari sekian banyak kelenteng di Kota Surabaya, Kwan Sing Tee Kun Bio tergolong kelenteng paling anyar. Tempat ibadah Tridharma (TITD) ini berlokasi di Lebak Jaya I Tengah Utara 2-6 Surabaya. Ahad (12/6/2011), ratusan jemaat Tridharma dari berbagai kota di Jawa Timur memperingati hari jadi (sejit) kedelapannya.

Selain sembahyang bersama, sejit Kwan Sing Bio juga ditandai pemasangan denglong (baca: tenglung) sebagai simbol kedamaian dan persaudaraan. Tenglung alias lampion ini diimpor khusus dari Tiongkok. Pesta lampion ini juga dimeriahkan atraksi barongsai oleh sanggar binaan Kwan Sing Bio.

“Intinya, kita ingin mendoakan agar bangsa dan negara kita, khususnya warga Surabaya, tetap hidup rukun, damai, dan mendapat berkat dari Tuhan,” ujar Teddy Tjandra, ketua panitia sejit, kepada saya.

Sebagai kelenteng baru, menurut Teddy, selama ini pihaknya belum pernah mengadakan perayaan berskala besar. Yang ada hanya sembahyang rutin dan berbagai kegiatan kerohanian. Ada juga latihan barongsai dan senam untuk masyarakat. Namun, pada sejit kedelapan, pengurus Kwan Sing Bio mencoba untuk mengajak perwakilan kelenteng di Jawa Timur untuk berpartisipasi.

“Angka delapan ini kan cukup istimewa. Jadi, kami ingin menggelar acara yang agak lain dari biasanya,” jelas Teddy seraya tersenyum.

Diawali dengan tasyakuran pada Kamis (9/6) lalu, perayaan HUT kedelapan Kwan Sing Bio baru ditutup pada Sabtu (18/6) mendatang. Ada juga kejuaraan catur untuk kalangan jemaat.
“Nah, pemasangan tenglung ini merupakan bagian dari perayaan ulang tahun Kwan Sing Bio ini,” katanya.

Irwan Setiadi, penanggung jawab acara, menambahkan, sejak awal pihaknya menekankan agar perayaan sejit kedelapan ini menjadi ajang silaturahmi dan persaudaraan di antara berbagai elemen masyarakat. Karena itu, panitia juga mengundang para tokoh lintas agama untuk mengikuti syukuran di halaman kelenteng.

“Visi kami memang menciptakan kedamaian dan toleransi di antara umat beragama. Itu juga yang menjadi tema ulang tahun kedelapan Kwan Sing Bio,” ujar Irwan Setiadi.

Cikal bakal kelenteng ini sebenarnya dimulai pada 28 Februari 1993. Saat itu Wali Kota Surabaya Poernomo Kasidi meresmikan Vihara Widya Surya Padma. Vihara ini delapan tahun silam dikembangkan menjadi TITD Kwan Sing Bio.

Mario Andreas: Bahasa dan Wisata ke Tiongkok




Di usia yang masih relatif muda, 28 tahun, Mario Andreas telah mampu membina hubungan bisnis, pariwisata, bahasa, dan kebudayaan dengan warga Tiongkok. Bahkan, Mario belum lama ini menerbitkan buku laris berjudul Cepat & Praktis Belajar Bahasa Mandarin.

Sejak kuliah di program studi Tionghoa Universitas Indonesia, Jakarta, Mario Andreas sudah belajar banyak tentang bahasa, budaya, dan berbagai aspek seputar Tiongkok. Saking tertariknya dengan negara berpenduduk 1,3 miliar ini, Mario akhirnya bisa menguasai bahasa Mandarin dengan cepat. Dia kemudian mendalami bahasa Mandarin di Taiwan selama satu tahun. Tepatnya di National Chengchi University.

Kepada para pembaca bukunya, Mario selalu meyakinkan bahwa belajar bahasa Mandarin sebetulnya tidak sulit. Siapa pun bisa mempelajari dan menguasai dengan cepat. “Yakinkan dirimu bahwa kamu bisa,” ujar pria kelahiran 18 April 1982 ini.

Selama ini banyak orang selalu menganggap Mandarin sebagai bahasa tersulit di dunia, tak mudah dipelajari oleh orang asing. Nah, sikap mental seperti ini akhirnya membuat motivasi orang merosot ketika harus mendalami bahasa Mandarin.

“Jangan gampang menyerah. Kamu harus punya motivasi yang sangat kuat,” ujarnya.

Jika ada kesempatan, Mario juga mengimbau orang Indonesia yang tengah belajar Mandarin baik di lembaga pendidikan formal maupun kursus-kursus agar melanjutkan studi di Tiongkok atau Taiwan. Sebab, saat ini ada begitu banyak perguruan tinggi di Tiongkok yang membuka program studi Mandarin untuk orang asing. Biasanya, satu periode pelatihan berlangsung selama tiga bulan.

Tiongkok sendiri rupanya berkepentingan agar masyarakat internasional sebanyak mungkin bisa berkomunikasi dalam bahasa nasionalnya. Ini pun tak lepas dari makin menguatnya pengaruh Tiongkok dalam investasi dan ekonomi global. “Silakan ambil kursus yang ditawarkan itu. percayalah, kamu akan jauh lebih cepat menguasai bahasa Mandarin,” katanya.

Belajar bahasa asing mana pun, menurut dia, harus dicoba, dilatih, dan selalu dipraktikkan sehari-hari dalam berbagai kesempatan. Harus sering-sering merangkai kata-kata yang baru ditemukan. Terus berlatih dan berlatih sampai mahir. “Nah, kalau kita berada di Tiongkok, maka kita terus dituntut untuk menggunakan bahasa Mandarin sejak bangun tidur hingga tidur kembali,” katanya.

TIAP HARI ADA HOTEL BARU

Dalam sepuluh tahun terakhir, industri pariwisata di Tiongkok berkembang sangat pesat. Sebagai negara terluas di dunia, Tiongkok punya begitu banyak objek wisata yang sangat kaya dan beragam. Begitu banyak situs bersejarah yang berusia ribuan tahun dirawat dengan baik untuk disaksikan para wisatawan dari berbagai negara di dunia.


Rata-rata dalam setahun tercatat 120 juta turis asing berkunjung ke Tiongkok. Devisa yang diraih dari sektor ini pun tidak main-main, USD 29 miliar. Perkembangan sektor pariwisata akhirnya memicu perkembangan industri perhotelan. “Boleh dikata, hampir setiap hari didirikan hotel baru di Tiongkok,” katanya.

Dari sekitar 13 ribu hotel berbintang yang tersebar di seluruh Tiongkok, beberapa di antaranya merupakan hotel-hotel berjaringan internasional. Sebut saja Hyatt, Sheraton, Hilton, Marriott, Shangri-La, Holiday Inn, Four Seasons, hingga Kempinski. Mario Andreas memberikan beberapa tips bagi warga Indonesia yang hendak berwisata ke Tiongkok, khususnya yang tidak ditangani biro perjalawan wisata.

Semua hotel di Tiongkok, menurut Mario, punya jadwal check-in setelah pukul 14.00, dan check-out sebelum pukul 12.00 di hari berikutnya. Saat check-in, tamu akan diminta menunjukkan paspor dan mengisi formulir yang telah disediakan. Pihak hotel juga umumnya meminta uang jaminan, yang akan dikembalikan setelah check-out.

Selama menginap di hotel, ungkap Mario, sebaiknya Anda membawa hotel room card ke mana pun Anda pergi. Pada kartu itu terdapat nomor telepon dan alamat hotel dalam bahasa Mandarin dan Inggris. Hal ini akan memudahkan tamu untuk mengenali hotel tempatnya menginap alias tidak sampai kesasar.

Tarif hotel di bawah bintang tiga berkisar antara USD 12 hingga USD 25 per malam untuk standard room. Hotel bintang tiga berkisar USD 25-50. sedangkan bintang empat atau lima USD 50-100. Fasilitas yang disediakan hotel-hotel di Tiongkok tak kalah dengan di negara-negara maju umumnya. Apalagi, hotel-hotel berbintang di kota-kota besar macam Shanghai, Hongkong, Beijing, Guangzhou, Xian, atau Shenzhen.

“Jangan ragu-ragu bertanya kepada resepsionis. Mereka umumnya bisa berbahasa Inggris dengan lancar,” ujar Mario Andreas.

JANGAN SEGAN MENAWAR

Tiongkok merupakan negara yang sangat luas dengan begitu banyak objek wisata menarik. Padahal, waktu yang dimiliki wisatawan sangat terbatas. Berikut tips dari Mario Andreas untuk para pelancong asal Indonesia.


Sebelum berangkat, rencanakan tempat-tempat yang akan dikunjungi. Carilah informasi mengenai tempat-tempat itu di internet, brosur, agen pariwisata, atau orang-orang yang pernah jalan-jalan di Tiongkok.

“Ingat, Tiongkok itu negara yang sangat luas, sehingga jarak antara satu kota dengan kota lain sangat jauh,” ujar Mario Andreas.

Pertimbangkan juga transportasi yang nyaman. Syukurlah, negara tirai bambu ini punya fasilitas transportasi umum yang sangat lengkap dan nyaman untuk turis asing. Kita bisa menggunakan bus umum atau taksi untuk keliling kota. “Tapi, saat jam pulang kerja, sebaiknya gunakan subway agar tidak terjebak kemacetan,” katanya.

Hampir semua kota di Tiongkok menawarkan tempat belanja yang berlimpah. Aneka macam barang, mulai yang paling sederhana hingga hi-tech tersedia di sana. Namun, Mario mengingatkan bahwa kelakuan pedagang di Tiongkok tak berbeda jauh dengan di Indonesia. Yakni, sangat manipulatif dan suka menawarkan harga tinggi, khususnya untuk turis.

“Maka, kita harus rajin-rajin menawar dan mengecek kondisi barang sebelum membeli. Banyak barang di Tiongkok yang kualitasnya tidak sama,” pesan Mario. Akan lebih aman jika para pelancong baru ditemani oleh kenalan atau teman yang sudah lama tinggal di Tiongkok. Dengan begitu, kita terhindar dari permainan ‘goreng harga’.

Bagi masyarakat Indonesia, yang mayoritas muslim, kehalalan makanan menjadi isu yang sangat krusial. Ini bisa dimengerti mengingat restoran-restoran di Tiongkok selalu menawarkan menu babi. Sayur-sayuran pun sering dicampur dengan organ babi. Karena itu, umat Islam dianjurkan memilih restoran vegetarian, sea food, atau restoran muslim.

“Saat ini kita mudah menemukan restoran muslim di kota-kota besar seperti Guangdong, Shenzhen, Xian, Beijing, atau Shanghai,” tutur Mario yang juga konsultan wisata dan penerjemah bahasa Mandarin itu.

Mayoritas orang Tiongkok tidak bisa berbahasa Inggris, apalagi berbahasa Indonesia. Karena itu, sangat diajurkan membawa kamus kecil yang dilengkapi aksara hanzi. Bila mengalami kesulitan, kita bisa menunjukkan kata-kata tertentu di kamus itu untuk mendapat bantuan sekadarnya. (lambertus hurek)

11 June 2011

Senja Kala Gang Dolly




Sudah lama ada keinginan Pemerintah Kota Surabaya untuk menutup Gang Dolly, Jarak, Moroseneng, Bangunrejo... dan beberapa kompleks pelacuran di Sidoarjo. Tapi keinginan itu sulit terwujud karena banyak pertimbangan. Reaksi pro-kontra muncul dari banyak kalangan.

Apakah mungkin kota sebesar Surabaya yang sangat maju dan modern, dengan penduduk 4 juta, bisa bebas dari prostitusi?

Gang Dolly dan kompleks-kompleks PSK (pekerja seks komersial) lain di Kota Surabaya sejatinya ilegal. Tak pernah ada izin dari pemerintah, parlemen, dan sebagainya. Dia tumbuh sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat modern. Kata orang, pelacuran itu sudah ada jauh sebelum Masehi. Hari ini ditutup, bulan depan, akan muncul lagi di tempat yang sama atau tempat lain.

Jangankan Dolly atau Jarak yang sudah bertahan 50-an tahun, kompleks PSK pinggir kali pun susah diberantas. PSK-PSK bersama germo kucing-kucingan sama aparat. Razia hari ini, besok, bahkan malam hari buka praktik lagi. Hal yang sama di sepanjang rel Wonokromo, Irian Barat, Bundaran Waru, pinggir Jalan Pangsud, dan entah di mana lagi.

Setelah reformasi, 1998, DPRD Surabaya sempat bersikeras menutup Gang Dolly. Saat beberapa kali diskusi serius dengan Pak Hidayat Tauhid (sekarang almarhum), kemudian Pak Bambang Sujiono (DPRD Jatim, juga sudah almarhum), mengenai masalah yang memang sangat kompleks itu. Juga beberapa kali melakukan kunker, dialog, hingga 'pembinaan', bersama Komisi E baik DPRD Jawa Timur maupun DPRD Surabaya.

Pak Hidayat, ketua Komisi E DPRD Surabaya, waktu itu menyatakan sudah saatnya PSK-PSK itu dientaskan. Cari pekerjaan lain. Mana ada PSK yang bahagia dengan pekerjaannya?

Lantas, muncul semacam perda atau surat keputusan untuk menutup Gang Dolly dan semua lokalisasi di Surabaya. Toh, kenyataannya perda itu cuma macan kertas. Lokalisasi tak bisa ditutup drastis begitu saja, tapi harus melalui proses. Salah satu cara efektif yang bisa dilakukan adalah melarang masuknya PSK baru. Syaratnya, aparat keamanan tak boleh main mata atau kompromi dengan para germo dan pemasok PSK.

Rupanya, ada perkembangan menggembirakan. Makin tahun jumlah PSK makin berkurang. Sebagai gambaran, tahun 2006 ada sekitar 3.000 PSK. Bahkan, 10 tahun lalu mendekati 5.000 PSK hanya di satu kompleks. Kita belum bicara PSK-PSK di lokalisasi di luar Kecamatan Sawahan.

Jika tren ini terus berlanjut, masyarakat di kawasan Dukuh Kupang, Banyuurip, dan sekitarnya boleh berharap dalam dua tiga tahun ke depan Dolly akan habis. Apalagi Jarak yang sejak dulu hanya menyediakan PSK-PSK 'kewut' alias tuwir alias tua.

Pertanyaannya, setelah Gang Dolly tutup, akankah prostitusi hilang dari Surabaya?

Hmmm.... Sejarah membuktikan bahwa 'profesi tertua' ini selalu mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Ia bisa praktik dari hotel ke hotel, salon, panti pijat, vila, dan sebagainya.

Kini, di zaman internet, germo-germo pun membuka bisnis esek-esek online. Orang tak perlu capek-capek mencari PSK ke Dolly atau Moroseneng -- dengan risiko digerebek Satpol PP dan polisi atau ketahuan orang -- tapi cukup duduk manis di depan komputer, laptop, atau ponsel.

Yang pasti, selama permintaan akan PSK masih ada, maka selama itu pula selalu ada penawaran. Apa pun caranya!

09 June 2011

Bacang Peneleh yang Wuenak




Senin 6 Juni 2011, bertepatan dengan tanggal 5 bulan kelima kalender Imlek. Warga Tionghoa punya acara tahunan pecun alias duan wujie. Inilah saat paling tepat untuk menikmati bacang, panganan khas Tionghoa yang selalu disajikan setiap Pecun.

Pecun tanpa bacang tidak akan afdal! Bagaikan sayur tanpa garam!

Hmm... Kalau tahun lalu saya mampir ke rumah Bu Swie Giok di Sidoarjo, pembuat bacang spesialis hari pecun yang sangat terkenal. Sayang, tahun lalu bacangnya belum matang. Maka, saya hanya bisa menikmati teh hijau impor dari Tiongkok.

Kali ini saya mampir ke Bu Giok yang di Jalan Peneleh 92 Surabaya. Tepatnya Oei Kung Giok, pembuat bacang terkenal di Surabaya. Bu Giok tiap hari bikin bacang, tak hanya musiman setiap pecun. Bahkan, BAKCANG PENELEH sudah cukup terkenal di kalangan penggemar bacang di Surabaya, Jawa Timur, bahkan katanya di luar Jawa.

“Bacang buatan saya juga dikirim ke luar negeri seperti Belanda. Jakarta, Bandung, Semarang, Malang, Banjarmasin, Makassar... banyak kotalah yang pesan ke sini,” tutur Oei Kung Giok dengan sangat ramah.

Oh ya, di sebelah rumah Bu Giok, saat itu sedang ada upacara peresmian situs bersejarah rumah kelahiran Bung Karno di Jalan Pandean IV/40 Surabaya oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Jalan Peneleh ditutup sementara saking banyaknya kendaraan pejabat, politisi, aktivis, budayawan, wartawan, hingga anak-anak sekolah.

Maka, saya bisa menyelam sambil minum air. Mengikuti acara di Pandean Gang 4, hanya 50-an meter dari Bakcang Peneleh, kemudian berbincang dan mencicipi bacang buatan Bu Giok yang terkenal itu.

“Bu, hari ini kan pesta bacang, perayaan pecun, bagaimana pesanan bacang saat ini?” pancing saya. Pertanyaan yang terkesan basa-basi, tapi sangat efektif menjadi pintu masuk berdialog dengan Bu Giok. Maka, perbincangan pun berlangsung akrab, layaknya teman lama saja.

Benar sekali. Pemesanan pada musim pecun ini memang meningkat drastis. Kalau hari biasa hanya 400 bungkus, saat ini melejit hingga 6.000 bungkus. Naik 1.400 persen! Panen besar untuk Bu Giok dan dua anaknya yang menekuni usaha ini sejak 20 tahun silam.

Banyaknya order ini juga tak lepas dari perubahan kebiasaan di kalangan masyarakat Tionghoa. Kalau dulu bacang dibuat di rumah, masak sendiri, cukup belanja ketan, daging, bumbu, dan bahan-bahan lain, sekarang orang lebih suka membeli bacang yang sudah jadi. Sebab, proses memasak bacang yang makan tempo lima sampai enam jam, dengan api kompor atawa panas yang stabil, memang cukup merepotkan.

Maka, orang-orang macam Oei Kung Giok inilah yang menangguk rezeki tahunan. Bagus juga orang bagi-bagi rezeki kepada para pembuat bacang. Industri rumahan bacang [Bu Giok juga terima pesanan nasi kuning, nasi kotak, nasi goreng, soun goreng, pastel tutup, kue cang] bisa berkembang dengan baik. Sama-sama enaklah!

Ada beberapa isian bacang cap Peneleh ini. Harganya cukup terjangkau mengingat rasanya memang mantap. Saya sudah mencoba beberapa kali.

Ayam Rp 13.000
Ayam telur Rp 15.000
Ayam spesial Rp 24.000
[Disebut spesial karena lengkap dengan jamur, telur, sosis, dan sebagainya]

Babi Rp 13.000
Babi telur Rp 15.000
Babi spesial Rp 22.500
Vegetarian Rp 10.000

Di mana-mana yang namanya bacang itu bahan dasarnya beras ketan. Tapi, menurut Bu Giok, beberapa pelanggan dari Jakarta malah senang memesan bacang dari beras biasa. Bu Giok, yang suaminya sudah meninggal dunia ini, pun melayani dengan senang hati. Bacang pakai beras ini jadinya seperti lontong di pasaran.

Seperti industri rumahan umumnya, BAKCANG PENELEH ini pun mula-mula dirintis sebagai usaha kecil-kecilan oleh Bu Lena (sekarang 83 tahun), mamanya Oei Kung Giok. Setiap kali pecun, banyak orang memesan bacang sama Bu Lena.

Aha, ternyata bacang yang diproduksi secara tradisional ini disukai kerabat, kenalan, relasi... yang kemudian gethuk tular ke mana-mana. Sementara itu, bacang sudah berkembang menjadi makanan yang disukai berbagai kalangan, tak hanya warga Tionghoa pada saat pecun saja. Pelanggan meminta agar bacang ini bisa diperoleh setiap saat.

Maka, bisnis yang tadinya hanya musiman akhirnya berubah menjadi bisnis rutin. Tentu saja, jumlah bacang yang dibuat di hari-hari baisa lebih sedikit ketimbang saat pecun. Rata-rata setiap hari Bu Giok menghabiskan beras ketan sebanyak 20-25 kilogram. Sekali masak, di hari biasa, ada sekitar 150 bacang yang dibungkus erat dengan daun bambu.

BAKCANG PENELEH
Jalan Peneleh 92 Surabaya
Telepon 031 531 7521, 031 7190 9666

08 June 2011

Pinggo Jati Rahmanu, Dalang Remaja



Oleh NI LUH ANGRAENI/ENDAH FADILAH

Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Lahir dari pasangan suami-istri yang sama-sama seniman kawakan membuat Pringgo Jati Rachmanu mewarisi bakat seni. Kini, remaja 15 tahun itu memilih menekuni dunia pewayangan.


RUMAH berlantai tiga di Perumahan Bluru Permai itu pekan lalu terlihat ramai. Sejumlah remaja sedang asyik memainkan gamelan Jawa. Sementara di bagian depan seorang remaja tampak lincah memainkan wayangnya.

Untuk ukuran ABG, sabetannya boleh dibilang sangat oke. Celetukan-celetukan sang dalang kerap membuat teman-temannya tertawa atau ikut menimpali dengan gojlokan-gojlokan yang khas.

Yah, si dalang remaja itu tak lain Pringgo Jati Rachmanu. Putra sulung pasangan Subiantoro (45) dan Sri Mulyani (35) ini memang aktif berlatih memainkan wayang diiringi teman-temannya yang main karawitan. Sang ayah, Subiantoro, dikenal sebagai seniman serbabisa. Ki Toro, sapaan akrab Subiantoro, selain komposer musik tradisional dan kontemporer, juga menekuni pedalangan Jawa Timur. Adapun Sri Mulyani tak lain penari sekaligus koreografer berprestasi di Jawa Timur. Baik Ki Toro maupun Sri Mulyani sudah beberapa kali menggelar pertunjukan di luar negeri.

Begitulah. Suasana rumah, lingkungan pergaulan orangtua, yang sangat kental dengan kesenian ini ikut berperan dalam mematangkan bakat seni dalam diri Pringgo. Namun, awalnya si Pringgo cilik kurang tertarik dengan aktivitas ayah ibunya. Ketika Ki Toro sedang berlatih, mempersiapkan pergelaran, Pringgo tenang-tenang saja. Belum ada ketertarikan untuk sekadar mencoba memainkan wayang atau memainkan gamelan.

Baru setelah berusia 12 tahun, tepatnya awal 2007, Pringgo merengek minta diajari main wayang kepada Ki Toro. Tentu saja, seniman yang pernah memukau publik Belanda dan Australia ini terkejut bercampur haru. “Sebab, selama ini saya nggak pernah mengarahkan dia jadi seniman. Saya biarkan semuanya mengalir begitu saja,” kenang Ki Toro seraya tersenyum.

Namanya juga putra sang dalang, potensi seni dalam diri Pringgo memang luar biasa. Remaja yang senang main sepak bola dan bulu tangkis ini bisa dengan cepat menyerap arahan-arahan dari sang ayah. Bahkan, mungkin lebih cepat ketimbang Ki Toro pada usia yang sama dulu. Sejak itulah Ki Toro dan istrinya, Sri Mulyani, sadar bahwa sang putra telah menjelma menjadi seorang dalang cilik.

Setahun kemudian, ada festival dalang cilik se-Jawa Timur di Taman Budaya Surabaya. Iseng-iseng Ki Toro mendaftarkan Pringgo untuk mengikuti festival pada 2-3 Juli 2008 itu. Sebagai dalang cilik yang belum lama masuk ke jagat pewayangan, penampilan Pringgo tak mengecewakan. Dua tahun kemudian, 2010, Pringgo sudah berhasil menggondol penghargaan sebagai penyaji, penata pakeliran, dan sabet terbaik festival yang sama.

Sukses di beberapa festival membuat nama Ki Pringgo mulai diperhitungkan. Dia kemudian sering ditanggap mengisi hajatan-hajatan di Sidoarjo, Surabaya, dan sekitarnya. Tentu saja dia masih tetap didampingi Ki Toro sebagai ayah, guru, maupun instruktur. Pengalaman manggung yang terus bertambah membuat Pringgo mampu tampil luwes, bicara lancar, membuat improvisasi, hingga banyolan-banyolan segar.

Kamis (14/4/2011) malam, Ki Pringgo beserta rombongan meluncur ke Bali untuk mengisi acara Kerukunan Umat Beragama Internasional di Puri Pejeng, Gianyar, Bali. Sebelumnya, dia bersama sang ayah sudah mempersiapkan konsep pertunjukan dengan Tolak Kolo alias Tolak Bala.

“Kita ingin agar masyarakat bisa hidup rukun dan damai, dijauhkan dari bala bencana,” kata pelajar SMK Negeri 9 Surabaya ini.

Popularitas yang mulai diraih, sejumlah penghargaan, honorarium, hingga jadwal manggung yang padat rupanya tak lantas membuat Pringgo sombong. Layaknya remaja, dia masih tetap suka bermain dan bercanda dengan teman-teman sebaya. Meski begitu, dia berusaha untuk terus mengembangkan permainannya dengan berlatih setiap hari di rumah sekaligus sanggarnya.

Pringgo juga punya trik-trik khusus untuk sulukan dengan mengatur suara saat memerankan tokoh antagonis, protagonis, bersedih, menangis, cekikikan, hingga vokal sang raja yang besar dan berwibawa. Ketika sedang memainkan wayang, karakter Pringgo yang pendiam, tak suka banyak bicara, sepertinya lenyap begitu saja.

“Pringgo itu pintar mengatur waktu. Kapan dia belajar, bermain wayang, mengisi pentas seni, dan bermain,” tutur Sri Mulyani, sang ibu. (*)





Nama : Pringgo Jati Rachmanu
Lahir : Surabaya, 13 Mei 1995
Ayah : Subiantoro (Ki Toro)
Ibu : Sri Mulyani
Adik : Enggar Blezky Tosabila, Lanang Puja Ningwang
Alamat : Perum Bluru Permai Blok BH-2 Sidoarjo
Hobi : Dalang, Sepak bola, Bulu tangkis

Pendidikan
* TK Al-Ikhlas Sidoarjo
* SD Muhammadiyah I Sidoarjo
* SMP Negeri 5 Sidoarjo
* SMK Negeri 9 Surabaya

Prestasi :
- Juara I Pekan Seni Mahasiswa Regional Jawa Timur mewakili Unair di Malang
* Penyaji, penata pakeliran, dan sabet terbaik festival dalang bocah Jawa Timur 2010, mewakili Kabupaten Sidoarjo.

05 June 2011

Bubi Chen setelah Diamputasi




Oleh LAMBERTUS HUREK

Cukup lama menghilang dari panggung musik jazz, lantaran bergelut dengan diabetes, Bubi Chen akhirnya tampil juga di hadapan penggemar jazz Kota Surabaya. Kehadiran maestro berusia 73 tahun ini membahagiakan, tapi sekaligus mengharukan.

SUASANA di Caesar Palace, lantai 24 Hotel Garden Palace Surabaya, malam itu (25/5/2011), berbeda dengan konser-konser musik yang biasa melibatkan Bubi Chen. Sebab, sang maestro jazz yang biasanya lincah bergerak ke sana kemari, bersalaman dengan penggemarnya, kali ini hanya bisa duduk manis di atas kursi roda.

Sudah lama beredar kabar di kalangan penggemar jazz kalau Om Bubi tengah bergelut dengan diabetes kronis. Namun, tak ada yang menyangka kalau penyakit gula itu akhirnya membuat dua kaki Bubi Chen terpaksa diamputasi. “Makanya, saya harus ke sini agar bisa salaman dan memberi semangat untuk Om Bubi. Saya harap beliau bisa tetap main jazz dan membimbing kami, pemusik-pemusik muda,” ujar Bagus Adimas Prasetya, mahasiswa tunanetra dari Unesa, yang juga murid Om Bubi.

Pemandangan mengharukan terlihat ketika Bagus, yang kehilangan dua matanya sejak kecil, bersalaman dan memeluk erat Bubi Chen, yang kini kehilangan kedua kakinya. Toh, Bubi tetap melemparkan senyum khasnya sembari membisikkan kata-kata motivasi untuk Bagus. Kedua pemusik ini membuktikan bahwa, meminjam istilah Bubi Chen, the show must go on, meskipun kondisi fisik tak sempurna.

Tak hanya Bagus, ratusan penggemar jazz malam itu memang sengaja menyempatkan diri untuk memeriahkan acara apresiasi bertajuk Achievement for Bubi Chen yang dihelat Radio Suara Surabaya. Indah Kurnia, penyanyi plus anggota DPR RI, khusus datang dari Jakarta untuk even ini. Bahkan, Indah bersama temannya sempat menulis puisi khusus di atas pesawat untuk dibacakan di depan Bubi Chen.

Syaharani, penyanyi jazz asal Malang, pun rela tak dibayar demi memberikan semangat kepada sang guru. Mengenakan kostum merah menyala, Syaharani bahkan beberapa kali bersimpuh dan menjabat tangan erat Bubi Chen.

“I love you, Om Bubi! I love you!” kata Syaharani berkali-kali disambung tepuk tangan meriah hadirin.

Apresiasi yang sama ditunjukkan Ervinna, penyanyi senior asli Surabaya, kemudian Ermy Kullit, vokalis jazz, khususnya bosas, Johan Untung, serta tujuh pianis jazz yang sama-sama murid Bubi Chen. Para penyanyi dan musisi ikhlas tampil tanpa honor. Bahkan, mereka sengaja menunda atau membatalkan acara di tempat lain... demi Bubi Chen.

“Kita semua punya kecintaan dan kepedulian yang sama terhadap Bubi Chen. Sampai saat ini Bubi Chen masih tetaplah seorang pianis jazz terbaik di Indonesia, bahkan salah satu yang terbaik di dunia,” kata Indah Kurnia.




YANG menggembirakan, passion bermusik seorang Bubi Chen masih tetap prima meskipun pria yang aktif main musik sejak 1955 ini pada Maret lalu menjalani amputasi kaki kedua di Semarang. Ketika Surabaya All Stars, band jazz yang anggotanya rekan sekaligus muridnya, mengiringi Syaharani, Ervinna, Indah Kurnia, Johan Untung, dan beberapa penyanyi lain... Bubi Chen terlihat begitu menghayati.

Sambil tersenyum, dia menggoyang-goyangkan kepala mengikuti irama musik. Di akhir permainan, Bubi Chen pun bertepuk tangan. Seakan-akan tak ada masalah meskipun hampir semua penggemar jazz di tanah air cemas ketika mendengar kabar bahwa kedua kaki pria kelahiran Surabaya, 9 Februari 1938, ini sudah hilang diamputasi.

“The show must go on!” kata Bubi Chen usai menerima penghargaan dan hadiah khusus dari Errol Jonathans, direktur Suara Surabaya Media.

Menurut Errol, selama 25 tahun Bubi Chen dengan setia mengasuh program Bubi Chen Jazz Show di Radio Suara Surabaya. Acara jazz itu, meski tidak komersial, kata Errol, sangat membantu meningkatkan apresiasi jazz di kalangan warga Surabaya, dan masyarakat Jawa Timur umumnya.

Di sela acara, Bubi Chen sempat melayani wawancara singkat dengan pemandu acara Isa Anshori, disusul wawancara dengan belasan wartawan.

Bagaimana perasaan Om Bubi malam ini?

Puji Tuhan, saya sangat bahagia, senang, karena ternyata teman-teman di Surabaya, juga dari kota-kota lain, tidak pernah lupa sama saya. Teman-teman Suara Surabaya bahkan memberikan penghargaan khusus. Saya hanya bisa bilang terima kasih atas kebaikan teman-teman.

Maaf, kapan Om Bubi menjalani amputasi kaki?

Kaki kanan saya diamputasi tahun 2010, sedangkan kaki kiri menyusul bulan Maret 2011 lalu. Setelah diamputasi, saya malah merasa enteng. Nggak ada beban. Dulu, sebelum diamputasi, kaki saya sakit-sakitan, sekarang tidak ada rasa sakit sedikit pun. Amputasi itu pilihan yang tepat karena kalau tidak diamputasi penyakit diabetes ini akan menyerang ginjal. Dan itu lebih berbahaya.

Apakah Om Bubi masih tetap akan main jazz seperti dulu?


Tetap main. Tadi kan saya main beberapa lagu. Seperti biasa lah. The show must go on! Musik, khususnya jazz, harus tetap jalan terus karena sekarang sudah banyak anak-anak muda yang bagus-bagus. Saya memang tidak punya kaki, tapi kan jari tangan saya masih ada.

Saya main piano atau keyboard kan pakai tangan. Hehehe... Mudah-mudahan dengan jari-jari ini saya masih bisa menyenangkan sesama manusia, khususnya arek-arek Surabaya.

Anda tadi sempat memainkan lagu Surabaya (Dara Puspita). Apa arti Surabaya buat Anda?

Wah, Surabaya itu segalanya. Saya lahir di Surabaya, besar di Surabaya, main musik sampai sekarang, ya, mulainya juda di Surabaya. Saya ini sudah ke mana-mana, keliling dunia, tapi saya ini tetap arek Surabaya. Rujak uleg, petis, pecel, sate klopo... nggak bisa saya lupakan. Hehehe....

Bagaimana Anda melihat perkembangan jazz di Surabaya?

Sebenarnya sudah muncul banyak musisi dari sini. Sayang, banyak yang pindah ke Jakarta. Padahal, mereka bisa menjalankan karir musiknya di Surabaya. Mai musik itu sebenarnya untuk menyenangkan sesama. (rek)