17 May 2011

Waisak Nasional 2011 di Trowulan



Perayaan Waisak nasional keluarga Buddhayana Indonesia di kompleks Candi Brahu, Trowulan, Mojokerto, Selasa (17/5/2011) petang dinilai sukses. Tak hanya dihadiri ribuan umat Buddha dari berbagai daerah di tanah air, ribuan warga Trowulan antusias menyaksikan Kirab Majapahit dari Mahavihara Majapahit ke Candi Brahu.

Warga terlihat berjubel menyaksikan atraksi budaya di rute sepanjang dua kilometer. Kolaborasi lintas budaya dan agama terasa sangat kental. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) ikut mengerahkan tim kesenian barong Bali yang sangat memukau. Juga ada barisan kaum muda Mojokerto dengan busana ala Majapahit. Tak ketinggalan atraksi reog ponorogo dan jaran kepang.

Sejumlah tokoh penghayat kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa serta umat non-Buddha pun ikut serta. Sebagai tuan rumah, Bupati Mojokerto Mustafa Kemal Pasha menyambut gembira perayaan Waisak nasional keluarga Buddhayana Indonesia yang dipusatkan di Candi Brahu. Mustafa secara khusus membahas arsitektur candi peninggalan Kerajaan Majapahit itu yang kokoh meskipun hanya tersusun dari batu bata merah.

"Batu-batu itu bisa merekat menjadi sebuah bangunan yang kokoh di depan kita. Maka, kita pun harus tetap menjadi satu bangsa yang kokoh meskipun berbeda agama dan kepercayaan," ujar Mustafa disambut tepuk tangan sekitar 2.000 jemaat dan tamu undangan, termasuk Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf.

Ketika Waisak digelar di kompleks candi-candi bersejarah, maka perayaan keagamaan ini menjadi kental dengan dimensi sejarah dan budaya. Umat diajak untuk lebih peduli dan menghargai bangunan-bangunan cagar budaya yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia. Selama ini, menurut Irwan Pontoh, ketua panitia, umat Buddha sudah sering menggelar perayaan Waisak di kompleks Candi Borobudur, tapi jarang di candi-candi lain.

"Padahal, kita sebenarnya punya begitu banyak candi yang tersebar di berbagai provinsi. Maka, keluarga Buddhayana Indonesia bertekad mengadakan perayaan Waisak nasional dari candi ke candi," kata Irwan.

Awalnya, ketika dipercaya sebagai tuan rumah Waisak nasional, Irwan mengaku ketar-ketir mengingat Jawa Timur belum punya pengalaman. Namun, setelah mendapat masukan dari berbagai instansi, termasuk Pemprov Jatim, Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Jatim akhirnya memilih Candi Brahu di Trowulan. Selain lokasinya dekat Mahavihara Majapahit, Trowulan merupakan pusat Kerajaan Majapahit yang pernah berjaya pada abad ke-13 hingga 15.

"Jadi, tidak ada salahnya kalau acara di Candi Brahu ini menandai kebangkitan kejayaan Majapahit. Mudah-mudahan bangsa kita, Indonesia, akan meraih kejayaan melebihi Majapahit," tegas Irwan.

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

2 comments:

  1. Namaste

    _//\\_

    bolehkah sharing di Face Book
    karena saya sangat bangga dan senang peristiwa2 seperti ini yang menunjukkan eksistensi keberagaman agama di NUSANTARA,

    salam
    Richadiana Kartakusuma

    ReplyDelete
  2. silakan pak. ini cerita lama tentang perayaan waisak nasional yg diadakan majelis buddhayana di trowulan, situs majapahit! namo buddaya!

    ReplyDelete