30 May 2011

Jakarta dan Tarakan Juara Barongsai



Meski berstatus tuan rumah dan didukung ratusan suporter, tim-tim barongsai dari Surabaya, dan kota-kota lain di Jawa Timur, gagal mencetak prestasi dalam kejuaraan barongsai tonggak Piala Wali Kota Surabaya III. Bahkan, beberapa peserta tim rumah terkena diskualifikasi karena jatuh dari atas tonggak.

“Secara umum penampilan tim-tim dari Surabaya ada peningkatan. Tapi, harus diakui, kita masih kalah sama tim-tim dari Tarakan dan Jakarta. Bagaimanapun juga mereka itu pernah menjadi juara dunia,” ujar Chandra Wurianto, ketua Persatuan Olahraga Barongsai Indonesia (Persobarin) Jawa Timur, kepada saya.

Dalam kejuaraan tahunan untuk memeriahkan ulang tahun ke-718 Kota Surabaya ini, tim PSMTI Tarakan dan Khong Ha Hong Jakarta menjadi juara bersama. Sebab, kedua tim ini sama-sama meraih nilai 9,23. Tim-tim Jawa Timur sama sekali tak masuk dalam daftar juara, mulai juara satu sampai harapan.

Sejak hari pertama, Sabtu (28/5/201), PSMTI Tarakan dan Khong Ha Hong memang memperlihatkan kualitas teknik permainan barongsai jauh di atas kemampuan peserta asal Surabaya, Malang, Pamekasan, atau Bali. Bukan saja tak pernah terpeleset, kedua pemain barongsai bisa bergerak dengan lincah di atas tonggak-tonggak setinggi sekitar dua meter itu.

Mengapa tim Tarakan dan Jakarta selalu mendominasi semua kejuaraan barongsai di Indonesia?

Menurut Chandra Wurianto, pertama, bakat dan motivasi mereka memang jauh lebih tinggi ketimbang pemain-pemain di Jawa Timur. Mereka benar-benar rajin berlatih meskipun tidak ada kejuaran atau turnamen.

Kedua, ada sponsor dari perusahaan atau bos-bos besar. Karena itu, pemain-pemain barongsai jawara di Tarakan atau Jakarta hanya fokus berlatih dan meningkatkan kualitas permainannya. Mereka tidak perlu sibuk mencari nafkah karena sudah mendapat penghasilan dari bermain barongsai. Setelah menang di Surabaya, misalnya, mereka bakal mendapat bonus besar dari bos-bos lokal atau pemerintah daerah.

Suasana pembinaan barongsai yang demikian, menurut Chandra, membuat dua pemain utama yang sudah dibina selama bertahun-tahun selalu kompak. Tidak akan pindah ke grup lain atau berhenti latihan untuk mencari nafkah.

“Lha, kita di Surabaya ini ada grup barongsai yang kepalanya hilang atau ekornya hilang. Jadi, mau tidak mau, harus mencetak pemain baru sebagai ekor atau kepala. Dan itu tidak mudah,” ujar Chandra yang juga pembina barongsai di Yayasan Senopati Surabaya.

Meski tak pernah menang, Chandra mengaku tidak akan kapok menggelar kejuaraan barongsai Piala Wali Kota dan Piala ITC, serta kejuaraan liang-liong. Sebab, tugas Persobarin memang melaksanaan pembinaan dan menyiapkan atlet-atlet barongsai untuk diterjunkan di even nasional maupun internasional.

“Surabaya memang belum berhasil, tapi tidak bisa dibilang gagal. Buktinya, kualitas permainan anak-anak kita selalu meningkat dari tahun ke tahun,” tegas Chandra.


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

3 comments:

  1. koq bisa juara bersama ya,...? klu di bandingkan kayaknya loncatan team Tarakan jauh lbh bagus dan hidup dr team Jkt, apalg ada protes dr team tarakan sehbgn dgn tiang yg tdk standart dr team jkt.. ?? koq bisa ya...???!!

    ReplyDelete
  2. ehh bosss... sebelum tau beritanya jgn asal ngoceh. kalau u tau cma dari mulut ke mulut mending ga usah ngoceh. Klo emank u bs nilai napa u ga daftar aja jadi juri??
    U ikut ngukur ga tiangnya?? jgn asal ngoceh...

    ReplyDelete
  3. mau contack barongsai cilik donk....pliz help untuk daerah jakarta

    ReplyDelete