01 May 2011

Prigi Arisandi Dapat Goldman Prize



Nama Prigi Arisandi (35 tahun) sudah lama dikenal sebagai aktivis lingkungan di Surabaya dan sekitarnya. Bersama lima aktivis lain asal Zimbabwe, Rusia, Jerman, Amerika Serikat, dan El Salvador, Prigi Arisandi mendapat The Goldman Environmental Prize. Penghargaan ini diberikan karena pria asal Gresik itu dinilai berhasil memelopori gerakan warga untuk menghentikan polusi di Kali Surabaya.

Selain berhak mendapatkan duit USD 150.000, Prigi beroleh kesempatan untuk beraudiensi dengan Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama di Gedung Putih, Washington DC.

BAGAIMANA PERASAAN ANDA MENDAPAT PENGHARGAAN GOLDMAN DAN BERTEMU PRESIDEN OBAMA?

Wah, ini pengalaman luar biasa yang tidak pernah saya bayangkan. Bisa bertemu, berjabat tangan, dan membahas masalah lingkungan hidup dengan Presiden Obama selama hampir setengah jam. Di Ruang Oval Gedung Putih itu, saya berkesempatan untuk mempromosikan pemulihan sungai dengan melibatkan partisipasi masyarakat menggunakan serangga air.

Kesempatan bertemu Presiden Obama ini dalam rangka penganugeraan penghargaan Green Nobel oleh Goldman Environmental Foundation yang berkantor di San Fransisco, California, USA. Goldman sejak 1990 setiap tahun memberikan penghargaan kepada enam orang dari enam benua berupa uang tunai USD 150.000. Para pemenang juga berkesempatan untuk melakukan audiensi dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Nancy Pelosi (DPR AS), Lisa P Jackson (Administrator Environmental Protection Agency atau Menteri Lingkungan Hidup AS).

BISA DICERITAKAN SEDIKIT MOMEN BERSEJARAH DI GEDUNG PUTIH ITU?

Tepatnya pada Rabu siang pukul 15.00 waktu setempat. Memasuki Gedung Putih, kami mendapatkan pengecekan rutin di pos penjagaan. Namun, rombongan kami diberi sedikit kelonggaran karena sejak memasuki pos penjagaan kami didampingi oleh penerima tamu dari Gedung Putih.

Setelah melewati penjagaan, kami masuk dari sisi kanan. Saat itu Gedung Putih sedang direnovasi, sehingga banyak tukang kayu dan tukang cor yang sedang bekerja. Kami juga melihat puluhan jurnalis dari berbagai televisi yang standby dengan kamera yang mengarah ke Gedung Putih. Mereka ini bukan menyambut kami, tetapi memang ada ketegangan antara Gedung Putih dan DPR yang membuat awak media stand by menunggu perkembangan terbaru.

Memasuki Gedung Putih, kami disambut seorang penjaga berpakaian merah biru seperti di film Mr Bean dengan senjata di tangan. Sebelum memasuki ruangan, kami harus meninggalkan jaket dan barang bawaan kami di salah satu ruang.

BARANGKALI PRESIDEN OBAMA SEDANG MENERIMA TAMU YANG LAIN?

Nah, ketika saya dan lima teman berjalan menuju ruang kerja Obama, ternyata di depan pintu dia sudah menunggu. Senyumnya khas dan wajahnya ramah. Satu per satu disalami. Pas giliran saya, saya langsung mengatakan, "Selamat siang Pak!"

Obama langsung menyahut dengan bahasa Indonesia. "Oh, selamat siang. Apa kabar? Darimana ini? Dari Jakarta?" Presiden Obama menjabat erat tangan saya. Saya bilang, "Bukan dari Jakarta Pak! Saya dari Surabaya." Dia kemudian membalas, "Oh, dari Surabaya!"

Setelah itu, kami dipersilakan untuk memasuki ruangan kerja Presiden Obama. Kami mengambil posisi untuk foto bersama. Saya sendiri bergerak cepat untuk merangsek mendekat pas di samping kanan Obama. Benar juga. Tangan kanan Obama pun merangkul pundak kanan saya saat foto bersama.

APA SAJA YANG DIKATAKAN OBAMA?


Obama memberikan apresiasi kepada kami, para penerima penghargaan, atas pekerjaan menyelamatkan bumi. Dia juga berterima kasih kepada keluarga Goldman yang memberikan dukungan kepada para pemenang. Kemudian Obama meminta kami menceritakan pengalaman masing-masing.

Hilton Kelley dari Texas bercerita tentang kegiatannya menyelamatkan kampungnya di Texas dari polusi udara yang ditimbulkan oleh perusahaan penyulingan minyak bumi. Obama sendiri menyatakan dukungan pemerintah Amerika Serikat pada upaya penurunan laju penggundulan hutan.

LANTAS, APA YANG ANDA SAMPAIKAN KEPADA PRESIDEN OBAMA?

Saya menyatakan, selain masalah penggundulan hutan, kita juga sedang menghadapi masalah krisis air bersih dan tercemarnya sungai-sungai. Apalagi, di Indonesia sungai-sungai dipakai sebagai bahan baku air minum. Nah, tingkat pencemaran sungai itu sangat tinggi. Obama menimpali bahwa Amerika juga sedang menghadapi masalah sungai dan air bersih.

Tak lupa saya mempromosikan pemantauan sungai yang melibatkan masyarakat. Saya katakan bahwa pemantauan menggunakan parameter fisika dan kimia cenderung terlambat karena baru bisa mendeteksi pencemaran yang parah. Maka, saya tawarkan pemantauan kualitas air dengan serangga. Kita bisa memakai capung sebagai indikator kesehatan sungai.

Saya juga meminta Presiden Obama untuk ikut mendorong pemerintah Indonesia untuk memprioritaskan masalah penanganan sungai. Obama mengiyakan dan meminta Kepala biro Lingkungan Hidup Gedung Putih Nancy Sutley untuk memperhatikan usulan saya.

APA ARTI THE GOLDMAN ENVIRONMENTAL PRIZE INI BUAT ANDA?

Apreasiasi dari masyarakat internasional ini semakin menyadarkan kita bahwa sebenarnya kita hidup pada bumi yang sama. Sehingga, perubahan lingkungan yang terjadi di kampung kita atau di belakang rumah kita akan membawa pengaruh pada belahan bumi yang lain. We are always connected.

Ini juga kesedihan mendalam bagi saya pribadi, karena kurangnya apresiasi pemerintah kita pada upaya pemulihan kerusakan lingkungan. Pemerintah cenderung abai pada kelestarian lingkungan. Sebaliknya, mereka kerap kali hanya memanen, memanen, dan memanen tanpa ada kesadaran untuk menanam.

APA SAJA YANG TELAH DILAKUKAN SEBAGAI AKTIVIS LINGKUNGAN?


Saya merasa melakukan kewajiban yang harus saya lakukan. Hal-hal yang biasa karena saya orang biasa. Saya mencoba membuat perubahan kondisi sungai yang rusak dan tercemar. Saya tidak ingin anak saya kelak mendapatkan keadaan sungai yang lebih buruk kualitasnya dari sekarang. Saya melakukan upaya-upaya pemulihan sungai ini sejak 1998. Dimulai dengan perlawanan pada indutri-industri di wilayah Bambe, Gresik, yang menimbulkan kerusakan sungai dan lingkungan.

BENTUK KEGIATAN ANDA DAN TEMAN-TEMAN KAYAK APA SIH?


Demonstrasi, blokade, dan penolakan pada industri yang seenaknya membuang limbah di Kali Surabaya. Tahun 2001, bersama Posko Ijo kami mulai mengorganisir diri menjadi sebuah kelompok masyarakat pemantau sumber pencemaran di Kali tengah dan Kali Surabaya. Kami ingin rakyat juga bisa melakukan advokasi melalui pengumpulan data, tidak hanya sekadar demonstrasi.

Tahun 2002, bersama Ecoton saya memulai upaya pendidikan lingkungan pada anak-anak sekolah di sekitar wilayah pabrik dan DAS Kali Surabaya. Sebab, saya meyakini bahwa anak-anak ini adalah korban pencemaran dan mereka adalah pemilik sah lingkungan yang sekarang sedang kita eksploitasi. Saya juga percaya bahwa anak-anak ini punya power untuk melakukan perubahan.

Sejak 1999 sampai sekarang saya dan Ecoton selalu melakukan kegiatan-kegiatan pemantauan Kali Surabaya. Saya melakukan penelitian potensi keanekaragaman hayati. Saya menggali potensi kekayaan hayati Kali Surabaya berupa tumbuhan berkhasiat obat, jenis-jenis serangga air, jenis makroinvertebrata, jenis tanaman berbunga, jenis tanaman budidaya, jenis burung, dan jenis ikan. Saya ingin menunjukkan bahwa Kali Surabaya ini tidak hanya untuk bahan baku air minum, tetapi ada banyak kehidupan yang ada membutuhkan air.

HADIAH DARI GOLDMAN INI MAU DIAPAKAN?

Saya akan mendirikan Sekolah Penyelamat Mata Air (Water Conservation School) di daerah Wonosalam. Sekolah ini nantinya akan mendidik orang untuk lebih mengenal hutan, air, dan interaksi antara manusia dan alam. Selama ini kita merasa bahwa dengan uang kita bisa membeli air, makanan, dan segala kebutuhan kita. Namun, kita tidak pernah menyadari bahwa keberadaan sumber daya alam ini terbatas. Kini, banyak mata air yang kering. Di sekolah ini kita ingin lahir orang-orang gila yang mau melakukan tindakan nyata menyelamatkan lingkungan, terutama sungai.

Sekolah ini sekolah global karena murid dan gurunya berasal dari berbagai belahan benua. Bulan Juni mendatang kita akan mendatangkan guru dari Berkeley, Amerika Serikat, yang akan membagi ilmunya tentang menjaga dan memonitoring sungai kepada guru, pelajar, pemerintah, dan aktivis lingkungan di Jatim.

BIODATA SINGKAT

Nama : Prigi Arisandi
Lahir : Gresik, 24 Januari 1976
Istri : Daru Setyo Rini
Jabatan : Direktur Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton)
Hobi : Traveling, jaga kali
Pendidikan
Universitas Airlangga, Fakultas MIPA, Jurusan Biologi

Penghargaan
The Goldman Environment Prize 2011





Sering ‘Diamankan’ Polisi

Sewaktu belajar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Jurusan Biologi, Universitas Airlangga, 1995, Prigi Arisandi terkejut melihat kerusakan hutan mangrove di kawasan Wonorejo dan Keputih. Menurut aturan, setiap pantai di Indonesia harus memiliki hutan lindung minimal 100 meter sebagai buffer zone atau penyangga pantai dari ombak laut.


Namun, kenyataannya, Keputih dan Wonorejo di kawasan pantai timur Surabaya (Pamurbaya) ini sama sekali tanpa pelindung. “Maka, saya mulai bersuara untuk mengembalikan status Pamurbaya. Untuk meyakinkan pemkot dan masyarakat, saat itu saya memulai penelitian potensi Pamurbaya selama empat tahun bersama teman-teman dan dosen di Ecoton,” kata Prigi Arisandi.

Faktanya, saat itu memang banyak kerusakan lingkungan yang ceto terwelo-welo, tak butuh pembuktian ilmiah. Hutan gundul, ikan mati, asap pabrik, yang bikin orang batuk. Apa suka duka bergerak bersama Ecoton? Menurut Prigi, awalnya mereka dianggap pihak keamanan (polisi) sebagai gerakan subversif. Pada Maret 1998 Prigi diinterogasi di Polsek Driyorejo atas tuduhan menggerakkan massa untuk merusak sebuah pabrik di Bambe.

“Pemkab Gresik selalu menganggap kegiatan Posko Ijo maupun Ecoton menghambat investasi. Kami juga dituduh menutup pabrik yang akan berdampak pada pengangguran,” katanya.

Tahun 2004, Prigi kembali ‘diamankan’ oleh Polres Gresik saat melakukan aksi diam di wilayah Bambe. Kasus yang paling diingat Prigi ketika sebuah kampung dengan 75 keluarga dikepung polisi dengan panser dan pasukan bersenjata lengkap pada Maret 1998. Keluarga besar Prigi pun panik.

“Saat itu memang tersebar kabar kalau saya ditangkap polisi karena memimpin aksi,” paparnya.

Dia bersyukur karena di Ecoton, meski tidak mendapatkan gaji yang layak dan rutin, teman-temannya bekerja dengan semangat. Namun, mereka sering kali mendapatkan hasil ‘ngamen’ lebih besar dari honor menjadi pembicara, honor sebagai fasilitator, hingga menulis di koran. Saat peringatan Hari Bumi (21 April), misalnya, Prigi terpaksa menggadaikan mobil untuk menutupi biasa aksi.

Sejak 2007 Perum Jasa Tirta I Malang banyak mendukung kegiatan Ecoton. Ini sangat membantu aktivitas Ecoton dalam menjaga Kali Surabaya. Biaya penelitian selama empat bulan biasanya dihemat untuk menghidupi Ecoton salama enam bulan.

“Sisanya, ya, dari honor tanggapan dari peringatan-peringatan hari lingkungan,” katanya.

Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 1 Mei 2011


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

8 comments:

  1. Orang luar negeri3:42 PM, May 04, 2011

    Ini hadiah luar biasa, penghargaan tingkat dunia. Kok gak masuk koran, biasa-biasa saja di Indonesia? Hehehe.

    ReplyDelete
  2. Sudah masuk di beberapa koran seperti Kompas, Jawa Pos, Radar Surabaya, dan media online. Naskah ini juga sebelumnya saya muatkan di koran Radar Surabaya. Cuma gaung kemenangan Cak Prigi di USA ini hampir tidak ada. Kalah sama isu NII, perompak Somalia, dan isu-isu politik khas Indonesia.

    Salam damai.

    ReplyDelete
  3. Olang lual negli asal Sulabaia8:16 AM, May 05, 2011

    Kebetulan saya tinggal dekat San Francisco. Keluarga Goldman yang membentuk yayasan untuk mendanai hadiah ini ialah keturunan dari keponakan dari pendiri perusahaan jeans Levi's. Ada dua keluarga ternama dari keponakannya Levi Strauss (dia sendiri tidak punya anak): keluarga Haas dan keluarga Goldman. Mereka keturunan Yahudi. Dua keluarga ini rajin memberi sumbangan untuk universitas, rumah sakit, dan macam-macam organisasi non-profit dan pencinta damai, termasuk yang memberikan "hadiah nobel lingkungan" yang dimenangkan oleh Prigi Arisandi tsb. Terima kasih atas ceritanya. Luar biasa. Sayang orang Indonesia ribut soal-soal yang sepele.

    ReplyDelete
  4. selamat utk mas PRIGI. luar biasa krn hadiah ini sangat2 bergengsi....

    anton arek malang

    ReplyDelete
  5. aq kira ini pencapaian yg luarrrrr biasa utk mas Prigi! tetap semangat mas!!!!

    ReplyDelete
  6. Sorry for writing in english, but I sucked at writing in Indonesian.

    but: So proud to hear that an indonesian won an award at this calibre. :)

    The lack of publicity in indonesia, even proves that Prigi really does have the dedication to silently soldier forward in promoting the education of water, waste management which is highly neglected in indonesia.

    All the best for Prigi and his cause. Hopefully other media will pick this up and then publish his campaign as a major first page headline. After all publicity does help in promoting a cause.

    ReplyDelete
  7. Blognya semakin keren saja Pak Hurek..
    Telat nih saya kok baru nge-follow

    Lutfia-ITS Online

    ReplyDelete
  8. ada kecenderungan media2 TV di indonesia lebih suka bahas artis yang kawin cerai, selingkuh.. ketimbang mengangkat org kayak mas Prigi... itu memang kenyataan...

    ReplyDelete