21 May 2011

PMS Perkenalkan Gamelan



Ada yang menarik dalam Pertemuan Musik Surabaya (PMS) di Wisma Melodia pekan lalu. Slamet Abdul Sjukur, sang pendiri PMS dan pengarah PMS, menghadirkan musik tradisional Indonesia. Ini tidak umum. Sebab, selama ini acara PMS biasanya diisi dengan pembahasan musik klasik Barat.

Seperti biasa, Cak Slamet yang tetap gondrong dan brewokan ini bercerita tentang gamelan kita yang ternyata disukai orang Barat. Komponis-komponis Barat sejak lama punya minat dengan gamelan. Bahkan, kata Cak Slamet, di Amerika Serikat sana ada 198 perguruan tinggi yang punya grup gamelan. Bukan hanya papan nama, tapi orang-orang bule ini berlatih, saling belajar, kemudian bikin pertunjukan.

Lantas, di negara kita sendiri ada berapa kampus yang punya gamelan? Sudah pasti, tak sampai 198. Lama-lama kita terpaksa harus pigi ke Amerika atau Eropa untuk belajar main gamelan. Sebab, orang-orang kita sendiri kurang serius mengembangkan musik tradisional. Kekayaan seni budaya kita malah diabaikan di Indonesia.

Cak Slamet melanjutkan ceritanya. Tahun 1993 pernah digelar pesta gamelan di Eropa. Orang-orang bule rupanya senang mendengar nada-nada gamelan yang eksotik. Beda dengan musik piano atau klasik Barat yang biasa mereka dengar. Kemudian tahun 2007, masih menurut Cak Slamet, Inggris juga bikin pesta gamelan. Hasilnya juga bagus. Orang-orang bule ramai-ramai datang menonton pertunjukan tersebut.

Cak Slamet kemudian kasih informasi penting. Sebentar lagi ada semacam festival atau lomba komposisi yang dilaksanakan Goethe Institute. Syaratnya: komposisi itu harus berbasis gamelan. Harus kental dengan muatan musik tradisional Nusantara.

"Acaranya di Bandung," kata Cak Slamet dengan suara yang lembut tanpa pengeras suara.

Slamet Abdul Sjukur memang akhir-akhir ini gencar berkampanye melawan 'polusi suara' dan penggunaan pengeras suara alias loud speaker yang tidak proporsional. Kalau bisa bicara tanpa mikrofon, kenapa harus pakai pengeras suara? Cak Slamet juga bikin organisasi bernama Masyarakat Bebas Bising.

Nah, untuk festival komposisi di Bandung ini Cak Slamet menyertakan empat komponis muda, anak didiknya, dari Surabaya. Salah satunya si Gemma, lulusan musik Universitas Negeri Surabaya, yang nempel terus sama Cak Slamet. Juga Nadia, perempuan cantik, yang sekarang hamil besar. Cak Slamet memang punya kedekatan khusus dengan wanita-wanita cantik baik yang masih gadis maupun yang rondo teles. Hehehe....

Dan acara inti PMS pun dimulai. Selama hampir satu jam Cak Slamet putar film tentang kehidupan masyarakat Bali pada era 1930-an. Film yang diproduksi orang Eropa, untuk konsumsi bangsa Eropa, itu menggambarkan betapa kehidupan masyarakat Bali penuh dengan ritual dan kesenian. Adu ayam diiringi musik gamelan. Pawai keagamaan, ngaben, hingga acara minum arak pun tak lepas dari musik.

Agenda PMS, yang diikuti sebagian besar guru-guru piano di Surabaya, ini ditutup dengan menikmati permainan musik tradisional Banyuwangi oleh mahasiswa STKW Surabaya. Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta. Dipimpin Cak Wawan [Hari Wirawan], teman-teman mahasiswa ini pamer kebolehan bermain gamelan di depan guru-guru musik klasik Barat. Wawan bahkan memainkan biola dengan cara menggesek yang berlawanan arah dengan apa yang diajarkan guru-guru klasik Barat.

Rancak nian suasana di aula Wisma Melodia siang itu. Berbeda dengan menonton konser klasik, kita harus tenang, duduk manis di tempat, kali ini peserta PMS mendekati panggung. Ada yang menari, larut dalam irama kothekan Banyuwangi yang dinamis.

Cak Wawan dan Pak Suwarmin, dosen STKW, sempat memberikan semacam kuliah bersama tentang instrumen musik tradisional Jawa itu. Saya melihat guru-guru piano itu asyik sekali bertanya macam-macam. Apakah pakai score alias partitur?

Cak Wawan bilang tidak ada. Pemusik tradisional itu hanya mengandalkan perasaan saja. Pak Warmin menambahkan, dalam musik tradisional Jawa, Bali, Sunda, dan sebagainya sangat penting apa yang disebut ANGON ROSO. Menggembalakan rasa!

Para pemain saling mengukur dengan rasa. Karena itu, tidak terjadi tabrakan meskipun dua pemain memukul satu instrumen yang sama. Pak Warmin bahkan sempat pamer kebolehan memainkan gamelan dari belakang dengan tempo cepat. Hmm... enak didengar karena nada-nada yang dipukul memang pas.

Cak Slamet buru-buru menukas: "Pemain piano yang paling jago sekalipun tidak mungkin bisa memainkan piano dari belakang. Makanya, jangan anggap enteng kemampuan pemusik-pemusik tradisional kita di kampung-kampung!"

Saya kira Slamet Abdul Sjukur sukses besar pada PMS kali ini. Dia mampu mempertemukan musisi tradisional dengan musisi klasik Barat. Membuka mata kita bahwa musik itu begitu kaya, luas, dan punya hak untuk hidup.




COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

No comments:

Post a Comment