12 May 2011

Orang NTT Makan Jagung



Sebuah kebun jagung di Desa Mawa, Kecamatan Ile Ape, Lembata, NTT.

Belum lama ini saya dan beberapa teman diajak makan siang di Surabaya Plaza Hotel (SPH). Hotel berbintang yang laris di tengah Kota Surabaya. Kami berbincang akrab dengan Yusak Anshori, general manager SPH.

Bicara ngalor-ngidul. Apalagi, pria kelahiran Kediri, Oktober 1967, ini punya koleksi humor segudang. Suasana jadi gayeng dan menyenangkan. Ditambah kehadiran Ella Mart, penyanyi jazz, yang sekarang jadi staf di SPH.

“Di SPH ini ada menu baru yang sangat disukai pengunjung. Namanya NASI GORENG JANCUK,” kata Mas Yusak Anshori dengan gaya khasnya yang gaul.

Hehehe.... Nasi goreng khas SPH ini ditemukan secara tak sengaja. Suatu ketika sang GM ingin ada menu yang khas di hotelnya. Lantas, salah satu koki mencoba meramu nasi goreng dengan bumbu-bumbu yang pedasnya minta ampun. Mas Yusak dan kawan-kawan kemudian menjajal nasi goreng anyar itu.

“Juancuuuk... pedes banget!” celetuk salah satu staf SPH. Tanpa pikir panjang, Yusak Anshori meresmikan menu baru di SPH: nasi goreng jancuk. Porsinya banyak, pedasnya minta ampun, tapi ternyata disukai orang. Setiap jam makan siang banyak orang sengaja mampir ke SPH untuk minta nasgor jancuk. Ha... juancuk tenan!

Awalnya, kami ditawari mencoba nasi goreng jancuk ini. Tapi saya bilang tidak kuat pedas. Teman-teman lain pun ragu-ragu. Maka, silakan pilih menu sendiri-sendiri. “Sate kambing di sini mantap. Terkenal. Rasanya empuk,” kata Mas Yusak. Boleh juga nih sate kambeng cap SPH. Saya pun tertarik.

“Pakai nasi atau lontong?” tanya sang pelayan kepada Yusak Anshori, sang GM.

“Pakai nasi jagung!” jawab lulusan Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta ini.

Mas Yusak sendiri awalnya bercita-cita jadi diplomat. Ingin kerja kantoran karena bosan melihat orang tuanya yang pengusaha. Tapi perjalanan hidup berkata lain. selama 17 tahun dia sukses berkecimpung di dunia hotel dan pariwisata. Mas Yusak membidangi banyak organisasi penting di Surabaya, salah satunya Surabaya Tourism Promotion Board.

Saya pun terperangah mendengar Yusak Anshori, GM SPH, memesan jagung. Dia mengaku lebih suka jagung ketimbang nasi (dari beras) atau roti atau makanan kelas bintang lima lainnya. Hmmm... pertimbangan kesehatan atau sudah bosan makanan enak di hotel?

“Oh, kesehatan saya oke. Saya suka jagung karena saya ini kan asalnya dari daerah,” kata Mas Yusak menjawab pertanyaan saya. Maka, saya pun ikut memesan nasi jagung khas SPH.

Sebagai orang NTT (Nusa Tenggara Timur), saya tahu persis betapa pentingnya jagung sebagai makanan pokok di provinsi kami. Tahun 1980-an, sekitar 80 persen penduduk NTT menjadikan jagung sebagai makanan pokok. Sekarang persentasenya turun jadi 70-an persen. Tapi jagung tetap dominan karena iklim di NTT kurang cocok buat menanam padi. Irigasi, pengairan, tak akan memadai.

Budidaya padi hanya efektif dilakukan di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, dan sebagian Ende. Kabupaten-kabupaten lain, apalagi Flores Timur, Lembata, Rote-Ndao, Sabu-Raijua, budidaya padi sawah hampir mustahil dilakukan. Karena itu, bumi NTT sejak dulu memang hanya efektif untuk jagung.

Dulu, Gubernur Ben Mboi gencar mengadakan Operasi Nusa Makmur untuk meningkatkan produksi jagung arjuna. Operasi ini sempat berhasil, tapi tak ada kelanjutan. Sekarang, Gubernur Frans Lebu Raya bertekad menjadikan NTT sebagai provinsi jagung dan sapi.

Sayang, citra jagung sebagai makanan pokok kalah keren dibandingkan beras. Orang NTT sendiri, khususnya kalangan PNS dan warga yang tinggal di ibukota kabupaten, sejak dulu kurang mengapresiasi jagung. Jagung dianggap makanan kelas dua yang tidak bergizi. Terlalu banyak makan jagung, kata salah satu guru SMP saya di Larantuka, kita akan jadi bodoh.

Para guru PNS di NTT sejak dulu dikasih jatah beras. Kualitas beras PNS di NTT, khususnya Flores Timur, sangat buruk. Banyak kerikil, sekam, gabah... sehingga tak bisa langsung ditanak. Bahkan, sebagian besar beras jatah PNS sudah bercampur binatang-binatang kecil lantaran tersimpan bertahun-tahun di gudang di Jawa. Tapi tetap saja beras bermutu superjelek ini dianggap lebih berkelas ketimbang jagung, bahkan beras merah.

Orang desa biasanya rame-rame datang ke rumah guru-guru PNS di kampung untuk barter beras. Beras merah dari padi gogo itu ditukar dengan beras jatah yang jelek tadi. Karena beras putih dianggap lebih bergengsi. “Bisa bikin orang lebih sehat dan lebih ceras,” seperti kata salah satu guru SMP saya yang ngawur itu.

Sekitar tiga atau empat tahun lalu, beberapa kabupaten di NTT terkena kelaparan hebat. Panen jagung gagal. Umbi-umbian pun tak sebagus biasanya. Koran-koran nasional, khususnya KOMPAS, membuat laporan bersambung tentang masyarakat Flores yang lapar, kurang gizi, dan sebagainya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung memerintahkan menterinya untuk mengirim beras ke NTT. Rakyat dibagi-bagi beras. Setelah masalah kelaparan tuntas, pembagian beras miskin (raskin) dari Jawa mengalir lancar. Si raskin ini mutunya sama, bahkan lebih buruk, daripada beras jatah PNS. Tapi orang-orang di kampung sangat senang karena harganya hanya Rp 1.000 per kilogram.

Saking seringnya makan raskin, orang-orang desa mulai cenderung menjauhi jagung sebagai makanan pokok. “Anak-anak muda di kampung sekarang ini kurang suka makan jagung. Ini akibat raskin yang terus digelontor ke kampung. Pola makan warga kita sudah berubah,” ujar seorang dosen sebuah universitas di Kupang yang sering melakukan penelitian di Flores Timur dan Lembata.

Lha, kalau warga NTT beralih ke beras, sementara tanahnya tak bisa ditumbuhi padi, apa jadinya? Harus membeli terus yang namanya si raskin ini? Minta beras gratisan dari pemerintah pusat? Lalu, jagung-jagung di kampung itu mau diapakan?

Saya kira, Gubernur Frans Lebu Raya bersama bupati-bupati harus bisa meyakinkan warga NTT bahwa jagung bukanlah makanan pokok, sumber karbohidrat, yang buruk. Jagung bukanlah makanan kelas dua seperti dikampanyekan segelintir orang-orang NTT sendiri.

Makan jagung tak akan membuat orang jadi bodoh atau goblog. Jagung justru punya kandungan serat yang baik, sehingga dianjurkan untuk penderita diabetes. Beras merah tak perlu ditukar dengan beras putih atau raskin karena kandungan gizinya malah lebih bagus.

Dan, yang lebih penting lagi, pejabat-pejabat di NTT, mulai dari Gubernur Frans Lebu Raya, harus kasih contoh. Harus mau makan jagung, selalu menyediakan jagung sebagai makanan pokok baik di rumah maupun (terutama) di acara-acara kedinasan. Rakyat NTT perlu melihat langsung pemimpin-pemimpinnya makan jagung, makan singkong, makan talas... dan sebagainya.

Apa yang diperlihatkan Yusak Anshori, general manager hotel terkenal di Surabaya, yang senang memilih jagung sebagai makanan pokok, benar-benar mengembalikan ke-NTT-an saya. Saya langsung teringat kebun-kebun di kampung yang penuh dengan tanaman jagung.

Bukan itu saja. Sekarang saya mulai rajin membeli jagung untuk ditanak sebagai pengganti nasi putih. Lha, Mas Yusak yang asli Kediri, yang punya sawah-sawah luas, tokoh papan atas di Surabaya, saja doyan makan jagung. Apalagi, kita-kita yang asli NTT.

Mengabaikan jagung dalam daftar menu bisa dikatakan sebagai pengingkaran atas jati diri kita sebagai orang NTT. Bae sonde bae makan jagung lebe bae!


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

1 comment: