19 May 2011

Meditasi Memang Sulit




Cewek di tengah sibuk ber-SMS, sementara teman-temannya meditasi.


Perayaan Waisak keluarga Buddhayana tingkat nasional di Candi Brahu, Trowulan, Mojokerto, Selasa (17/5/2011), dihadiri sekitar 2.000 jemaat. Acara diawali kirab budaya dari Mahavihara Majapahit sejauh dua kilometer. Capek juga ikut jalan kaki, tapi asyik.

Banyak atraksi hiburan yang menarik. Barongsai, liang-liong, reog ponorogo, barong bali, parade kawula Majapahit, kuda lumping, busana Tionghoa, pawai para banthe, hingga barisan penghayat kepercayaan. Semua peserta kirab membawa setangkai bunga sedap malam. Kembang yang senantiasa menebarkan aroma wangi.

Acara utama dalam Waisak 2555 BE tentu saja meditasi bersama. Detik-detik perayaan trisuci tahun ini jatuh pada pukul 18:08 WIB. Persis pukul 08:00 Banthe Viriyanadi, rohaniwan senior asal Mojokerto, pendiri Mahavihara Majapahit, didaulat memimpin meditasi bersama.

"Silakan ambil posisi duduk yang paling nyaman," kata sang banthe.

Genta berbunyi... dan meditasi dimulai. Jemaat ramai-ramai memejamkan mata, fokus, bersihkan pikiran. Mengenang tiga peristiwa penting yang sama-sama berlangsung pada purnama sidhi. Saya bersama beberapa teman wartawan memotret adegan meditasi ini. Suasana hening.

Betapa hebat kekuatan meditasi. Ketika semua orang hening, tutup mulut, maka suara binang-binatang liar di kompleks Candi Brahu terdengar sangat jelas. Termasuk suara orang-orang yang berbisik sendiri karena memang bukan penganut Buddha.

Perayaan Waisak dan Nyepi, bagi saya, memang dahsyat dan istimewa. Justru di saat hari raya, mereka justru berdiam diri. Hening. Para biarawan Katolik bilang silentium magnum! Menciptakan keheningan tak hanya di mulut, tapi juga di pikiran. Yang sulit memang mengendalikan pikiran agar hening, tidak berkelana ke mana-mana.

Saya coba ikut meditasi di dekat gadis-gadis berbusana Tionghoa yang bertugas membawa persembahan. Meditasi tentu juga dilaksanakan penganut non-Buddha meski tidak seintens kaum Buddhis. Wow, pikiran saya melayang ke mana-mana. Sulit dijinakkan.

Sekitar lima menit, saya pun buka mata. Beberapa cewek di samping saya ternyata lebih dulu buka mata. Dia main-main Blackberry. Ada lagi yang sibuk ber-SMS. Ada lagi yang terlihat resah, tidak kerasan disuruh meditasi oleh banthe. Hehehe.... Saya pun ketawa sendiri dalam hati. Kemudian sadar dan bisa memahami situasi ini.

Meditasi itu ternyata sulit. Jangankan saya yang bukan penganut Buddha, teman-teman Buddhis yang bertahun-tahun berlatih meditasi, tiap hari dianjurkan meditasi, pun ternyata tidak mampu bertahan. Bahkan, maaf saja, saya melihat seorang rohaniwan pun sempat minum air mineral ketika acara meditasi belum dinyatakan selesai oleh Banthe Viriyanadi.

Karena acara meditasi ini cukup lama, 30-an menit, saya pun mencoba menyambung meditasi yang terputus. Pejamkan mata, ambil napas, konsentrasi ke satu titik.... Sempat teratur, kemudian pikiran saya bergerak liar lagi.

Saya akhirnya bisa maklum mengapa manusia pada umumnya suka bicara. Sulit menutup mulut. Suka bicara meskipun tidak semua yang dibicarakan itu bagus.



COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

1 comment:

  1. Dengan hening barulah kita dapat mendengarkan suara Tuhan...

    ReplyDelete