27 May 2011

Mahavihara Majapahit dan Buddha Tidur



Perayaan Waisak nasional memang dipusatkan di Candi Brahu, Trowulan, Mojokerto, Selasa (17/5/2011). Namun, Mahavihara Majapahit yang juga berlokasi di Trowulan dipadati pengunjung sejak beberapa hari sebelumnya.

MESKI sudah berusia 26 tahun, Mahavihara Majapahit ini kurang dikenal masyarakat luas di Jawa Timur. Hanya umat Buddha, khususnya keluarga Buddhayana, yang tahu persis keberadaan vihara yang didirikan Banthe Viriyanadi Mahathera pada 1985 ini. Juga, tentu saja, warga Trowulan di sekitar vihara.

Tak heran, momentum Waisak nasional kemarin dimanfaatkan sejumlah komunitas fotografer, pencinta sejarah, hingga wartawan berbagai media untuk melihat langsung vihara Buddhayana ini. Terletak di Desa Bejijong, Kabupaten Mojokerto, kehadiran Mahavihara Majapahit kontan mengingatkan kita akan kebesaran Majapahit (1293-1500). Kerajaan yang wilayahnya jauh lebih luas ketimbang Indonesia saat ini.

Sebuah kerajaan yang mengedepankan toleransi dan kebersamaan di antara berbagai agama dan kepercayaan. Ingat, semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu, sejatinya juga diambil dari khasanah Majapahit. Nah, Mahavihara Majapahit berdiri megah di Trowulan, yang diyakini sebagai pusat Majapahit tempo doeloe.

Mengapa Banthe Viriyanadi mendirikan vihara di Trowulan? Mengapa pula dinamakan Mahavihara Majapahit?

Sebagai banthe alias bhiksu asli Mojokerto, Banthe Viriyanadi tahu persis sejarah Mojopahit, situs-situs bersejarah di Trowulan, hingga aspek religiositas di kerajaan yang didirikan oleh Raden Wijaya itu. Yang paling dia tekankan adalah semangat persatuan dan kesatuan. Bhinneka tunggal ika!

“Saya ingin agar kita selalu ingat bahwa Kerajaan Majapahit adalah pemersatu Nusantara. Semangat persatuan itulah yang ingin kita tunjukkan di sini,” katanya.

Maka, setelah melalui survei lokasi, Banthe Viriyanadi akhirnya memutuskan untuk membangun sebuah vihara di Desa Bejijong. Meski letaknya tak jauh dari jalan raya, suasana khas pedesaan yang guyub dan sepi masih terasa. Lokasinya juga dekat dengan sejumlah bangunan cagar budaya peninggalan Majapahit. Akhirnya, pada 1985 Mahavihara Majapahit resmi berdiri.

Pilihan Banthe Viriyanadi ternyata tidak keliru. Vihara baru ini tak hanya menjadi jujugan umat Buddha, tapi juga wisatawan umum. Karena itu, bangunan yang awalnya sederhana saja direnovasi selama dua tahun mulai 1987 sampai 1989. Pada 31 Desember 1989 Mahavihara Majapahit diresmikan Gubernur Jawa Timur Sularso.



Sebagai vihara besar, Mahavihara Majapahit dilengkapi dengan tetenger berupa patung Buddha Tidur. Patung berwarna keemasan ini disebut-sebut terbesar kedua setelah patung serupa di Thailand.

BEBERAPA waktu lalu, patung Buddha Tidur ini dicatat petugas Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai yang terbesar di Indonesia. Begitu masuk ke pintu gerbang vihara, apalagi siang hari, pengunjung niscaya langsung berpaling ke arah cahaya keemasan di sebelah kiri vihara.

Sang Buddha, berjubah khas, digambarkan sedang tidur miring ke kanan berbantalkan tangan kanan. Dimensi patung ini memang dahsyat. Panjang 22 meter, tinggi 4,5 meter, dan lebar enam meter.

Katakan saja tinggi badan laki-laki Indonesia rata-rata 166 sentimeter, maka sosok Sang Buddha digambarkan lebih besar 13 kali ukuran manusia normal. Tentu saja, patung unik ini menjadi daya tarik tersendiri bagi jemaat Buddha maupun wisatawan.

Setelah membeli semacam kupon persembahan, kaum Buddhis biasanya masuk dan berkeliling memutari areal Buddha Tidur. Di sepanjang perjalanan ziarah itu, mereka terlihat berkali-kali membuat gerakan tanda bakti kepada Sang Buddha. "Mumpung sudah datang ke sini, ya, sekalian ikut ritual di areal patung," ungkap salah satu jemaat asal Surabaya.

Adapun pengunjung biasa, yang non-Buddhis, berusaha mengabadikan patung ini dengan kamera saku, kamera ponsel, hingga kamera video. Sejumlah kamerawan televisi, siang itu, pun terlihat sibuk melakukan pengambilan gambar. Tak ingin kehilangan momentum, sejumlah pemain reog, barongsai, dan barong bali pun berpose di depan Buddha Tidur.



Menempati lahan seluas lima hektare di Desa Bejijong, Trowulan, Mojokerto, Mahavihara Majapahit ibarat sebuah padepokan atau sanggar budaya yang komplet. Suasana pedesaan yang kental, dekat perkebunan tebu, membuat vihara Buddhayana ini sering menjadi jujugan orang-orang kota.

SELAIN patung Buddha Tidur berukuran jumbo, Mahavihara Majapahit dilengkapi sejumlah fasilitas untuk jemaat Buddha, gerai suvenir, aula, asrama banthe, hingga gudang logistik dan dapur umum. Karena itu, ketika ribuan orang mengikuti perayaan Waisak bersama keluarga Buddhayana pada 17 Mei lalu, vihara ini tak perlu membuat terop atau membuka dapur umum segala.

Belasan petugas terlihat sibuk di dapur umum untuk menyiapkan konsumsi bagi jemaat, pengunjung, hingga wisatawan. Setiap saat pengunjung bisa masuk ke ruang makan untuk menikmati makanan dan minuman sederhana.

“Jangan khawatir kelaparan selama berada di sini. Silakan tambah nasinya, persediaan masih banyak,” ujar seorang petugas bernada canda.

Meskipun saat itu ada Trisuci Waisak, hari paling penting bagi umat Buddha, makanan yang disajikan sangat sederhana. Cukup nasi putih, sayur tewel, dan kerupuk, dan mi goreng. Tidak ada ikan atau daging layaknya di hajatan besar umumnya. Maklum, sebagai vihara pusat untuk jemaat Buddhayana, kesederhanaan sangat dipentingkan.

“Apalagi, umat Buddha itu banyak yang vegetarian. Tidak mengonsumsi makanan-makanan hewani. Makanya, menu makanan untuk para tamu Waisak, ya, seperti ini. Minumnya juga hanya air putih saja,” kata seorang ibu 50-an tahun kepada saya.

“Sederhana, tapi yang penting nikmat dan menyenangkan,” tukas Gunawan, jemaat asal Surabaya, lantas tersenyum lebar.

Memberikan jamuan makan kepada para tamu, terutama dalam hajatan-hajatan besar, memang sudah menjadi tradisi di lingkungan masyararat Tionghoa. Karena itu, sejak dulu para donatur rajin menyampaikan sumbangan untuk logistik vihara baik dalam bentuk beras, mi, minyak goreng, gula pasar, garam, bumbu-bumbu, hingga uang tunai.

Nah, sumbangan itu disimpan dalam gudang yang tak jauh dari lokasi patung Buddha Tidur. “Kalau menjelang atau selama musim Waisak, biasanya sumbangan sembako lebih banyak,” kata seorang petugas Mahavihara Majapahit.

1 comment:

  1. wah lengkap bgt nii.. mnta buat tugas yach...

    visit n follow back on http://whatevercoool.blogspot.com/

    ReplyDelete