09 May 2011

M. Anis dan Pasar Seni Lukis Indonesia



Selama ini Surabaya, dan Jawa Timur umumnya, kurang diperhitungkan di jagat seni rupa nasional. Namun, berkat even Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI), pelan tapi pasti, Kota Pahlawan ini mulai menjadi jujugan para pelukis dan kolektor dari berbagai daerah di tanah air. Bahkan, PSLI yang digelar di Balai Pemuda Surabaya, 6-16 Mei 2011, disebut-sebut sebagai pasar seni terbesar di Indonesia.

Oleh Lambertus Hurek


PSLI 2011 dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf bersama Konsul Jenderal Amerika Serikat (AS) Kristen F. Bauer, Jumat (6/5/2011). Sedikitnya 400 pelukis dari berbagai kota menggelar sekitar 3.500 lukisan di 168 stan selama 10 hari.

Nah, di tengah riuh-rendah para seniman yang datang dari berbagai kota, terlihat seorang pria berkacamata, berkepala plontos, sangat sibuk melayani pertanyaan pengunjung, pelukis, kolektor, hingga wartawan. Yah, dialah M. Anis, penggagas sekaligus ketua panitia PSLI, yang juga dikenal sebagai wartawan senior dan penggiat kesenian di Surabaya.

Hingga larut malam, ketika para undangan dan pengunjung sudah pulang, Anis masih hilir mudik dari stan ke stan. Meski tampak kelelahan, Anis menyambut hangat kedatangan Radar Surabaya. Sambil menyaksikan aneka lukisan, diiringi lagu-lagu mendiang Franky Sahilatua, kami berbincang-bincang dengan ayah empat anak ini. Berikut petikannya:

BAGAIMANA RESPONS PENGUNJUNG PADA HARI PERTAMA INI?

Wah, luar biasa. Ramai sekali. Bahkan, sebelum pembukaan pun sudah banyak orang berdatangan ke sini. Pada hari pertama saja sudah ada 34 lukisan yang laku. Ini yang membuat saya senang. Saya optmistis PSLI kali ini lebih sukses daripada tahun lalu. Sekarang ada seniman dari New Zealand yang ikut berpartisipasi.

SUDAH BERAPA KALI ANDA MENGGELAR PSLI?

Ini kali keempat. Saya sudah bertekad agar PSLI di Surabaya ini selalu diadakan setiap Jumat pertama pada bulan Mei selama 10 hari. Kenapa? Kalau dimulai Jumat, maka kita punya dua weekend. Itu bagus bagi pengunjung dan peserta.

BAGAIMANA PERSIAPAN PSLI 2011 INI?

Begini. Saya dan teman-teman kan sudah banyak belajar dari pengalaman menggelar PSLI selama tiga kali. Dari situ, kami belajar bahwa PSLI ini harus dipersiapkan selama satu tahun penuh. Begitu PSLI ini selesai, saya harus langsung membuat persiapan untuk tahun depan. Segala sesuatnya harus dipersiapkan secara detail. Mulai dari booking gedung, urus perizinan, nyewa tenda dan sebagainya. Mengelola even besar seperti pasar seni macam ini memang tidak mudah. Persiapannya harus dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya.

NGGAK CAPEK?

Capek sih jelas capek. Tapi ada kepuasan tersendiri di hati. Puas melihat masyarakat Surabaya antusias menikmati, kemudian mengoleksi lukisan-lukisan yang bagus-bagus itu. Kalau banyak lukisan yang laku, para seniman senang dan saya ikut senang. Intinya, saya ingin mendekatkan para seniman itu dengan masyarakat, khususnya para penikmat, kolektor lukisan.

LUKISAN ANDA JUGA DIIKUTKAN?

Oh, tidak! Di PSLI ini nggak ada lukisan saya. Hehehe... Sebab, di sini tugas adalah melayani teman-teman seniman. Begitu juga panitia lain, saya minta untuk tidak ikut bursa. Nggak lucu kalau saya yang menyelenggarakan PSLI, tapi juga ikut-ikutan menjual karya-karya saya.

SELAMA TIGA KALI PSLI, MENURUT ANDA, APA SUDAH BISA DIKATAKAN SUKSES?

Ya, jelas sukses. Omzetnya bagus, pengunjung juga banyak. Bahkan, saking antusiasnya peserta, stan-stan sudah ludes jauh-jauh hari sebelumnya. Karena keterbatasan tempat, ya, hanya 168 stan yang bisa diakomodasi di PSLI 2011.

Ada lagi yang menarik. Beberapa peserta lama kali ini tidak bisa tampil karena sibuk melayani order setelah ikut PSLI tahun lalu. Salah satu pelukis, misalnya, kebanjiran order membuat 100 lukisan. Sekarang dia lagi sibuk bikin lukisan itu. Nilai satu lukisannya lumayan, Rp 35 juta.

ANDA SEBAGAI PANITIA ATAU EO KEBAGIAN BERAPA PERSEN?

Hehehe.... Saya ini nggak pernah pikir komisi atau fee. Saya hanya ingin agar PSLI ini lancar, sukses, dan bisa menggairahkan kehidupan kesenian di Kota Surabaya. Yang saya cari itu kepuasan batin. (*)

CV SINGKAT

Nama : M. Anis
Lahir : Solo, April 1954
Istri : Dyah
Anak : 4 orang
Pekerjaan : Pemimpin redaksi www.kemenpora.go.id
Hobi : Berkesenian

Pengalaman kerja
Wartawan Memorandum 1983-1986
Wartawan Surabaya Post 1986-1993
Wartawan tabloid Detik 1993-1996
Mendirikan tabloid Adil, 1996
Mendirikan tabloid Detak, pengganti Detik.
Pemimpin redaksi www.presidensby.info, 2005-2010
Pemimpin redaksi www.kemenpora.go.id




Optimistis Cetak Rp 2,5 Miliar

SEBAGAI warga Surabaya yang aktif di dunia jurnalistik sejak 1983, M Anis sejak lama prihatin melihat minimnya aktivitas kesenian, khususnya seni rupa, di Kota Surabaya. Balai Pemuda justru lebih sering dimanfaatkan oleh para pedagang untuk pameran furnitur, kerajinan, hingga tanaman hias.

Aktivitas pemeran dagang macam itu jelas bisa mendatangkan uang, tapi kurang kondusif untuk kehidupan kesenian. Karena itu, pada 2008, Anis berinisiatif menggelar Pameran Seni Lukis Indonesia (PSLI) di Balai Pemuda. Dia ingin Balai Pemuda dikembalikan sebagai pusat kesenian di Kota Surabaya. Tak dinyana, PSLI yang digelar secara spontan ini beroleh tanggapan positif dari para seniman, kolektor, pemerintah daerah, dan masyarakat umum.

Anis masih ingat betul saat itu ada 56 stan yang dibuka. "Omzetnya mencapai Rp 480 juta," tutur Anis kepada saya. Angka ini di luar dugaan mantan wartawan Surabaya Post ini.

Dia pun semakin termotivasi untuk menjadikan PSLI sebagai agenda tahunan setiap pekan pertama bulan Mei di Kota Surabaya. Benar saja. Pada PSLI kedua, jumlah stan membengkak hingga 131 buah alias lebih dari 100 persen. Omzet yang diraup pada 2009 mencapai Rp 700 juta.

Tahun lalu, pada penyelenggaraan ketiga, PSLI pun mencatat kemajuan signifikan. Omzet yang dicetak bukan lagi ratusan juta, melainkan miliaran rupiah. Tepatnya Rp 1,72 miliar. Jumlah stan juga naik hingga 160 buah.

Bagaimana dengan tahun ini?

Jumlah stan juga naik sedikit dibandingkan tahun lalu, yakni 168 stan. Melihat antusiasme pengunjung serta kurs rupiah yang terus menguat hingga Rp 8.500, Anis mengaku optismistis hajatan seninya ini bisa mencetak omzet hingga Rp 2,5 miliar.

"Insyaallah, target itu bisa tercapai," katanya. (rek)


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

No comments:

Post a Comment