04 May 2011

Kelenteng Gresik 371 Tahun



Tanpa terasa Kelenteng Kim Hin Kiong di Gresik telah berusia 371 tahun. Peringatan sejit (hari jadi) ini dilakukan komunitas Tionghoa setempat dengan sejumlah ritual dan acara kesenian, pekan lalu (3/5/2011).

Menurut Ong Bek Tien, salah satu pengurus Kim Hin Kiong, perayaan ulang tahun ke-371 kelenteng satu-satunya di Kabupaten Gresik itu juga diadakan bersamaan dengan peringatan sejit Makco Thian Siang Seng Bo. Seperti sebagian besar kelenteng di pesisir pantai Jawa, Kim Hin Kiong di Gresik juga dibangun para leluhur asal Tiongkok Selatan untuk menghormati Makco Thian Siang Seng Bo yang dikenal sebagai Dewi Laut.

“Kita adakan doa bersama jemaat kelenteng di sini dan tamu dari daerah-daerah lain. Ini sebagai ucapan syukur atas rahmat dan berkat yang diterima dari Tuhan selama ini,” kata Ong Bek Tien.

Diawali dengan doa bersama, jemaat serta masyarakat sekitar disuguhi aneka hiburan menarik seperti barongsai, liang-liong, hingga kesenian tradisional Jawa. Bahkan, sejak dulu pengurus kelenteng selalu menanggap wayang kulit untuk menghibur masyarakat. Pergelaran wayang kulit di kompleks Kim Hin Kiong tak hanya satu dua hari, tapi selama sepekan.

“Jadi, kita sekaligus melestarikan seni budaya leluhur kita seperti wayang kulit yang punya nilai tinggi,” tegas Ong.

Dia berharap berbagai kesenian tradisional tanah air tetap dipelihara masyarakat meskipun saat ini ada kecenderungan kaum muda lebih gemar hiburan modern.

Sebagai salah satu kota perdagangan penting di Pulau Jawa, sejak dulu banyak kapal dagang dari Tiongkok, Gujarat, Siam, hingga Timur Tengah berlabuh di Gresik. Tak terkecuali para pedagang asal Tiongkok. Mereka kemudian menetap dan mendirikan sebuah kelenteng untuk menghormati Makco Thian Siang Seng Bo.

“Kalau kita baca buku-buku sejarah kedatangan orang Tionghoa di Nusantara, khususnya Pulau Jawa, selalu ada benang merah yang sama. Mereka biasanya mendarat di kota-kota pelabuhan atau pesisir. Ini karena orang-orang
Tiongkok itu datang menggunakan perahu-perahu atau kapal-kapal kecil,” ujar Lukito Kartono, dosen Universitas Kristen Petra Surabaya, yang aktif mengkaji arsitektur Tionghoa.

Setelah membentuk komunitas di tanah perantauan, menurut Lukito, orang-orang Tiongkok itu kemudian membangun kelenteng. Selain sebagai tempat peribadatan dan pelestarian tradisi budaya Tionghoa, kelenteng-kelenteng tua di Jawa biasa dimaksudkan untuk menghormati Makco Thian Siang Seng Bo.

“Sebab, mereka percaya bisa berlayar sampai di tanah Jawa dengan selamat antara lain berkat pertolongan Makco,” kata Lukito.

Nah, agar bangunan kelenteng itu benar-benar berkualitas tinggi, tahan lama, dan punya elemen-elemen Tionghoa yang khas, menurut Lukito, para perantau itu mendatangkan tukang-tukang kawakan langsung dari Tiongkok. Para arsitek ulung itu biasanya berasal dari kawasan Guangdong.


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

1 comment:

  1. Aku pikir hanya Surabaya jadi pelabuhan utama perahu2 Tiongkok nga tahunya Geresik juga pelabuhan penting bagi perahu2 Tiongkok.

    ReplyDelete