03 May 2011

Cak Ir, Gurunya Wartawan Musik




Senin, 2 Mei 2011. Saya melayat ke rumah almarhum SUGENG IRIANTO, wartawan senior Jawa Pos dan Radar Surabaya yang telah pensiun, di Simo Pomahan Baru 3A Surabaya. Tubuhnya yang gemuk, rambut gondrong, suka melawak... terbujur kaku di ruang tamu.

Saya berdoa singkat, ditemani enam anak almarhum.

Lama saya terdiam. Mengenang kembali masa-masa ketika saya bergaul akrab dengan Cak Ir di newsroom. Di awal-awal jadi wartawan, saya biasa mengantar Cak Ir dengan sepeda motor ke kawasan Simo Pomahan Baru. Sebab, waktu itu sepeda motor trail kesayangannya rusak.

Mampir di rumah di dalam gang sempit, kami banyak bicara santai, ngalor-ngidul. Mulai politik, musik, budaya, hingga kehidupan rakyat di perkampungan. Sebagai salah satu pejuang proreformasi, Cak Ir memang dekat dengan wong cilik. Dia tercatat sebagai salah satu pentolan Perjuangan Rakyat untuk Reformasi Total (PRRT), organisasi sayap PDI Perjuangan di Surabaya, yang dipimpin Bambang DH pada 1997-1998.

Setelah reformasi sukses melengserkan Pak Harto, sebagian besar pentolan PRRT masuk ke gelanggang politik. Jadi anggota parlemen, jadi pejabat, jadi orang penting, baik di Surabaya maupun Jatim. Bambang DH jadi wakil wali kota Surabaya, kemudian wali kota, kemudian turun jadi wakil wali kota. Saleh Mukadar anggota dewan. Wisnu Buana anggota dewan. Cak Budi anggota dewan. L Soepomo anggota dewan. Susilo Muslim anggota dewan.

Sugeng Irianto yang berjasa membesarkan PRRT dan PDI Perjuangan di koran? “Saya tetap wartawan saja. Biarlah yang jadi pejabat dan anggota dewan teman-teman itu. saya di media massa agar bisa mengawasi kinerja mereka-mereka itu,” katanya enteng.

Cak Ir itu wartawan aktivis. Tak hanya menulis berita, mengutip omongan narasumber, yang sering bicara ngawur, dia sangat piawai ‘mengarahkan’ berita. Punya agenda setting, khususnya tentang reformasi dan demokratisasi. Itu karena Cak Ir, yang tiap hari pakai baju loreng ini, punya nyali tinggi. Tidak pernah takut pada tentara atau polisi yang pada zaman Orde Baru sangat berkuasa.

“Kita harus lawan! Wartawan harus punya idealisme! Jangan mau didikte oleh orang-orang yang antidemokrasi,” pesan Cak Ir ketika membimbing saya sebagai wartawan pemula.

Pesan lain ketika Cak Ir, beberapa tahun kemudian, ketika menggembleng saya sebagai redaktur politik:

“Kalau omongan si pejabat, menteri... gak masuk akal, ngawur, ya, jangan dimuat. Pakai akal sehat dong! Ingat, politisi itu suka bicara ngawur, asal bunyi... tapi seolah-olah hebat banget. Kamu jangan telan omongan-omongan kayak gitu."

Amanat almarhum Cak Ir ini selalu nempel di benak saya!

Sebelum krisis politik, disusul gerakan reformasi untuk menjatuhkan Orde Baru, Cak Ir dikenal sebagai wartawan dan redaktur hiburan di Jawa Pos. Pada 1980-an, ketika Jawa pos masih menjadi andalan utama band-band dan penyanyi untuk populer, Cak Ir berada di garis depan. Dia akrab dengan artis-artis, ngopi, jagongan, layaknya sahabat akrab. Cak Ir butuh berita, si artis butuh ngetop, masuk Jawa Pos. Klop!

Maka, boleh dikata, Cak Ir alias Sugeng Irianto ini yang berjasa membesarkan begitu banyak artis dari Jawa Timur pada era 1980-an dan 1990-an. Sebut saja nama artis-artis lawas di depan Cak Ir. Pasti wartawan lulusan Akademi Wartawan Surabaya (AWS) itu akan tertawa-tawa ngakak. Cak Ir tak sekadar tahu informasi di permukaan, yang sudah dimuat media massa, tapi cerita-cerita lucu di balik layar.

Termasuk kekonyolan-kekonyolan si artis yang memang sangat manusiawi. Sebagai wartawan musik koran paling top di Jawa Timur, Jawa Pos, Cak Ir itu ibarat ensiklopedia berjalan artis-artis Jawa Timur. Katakan saja AKA Group dengan Ucok AKA Harahap yang eksentrik. SAS Group pecahan AKA yang dimotori Arthur Kaunang. Adi Metal, band metal ngetop Surabaya zaman dulu. Red Spider. Brigade Metal. Ita Purnamasari. Ayu Wedayanti. Endah Kuswantoro. Gombloh. Mus Mujiono.

Surabaya Rock Band. Annie Carera. Vicki Fendi. Power Metal. Andromeda. Kemudian band-band yang agak baru macam Dewi 19 dan Padi. Cak Ir bahkan tahu persis kebiasaan-kebiasaan masa kecil Yoyo, drummer Padi, yang kini ditahan di penjara gara-gara narkoba.

“Yoyo itu sejak masih bocah sudah jadi jawara drum. Pukulannya jauh lebih bagus ketimbang drummer-drummer senior,” katanya suatu ketika.

Cak Ir, yang asli arek Surabaya, pun tahu persis riwayat hidup promotor rock bernama Log Zhelebour. Mulai dari kehidupan Log sebagai orang Tionghoa yang susah di gang sempit, ke mana-mana pakai sepeda motor butut, hingga sukses sebagai promotor musik rock. Log Zhelebour kemudian berjasa mengorbitkan band-band dan penyanyi rock di tanah air.

Terlalu banyaklah informasi tentang musik industri yang saya serap dari Cak Ir. Saya ingat betul dia selalu terpingkal-pingkal ketika bercerita tentang konser Sepultura, band cadas, di Stadion Tambaksari. Musik Sepultura begitu keras, cepat, dengan syair yang tak jelas. Kayak mesin atau auman harimau atau gongongan anjing.

Cak Ir bisa menirukan gaya vokalis Sepultura dengan sangat lucu. Tapi, ingat, saat itu anak-anak muda Jawa Timur sedang mabuk musik rock dan metal. Stadion pun gemuruh, penonton larut menikmati musik Sepultura yang supercepat itu. “Musisi Sepultura juga lucu-lucu saat ditemui di hotel,” katanya.

Makin siang makin banyak pelayat yang datang. Pukul 13.00 jenazah almarhum Cak Ir akan segera dikebumikan di tempat pemakaman umum Pakal, daerah Benowo.

Selamat jalan Cak Ir!
Semoga sampean bahagia bersama Sang Pencipta di sisi-Nya!


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

2 comments:

  1. Turut berduka yang terdalam buat Cak Ir. Sayang, saya terlambat mendengar beritanya.

    ReplyDelete
  2. ikut belasungkawa, semoga arwah cak ir diterima di sisi Allah SWT. banyak jasa2nya almarhum bagi kita di surabaya...

    ReplyDelete