30 May 2011

Jakarta dan Tarakan Juara Barongsai



Meski berstatus tuan rumah dan didukung ratusan suporter, tim-tim barongsai dari Surabaya, dan kota-kota lain di Jawa Timur, gagal mencetak prestasi dalam kejuaraan barongsai tonggak Piala Wali Kota Surabaya III. Bahkan, beberapa peserta tim rumah terkena diskualifikasi karena jatuh dari atas tonggak.

“Secara umum penampilan tim-tim dari Surabaya ada peningkatan. Tapi, harus diakui, kita masih kalah sama tim-tim dari Tarakan dan Jakarta. Bagaimanapun juga mereka itu pernah menjadi juara dunia,” ujar Chandra Wurianto, ketua Persatuan Olahraga Barongsai Indonesia (Persobarin) Jawa Timur, kepada saya.

Dalam kejuaraan tahunan untuk memeriahkan ulang tahun ke-718 Kota Surabaya ini, tim PSMTI Tarakan dan Khong Ha Hong Jakarta menjadi juara bersama. Sebab, kedua tim ini sama-sama meraih nilai 9,23. Tim-tim Jawa Timur sama sekali tak masuk dalam daftar juara, mulai juara satu sampai harapan.

Sejak hari pertama, Sabtu (28/5/201), PSMTI Tarakan dan Khong Ha Hong memang memperlihatkan kualitas teknik permainan barongsai jauh di atas kemampuan peserta asal Surabaya, Malang, Pamekasan, atau Bali. Bukan saja tak pernah terpeleset, kedua pemain barongsai bisa bergerak dengan lincah di atas tonggak-tonggak setinggi sekitar dua meter itu.

Mengapa tim Tarakan dan Jakarta selalu mendominasi semua kejuaraan barongsai di Indonesia?

Menurut Chandra Wurianto, pertama, bakat dan motivasi mereka memang jauh lebih tinggi ketimbang pemain-pemain di Jawa Timur. Mereka benar-benar rajin berlatih meskipun tidak ada kejuaran atau turnamen.

Kedua, ada sponsor dari perusahaan atau bos-bos besar. Karena itu, pemain-pemain barongsai jawara di Tarakan atau Jakarta hanya fokus berlatih dan meningkatkan kualitas permainannya. Mereka tidak perlu sibuk mencari nafkah karena sudah mendapat penghasilan dari bermain barongsai. Setelah menang di Surabaya, misalnya, mereka bakal mendapat bonus besar dari bos-bos lokal atau pemerintah daerah.

Suasana pembinaan barongsai yang demikian, menurut Chandra, membuat dua pemain utama yang sudah dibina selama bertahun-tahun selalu kompak. Tidak akan pindah ke grup lain atau berhenti latihan untuk mencari nafkah.

“Lha, kita di Surabaya ini ada grup barongsai yang kepalanya hilang atau ekornya hilang. Jadi, mau tidak mau, harus mencetak pemain baru sebagai ekor atau kepala. Dan itu tidak mudah,” ujar Chandra yang juga pembina barongsai di Yayasan Senopati Surabaya.

Meski tak pernah menang, Chandra mengaku tidak akan kapok menggelar kejuaraan barongsai Piala Wali Kota dan Piala ITC, serta kejuaraan liang-liong. Sebab, tugas Persobarin memang melaksanaan pembinaan dan menyiapkan atlet-atlet barongsai untuk diterjunkan di even nasional maupun internasional.

“Surabaya memang belum berhasil, tapi tidak bisa dibilang gagal. Buktinya, kualitas permainan anak-anak kita selalu meningkat dari tahun ke tahun,” tegas Chandra.


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

27 May 2011

Mahavihara Majapahit dan Buddha Tidur



Perayaan Waisak nasional memang dipusatkan di Candi Brahu, Trowulan, Mojokerto, Selasa (17/5/2011). Namun, Mahavihara Majapahit yang juga berlokasi di Trowulan dipadati pengunjung sejak beberapa hari sebelumnya.

MESKI sudah berusia 26 tahun, Mahavihara Majapahit ini kurang dikenal masyarakat luas di Jawa Timur. Hanya umat Buddha, khususnya keluarga Buddhayana, yang tahu persis keberadaan vihara yang didirikan Banthe Viriyanadi Mahathera pada 1985 ini. Juga, tentu saja, warga Trowulan di sekitar vihara.

Tak heran, momentum Waisak nasional kemarin dimanfaatkan sejumlah komunitas fotografer, pencinta sejarah, hingga wartawan berbagai media untuk melihat langsung vihara Buddhayana ini. Terletak di Desa Bejijong, Kabupaten Mojokerto, kehadiran Mahavihara Majapahit kontan mengingatkan kita akan kebesaran Majapahit (1293-1500). Kerajaan yang wilayahnya jauh lebih luas ketimbang Indonesia saat ini.

Sebuah kerajaan yang mengedepankan toleransi dan kebersamaan di antara berbagai agama dan kepercayaan. Ingat, semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu, sejatinya juga diambil dari khasanah Majapahit. Nah, Mahavihara Majapahit berdiri megah di Trowulan, yang diyakini sebagai pusat Majapahit tempo doeloe.

Mengapa Banthe Viriyanadi mendirikan vihara di Trowulan? Mengapa pula dinamakan Mahavihara Majapahit?

Sebagai banthe alias bhiksu asli Mojokerto, Banthe Viriyanadi tahu persis sejarah Mojopahit, situs-situs bersejarah di Trowulan, hingga aspek religiositas di kerajaan yang didirikan oleh Raden Wijaya itu. Yang paling dia tekankan adalah semangat persatuan dan kesatuan. Bhinneka tunggal ika!

“Saya ingin agar kita selalu ingat bahwa Kerajaan Majapahit adalah pemersatu Nusantara. Semangat persatuan itulah yang ingin kita tunjukkan di sini,” katanya.

Maka, setelah melalui survei lokasi, Banthe Viriyanadi akhirnya memutuskan untuk membangun sebuah vihara di Desa Bejijong. Meski letaknya tak jauh dari jalan raya, suasana khas pedesaan yang guyub dan sepi masih terasa. Lokasinya juga dekat dengan sejumlah bangunan cagar budaya peninggalan Majapahit. Akhirnya, pada 1985 Mahavihara Majapahit resmi berdiri.

Pilihan Banthe Viriyanadi ternyata tidak keliru. Vihara baru ini tak hanya menjadi jujugan umat Buddha, tapi juga wisatawan umum. Karena itu, bangunan yang awalnya sederhana saja direnovasi selama dua tahun mulai 1987 sampai 1989. Pada 31 Desember 1989 Mahavihara Majapahit diresmikan Gubernur Jawa Timur Sularso.



Sebagai vihara besar, Mahavihara Majapahit dilengkapi dengan tetenger berupa patung Buddha Tidur. Patung berwarna keemasan ini disebut-sebut terbesar kedua setelah patung serupa di Thailand.

BEBERAPA waktu lalu, patung Buddha Tidur ini dicatat petugas Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai yang terbesar di Indonesia. Begitu masuk ke pintu gerbang vihara, apalagi siang hari, pengunjung niscaya langsung berpaling ke arah cahaya keemasan di sebelah kiri vihara.

Sang Buddha, berjubah khas, digambarkan sedang tidur miring ke kanan berbantalkan tangan kanan. Dimensi patung ini memang dahsyat. Panjang 22 meter, tinggi 4,5 meter, dan lebar enam meter.

Katakan saja tinggi badan laki-laki Indonesia rata-rata 166 sentimeter, maka sosok Sang Buddha digambarkan lebih besar 13 kali ukuran manusia normal. Tentu saja, patung unik ini menjadi daya tarik tersendiri bagi jemaat Buddha maupun wisatawan.

Setelah membeli semacam kupon persembahan, kaum Buddhis biasanya masuk dan berkeliling memutari areal Buddha Tidur. Di sepanjang perjalanan ziarah itu, mereka terlihat berkali-kali membuat gerakan tanda bakti kepada Sang Buddha. "Mumpung sudah datang ke sini, ya, sekalian ikut ritual di areal patung," ungkap salah satu jemaat asal Surabaya.

Adapun pengunjung biasa, yang non-Buddhis, berusaha mengabadikan patung ini dengan kamera saku, kamera ponsel, hingga kamera video. Sejumlah kamerawan televisi, siang itu, pun terlihat sibuk melakukan pengambilan gambar. Tak ingin kehilangan momentum, sejumlah pemain reog, barongsai, dan barong bali pun berpose di depan Buddha Tidur.



Menempati lahan seluas lima hektare di Desa Bejijong, Trowulan, Mojokerto, Mahavihara Majapahit ibarat sebuah padepokan atau sanggar budaya yang komplet. Suasana pedesaan yang kental, dekat perkebunan tebu, membuat vihara Buddhayana ini sering menjadi jujugan orang-orang kota.

SELAIN patung Buddha Tidur berukuran jumbo, Mahavihara Majapahit dilengkapi sejumlah fasilitas untuk jemaat Buddha, gerai suvenir, aula, asrama banthe, hingga gudang logistik dan dapur umum. Karena itu, ketika ribuan orang mengikuti perayaan Waisak bersama keluarga Buddhayana pada 17 Mei lalu, vihara ini tak perlu membuat terop atau membuka dapur umum segala.

Belasan petugas terlihat sibuk di dapur umum untuk menyiapkan konsumsi bagi jemaat, pengunjung, hingga wisatawan. Setiap saat pengunjung bisa masuk ke ruang makan untuk menikmati makanan dan minuman sederhana.

“Jangan khawatir kelaparan selama berada di sini. Silakan tambah nasinya, persediaan masih banyak,” ujar seorang petugas bernada canda.

Meskipun saat itu ada Trisuci Waisak, hari paling penting bagi umat Buddha, makanan yang disajikan sangat sederhana. Cukup nasi putih, sayur tewel, dan kerupuk, dan mi goreng. Tidak ada ikan atau daging layaknya di hajatan besar umumnya. Maklum, sebagai vihara pusat untuk jemaat Buddhayana, kesederhanaan sangat dipentingkan.

“Apalagi, umat Buddha itu banyak yang vegetarian. Tidak mengonsumsi makanan-makanan hewani. Makanya, menu makanan untuk para tamu Waisak, ya, seperti ini. Minumnya juga hanya air putih saja,” kata seorang ibu 50-an tahun kepada saya.

“Sederhana, tapi yang penting nikmat dan menyenangkan,” tukas Gunawan, jemaat asal Surabaya, lantas tersenyum lebar.

Memberikan jamuan makan kepada para tamu, terutama dalam hajatan-hajatan besar, memang sudah menjadi tradisi di lingkungan masyararat Tionghoa. Karena itu, sejak dulu para donatur rajin menyampaikan sumbangan untuk logistik vihara baik dalam bentuk beras, mi, minyak goreng, gula pasar, garam, bumbu-bumbu, hingga uang tunai.

Nah, sumbangan itu disimpan dalam gudang yang tak jauh dari lokasi patung Buddha Tidur. “Kalau menjelang atau selama musim Waisak, biasanya sumbangan sembako lebih banyak,” kata seorang petugas Mahavihara Majapahit.

23 May 2011

Gemma Inventa di Katedral




Di Surabaya ada banyak paduan suara gerejawi (Katolik) yang bagus, bikin konser beberapa kali, tapi kemudian vakum sangat lama. Ini karena proses regenerasi tidak jalan.

Penyanyi-penyanyi yang kebanyakan mahasiswa, kemudian lulus, bekerja, dan berumah tangga. Jika tak ada regenerasi, maka paduan suara itu hanya tinggal nama.

Syukurlah, Gemma Inventa sukses melakukan regenerasi, sehingga masih bertahan hingga sekarang. Minggu (22/5/2011), paduan suara gerejawi yang dirintis pada 1980-an ini tampil di Gereja Katedral Surabaya. Meski bukan konser, penampilan arek-arek Gemma Inventa tidak mengecewakan.

Mereka mampu membawakan lagu-lagu liturgi dengan baik. Ordinarium Misa Kita II (karya Antonius Sutanto SJ), yang menuntut nada-nada tinggi dari sopran dan tenor disajikan secara harmonis. Gemma Inventa pun tetap memberi ruang kepada ratusan jemaat dalam misa yang dipimpin Romo Damar Cahyadi itu.

Kepiawaian Gemma Inventa terlihat ketika membawakan Gereja Bagai Bahtera. Lagu karya Martin Schneider ini dibawakan tanpa iringan musik (a capella) dengan aransemen ngepop ala vocal group. Tak ayal, nomor ini memberikan nuansa yang berbeda dalam misa yang juga dihadiri Freddy Handoko Istanto, pendiri Komunitas Peranakan dan tokoh Surabaya Heritage ini.

“Mudah-mudahan paduan suara di Surabaya bisa mempertahankan eksistensinya seperti Gemma Inventa,” ujar Andreas.

Mantan aktivis paduan suara mahasiswa ini sudah belasan tahun meninggalkan dunia paduan suara gara-gara sibuk cari duit. Mana sempat latihan?

Hehehe... sama dengan saya dong!

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

21 May 2011

PMS Perkenalkan Gamelan



Ada yang menarik dalam Pertemuan Musik Surabaya (PMS) di Wisma Melodia pekan lalu. Slamet Abdul Sjukur, sang pendiri PMS dan pengarah PMS, menghadirkan musik tradisional Indonesia. Ini tidak umum. Sebab, selama ini acara PMS biasanya diisi dengan pembahasan musik klasik Barat.

Seperti biasa, Cak Slamet yang tetap gondrong dan brewokan ini bercerita tentang gamelan kita yang ternyata disukai orang Barat. Komponis-komponis Barat sejak lama punya minat dengan gamelan. Bahkan, kata Cak Slamet, di Amerika Serikat sana ada 198 perguruan tinggi yang punya grup gamelan. Bukan hanya papan nama, tapi orang-orang bule ini berlatih, saling belajar, kemudian bikin pertunjukan.

Lantas, di negara kita sendiri ada berapa kampus yang punya gamelan? Sudah pasti, tak sampai 198. Lama-lama kita terpaksa harus pigi ke Amerika atau Eropa untuk belajar main gamelan. Sebab, orang-orang kita sendiri kurang serius mengembangkan musik tradisional. Kekayaan seni budaya kita malah diabaikan di Indonesia.

Cak Slamet melanjutkan ceritanya. Tahun 1993 pernah digelar pesta gamelan di Eropa. Orang-orang bule rupanya senang mendengar nada-nada gamelan yang eksotik. Beda dengan musik piano atau klasik Barat yang biasa mereka dengar. Kemudian tahun 2007, masih menurut Cak Slamet, Inggris juga bikin pesta gamelan. Hasilnya juga bagus. Orang-orang bule ramai-ramai datang menonton pertunjukan tersebut.

Cak Slamet kemudian kasih informasi penting. Sebentar lagi ada semacam festival atau lomba komposisi yang dilaksanakan Goethe Institute. Syaratnya: komposisi itu harus berbasis gamelan. Harus kental dengan muatan musik tradisional Nusantara.

"Acaranya di Bandung," kata Cak Slamet dengan suara yang lembut tanpa pengeras suara.

Slamet Abdul Sjukur memang akhir-akhir ini gencar berkampanye melawan 'polusi suara' dan penggunaan pengeras suara alias loud speaker yang tidak proporsional. Kalau bisa bicara tanpa mikrofon, kenapa harus pakai pengeras suara? Cak Slamet juga bikin organisasi bernama Masyarakat Bebas Bising.

Nah, untuk festival komposisi di Bandung ini Cak Slamet menyertakan empat komponis muda, anak didiknya, dari Surabaya. Salah satunya si Gemma, lulusan musik Universitas Negeri Surabaya, yang nempel terus sama Cak Slamet. Juga Nadia, perempuan cantik, yang sekarang hamil besar. Cak Slamet memang punya kedekatan khusus dengan wanita-wanita cantik baik yang masih gadis maupun yang rondo teles. Hehehe....

Dan acara inti PMS pun dimulai. Selama hampir satu jam Cak Slamet putar film tentang kehidupan masyarakat Bali pada era 1930-an. Film yang diproduksi orang Eropa, untuk konsumsi bangsa Eropa, itu menggambarkan betapa kehidupan masyarakat Bali penuh dengan ritual dan kesenian. Adu ayam diiringi musik gamelan. Pawai keagamaan, ngaben, hingga acara minum arak pun tak lepas dari musik.

Agenda PMS, yang diikuti sebagian besar guru-guru piano di Surabaya, ini ditutup dengan menikmati permainan musik tradisional Banyuwangi oleh mahasiswa STKW Surabaya. Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta. Dipimpin Cak Wawan [Hari Wirawan], teman-teman mahasiswa ini pamer kebolehan bermain gamelan di depan guru-guru musik klasik Barat. Wawan bahkan memainkan biola dengan cara menggesek yang berlawanan arah dengan apa yang diajarkan guru-guru klasik Barat.

Rancak nian suasana di aula Wisma Melodia siang itu. Berbeda dengan menonton konser klasik, kita harus tenang, duduk manis di tempat, kali ini peserta PMS mendekati panggung. Ada yang menari, larut dalam irama kothekan Banyuwangi yang dinamis.

Cak Wawan dan Pak Suwarmin, dosen STKW, sempat memberikan semacam kuliah bersama tentang instrumen musik tradisional Jawa itu. Saya melihat guru-guru piano itu asyik sekali bertanya macam-macam. Apakah pakai score alias partitur?

Cak Wawan bilang tidak ada. Pemusik tradisional itu hanya mengandalkan perasaan saja. Pak Warmin menambahkan, dalam musik tradisional Jawa, Bali, Sunda, dan sebagainya sangat penting apa yang disebut ANGON ROSO. Menggembalakan rasa!

Para pemain saling mengukur dengan rasa. Karena itu, tidak terjadi tabrakan meskipun dua pemain memukul satu instrumen yang sama. Pak Warmin bahkan sempat pamer kebolehan memainkan gamelan dari belakang dengan tempo cepat. Hmm... enak didengar karena nada-nada yang dipukul memang pas.

Cak Slamet buru-buru menukas: "Pemain piano yang paling jago sekalipun tidak mungkin bisa memainkan piano dari belakang. Makanya, jangan anggap enteng kemampuan pemusik-pemusik tradisional kita di kampung-kampung!"

Saya kira Slamet Abdul Sjukur sukses besar pada PMS kali ini. Dia mampu mempertemukan musisi tradisional dengan musisi klasik Barat. Membuka mata kita bahwa musik itu begitu kaya, luas, dan punya hak untuk hidup.




COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

19 May 2011

Meditasi Memang Sulit




Cewek di tengah sibuk ber-SMS, sementara teman-temannya meditasi.


Perayaan Waisak keluarga Buddhayana tingkat nasional di Candi Brahu, Trowulan, Mojokerto, Selasa (17/5/2011), dihadiri sekitar 2.000 jemaat. Acara diawali kirab budaya dari Mahavihara Majapahit sejauh dua kilometer. Capek juga ikut jalan kaki, tapi asyik.

Banyak atraksi hiburan yang menarik. Barongsai, liang-liong, reog ponorogo, barong bali, parade kawula Majapahit, kuda lumping, busana Tionghoa, pawai para banthe, hingga barisan penghayat kepercayaan. Semua peserta kirab membawa setangkai bunga sedap malam. Kembang yang senantiasa menebarkan aroma wangi.

Acara utama dalam Waisak 2555 BE tentu saja meditasi bersama. Detik-detik perayaan trisuci tahun ini jatuh pada pukul 18:08 WIB. Persis pukul 08:00 Banthe Viriyanadi, rohaniwan senior asal Mojokerto, pendiri Mahavihara Majapahit, didaulat memimpin meditasi bersama.

"Silakan ambil posisi duduk yang paling nyaman," kata sang banthe.

Genta berbunyi... dan meditasi dimulai. Jemaat ramai-ramai memejamkan mata, fokus, bersihkan pikiran. Mengenang tiga peristiwa penting yang sama-sama berlangsung pada purnama sidhi. Saya bersama beberapa teman wartawan memotret adegan meditasi ini. Suasana hening.

Betapa hebat kekuatan meditasi. Ketika semua orang hening, tutup mulut, maka suara binang-binatang liar di kompleks Candi Brahu terdengar sangat jelas. Termasuk suara orang-orang yang berbisik sendiri karena memang bukan penganut Buddha.

Perayaan Waisak dan Nyepi, bagi saya, memang dahsyat dan istimewa. Justru di saat hari raya, mereka justru berdiam diri. Hening. Para biarawan Katolik bilang silentium magnum! Menciptakan keheningan tak hanya di mulut, tapi juga di pikiran. Yang sulit memang mengendalikan pikiran agar hening, tidak berkelana ke mana-mana.

Saya coba ikut meditasi di dekat gadis-gadis berbusana Tionghoa yang bertugas membawa persembahan. Meditasi tentu juga dilaksanakan penganut non-Buddha meski tidak seintens kaum Buddhis. Wow, pikiran saya melayang ke mana-mana. Sulit dijinakkan.

Sekitar lima menit, saya pun buka mata. Beberapa cewek di samping saya ternyata lebih dulu buka mata. Dia main-main Blackberry. Ada lagi yang sibuk ber-SMS. Ada lagi yang terlihat resah, tidak kerasan disuruh meditasi oleh banthe. Hehehe.... Saya pun ketawa sendiri dalam hati. Kemudian sadar dan bisa memahami situasi ini.

Meditasi itu ternyata sulit. Jangankan saya yang bukan penganut Buddha, teman-teman Buddhis yang bertahun-tahun berlatih meditasi, tiap hari dianjurkan meditasi, pun ternyata tidak mampu bertahan. Bahkan, maaf saja, saya melihat seorang rohaniwan pun sempat minum air mineral ketika acara meditasi belum dinyatakan selesai oleh Banthe Viriyanadi.

Karena acara meditasi ini cukup lama, 30-an menit, saya pun mencoba menyambung meditasi yang terputus. Pejamkan mata, ambil napas, konsentrasi ke satu titik.... Sempat teratur, kemudian pikiran saya bergerak liar lagi.

Saya akhirnya bisa maklum mengapa manusia pada umumnya suka bicara. Sulit menutup mulut. Suka bicara meskipun tidak semua yang dibicarakan itu bagus.



COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

17 May 2011

Waisak Nasional 2011 di Trowulan



Perayaan Waisak nasional keluarga Buddhayana Indonesia di kompleks Candi Brahu, Trowulan, Mojokerto, Selasa (17/5/2011) petang dinilai sukses. Tak hanya dihadiri ribuan umat Buddha dari berbagai daerah di tanah air, ribuan warga Trowulan antusias menyaksikan Kirab Majapahit dari Mahavihara Majapahit ke Candi Brahu.

Warga terlihat berjubel menyaksikan atraksi budaya di rute sepanjang dua kilometer. Kolaborasi lintas budaya dan agama terasa sangat kental. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) ikut mengerahkan tim kesenian barong Bali yang sangat memukau. Juga ada barisan kaum muda Mojokerto dengan busana ala Majapahit. Tak ketinggalan atraksi reog ponorogo dan jaran kepang.

Sejumlah tokoh penghayat kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa serta umat non-Buddha pun ikut serta. Sebagai tuan rumah, Bupati Mojokerto Mustafa Kemal Pasha menyambut gembira perayaan Waisak nasional keluarga Buddhayana Indonesia yang dipusatkan di Candi Brahu. Mustafa secara khusus membahas arsitektur candi peninggalan Kerajaan Majapahit itu yang kokoh meskipun hanya tersusun dari batu bata merah.

"Batu-batu itu bisa merekat menjadi sebuah bangunan yang kokoh di depan kita. Maka, kita pun harus tetap menjadi satu bangsa yang kokoh meskipun berbeda agama dan kepercayaan," ujar Mustafa disambut tepuk tangan sekitar 2.000 jemaat dan tamu undangan, termasuk Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf.

Ketika Waisak digelar di kompleks candi-candi bersejarah, maka perayaan keagamaan ini menjadi kental dengan dimensi sejarah dan budaya. Umat diajak untuk lebih peduli dan menghargai bangunan-bangunan cagar budaya yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia. Selama ini, menurut Irwan Pontoh, ketua panitia, umat Buddha sudah sering menggelar perayaan Waisak di kompleks Candi Borobudur, tapi jarang di candi-candi lain.

"Padahal, kita sebenarnya punya begitu banyak candi yang tersebar di berbagai provinsi. Maka, keluarga Buddhayana Indonesia bertekad mengadakan perayaan Waisak nasional dari candi ke candi," kata Irwan.

Awalnya, ketika dipercaya sebagai tuan rumah Waisak nasional, Irwan mengaku ketar-ketir mengingat Jawa Timur belum punya pengalaman. Namun, setelah mendapat masukan dari berbagai instansi, termasuk Pemprov Jatim, Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Jatim akhirnya memilih Candi Brahu di Trowulan. Selain lokasinya dekat Mahavihara Majapahit, Trowulan merupakan pusat Kerajaan Majapahit yang pernah berjaya pada abad ke-13 hingga 15.

"Jadi, tidak ada salahnya kalau acara di Candi Brahu ini menandai kebangkitan kejayaan Majapahit. Mudah-mudahan bangsa kita, Indonesia, akan meraih kejayaan melebihi Majapahit," tegas Irwan.

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

14 May 2011

Andai Ada 3 Barcelona



Selamat untuk Barcelona! Selamat untuk Pep Guardiola!
Selamat untuk Messi, Iniesta, Xavi, Puyol... Valdes!

Para penggemar bola di bawah kolong langit ini, kecuali barangkali Jose Mourinho, yang tidak mengakui kehebatan Barcelona. Skema main, taktik, strategi, stamina, kecepatan, uang... Praktis, semua syarat yang dibutuhkan untuk menjadi klub sepak bola terbaik di dunia dipunyai Barcelona.

Dan tidak dipunyai klub-klub lain di Spanyol, termasuk Real Madrid. Real Madrid boleh kaya, punya uang banyak, bisa membeli semua pemain terbaik di dunia, macam Cristiano Ronaldo, tapi ia tak bisa membeli permainan bola yang indah dan menyerang. Aliran bola yang lancar, mengalir, dari kaki ke kaki.

Silakan Anda menyebut kelemahan Barcelona hari ini. Saya yakin Anda sangat sulit menemukannya. Karena memang tidak ada. Kalau boleh dibilang kelemahan, barangkali sikap beberapa pemainnya yang senang acting, main sandiwara, setelah ditekel lawan. Merajuk pada wasit agar lawan dikasih kartu kuning atau kartu merah.

Ketergantungan yang berlebihan, dan mutlak, pada seorang Lionel Messi pun bisa jadi kelemahan. Tapi sebenarnya Barcelona punya modal cukup untuk menang, menang, menang, dan jawara tanpa Messi.

Sistem pembinaan, kerja sama, skema, tika-taka yang dikembangkan bertahun-tahun sejatinya sudah mampu membuat klub Catalonia ini mampu menang kapan saja. Kecuali kalau pemain-pemain Barcelona sendiri yang tidak mau menang seperti saat melawan Levante, 1-1.

Melihat ketangguhan Barcelona, iseng-iseng saya pernah mengusulkan di forum warung kopi bahwa sebaiknya Barcelona dikasih jatah tiga klub untuk kompetisi La Liga. Barcelona A, Barcelona B, Barcelona C.

Andaikan tiga Barcelona ikut La Liga, amboi, saya berani bertaruh peringkat satu dan dua bakal menjadi milik Barcelona. Klub-klub lain di Spanyol, bahkan Inggris dan Italia, akan sangat sulit melawan Barcelona A dan Barcelona B.

Peringkat ketiga hampir pasti diduduki Real Madrid. Sementara peringkat keempat jadi jatah untuk Barcelona C. Saya tidak sedang mengolok-olok Real Madrid, Valencia, Sevilla, atau Atletico Madrid.... Tapi fakta permainan di lapangan selama beberapa tahun terakhir menjadi bukti nyata bahwa Barcelona sangat sulit dikalahkan klub mana pun. Bahkan, jika Barcelona hanya menurunkan tim cadangan alias Barcelona B.

Sayang, kehebatan Barcelona yang luar biasa ternyata tak bisa diimbangi klub-klub lain di Spanyol, termasuk Real Madrid. Ketika menghadapi Barca, pemain-pemain Real Madrid kayak orang yang belajar main bola. Passing salah melulu. Operan-operan gak jelas.

Aliran bola dari belakang, tengah, depan... berantakan. Ronaldo hanya bisa meringis karena tidak dapat bola dan sama sekali tak diberi kesempatan berkembang oleh pemain-pemain Barca. Jose Mourinho kerjanya hanya bisa marah-marah melulu, menyalahkan wasit... dan lupa kalau pemain-pemainnya mati kutu, jadi goblog, ketika berhadapan dengan Messi dk.

Apa boleh buat, kompetisi Liga Spanyol alias La Liga pun menjadi sangat tidak kompetitif dan membosankan. Barcelona menjadi begitu hebat, fantastis, perkasa... sementara 19 lub yang lain cuma sekadar pupuk bawang. Jadi lumbung golnya si Barca.

Wuedan tenaaan!


Karena Barcelona sepertinya 'tidak mungkin kalah', maka fokus para penggemar bola macam saya hanyalah ini: berapa gol yang dicetak Messi. Berapa asis Messi. Lawan Barcelona kebobolan 3 gol, 4 gol, 5 gol....

La Liga juga sangat menjemukan karena juaranya sudah diketahui jauh-jauh hari sebelum kompetisi. Kalau bukan Barcelona, ya Real Madrid. Mengharapkan Levante, Getave, atau Hercules menjadi juara La Liga sama saja dengan mengharapkan matahari terbit dari barat atau kucing bertanduk.

Beda banget dengan kompetisi di Jerman, Inggris, atau Belanda yang persaingan antarklub sangat ketat lantaran kualitas yang tidak jomplang.

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

12 May 2011

Orang NTT Makan Jagung



Sebuah kebun jagung di Desa Mawa, Kecamatan Ile Ape, Lembata, NTT.

Belum lama ini saya dan beberapa teman diajak makan siang di Surabaya Plaza Hotel (SPH). Hotel berbintang yang laris di tengah Kota Surabaya. Kami berbincang akrab dengan Yusak Anshori, general manager SPH.

Bicara ngalor-ngidul. Apalagi, pria kelahiran Kediri, Oktober 1967, ini punya koleksi humor segudang. Suasana jadi gayeng dan menyenangkan. Ditambah kehadiran Ella Mart, penyanyi jazz, yang sekarang jadi staf di SPH.

“Di SPH ini ada menu baru yang sangat disukai pengunjung. Namanya NASI GORENG JANCUK,” kata Mas Yusak Anshori dengan gaya khasnya yang gaul.

Hehehe.... Nasi goreng khas SPH ini ditemukan secara tak sengaja. Suatu ketika sang GM ingin ada menu yang khas di hotelnya. Lantas, salah satu koki mencoba meramu nasi goreng dengan bumbu-bumbu yang pedasnya minta ampun. Mas Yusak dan kawan-kawan kemudian menjajal nasi goreng anyar itu.

“Juancuuuk... pedes banget!” celetuk salah satu staf SPH. Tanpa pikir panjang, Yusak Anshori meresmikan menu baru di SPH: nasi goreng jancuk. Porsinya banyak, pedasnya minta ampun, tapi ternyata disukai orang. Setiap jam makan siang banyak orang sengaja mampir ke SPH untuk minta nasgor jancuk. Ha... juancuk tenan!

Awalnya, kami ditawari mencoba nasi goreng jancuk ini. Tapi saya bilang tidak kuat pedas. Teman-teman lain pun ragu-ragu. Maka, silakan pilih menu sendiri-sendiri. “Sate kambing di sini mantap. Terkenal. Rasanya empuk,” kata Mas Yusak. Boleh juga nih sate kambeng cap SPH. Saya pun tertarik.

“Pakai nasi atau lontong?” tanya sang pelayan kepada Yusak Anshori, sang GM.

“Pakai nasi jagung!” jawab lulusan Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta ini.

Mas Yusak sendiri awalnya bercita-cita jadi diplomat. Ingin kerja kantoran karena bosan melihat orang tuanya yang pengusaha. Tapi perjalanan hidup berkata lain. selama 17 tahun dia sukses berkecimpung di dunia hotel dan pariwisata. Mas Yusak membidangi banyak organisasi penting di Surabaya, salah satunya Surabaya Tourism Promotion Board.

Saya pun terperangah mendengar Yusak Anshori, GM SPH, memesan jagung. Dia mengaku lebih suka jagung ketimbang nasi (dari beras) atau roti atau makanan kelas bintang lima lainnya. Hmmm... pertimbangan kesehatan atau sudah bosan makanan enak di hotel?

“Oh, kesehatan saya oke. Saya suka jagung karena saya ini kan asalnya dari daerah,” kata Mas Yusak menjawab pertanyaan saya. Maka, saya pun ikut memesan nasi jagung khas SPH.

Sebagai orang NTT (Nusa Tenggara Timur), saya tahu persis betapa pentingnya jagung sebagai makanan pokok di provinsi kami. Tahun 1980-an, sekitar 80 persen penduduk NTT menjadikan jagung sebagai makanan pokok. Sekarang persentasenya turun jadi 70-an persen. Tapi jagung tetap dominan karena iklim di NTT kurang cocok buat menanam padi. Irigasi, pengairan, tak akan memadai.

Budidaya padi hanya efektif dilakukan di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, dan sebagian Ende. Kabupaten-kabupaten lain, apalagi Flores Timur, Lembata, Rote-Ndao, Sabu-Raijua, budidaya padi sawah hampir mustahil dilakukan. Karena itu, bumi NTT sejak dulu memang hanya efektif untuk jagung.

Dulu, Gubernur Ben Mboi gencar mengadakan Operasi Nusa Makmur untuk meningkatkan produksi jagung arjuna. Operasi ini sempat berhasil, tapi tak ada kelanjutan. Sekarang, Gubernur Frans Lebu Raya bertekad menjadikan NTT sebagai provinsi jagung dan sapi.

Sayang, citra jagung sebagai makanan pokok kalah keren dibandingkan beras. Orang NTT sendiri, khususnya kalangan PNS dan warga yang tinggal di ibukota kabupaten, sejak dulu kurang mengapresiasi jagung. Jagung dianggap makanan kelas dua yang tidak bergizi. Terlalu banyak makan jagung, kata salah satu guru SMP saya di Larantuka, kita akan jadi bodoh.

Para guru PNS di NTT sejak dulu dikasih jatah beras. Kualitas beras PNS di NTT, khususnya Flores Timur, sangat buruk. Banyak kerikil, sekam, gabah... sehingga tak bisa langsung ditanak. Bahkan, sebagian besar beras jatah PNS sudah bercampur binatang-binatang kecil lantaran tersimpan bertahun-tahun di gudang di Jawa. Tapi tetap saja beras bermutu superjelek ini dianggap lebih berkelas ketimbang jagung, bahkan beras merah.

Orang desa biasanya rame-rame datang ke rumah guru-guru PNS di kampung untuk barter beras. Beras merah dari padi gogo itu ditukar dengan beras jatah yang jelek tadi. Karena beras putih dianggap lebih bergengsi. “Bisa bikin orang lebih sehat dan lebih ceras,” seperti kata salah satu guru SMP saya yang ngawur itu.

Sekitar tiga atau empat tahun lalu, beberapa kabupaten di NTT terkena kelaparan hebat. Panen jagung gagal. Umbi-umbian pun tak sebagus biasanya. Koran-koran nasional, khususnya KOMPAS, membuat laporan bersambung tentang masyarakat Flores yang lapar, kurang gizi, dan sebagainya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung memerintahkan menterinya untuk mengirim beras ke NTT. Rakyat dibagi-bagi beras. Setelah masalah kelaparan tuntas, pembagian beras miskin (raskin) dari Jawa mengalir lancar. Si raskin ini mutunya sama, bahkan lebih buruk, daripada beras jatah PNS. Tapi orang-orang di kampung sangat senang karena harganya hanya Rp 1.000 per kilogram.

Saking seringnya makan raskin, orang-orang desa mulai cenderung menjauhi jagung sebagai makanan pokok. “Anak-anak muda di kampung sekarang ini kurang suka makan jagung. Ini akibat raskin yang terus digelontor ke kampung. Pola makan warga kita sudah berubah,” ujar seorang dosen sebuah universitas di Kupang yang sering melakukan penelitian di Flores Timur dan Lembata.

Lha, kalau warga NTT beralih ke beras, sementara tanahnya tak bisa ditumbuhi padi, apa jadinya? Harus membeli terus yang namanya si raskin ini? Minta beras gratisan dari pemerintah pusat? Lalu, jagung-jagung di kampung itu mau diapakan?

Saya kira, Gubernur Frans Lebu Raya bersama bupati-bupati harus bisa meyakinkan warga NTT bahwa jagung bukanlah makanan pokok, sumber karbohidrat, yang buruk. Jagung bukanlah makanan kelas dua seperti dikampanyekan segelintir orang-orang NTT sendiri.

Makan jagung tak akan membuat orang jadi bodoh atau goblog. Jagung justru punya kandungan serat yang baik, sehingga dianjurkan untuk penderita diabetes. Beras merah tak perlu ditukar dengan beras putih atau raskin karena kandungan gizinya malah lebih bagus.

Dan, yang lebih penting lagi, pejabat-pejabat di NTT, mulai dari Gubernur Frans Lebu Raya, harus kasih contoh. Harus mau makan jagung, selalu menyediakan jagung sebagai makanan pokok baik di rumah maupun (terutama) di acara-acara kedinasan. Rakyat NTT perlu melihat langsung pemimpin-pemimpinnya makan jagung, makan singkong, makan talas... dan sebagainya.

Apa yang diperlihatkan Yusak Anshori, general manager hotel terkenal di Surabaya, yang senang memilih jagung sebagai makanan pokok, benar-benar mengembalikan ke-NTT-an saya. Saya langsung teringat kebun-kebun di kampung yang penuh dengan tanaman jagung.

Bukan itu saja. Sekarang saya mulai rajin membeli jagung untuk ditanak sebagai pengganti nasi putih. Lha, Mas Yusak yang asli Kediri, yang punya sawah-sawah luas, tokoh papan atas di Surabaya, saja doyan makan jagung. Apalagi, kita-kita yang asli NTT.

Mengabaikan jagung dalam daftar menu bisa dikatakan sebagai pengingkaran atas jati diri kita sebagai orang NTT. Bae sonde bae makan jagung lebe bae!


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

09 May 2011

M. Anis dan Pasar Seni Lukis Indonesia



Selama ini Surabaya, dan Jawa Timur umumnya, kurang diperhitungkan di jagat seni rupa nasional. Namun, berkat even Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI), pelan tapi pasti, Kota Pahlawan ini mulai menjadi jujugan para pelukis dan kolektor dari berbagai daerah di tanah air. Bahkan, PSLI yang digelar di Balai Pemuda Surabaya, 6-16 Mei 2011, disebut-sebut sebagai pasar seni terbesar di Indonesia.

Oleh Lambertus Hurek


PSLI 2011 dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf bersama Konsul Jenderal Amerika Serikat (AS) Kristen F. Bauer, Jumat (6/5/2011). Sedikitnya 400 pelukis dari berbagai kota menggelar sekitar 3.500 lukisan di 168 stan selama 10 hari.

Nah, di tengah riuh-rendah para seniman yang datang dari berbagai kota, terlihat seorang pria berkacamata, berkepala plontos, sangat sibuk melayani pertanyaan pengunjung, pelukis, kolektor, hingga wartawan. Yah, dialah M. Anis, penggagas sekaligus ketua panitia PSLI, yang juga dikenal sebagai wartawan senior dan penggiat kesenian di Surabaya.

Hingga larut malam, ketika para undangan dan pengunjung sudah pulang, Anis masih hilir mudik dari stan ke stan. Meski tampak kelelahan, Anis menyambut hangat kedatangan Radar Surabaya. Sambil menyaksikan aneka lukisan, diiringi lagu-lagu mendiang Franky Sahilatua, kami berbincang-bincang dengan ayah empat anak ini. Berikut petikannya:

BAGAIMANA RESPONS PENGUNJUNG PADA HARI PERTAMA INI?

Wah, luar biasa. Ramai sekali. Bahkan, sebelum pembukaan pun sudah banyak orang berdatangan ke sini. Pada hari pertama saja sudah ada 34 lukisan yang laku. Ini yang membuat saya senang. Saya optmistis PSLI kali ini lebih sukses daripada tahun lalu. Sekarang ada seniman dari New Zealand yang ikut berpartisipasi.

SUDAH BERAPA KALI ANDA MENGGELAR PSLI?

Ini kali keempat. Saya sudah bertekad agar PSLI di Surabaya ini selalu diadakan setiap Jumat pertama pada bulan Mei selama 10 hari. Kenapa? Kalau dimulai Jumat, maka kita punya dua weekend. Itu bagus bagi pengunjung dan peserta.

BAGAIMANA PERSIAPAN PSLI 2011 INI?

Begini. Saya dan teman-teman kan sudah banyak belajar dari pengalaman menggelar PSLI selama tiga kali. Dari situ, kami belajar bahwa PSLI ini harus dipersiapkan selama satu tahun penuh. Begitu PSLI ini selesai, saya harus langsung membuat persiapan untuk tahun depan. Segala sesuatnya harus dipersiapkan secara detail. Mulai dari booking gedung, urus perizinan, nyewa tenda dan sebagainya. Mengelola even besar seperti pasar seni macam ini memang tidak mudah. Persiapannya harus dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya.

NGGAK CAPEK?

Capek sih jelas capek. Tapi ada kepuasan tersendiri di hati. Puas melihat masyarakat Surabaya antusias menikmati, kemudian mengoleksi lukisan-lukisan yang bagus-bagus itu. Kalau banyak lukisan yang laku, para seniman senang dan saya ikut senang. Intinya, saya ingin mendekatkan para seniman itu dengan masyarakat, khususnya para penikmat, kolektor lukisan.

LUKISAN ANDA JUGA DIIKUTKAN?

Oh, tidak! Di PSLI ini nggak ada lukisan saya. Hehehe... Sebab, di sini tugas adalah melayani teman-teman seniman. Begitu juga panitia lain, saya minta untuk tidak ikut bursa. Nggak lucu kalau saya yang menyelenggarakan PSLI, tapi juga ikut-ikutan menjual karya-karya saya.

SELAMA TIGA KALI PSLI, MENURUT ANDA, APA SUDAH BISA DIKATAKAN SUKSES?

Ya, jelas sukses. Omzetnya bagus, pengunjung juga banyak. Bahkan, saking antusiasnya peserta, stan-stan sudah ludes jauh-jauh hari sebelumnya. Karena keterbatasan tempat, ya, hanya 168 stan yang bisa diakomodasi di PSLI 2011.

Ada lagi yang menarik. Beberapa peserta lama kali ini tidak bisa tampil karena sibuk melayani order setelah ikut PSLI tahun lalu. Salah satu pelukis, misalnya, kebanjiran order membuat 100 lukisan. Sekarang dia lagi sibuk bikin lukisan itu. Nilai satu lukisannya lumayan, Rp 35 juta.

ANDA SEBAGAI PANITIA ATAU EO KEBAGIAN BERAPA PERSEN?

Hehehe.... Saya ini nggak pernah pikir komisi atau fee. Saya hanya ingin agar PSLI ini lancar, sukses, dan bisa menggairahkan kehidupan kesenian di Kota Surabaya. Yang saya cari itu kepuasan batin. (*)

CV SINGKAT

Nama : M. Anis
Lahir : Solo, April 1954
Istri : Dyah
Anak : 4 orang
Pekerjaan : Pemimpin redaksi www.kemenpora.go.id
Hobi : Berkesenian

Pengalaman kerja
Wartawan Memorandum 1983-1986
Wartawan Surabaya Post 1986-1993
Wartawan tabloid Detik 1993-1996
Mendirikan tabloid Adil, 1996
Mendirikan tabloid Detak, pengganti Detik.
Pemimpin redaksi www.presidensby.info, 2005-2010
Pemimpin redaksi www.kemenpora.go.id




Optimistis Cetak Rp 2,5 Miliar

SEBAGAI warga Surabaya yang aktif di dunia jurnalistik sejak 1983, M Anis sejak lama prihatin melihat minimnya aktivitas kesenian, khususnya seni rupa, di Kota Surabaya. Balai Pemuda justru lebih sering dimanfaatkan oleh para pedagang untuk pameran furnitur, kerajinan, hingga tanaman hias.

Aktivitas pemeran dagang macam itu jelas bisa mendatangkan uang, tapi kurang kondusif untuk kehidupan kesenian. Karena itu, pada 2008, Anis berinisiatif menggelar Pameran Seni Lukis Indonesia (PSLI) di Balai Pemuda. Dia ingin Balai Pemuda dikembalikan sebagai pusat kesenian di Kota Surabaya. Tak dinyana, PSLI yang digelar secara spontan ini beroleh tanggapan positif dari para seniman, kolektor, pemerintah daerah, dan masyarakat umum.

Anis masih ingat betul saat itu ada 56 stan yang dibuka. "Omzetnya mencapai Rp 480 juta," tutur Anis kepada saya. Angka ini di luar dugaan mantan wartawan Surabaya Post ini.

Dia pun semakin termotivasi untuk menjadikan PSLI sebagai agenda tahunan setiap pekan pertama bulan Mei di Kota Surabaya. Benar saja. Pada PSLI kedua, jumlah stan membengkak hingga 131 buah alias lebih dari 100 persen. Omzet yang diraup pada 2009 mencapai Rp 700 juta.

Tahun lalu, pada penyelenggaraan ketiga, PSLI pun mencatat kemajuan signifikan. Omzet yang dicetak bukan lagi ratusan juta, melainkan miliaran rupiah. Tepatnya Rp 1,72 miliar. Jumlah stan juga naik hingga 160 buah.

Bagaimana dengan tahun ini?

Jumlah stan juga naik sedikit dibandingkan tahun lalu, yakni 168 stan. Melihat antusiasme pengunjung serta kurs rupiah yang terus menguat hingga Rp 8.500, Anis mengaku optismistis hajatan seninya ini bisa mencetak omzet hingga Rp 2,5 miliar.

"Insyaallah, target itu bisa tercapai," katanya. (rek)


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

04 May 2011

Kelenteng Gresik 371 Tahun



Tanpa terasa Kelenteng Kim Hin Kiong di Gresik telah berusia 371 tahun. Peringatan sejit (hari jadi) ini dilakukan komunitas Tionghoa setempat dengan sejumlah ritual dan acara kesenian, pekan lalu (3/5/2011).

Menurut Ong Bek Tien, salah satu pengurus Kim Hin Kiong, perayaan ulang tahun ke-371 kelenteng satu-satunya di Kabupaten Gresik itu juga diadakan bersamaan dengan peringatan sejit Makco Thian Siang Seng Bo. Seperti sebagian besar kelenteng di pesisir pantai Jawa, Kim Hin Kiong di Gresik juga dibangun para leluhur asal Tiongkok Selatan untuk menghormati Makco Thian Siang Seng Bo yang dikenal sebagai Dewi Laut.

“Kita adakan doa bersama jemaat kelenteng di sini dan tamu dari daerah-daerah lain. Ini sebagai ucapan syukur atas rahmat dan berkat yang diterima dari Tuhan selama ini,” kata Ong Bek Tien.

Diawali dengan doa bersama, jemaat serta masyarakat sekitar disuguhi aneka hiburan menarik seperti barongsai, liang-liong, hingga kesenian tradisional Jawa. Bahkan, sejak dulu pengurus kelenteng selalu menanggap wayang kulit untuk menghibur masyarakat. Pergelaran wayang kulit di kompleks Kim Hin Kiong tak hanya satu dua hari, tapi selama sepekan.

“Jadi, kita sekaligus melestarikan seni budaya leluhur kita seperti wayang kulit yang punya nilai tinggi,” tegas Ong.

Dia berharap berbagai kesenian tradisional tanah air tetap dipelihara masyarakat meskipun saat ini ada kecenderungan kaum muda lebih gemar hiburan modern.

Sebagai salah satu kota perdagangan penting di Pulau Jawa, sejak dulu banyak kapal dagang dari Tiongkok, Gujarat, Siam, hingga Timur Tengah berlabuh di Gresik. Tak terkecuali para pedagang asal Tiongkok. Mereka kemudian menetap dan mendirikan sebuah kelenteng untuk menghormati Makco Thian Siang Seng Bo.

“Kalau kita baca buku-buku sejarah kedatangan orang Tionghoa di Nusantara, khususnya Pulau Jawa, selalu ada benang merah yang sama. Mereka biasanya mendarat di kota-kota pelabuhan atau pesisir. Ini karena orang-orang
Tiongkok itu datang menggunakan perahu-perahu atau kapal-kapal kecil,” ujar Lukito Kartono, dosen Universitas Kristen Petra Surabaya, yang aktif mengkaji arsitektur Tionghoa.

Setelah membentuk komunitas di tanah perantauan, menurut Lukito, orang-orang Tiongkok itu kemudian membangun kelenteng. Selain sebagai tempat peribadatan dan pelestarian tradisi budaya Tionghoa, kelenteng-kelenteng tua di Jawa biasa dimaksudkan untuk menghormati Makco Thian Siang Seng Bo.

“Sebab, mereka percaya bisa berlayar sampai di tanah Jawa dengan selamat antara lain berkat pertolongan Makco,” kata Lukito.

Nah, agar bangunan kelenteng itu benar-benar berkualitas tinggi, tahan lama, dan punya elemen-elemen Tionghoa yang khas, menurut Lukito, para perantau itu mendatangkan tukang-tukang kawakan langsung dari Tiongkok. Para arsitek ulung itu biasanya berasal dari kawasan Guangdong.


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

03 May 2011

Cak Ir, Gurunya Wartawan Musik




Senin, 2 Mei 2011. Saya melayat ke rumah almarhum SUGENG IRIANTO, wartawan senior Jawa Pos dan Radar Surabaya yang telah pensiun, di Simo Pomahan Baru 3A Surabaya. Tubuhnya yang gemuk, rambut gondrong, suka melawak... terbujur kaku di ruang tamu.

Saya berdoa singkat, ditemani enam anak almarhum.

Lama saya terdiam. Mengenang kembali masa-masa ketika saya bergaul akrab dengan Cak Ir di newsroom. Di awal-awal jadi wartawan, saya biasa mengantar Cak Ir dengan sepeda motor ke kawasan Simo Pomahan Baru. Sebab, waktu itu sepeda motor trail kesayangannya rusak.

Mampir di rumah di dalam gang sempit, kami banyak bicara santai, ngalor-ngidul. Mulai politik, musik, budaya, hingga kehidupan rakyat di perkampungan. Sebagai salah satu pejuang proreformasi, Cak Ir memang dekat dengan wong cilik. Dia tercatat sebagai salah satu pentolan Perjuangan Rakyat untuk Reformasi Total (PRRT), organisasi sayap PDI Perjuangan di Surabaya, yang dipimpin Bambang DH pada 1997-1998.

Setelah reformasi sukses melengserkan Pak Harto, sebagian besar pentolan PRRT masuk ke gelanggang politik. Jadi anggota parlemen, jadi pejabat, jadi orang penting, baik di Surabaya maupun Jatim. Bambang DH jadi wakil wali kota Surabaya, kemudian wali kota, kemudian turun jadi wakil wali kota. Saleh Mukadar anggota dewan. Wisnu Buana anggota dewan. Cak Budi anggota dewan. L Soepomo anggota dewan. Susilo Muslim anggota dewan.

Sugeng Irianto yang berjasa membesarkan PRRT dan PDI Perjuangan di koran? “Saya tetap wartawan saja. Biarlah yang jadi pejabat dan anggota dewan teman-teman itu. saya di media massa agar bisa mengawasi kinerja mereka-mereka itu,” katanya enteng.

Cak Ir itu wartawan aktivis. Tak hanya menulis berita, mengutip omongan narasumber, yang sering bicara ngawur, dia sangat piawai ‘mengarahkan’ berita. Punya agenda setting, khususnya tentang reformasi dan demokratisasi. Itu karena Cak Ir, yang tiap hari pakai baju loreng ini, punya nyali tinggi. Tidak pernah takut pada tentara atau polisi yang pada zaman Orde Baru sangat berkuasa.

“Kita harus lawan! Wartawan harus punya idealisme! Jangan mau didikte oleh orang-orang yang antidemokrasi,” pesan Cak Ir ketika membimbing saya sebagai wartawan pemula.

Pesan lain ketika Cak Ir, beberapa tahun kemudian, ketika menggembleng saya sebagai redaktur politik:

“Kalau omongan si pejabat, menteri... gak masuk akal, ngawur, ya, jangan dimuat. Pakai akal sehat dong! Ingat, politisi itu suka bicara ngawur, asal bunyi... tapi seolah-olah hebat banget. Kamu jangan telan omongan-omongan kayak gitu."

Amanat almarhum Cak Ir ini selalu nempel di benak saya!

Sebelum krisis politik, disusul gerakan reformasi untuk menjatuhkan Orde Baru, Cak Ir dikenal sebagai wartawan dan redaktur hiburan di Jawa Pos. Pada 1980-an, ketika Jawa pos masih menjadi andalan utama band-band dan penyanyi untuk populer, Cak Ir berada di garis depan. Dia akrab dengan artis-artis, ngopi, jagongan, layaknya sahabat akrab. Cak Ir butuh berita, si artis butuh ngetop, masuk Jawa Pos. Klop!

Maka, boleh dikata, Cak Ir alias Sugeng Irianto ini yang berjasa membesarkan begitu banyak artis dari Jawa Timur pada era 1980-an dan 1990-an. Sebut saja nama artis-artis lawas di depan Cak Ir. Pasti wartawan lulusan Akademi Wartawan Surabaya (AWS) itu akan tertawa-tawa ngakak. Cak Ir tak sekadar tahu informasi di permukaan, yang sudah dimuat media massa, tapi cerita-cerita lucu di balik layar.

Termasuk kekonyolan-kekonyolan si artis yang memang sangat manusiawi. Sebagai wartawan musik koran paling top di Jawa Timur, Jawa Pos, Cak Ir itu ibarat ensiklopedia berjalan artis-artis Jawa Timur. Katakan saja AKA Group dengan Ucok AKA Harahap yang eksentrik. SAS Group pecahan AKA yang dimotori Arthur Kaunang. Adi Metal, band metal ngetop Surabaya zaman dulu. Red Spider. Brigade Metal. Ita Purnamasari. Ayu Wedayanti. Endah Kuswantoro. Gombloh. Mus Mujiono.

Surabaya Rock Band. Annie Carera. Vicki Fendi. Power Metal. Andromeda. Kemudian band-band yang agak baru macam Dewi 19 dan Padi. Cak Ir bahkan tahu persis kebiasaan-kebiasaan masa kecil Yoyo, drummer Padi, yang kini ditahan di penjara gara-gara narkoba.

“Yoyo itu sejak masih bocah sudah jadi jawara drum. Pukulannya jauh lebih bagus ketimbang drummer-drummer senior,” katanya suatu ketika.

Cak Ir, yang asli arek Surabaya, pun tahu persis riwayat hidup promotor rock bernama Log Zhelebour. Mulai dari kehidupan Log sebagai orang Tionghoa yang susah di gang sempit, ke mana-mana pakai sepeda motor butut, hingga sukses sebagai promotor musik rock. Log Zhelebour kemudian berjasa mengorbitkan band-band dan penyanyi rock di tanah air.

Terlalu banyaklah informasi tentang musik industri yang saya serap dari Cak Ir. Saya ingat betul dia selalu terpingkal-pingkal ketika bercerita tentang konser Sepultura, band cadas, di Stadion Tambaksari. Musik Sepultura begitu keras, cepat, dengan syair yang tak jelas. Kayak mesin atau auman harimau atau gongongan anjing.

Cak Ir bisa menirukan gaya vokalis Sepultura dengan sangat lucu. Tapi, ingat, saat itu anak-anak muda Jawa Timur sedang mabuk musik rock dan metal. Stadion pun gemuruh, penonton larut menikmati musik Sepultura yang supercepat itu. “Musisi Sepultura juga lucu-lucu saat ditemui di hotel,” katanya.

Makin siang makin banyak pelayat yang datang. Pukul 13.00 jenazah almarhum Cak Ir akan segera dikebumikan di tempat pemakaman umum Pakal, daerah Benowo.

Selamat jalan Cak Ir!
Semoga sampean bahagia bersama Sang Pencipta di sisi-Nya!


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

01 May 2011

Prigi Arisandi Dapat Goldman Prize



Nama Prigi Arisandi (35 tahun) sudah lama dikenal sebagai aktivis lingkungan di Surabaya dan sekitarnya. Bersama lima aktivis lain asal Zimbabwe, Rusia, Jerman, Amerika Serikat, dan El Salvador, Prigi Arisandi mendapat The Goldman Environmental Prize. Penghargaan ini diberikan karena pria asal Gresik itu dinilai berhasil memelopori gerakan warga untuk menghentikan polusi di Kali Surabaya.

Selain berhak mendapatkan duit USD 150.000, Prigi beroleh kesempatan untuk beraudiensi dengan Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama di Gedung Putih, Washington DC.

BAGAIMANA PERASAAN ANDA MENDAPAT PENGHARGAAN GOLDMAN DAN BERTEMU PRESIDEN OBAMA?

Wah, ini pengalaman luar biasa yang tidak pernah saya bayangkan. Bisa bertemu, berjabat tangan, dan membahas masalah lingkungan hidup dengan Presiden Obama selama hampir setengah jam. Di Ruang Oval Gedung Putih itu, saya berkesempatan untuk mempromosikan pemulihan sungai dengan melibatkan partisipasi masyarakat menggunakan serangga air.

Kesempatan bertemu Presiden Obama ini dalam rangka penganugeraan penghargaan Green Nobel oleh Goldman Environmental Foundation yang berkantor di San Fransisco, California, USA. Goldman sejak 1990 setiap tahun memberikan penghargaan kepada enam orang dari enam benua berupa uang tunai USD 150.000. Para pemenang juga berkesempatan untuk melakukan audiensi dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Nancy Pelosi (DPR AS), Lisa P Jackson (Administrator Environmental Protection Agency atau Menteri Lingkungan Hidup AS).

BISA DICERITAKAN SEDIKIT MOMEN BERSEJARAH DI GEDUNG PUTIH ITU?

Tepatnya pada Rabu siang pukul 15.00 waktu setempat. Memasuki Gedung Putih, kami mendapatkan pengecekan rutin di pos penjagaan. Namun, rombongan kami diberi sedikit kelonggaran karena sejak memasuki pos penjagaan kami didampingi oleh penerima tamu dari Gedung Putih.

Setelah melewati penjagaan, kami masuk dari sisi kanan. Saat itu Gedung Putih sedang direnovasi, sehingga banyak tukang kayu dan tukang cor yang sedang bekerja. Kami juga melihat puluhan jurnalis dari berbagai televisi yang standby dengan kamera yang mengarah ke Gedung Putih. Mereka ini bukan menyambut kami, tetapi memang ada ketegangan antara Gedung Putih dan DPR yang membuat awak media stand by menunggu perkembangan terbaru.

Memasuki Gedung Putih, kami disambut seorang penjaga berpakaian merah biru seperti di film Mr Bean dengan senjata di tangan. Sebelum memasuki ruangan, kami harus meninggalkan jaket dan barang bawaan kami di salah satu ruang.

BARANGKALI PRESIDEN OBAMA SEDANG MENERIMA TAMU YANG LAIN?

Nah, ketika saya dan lima teman berjalan menuju ruang kerja Obama, ternyata di depan pintu dia sudah menunggu. Senyumnya khas dan wajahnya ramah. Satu per satu disalami. Pas giliran saya, saya langsung mengatakan, "Selamat siang Pak!"

Obama langsung menyahut dengan bahasa Indonesia. "Oh, selamat siang. Apa kabar? Darimana ini? Dari Jakarta?" Presiden Obama menjabat erat tangan saya. Saya bilang, "Bukan dari Jakarta Pak! Saya dari Surabaya." Dia kemudian membalas, "Oh, dari Surabaya!"

Setelah itu, kami dipersilakan untuk memasuki ruangan kerja Presiden Obama. Kami mengambil posisi untuk foto bersama. Saya sendiri bergerak cepat untuk merangsek mendekat pas di samping kanan Obama. Benar juga. Tangan kanan Obama pun merangkul pundak kanan saya saat foto bersama.

APA SAJA YANG DIKATAKAN OBAMA?


Obama memberikan apresiasi kepada kami, para penerima penghargaan, atas pekerjaan menyelamatkan bumi. Dia juga berterima kasih kepada keluarga Goldman yang memberikan dukungan kepada para pemenang. Kemudian Obama meminta kami menceritakan pengalaman masing-masing.

Hilton Kelley dari Texas bercerita tentang kegiatannya menyelamatkan kampungnya di Texas dari polusi udara yang ditimbulkan oleh perusahaan penyulingan minyak bumi. Obama sendiri menyatakan dukungan pemerintah Amerika Serikat pada upaya penurunan laju penggundulan hutan.

LANTAS, APA YANG ANDA SAMPAIKAN KEPADA PRESIDEN OBAMA?

Saya menyatakan, selain masalah penggundulan hutan, kita juga sedang menghadapi masalah krisis air bersih dan tercemarnya sungai-sungai. Apalagi, di Indonesia sungai-sungai dipakai sebagai bahan baku air minum. Nah, tingkat pencemaran sungai itu sangat tinggi. Obama menimpali bahwa Amerika juga sedang menghadapi masalah sungai dan air bersih.

Tak lupa saya mempromosikan pemantauan sungai yang melibatkan masyarakat. Saya katakan bahwa pemantauan menggunakan parameter fisika dan kimia cenderung terlambat karena baru bisa mendeteksi pencemaran yang parah. Maka, saya tawarkan pemantauan kualitas air dengan serangga. Kita bisa memakai capung sebagai indikator kesehatan sungai.

Saya juga meminta Presiden Obama untuk ikut mendorong pemerintah Indonesia untuk memprioritaskan masalah penanganan sungai. Obama mengiyakan dan meminta Kepala biro Lingkungan Hidup Gedung Putih Nancy Sutley untuk memperhatikan usulan saya.

APA ARTI THE GOLDMAN ENVIRONMENTAL PRIZE INI BUAT ANDA?

Apreasiasi dari masyarakat internasional ini semakin menyadarkan kita bahwa sebenarnya kita hidup pada bumi yang sama. Sehingga, perubahan lingkungan yang terjadi di kampung kita atau di belakang rumah kita akan membawa pengaruh pada belahan bumi yang lain. We are always connected.

Ini juga kesedihan mendalam bagi saya pribadi, karena kurangnya apresiasi pemerintah kita pada upaya pemulihan kerusakan lingkungan. Pemerintah cenderung abai pada kelestarian lingkungan. Sebaliknya, mereka kerap kali hanya memanen, memanen, dan memanen tanpa ada kesadaran untuk menanam.

APA SAJA YANG TELAH DILAKUKAN SEBAGAI AKTIVIS LINGKUNGAN?


Saya merasa melakukan kewajiban yang harus saya lakukan. Hal-hal yang biasa karena saya orang biasa. Saya mencoba membuat perubahan kondisi sungai yang rusak dan tercemar. Saya tidak ingin anak saya kelak mendapatkan keadaan sungai yang lebih buruk kualitasnya dari sekarang. Saya melakukan upaya-upaya pemulihan sungai ini sejak 1998. Dimulai dengan perlawanan pada indutri-industri di wilayah Bambe, Gresik, yang menimbulkan kerusakan sungai dan lingkungan.

BENTUK KEGIATAN ANDA DAN TEMAN-TEMAN KAYAK APA SIH?


Demonstrasi, blokade, dan penolakan pada industri yang seenaknya membuang limbah di Kali Surabaya. Tahun 2001, bersama Posko Ijo kami mulai mengorganisir diri menjadi sebuah kelompok masyarakat pemantau sumber pencemaran di Kali tengah dan Kali Surabaya. Kami ingin rakyat juga bisa melakukan advokasi melalui pengumpulan data, tidak hanya sekadar demonstrasi.

Tahun 2002, bersama Ecoton saya memulai upaya pendidikan lingkungan pada anak-anak sekolah di sekitar wilayah pabrik dan DAS Kali Surabaya. Sebab, saya meyakini bahwa anak-anak ini adalah korban pencemaran dan mereka adalah pemilik sah lingkungan yang sekarang sedang kita eksploitasi. Saya juga percaya bahwa anak-anak ini punya power untuk melakukan perubahan.

Sejak 1999 sampai sekarang saya dan Ecoton selalu melakukan kegiatan-kegiatan pemantauan Kali Surabaya. Saya melakukan penelitian potensi keanekaragaman hayati. Saya menggali potensi kekayaan hayati Kali Surabaya berupa tumbuhan berkhasiat obat, jenis-jenis serangga air, jenis makroinvertebrata, jenis tanaman berbunga, jenis tanaman budidaya, jenis burung, dan jenis ikan. Saya ingin menunjukkan bahwa Kali Surabaya ini tidak hanya untuk bahan baku air minum, tetapi ada banyak kehidupan yang ada membutuhkan air.

HADIAH DARI GOLDMAN INI MAU DIAPAKAN?

Saya akan mendirikan Sekolah Penyelamat Mata Air (Water Conservation School) di daerah Wonosalam. Sekolah ini nantinya akan mendidik orang untuk lebih mengenal hutan, air, dan interaksi antara manusia dan alam. Selama ini kita merasa bahwa dengan uang kita bisa membeli air, makanan, dan segala kebutuhan kita. Namun, kita tidak pernah menyadari bahwa keberadaan sumber daya alam ini terbatas. Kini, banyak mata air yang kering. Di sekolah ini kita ingin lahir orang-orang gila yang mau melakukan tindakan nyata menyelamatkan lingkungan, terutama sungai.

Sekolah ini sekolah global karena murid dan gurunya berasal dari berbagai belahan benua. Bulan Juni mendatang kita akan mendatangkan guru dari Berkeley, Amerika Serikat, yang akan membagi ilmunya tentang menjaga dan memonitoring sungai kepada guru, pelajar, pemerintah, dan aktivis lingkungan di Jatim.

BIODATA SINGKAT

Nama : Prigi Arisandi
Lahir : Gresik, 24 Januari 1976
Istri : Daru Setyo Rini
Jabatan : Direktur Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton)
Hobi : Traveling, jaga kali
Pendidikan
Universitas Airlangga, Fakultas MIPA, Jurusan Biologi

Penghargaan
The Goldman Environment Prize 2011





Sering ‘Diamankan’ Polisi

Sewaktu belajar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Jurusan Biologi, Universitas Airlangga, 1995, Prigi Arisandi terkejut melihat kerusakan hutan mangrove di kawasan Wonorejo dan Keputih. Menurut aturan, setiap pantai di Indonesia harus memiliki hutan lindung minimal 100 meter sebagai buffer zone atau penyangga pantai dari ombak laut.


Namun, kenyataannya, Keputih dan Wonorejo di kawasan pantai timur Surabaya (Pamurbaya) ini sama sekali tanpa pelindung. “Maka, saya mulai bersuara untuk mengembalikan status Pamurbaya. Untuk meyakinkan pemkot dan masyarakat, saat itu saya memulai penelitian potensi Pamurbaya selama empat tahun bersama teman-teman dan dosen di Ecoton,” kata Prigi Arisandi.

Faktanya, saat itu memang banyak kerusakan lingkungan yang ceto terwelo-welo, tak butuh pembuktian ilmiah. Hutan gundul, ikan mati, asap pabrik, yang bikin orang batuk. Apa suka duka bergerak bersama Ecoton? Menurut Prigi, awalnya mereka dianggap pihak keamanan (polisi) sebagai gerakan subversif. Pada Maret 1998 Prigi diinterogasi di Polsek Driyorejo atas tuduhan menggerakkan massa untuk merusak sebuah pabrik di Bambe.

“Pemkab Gresik selalu menganggap kegiatan Posko Ijo maupun Ecoton menghambat investasi. Kami juga dituduh menutup pabrik yang akan berdampak pada pengangguran,” katanya.

Tahun 2004, Prigi kembali ‘diamankan’ oleh Polres Gresik saat melakukan aksi diam di wilayah Bambe. Kasus yang paling diingat Prigi ketika sebuah kampung dengan 75 keluarga dikepung polisi dengan panser dan pasukan bersenjata lengkap pada Maret 1998. Keluarga besar Prigi pun panik.

“Saat itu memang tersebar kabar kalau saya ditangkap polisi karena memimpin aksi,” paparnya.

Dia bersyukur karena di Ecoton, meski tidak mendapatkan gaji yang layak dan rutin, teman-temannya bekerja dengan semangat. Namun, mereka sering kali mendapatkan hasil ‘ngamen’ lebih besar dari honor menjadi pembicara, honor sebagai fasilitator, hingga menulis di koran. Saat peringatan Hari Bumi (21 April), misalnya, Prigi terpaksa menggadaikan mobil untuk menutupi biasa aksi.

Sejak 2007 Perum Jasa Tirta I Malang banyak mendukung kegiatan Ecoton. Ini sangat membantu aktivitas Ecoton dalam menjaga Kali Surabaya. Biaya penelitian selama empat bulan biasanya dihemat untuk menghidupi Ecoton salama enam bulan.

“Sisanya, ya, dari honor tanggapan dari peringatan-peringatan hari lingkungan,” katanya.

Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 1 Mei 2011


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK