16 April 2011

Wanita Karier Terlambat Nikah




Setiap bulan April, isu yang satu ini selalu diangkat sebagai bahan diskusi: wanita karier. Begitulah, Kaisar Victorio [Achmad Afandi], kemarin, mengangkat topik 'mengapa wanita karier umumnya terlambat menikah' untuk diskusi di Radio Suzana Surabaya.

Kaisar, yang ditemani Perdana Menteri Insyaf [Mustaqim], menggunakan waktu sekitar 15 menit untuk memberikan semacam kata pengantar. Dari sini saja, para pendengar sudah bisa menangkap posisi sang moderator. Meskipun moderat, sikap Kaisar sudah sangat jelas.

Lantas, bagaimana tanggapan peserta diskusi?

Apa boleh buat, hampir semuanya bersikap sangat kritis terhadap para wanita karier. Waktunya dipakai untuk karier, pekerjaan, sehingga cenderung mengabaikan kodratnya sebagai seorang wanita. Kodrat yang bagaimana?

Para pendengar, baik laki-laki maupun perempuan, bilang kodrat wanita itu, ya, menikah kalau memang sudah dapat jodoh, melahirkan, membesarkan anak, mendampingi suami, menunjang karier suami. "Buat apa gaji berlimpah, karier gemilang, uang banyak, kalau tidak punya suami dan keturunan? Kalau tua nanti, siapa yang memperhatikan?" kata seorang penanggap.

Ada juga seorang mama, 70-an tahun, yang pro wanita karier. Tapi dia kurang setuju si wanita karier itu tidak mau menikah, hanya karena tak ingin kariernya diganggu anak atau suami. Menurut mama ini, istri di kota besar macam Surabaya sebaiknya bekerja.

Mana mungkin bisa hidup dengan hanya mengandalkan gaji suami yang tak seberapa besar. Istri di rumah saja, tak perlu bekerja, kalau suaminya kaya-raya seperti Gayus Tambunan yang uangnya berlimpah ruah.

"Kalau cuma mengandalkan penghasilan suami, bagaimana mau bayar cicilan rumah? Bayar air, listrik, macam-macam? Memangnya suami bisa menyelesaikan semua?" tanya mama keturunan Tionghoa itu.

Ada seorang laki-laki 50-an tahun mengaku beristri wanita karier yang sukses. Gaji istri jauh lebih tinggi ketimbang si Bambang, sebut saja begitu. Apa yang terjadi?

"Saya ini kan suami, kepala keluarga, tapi sudah tidak dihormati sama istri. Sakit hati deh," katanya. Bagi laki-laki bujang, dia meminta agar selalu pikir-pikir panjang sebelum mengambil keputusan menikah dengan wanita karier. "Pokoke, gawe loro ati ae!" Pokoknya, hanya bikin sakit hati saja!

Kembali ke poin utama: mengapa wanita karier itu cenderung terlambat menikah, bahkan tidak mau menikah? Peserta diskusi pun memberikan sejumlah jawaban. Jawaban-jawaban yang sebenarnya sudah jamak.

Khawatir karier terganggu. Sulit menemukan laki-laki yang sepadan. Banyak laki-laki takut mendekati wanita karier. Laki-laki takut 'kekuasaannya' sebagai kepala rumah tangga digerogoti. Dan sebagainya.

Diskusi selama sekitar 60 menit ini pun berakhir tanpa kesimpulan. Dan memang selalu begitu. Saya pun teringat sahabat lama yang punya istri wanita karier. Dia bilang begini:

"Bung, seandainya penghasilan saya cukup, uang saya banyak, punya harta berlimpah... saya akan minta istri saya berhenti bekerja. Tinggal di rumah saja, merawat anak-anak, memasak, atau bersantai. Sayang, penghasilan saya belum memungkinkan istri saya berhenti bekerja."


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

1 comment: