20 April 2011

Tionghoa di Film Tanda Tanya



Film Tanda Tanya (?) karya sutradara Hanung Bramantyo mendapat sambutan luas di Surabaya Raya. Berbagai kalangan setiap hari menikmati, sekaligus mengkritisi, film yang mengangkat realitas keberagaman dalam masyarakat Indonesia itu. Saya bersama beberapa mahasiswa dan aktivis secara khusus nonton bareng di Cito Surabaya, Selasa siang, 19 April 2011.

Selain mengundang kontroversi teologis, film Tanda tanya juga menggambarkan keberadaan masyarakat Tionghoa peranakan di Pulau Jawa. Ini terlihat dari sosok Tan Kat Sun, pemilik restoran Kanton. Tan Kat Sun bersama istri Lim Giok Lie dan anaknya sehari-hari bicara dalam bahasa gado-gado Jawa ngaka (bukan krama, meski tinggal di Jawa Tengah), bahasa Indonesia [lebih tepat: Melayu Tionghoa], serta beberapa ungkapan khas Tionghoa peranakan seperti kamsia (terima kasih).

Tan Kat Sun sekeluarga tak pernah berbicara dalam bahasa Tionghoa dialek Kanton, apalagi Putonghua alias bahasa Mandarin.

Jelas sekali kalau Tan Kat Sun itu peranakan Tionghoa yang banyak terdapat di Jawa. Dia bisa bergaul luwes dengan berbagai kalangan, karyawannya pun macam-macam. Restoran Kat Sun ini memang jualan babi, tapi dia berusaha agar tidak tercampur dengan makanan halal.

Hanung Bramantyo menampilkan Tan Kat Sun sebagai pengusaha restoran yang toleran. Dia selalu mengingatkan karyawan muslim untuk salat. Panci dan wajan yang dipakai memasak babi berbeda dengan yang bukan babi. Pengusaha tua keturunan Provinsi Guangdong, Tiongkok, ini juga membedakan sodet bertanda merah buat babi, dan yang tanpa tanda merah untuk bukan babi.

Bukan itu saja. Selama bulan Ramadan, Tan Kat Sun tidak menyediakan babi di restoran. Meski tetap buka, dipasang tirai putih untuk menghormati umat Islam yang sedang berpuasa. Bahkan, ketika Idul Fitri, restoran diliburkan selama lima hari agar pekerja-pekerja muslim bisa berhari raya dengan keluarga mereka.

Sikap Tan Kat Sun yang demikian memang menggambarkan fleksibilitas dan toleransi masyarakat keturunan Tionghoa yang mampu menyesuaikan diri dengan agama dan tradisi masyarakat setempat. Sayang sekali, Tan Ping Hen, putra Tan Kat Sun, yang hanya semata-mata berorientasi pada keuntungan merusak citra positif yang telah dijaga selama bertahun-tahun oleh ayahnya.

Libur Lebaran oleh Ping Hen alias Hendra dipotong tinggal satu hari. Juga muncul kebijakan-kebijakan lain yang memicu kemarahan Soleh dan preman pasar. Maka, restoran Kanton itu pun dirusak, Tan Kat Sun diserang oleh massa yang digerakkan oleh oknum yang tak bertanggung jawab. Kat Sun pun meninggal dunia.

Film tanda tanya itu dengan jelas menunjukkan bahwa kehidupan warga Tionghoa memang sangat rentan. Bolak-balik jadi sasaran amuk massa. Hanya karena persoalan sepele, salah paham, bahkan cemburu buta, restoran atau tempat usahanya dirusak. Mudah-mudahan saja ke depan tak ada lagi tindakan anarkistis semacam itu di Indonesia.

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

3 comments:

  1. wah, jadi kepingin nonton filmnya, narasinya apik....

    ReplyDelete
  2. Film yang bisa bikin kita memahami lebih dalam tentang agama, kita harus lebih bisa mendalami maksud dari sang sutradara, jangan hanya melihat tp juga harus memahami,semoga film ini bisa menambah keimanan kita semua

    ReplyDelete
  3. Film ini menuntukan kita tentang kehidupan beragama d negara kita, film ini jangan hanya di lihat tp harus benar-benar di pahami,,karna jika kita hanya melihat tanpa memahami maka kita kan salah presepsi,semoga film ini bisa menambah keimanan kita

    ReplyDelete