17 April 2011

Stop Kirim PRT ke Malaysia



Sebagai negara tetangga, Indonesia terlalu sering bermasalah dengan Malaysia. Sangat jarang, bahkan hampir tak pernah, kita terlibat konflik perbatasan dengan Papua Nugini, Filipina, Australia, Singapura, atau Timor Leste. Masalah di Atambua, perbatasan Indonesia-Timor Leste, biasanya muncul karena ribuan pengungsi eks Timor Timur tidak mau pulang ke negara yang baru merdeka pada 20 Mei 2002 itu.

Sejak pekan lalu, televisi-televisi kita banyak mengangkat isu kasus pencurian ikan oleh nelayan Malaysia. Orang Malaysia disangka melanggar batas negara. Isu ini memang harus segera diselesaikan karena akan terus menjadi ganjalan dalam hubungan Indonesia-Malaysia ke depan. Tapi, bagi saya, persoalan paling urgen diatasi pemerintah kita adalah ini: tenaga kerja Indonesia (TKI).

Terlalu banyak orang Indonesia yang bekerja sebagai pekerja-pekerja kasar di Malaysia. Kalau tak salah, jumlahnya lima juta, bahkan lebih, mengingat terlampau banyak TKI ilegal. Tauke-tauke Malaysia umumnya suka pekerja ilegal alias pendatang asing tanpa izin karena bisa diperas seenaknya. TKI ilegal gampang disetir. Mereka tak punya bargaining position.

Populasi TKI di Malaysia bahkan sudah melampau jumlah penduduk sebuah negara macam Singapura, Brunei Darussalam, Timor Leste, atau Papua Nugini. Andai saja ‘ekspor’ TKI diteruskan, termasuk yang ilegal, ini dibiarkan, bukan tak mungkin suatu saat TKI-TKI ini bisa membentuk sebuah provinsi atau negara bagian di Malaysia.

Yang jadi masalah kronis adalah mayoritas orang Indonesia di Malaysia merupakan pekerja-pekerja kasar. Unskilled labour. Pekerja-pekerja otot, bukan pekerja-pekerja otak. Lebih celaka lagi, banyak TKI yang kerja sebagai pembantu rumah tangga alias babu. Begitu banyak pembantu asal Indonesia di Malaysia, imej Indonesia di mata bangsa Malaysia sejak dulu kurang elok. Indonesia sering dianggap sebagai BANGSA BABU, atau KAMPUNG PEMBANTU.

Imej yang sangat buruk, tapi mau bagaimana lagi? Ini memang kenyataan yang dilihat oleh warga Malaysia yang lahir setelah tahun 1980. “Saya suka dengan pembantu saya yang asal Jawa Barat. Dia pandai memasak, rajin, masakannya enak,” kata Norhayati Ahmad, marketing officer sebuah hospital alias rumah sakit terkenal di Melaka, Malaysia, ketika berkunjung ke Surabaya bulan lalu.

Tahun lalu, saya pun berbincang dengan seorang warga Malaysia, keturunan India, di Surabaya. Dia pun senang punya pembantu orang Indonesia. Saya hanya tersenyum, menikmati pujian kenalan asal Malaysia ini tentang ‘kebaikan’ pembantunya yang asal Indonesia. Tapi, dalam hati, saya sebenarnya malu karena citra Indonesia sebagai negara pengekspor pembantu ke Malaysia makin beroleh pembenaran.

Maka, saya antusias membaca pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di surat kabar. Berita itu kecil saja, hanya satu paragraf di surat kabar KOMPAS, Kamis 13 April 2011. SBY mengatakan, DALAM BEBERAPA TAHUN MENDATANG TAK AKAN ADA LAGI ORANG INDONESIA YANG BEKERJA SEBAGAI PEMBANTU DI LUAR NEGERI. “Caranya, kita sediakan lapangan kerja yang lebih banyak di negara kita,” tegas SBY.

Sebagai bangsa yang terbuka, bebas, dan demokratis, orang Indonesia boleh bekerja di mana saja. Tapi harus di sektor-sektor profesional, skilled workers. Bukan unskilled workes seperti yang berlangsung selama bertahun-tahun, khususnya di Malaysia dan Arab Saudi.

Buat apa jauh-jauh pergi ke Malaysia, dikejar-kejar polisi, dikejar-kejar petugas imigrasi, diburu polisi syariah... hanya untuk jadi pembantu? Tukang sapu, cuci piring, penjaga peternakan babi [pekerjaan yang banyak dilakukan TKI asal Flores], kuli bangunan, dan sejenisnya.

Wow, terus terang saja, baru kali ini saya mendengar pernyataan seorang presiden Republik Indonesia tentang perbaikan kualitas TKI. Sayang, seperti biasa, pemerintah tidak punya tenggat waktu (deadline) kapan menghentikan pengiriman pembantu ke luar negeri, khususnya Malaysia. Ngambang!

SBY yang lengser tahun 2014 harus bisa membuat action plan yang jelas! Tak cukup berpidato atau sekadar bikin pernyataan politik di media massa. Kita membutuhkan pemimpin-pemimpin yang berani dan punya visi jauh ke depan. Bukan pemimpin-pemimpin macam anggota parlemen di Jakarta yang hanya sibuk bikin gedung mewah, tinggal di apartemen dan hotel berbintang, menghabiskan uang negara untuk melancong ke Eropa, Tiongkok, Amerika, tapi tak punya komitmen untuk memakmurkan rakyat Indonesia.

Malaysia boleh beruntung karena punya pemimpin yang visioner. Pemimpin-pemimpin Malaysia, terlepas dari sejumlah kekurangannya, sejak dulu tidak main-main dengan visi yang sudah dibuat. Tanpa visi dan komitmen yang kuat dari pemimpin-pemimpin Indonesia, jangan harap kita mampu menghentikan pengiriman unskilled worker ke luar negeri, khususnya Malaysia.

Dan itu berarti kita masih akan terus mendengar cerita dari pelancong Malaysia tentang ‘kehebatan’ pembantu Indonesia-nya yang pandai memasak nasi goreng, nasi lodeh, semur, pecel, rawon, pecel lele, pecel bandeng, oseng-oseng, rengginang, dan seterusnya.

Saya kira, bangsa Indonesia lebih bahagia jika tukang-tukang masak Indonesia, yang hebat-hebat itu, bekerja di hotel-hotel berbintang di Kuala Lumpur, Melaka, Langkawi, Penang, Johor, Selangor, atau Kuching. Masih lebih elok jika ada wanita Indonesia yang dinikahi pangeran Malaysia macam si Manohara. Sayang, usia pernikahan mereka sangat pendek. Hehehe.....


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

2 comments:

  1. salam kenal..

    saya tinggal di malaysia.. sebagai info, pekerja cleaning service gajinya 2.5jt kalau dirupiahkan.. selain itu, dia kerja sampingan, sekali membersihkan rumah (3jam) dia bisa dapat 100rb..

    kalau dia pulang ke madura, siapa yang mau kasih dia gaji segitu.. miris memang..

    ReplyDelete
  2. kalo PRTnya kayak Manohara... hehehe aq juga mau.

    ReplyDelete