19 April 2011

Parlemen Tahi Kucing




Rakyat Indonesia mulai jenuh, lelah, dengan tingkah polah pejabat dan politisi negara ini. Reformasi dan demokratisasi yang berlangsung mulai 1998 naga-naganya mulai mencapai titik balik. Reformasi memang membuat orang bebas bicara, kritik siapa saja, unjuk rasa kapan saja, teriak-teriak di mana saja... tapi rakyat Indonesia [mayoritas] tinggal miskin.

Yang makmur hanya pejabat-pejabat, anggota parlemen, anggota partai... dan koruptor. Rakyat kebanyakan sih tetap saja miskin. Bagaimana buruh bisa hidup dengan upah yang rata-rata hanya Rp 1 juta sebulan [setara USD 100]? Ribuan manusia Indonesia, apa boleh buat, terpaksa berangkat ke Malaysia, jadi pekerja kasar. Legal maupun tak legal.

Meskipun setiap saat terancam dikejar-kejar polisi Melayu, jutaan orang Indonesia merasa bisa makan, minum, dan bisa membeli sejumlah barang untuk dikirim ke kampung halaman. Pejabat-pejabat di Jakarta, anggota parlemen di Senayan, sejak dulu tak punya exit strategy. Jalan keluar untuk membuat jutaan TKI, yang hampir semuanya pekerja-pekerja kasar ini, tak perlu lagi merantau di Malaysia, Timur Tengah, Taiwan, Hongkong, dan sebagainya.

Ketika awak kapal Indonesia, MV Sinar Kudus, disandera di Somalia pun anggota parlemen kita hanya tertawa-tawa. Makan enak di restoran, tinggal di hotel berbintang, petentang-petenteng dengan laptop atau smartphone mutakhir. Politisi Indonesia mandi uang, rakyat Indonesia mandi air mata!

Selama tiga bulan media massa ramai-ramai mengkritik rencana pembangunan gedung baru parlemen di Jakarta. Tiap hari ada saja elemen masyarakat yang berteriak-teriak, demonstrasi, menolak rencana itu. Toh, gedung sekarang masih bisa dipakai, termasuk untuk menonton video porno, berselancar di internet, menyaksikan gambar-gambar bugil. Hehehe... Tapi, apa boleh buat, biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu!

Parlemen tetap bikin gedung baru. Kritikan masyarakat dianggap angin lalu. Sia-sia! Setelah meloloskan gedung baru, anggota parlemen Indonesia berpesta ria dengan melancong ke luar negeri. “Studi banding,” katanya.

Silakan saja tuan-tuan parlemen jalan-jalan! Kita, rakyat biasa, sebaiknya tak perlu lagi mengecam anggota parlemen. Mereka bebas melakukan apa saja, kapan saja, di mana saja.... Up to you lah!

Mau studi banding? Silakan. Mau pelesir? Silakan. Mau belanja barang-barang mewah, pakai uang rakyat, silakan? Mau borong VCD/DVD porno? Suka-sukalah. Bahkan, sebaiknya anggaran untuk melancong, studi banding, foya-foya dinaikkan 10 kali lipat agar tuan-tuan parlemen bisa memenuhi semua nafsu syahwat kebinatangannya.

Sia-sialah kita bicara dengan petinggi-petinggi parlemen macam Marzuki Alie, Pius Lustrilanang, Nudirman Munir, Ruhut Sitompul....

Mereka memang berhak menikmati semua kemewahan itu, senyampang berkuasa. Mereka bebas, sebebas-bebasnya, menentukan gaji sendiri, uang melancong sendiri, ruang hiburan sendiri....

Jangankan bikin gedung baru Rp 1,2 triliun, parlemen RI sebaiknya kita bebaskan membuat gedung baru Rp 5 triliun, Rp 8 triliun, Rp 10 triliun.... Suka-sukalah! “Kami ini, anggota parlemen, orang-orang pintar. Rakyat itu tidak mengerti soal-soal seperti ini,” kata Marzuki Alie, ketua parlemen dari Partai Demokrat.

“Masa, anggota parlemen disuruh tinggal di gubuk rakyat yang reyot,” kata Nudirman Munir, anggota parlemen dari Golkar.

Marzuki Alie dan Nudirman Munir [dan anggota-anggota parlemen] lain memang benar. Mereka memang manusia-manusia PINTAR, bahkan SANGAT PINTAR, sehingga bebas melakukan apa saja. Bebas membuat kebijakan apa saja tanpa perlu mendengar kritik masyarakat dan media massa. Politisi Indonesia memang tidak perlu memperhatikan kehidupan ekonomi masyarakat, tapi kemakmuran perutnya sendiri.

Saya sepakat dengan editorial MEDIA INDONESIA yang dibahas di METRO TV oleh Elman Saragih dan Aviani Malik pagi tadi, 19 April 2011. Sudah saatnya kita, rakyat Indonesia, berhenti mengkritik atau mengecamMarzuki Alie cs.

Biarkan saja mereka bancakan uang rakyat. Biarkan parlemen bikin tiga empat lagi gedung baru yang mewah karena nafsu kemaruk manusia, khususnya politisi, tak punya batas. Biarkan saja mereka foya-foya, korupsi, studi banding ke ujung dunia sampai mabuk kepayang.


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

2 comments:

  1. nafsu sex anggota DPR RI berlebihan n serakah. mumpung jadi dewan....

    ReplyDelete
  2. Ini karena pemilihan wakil rakyat tidak langsung. Rakyat memilih partai, dan partai yang menentukan siapa yang duduk di parlemen. Jadi anggota parlemen takut kepada partai, tidak kpd yang memilih. Harusnya pemilu dibuat sistem distrik, jadi jelas, siapa yang dipilih, dan kalau macam-macam, rakyat yang memilihnya bisa memecatnya di pemilu mendatang.

    ReplyDelete