01 April 2011

Orang Tionghoa NTT di Pulau Hainan



Komunitas warga keturunan Indonesia juga dijumpai di Pulau Hainan, Republik Rakyat Tiongkok. Yang menarik, ada juga yang berasal dari Rote, Kupang, serta sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Saya kaget begitu tahu mereka berasal dari Rote, NTT. Bahkan, mereka sudah enam generasi di Hainan,” ujar Supardi, tokoh masyarakat Indonesia di Hongkong, yang juga aktif menulis untuk media berbahasa Tionghoa, Xingzhouribao, pekan lalu.

Warga keturunan Tionghoa asal NTT di Hainan ini, menurut dia, memiliki postur fisik dan wajah yang persis orang NTT di Indonesia. Ada pula yang menikah dengan penduduk lokal. Supardi mengaku sangat kagum karena mereka masih mempertahankan tradisi dan budaya Indonesia di negeri orang.

“Sampai sekarang banyak di antara mereka yang masih tidak bisa berbahasa Mandarin. Mereka pakai baju batik dan kebaya, minum kopi, makan kue dan sayur-sayiuran seperti di Indonesia,” papar Supardi.

Pada hari-hari raya, mereka berkumpul, makan bersama, kemudian menyanyi dan menari ala Indonesia. Anak-anak dan cucu mereka yang lahir di Hainan pun masih bisa berbahasa Indonesia dengan logat Rote atau Kupang yang khas.

Seperti komunitas Indonesia lainnya di Tiongkok, menurut Supardi, warga Tionghoa asal NTT ini juga merupakan korban Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1959 alias PP 10. Mereka ramai-ramai meninggalkan Indonesia bersama ribuan orang lain karena PP 10 itu melarang warga Tionghoa membuka usaha dagang di luar kota kabupaten. Saat itu mereka mereka memang belum berstatus warga negara Indonesia meski sudah hidup beberapa generasi di tanah air.

“Mereka terpaksa tinggal di tempat leluhurnya di Tiongkok yang sangat asing bagi mereka. Tapi mereka tidak pernah benci atau dendam sama Indonesia. Bahkan, sampai sekarang di antara mereka ada yang tidak bisa berbahasa Mandarin,” katanya.

Mengapa mereka sulit berbahasa Mandarin dan mengikuti adat-istiadat di Tiongkok?

Menurut Supardi, ini karena sejak 1960-an orang-orang yang berasal dari Indonesia ini tinggal di permukiman khusus. Jumlah mereka yang berasal dari NTT dan Manado cukup banyak. Sehingga, setiap hari mereka terbiasa berbahasa Indonesia dengan dialek NTT atau Indonesia Timur umumnya.

“Sampai-sampai mantu mereka yang pribumi (orang Tiongkok) juga bisa berbahasa Melayu dan bikin kue bolu untuk hidangan minum kopi,” kata Supardi.

Saat ini, menurut Supardi, generasi muda Tionghoa keturunan NTT ini banyak yang menjadi pemandu wisata lantaran kefasihan berbahasa Mandarin, Inggris, dan Indonesia. Bahkan, ada yang pulang ke Indonesia untuk membantu perusahaan Tioingkok yang melakukan investasi di tanah air. “Mereka berperan sebagai jambatan penghubung antarkedua negara,” tutur pria yang juga disapa Zhouxin ini.

Seperti mayoritas penduduk NTT, banyak warga Tionghoa keturunan NTT di Pulau Hainan memeluk agama Kristen. Mereka punya gereja khusus yang dibangun dengan bantuan pemerintah Hongkong dan donatur asal Indonesia. (*)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 1 April 2011

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

1 comments:

  1. Mereka tidak pernah benci atau dendam sama Indonesia ! Mengapa ? Sebab : Mereka menyadari, bahwa sifat dan tabiat orang pribumi Indonesia jauh lebih baik, jujur dan sopan-santun daripada sifat orang Cina asli. Ini bukan SARA, tetapi kenyataan dan fakta ! Kalau kita hidup di Tiongkok, dan tidak mampu berbahasa Cina, maka kita akan ditipu terus menerus oleh orang Cina. Itu memang sifat mereka, yang selalu ingin untung, egois. Di Tiongkok orang jujur dimaki bodoh, sedangkan penipu dipuji lihay.

    ReplyDelete

Silakan menulis komentar Anda di dalam kotak.Terima kasih banyak.