10 April 2011

Lukito Kartono dan Arsitektur Tionghoa




Selain sibuk mengajar di Universitas Kristen Petra, Ir Lukito Kartono MA (59) sering menjadi pemandu wisata SOERABAIA TEMPO DOELOE. Dia sangat fasih menjelaskan detail bangunan, perkembangan arsitektur di Surabaya, hingga masalah cagar budaya.

Oleh LAMBERTUS HUREK

Lukito tak segan-segan mengajak mahasiswa dan komunitas penggemar sejarah untuk berwisata ke permukiman warga Tionghoa (pecinan) di beberapa kota besar. Maka, Lukito pun bisa dengan fasih menjelaskan filosofi dan perkembangan bangunan-bangunan Tionghoa di tanah air.

Saat ditemui di ruang kerjanya, pekan lalu, Lukito sedang asyik membaca buku tebal tentang sejarah kedatangan orang Tionghoa di Asia Tenggara. Berikut petikan percakapan Radar Surabaya dengan Lukito Kartono:

ANDA SERING MENJADI PEMANDU WISATA KE KAWASAN PECINAN. BAGAIMANA KONDISI BANGUNAN-BANGUNAN TIONGHOA DI KOTA SURABAYA?

Di Surabaya, bangunan beraksen Tionghoa hanya tersisa 10 persen saja. Saya tidak tahu pasti berapa jumlah keseluruhan, tapi hanya sedikit yang tersisa. Saat ini, rumah dengan arsitektur Tionghoa yang masih utuh terdapat daerah Kapasan Dalam. Bahkan, rumah-rumah panjang itu dibuat secara terencana untuk warga peranakan Tionghoa. Mereka turun-temurun menjadi penghuni sejumlah bangunan tersebut.

APAKAH KONSEP RUMAH TIONGHOA DI INDONESIA SAMA DENGAN DI TIONGKOK?

Sangat berbeda, bahkan bertolak belakang. Rumah-rumah di Tiongkok biasa menempatkan altar leluhur di bagian belakang. Sementara di Indonesia, altar leluhur justru diletakkan di bagian depan. Nah, penataan altar leluhur ini merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam arsitektur rumah khas orang Tionghoa. Ini untuk mewujudkan hirarki ruang.

Maka, atmosfer kesakralan itu bisa dirasakan ketika kita memasuki semakin ke belakang rumah Tionghoa. Di sini, masyarakat Tionghoa memodifikasi konsep sakral itu, sehingga banyak dijumpai altar leluhur berada di bagian depan rumah. Akibatnya, hirarki ruang berubah dan orang tertua di keluarga justru menempati kamar terdepan.

DI TIONGKOK TIDAK DEMIKIAN?

Ya. Di negeri Tiongkok sana, mereka-mereka yang dituakan menempati kamar di bagian belakang rumah. Jadi, berdekatan dengan altar leluhur. Tata letak seperti ini sangat menarik karena menunjukkan adaptasi orang Tionghoa Indonesia dengan budaya setempat, khususnya di Jawa.
Masyarakat kita memang lebih beranggapan bahwa bagian belakang rumah tidak berfungsi sebagai ruang utama. Bagian belakang biasanya dipakai untuk kamar pembantu, gudang, atau kamar mandi.

BAGAIMANA KONSEP IDEAL ARSITEKTUR RUMAH TIONGHOA?

Ada sumur udara di bagian tengah rumah untuk sirkulasi udara. Ada sumbu keseimbangan di sisi kanan dan kiri rumah. Kemudian gerbang sebagai pintu masuk tamu. Maka, ketika si tamu memasuki gerbang itu, berarti dia telah datang di daerah teritorial yang berbeda.
Masyarakat Tionghoa zaman dulu juga biasa mensyaratkan penataan kamar didesain berderet baik sisi kanan maupun kiri. Tapi tidak mensyaratkan jumlah kamar dan tidak ada syarat berapa besar gerbang, kamar, atau ruangan lain. Yang penting, lima lima konsep tata ruang, yaitu sumur udara, sumbu keseimbangan, gerbang, hirarki ruang, tatanan kamar berderet wajib ada.

LANTAS, APAKAH ORANG TIONGHOA DI SURABAYA SAAT INI MASIH MELESTARIKAN KONSEP-KONSEP LELUHUR UNTUK RUMAHNYA?

Sayang sekali, sekarang ini masyarakat umumnya mengalami degradasi budaya karena semakin modern. Termasuk di kalangan masyarakat Tionghoa. Meskipun jumlah masyarakat keturunan Tionghoa di Surabaya sebetulnya cukup banyak, ternyata hanya sedikit yang membangun rumahnya sesuai konsep leluhur mereka di Tiongkok.

CONTOHNYA?

Anda bisa lihat di perumahan-perumahan kelas menengah-atas di Surabaya, yang banyak orang Tionghoanya. Rumah-rumah mereka justru lebih terinspirasi arsitektur modern. Sama sekali tidak ada pertimbangan tradisi Tionghoa. Dan perubahan itu semakin terlihat menjelang tahun 2000-an. Ini juga masyarakat Tionghoa di Indonesia, khususnya Surabaya, makin kehilangan identitas kulturalnya.

BAGAIMANA DENGAN KONSEP KEKERABATAN YANG SANGAT KENTAL DI KALANGAN TIONGHOA?

Itu juga sudah terkikis. Konsep-konsep leluhur, bahasa, dan kebiasaan masyarakat Tionghoa mulai ditinggalkan oleh generasi yang lebih muda. Contohnya, pada tahun baru Imlek, misalnya, budaya silaturahmi tidak terasa lagi. Padahal, ketika saya masih remaja dulu tradisi silaturahmi, saling mengunjungi, sangat terasa. Kalangan muda Tionghoa saat ini lebih suka menikmati Imlek di pusat perbelanjaan ketimbang berkunjung ke rumah saudara yang dituakan. (*)

BIODATA SINGKAT LUKITO

Nama : Johanes Lukito Suwito Kartono
Lahir : Surabaya, 13 Februari 1952
Istri : Caecilia Mega Dewi
Anak : 3 orang
Hobi : Membaca, berkelana.
Pekerjaan : Dosen Teknik Arsitektur UK Petra
Alamat : Jl Siwalankerto 121-131 Surabaya
Email : lkartono@peter.petra.ac.id

Minat : Sejarah dan teori arsitektur
Spesialisasi : Arsitektur tradisional Indonesia
Filosofi: Di dunia ini tidak ada anak yang bodoh. Yang terjadi adalah anak yang belum mempunyai kesempatan diajar oleh guru yang baik.

Pendidikan
UK Petra, S-1 Arsitektur
Universitas Indonesia, Magister Antropologi




Ziarah Arsitektur di Lasem

SALAH satu kota favorit bagi Lukito Kartono untuk melakukan ziarah arsitektur pecinan adalah Lasem. Belum lama ini, Lukito mengajak 25 mahasiswa Arsitektur Universitas Kristen Petra berkunjung ke kota kecil di pantai utara Jawa Tengah itu.

Selama tiga hari Lukito membimbing para mahasiswa untuk mendalami arsitek pecinan. “Ziarah ini memang agenda rutin kami di UK Petra. Ini penting agar mahasiswa mengetahui kondisi bangunan secara nyata. Tidak melalui textbook saja. Mereka juga bisa mencocokkan konsep arsitektur Tionghoa yang selama ini mereka pelajari,” ujar Lukito.

Di Lasem, rombongan mengunjungi beberapa tempat, di antaranya Kelenteng Cu An Kiong dan rumah penduduk yang masih memakai aturan arsitektur klasik Tionghoa. Mengapa Lasem yang dipilih?

Menurut Lukito, Lasem merupakan tempat para perantau asal Tiongkok mendarat, selain di Batavia (Jakarta). Tak heran, kota ini menyimpan sejarah panjang perjalanan orang Tionghoa di Indonesia.

Kelenteng Cu An Kiong di Jalan Soditan, Lasem, juga merupakan kelenteng Makco Thian Siang Seng Boo (Dewi Laut) paling tua di Pulau Jawa. Dibangun tahun 1335, kelenteng ini sudah pernah direhabilitasi oleh Tee Ling Sing dan Tiang Sun Khing, tukang kayu asal Provinsi Guangdong, Tiongkok.

Setelah itu, rombongan UK Petra mampir ke rumah tinggal di sebelah kelenteng dan daerah Babagan. Kedua rumah khas Tionghoa ini masih terawat dengan baik. "Jadi, kita bisa belajar banyak dari Lasem," katanya. (*)



Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 10 April 2011

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

No comments:

Post a Comment