29 April 2011

Konser Paskah SSO 2011



Surabaya Symphony Orhestra (SSO) kembali memuaskan sekitar 800 penikmat musik klasik di ballroom Hotel Shangri-La Surabaya, Selasa (26/4/2011) malam. Sesuai dengan temanya, konser Paskah, kali ini SSO lebih banyak menghadirkan oratorio bernuansa Paskah, khususnya karya GF Handel.

Meskipun bukan oratorio utuh, petikan The Messiah itu cukup mampu menjawab kerinduan masyarakat untuk menikmati secara langsung karya legendaris itu. Selama ini masyarakat hanya bisa menikmati oratorio-oratorio lewat rekaman kaset atau CD/VCD.

“Syukurlah, di Surabaya ini ada SSO yang mau memainkan nomor-nomor Handel dan Mozart,” ujar Benny, salah satu penonton setia SSO.

Diawali ‘konser pemanasan’ dari para siswa Sekolah Musik SSO, Solomon Tong kemudian mengambil alih tongkat dirigen. Dua solis, Pauline Poegoeh (soprano) dan Robert Soewanto (tenor), bersama Surabaya Oratorio Society membawakan All We Sheep, petikan The Messiah. Karya-karya Handel memang selalu terasa melodius, didominasi orkes gesek yang khas, dengan kor yang kuat.

Keindahan serupa juga dirasakan ketika Dewi Endrawati (mesosoprano) membawakan He Shall Fedd His Flocks. Sayang, puncak oratorio The Messiah, yakni Hallelujah, malam itu tidak ditampilkan SSO. Sebab, orkes simfoni satu-satunya di Surabaya ini juga harus membawakan petikan oratorio dari WA Mozart dan Joseph Haydn.

Solomon Tong terlihat sangat bersemangat ketika mendirigen komposisi karya Haydn bertajuk So Lohnet Die Natur Den Fleiss. Kor bersama solis Pauline Poegoeh, Tertiusanto, dan Samuel Tong pun tampil dengan power vokal yang optimal. Petikan oratorio Die Jahreszeiten ini memang salah satu favorit Solomon Tong.

Duet kakak-beradik Grace Rozella Soetedja (violin) dan Sibyl Rozella Soetedja (piano) juga mengundang aplaus meriah hadirin, termasuk perwakilan asing di Surabaya. Pilihan kedua gadis ini memainkan komposisi karya Buzzini memang pas. Bertajuk La Ronde Des Lutins Opus 25 (Scherzo Fantastique), komposisi ini dimainkan dengan tempo cepat dan rancak.

Permainan violin Grace, salah satu pemegang Museum Rekor Indonesia, bisa diimbangi Sibyl dengan lincah. Keduanya pun bisa saling mengisi sejak awal hingga akhir komposisi. Karya Buzzini yang dipilih untuk Grace dan Sibyl itu memang sangat menantang. Syukurlah, keduanya tampil dengan sangat kompak.

Sayang sekali, Mathias Boegner (violin) asal Jerman yang dijadwalkan sebagai bintang tamu malam itu urung tampil. Karena itu, pianis Teguh Sukarya tampil sendirian dalam piano solo.

“Mathias tiba-tiba mengalami kecelakaan ringan di tangan yang membuat dia tidak bisa tampil. Ini benar-benar di luar harapan kita semua,” kata Solomon Tong.




COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

No comments:

Post a Comment